Aug 5, 2012

Chocolate Love (Rainy Season)

Kurasakan hangat saat aku memeluk secangkir coklat panas dengan jemari-jemari mungilku dalam musim yang cuacanya sangat menusuk kulit, ya! musim dingin dengan coklat panas membuat aku mengingat kenangan musim dingin tahun lalu, beradu cerita denganmu ditemani 2 cangkir coklat panas, tawa beriringan dan saling berpandangan mata. Tak ada ragu untuk saling berbagi dan mengasihi sesama dari kita.
Aku merindukan masa itu, terlebih saat hujan deras saat kau dirumahku, masih ditemani 2 cangkir coklat panas yang sedari tadi belum juga habis terseruput oleh kita. Kau rangkul aku dengan penuh kasih sayang, api unggun yang menyala membuatku lebih nyaman berada di dekapanmu membuat aku tersadar kau mulai mendekati hidung dan mengecup bibirku, tak ku sangka namun ragu untuk memastikan bahwa itu benar nyata, atau jangan-jangan aku hanya sedang tertidur dan menikmati mimpi, tapi ternyata tidak. Aku menutup mata dan kau pun melakukan hal yang sama. Entah apa yang ku rasakan selama 2 menit terakhir, yang pasti aku sangat bahagia dan nyaman. I feel so shy.. hahahaha but it's real! yap, itu nyata! ah benarkah? aku masih tak percaya momen itu bukanlah mimpiku. Aku merasa rona bahagiaku muncul dengan pipiku yang berubah menjadi merah muda. So sweet, right? Saat hujan, dia menciumku? oh God! I love this moment! ini yang pertama kali untukku. Thanks God..
Aku rasa waktu telah berhenti saat kita berada dalam jarak yang sangat dekat. Hujan pun reda dan orang yang aku sebut dia 'Bee' itu pun pulang bersama mobil miliknya dan meninggalkan kecupan hangat di keningku. Baru ini aku merasa begitu hangat dan bahagia. Yap! Begitu membahagiakan.
1 bulan berlalu...
Aku tak mendapati lagi kabarnya hari ini sejak 30 hari yang lalu ia memberiku kehangatan.
Aku terus menunggu.. seminggu pun berlalu, waktu begitu cepat! hingga aku tersadar Bee yang mempunyai nama asli Bryan itu tak memberi aku sepucuk kabar pun. Aku gelisah.. sampai 3 hari kemudian, aku mendapati 1 buah email masuk:

From     : Bryanlee@email.com
Subject : Sorry..

Aku rasa kita harus putus. Aku harap kamu bisa lupain aku, Kay. Aku sayang kamu..

Aku kaku seketika, mematung, diam, lalu tiba-tiba air mata telah menguasai pipiku. Lalu aku tersadar, aku merasa kehilangan. Mengapa ia lakukan ini? hah! setelah sekitar 10 hari dia tidak memberi kabar dan sekarang ia memutuskan hubungan yang sudah 2 tahun lebih kami rajut dan sudah aku bumbui dengan kasih sayang dan perhatian? haaa! berengsek! aku geram dalam hati. Marah, sedih, kecewa, dan perasaan kesal lainnya bercampur jadi satu. Rasanya ingin marah tidak bisa ku lakukan lagi. Lalu apa arti kecupan sebulan yang lalu? Aku dapati aku berkutat sibuk dengan mimpi kami dulu, dia menjadi suamiku, lalu kami mempunyai anak yang beretnis seperti aku yang blasteran Indonesia-Belanda atau ia yang blasteran Jerman-Cina yang tinggal di Indonesia sejak kecil. ah, bodoh tolol dungu!!!! aku memarahi diriku sendiri. Murka oleh keidiotanku sendiri yang mau saja menerima rayuan dia selama ini. Lalu tanpa tinggal diam, aku mengirim pesan singkat atas kekesalanku sekitar 34 sms dan sekitar 12 email yang sudah ku kirim yang isinya pertanyaan mengapa, tumpahan kesedihan, dan kemarahan. Tapi.. tak ada satu jawabanpun. Aku meneleponnya, tak pernah ia angkat. Lalu aku merasa sangat pusing di kepala dan memutuskan untuk tidur berharap aku bisa melupakan masalah yang rumit ini.

***

Dan sekarang, di musim dingin ini bersama hujan dan coklat panas yang terakhir bulan lalu bersama Bee.. aku rindu masa itu. Lalu dalam lamunanku aku mendengar suara getaran yang cukup keras dari handphoneku. Satu panggilan dari Bee's mom. Aku mengangkatnya, dan ternyata ibu Bryan mengajakku bertemu di Chocolate Cafe yang tak terlalu jauh dari komplek rumahku, tempat biasa aku berkencan dengan Bee karena kesukaan kami yang sama yaitu cokelat. Aku mengiyakan lalu bergegas dan lengsung meluncur. Setelah sampai aku melihat wajah wanita setengah baya yang familiar aku lihat ya.. ia adalah mamanya Bee. Aku segera menghampirinya lalu kami berbincang mulai dari hubungan aku yang kandas di tengah jalan bersama Bee panjang lebar sekitar hampir 2 jam, lalu ia pamit pulang dan memberi amplop berwarna cokelat titipan Bryan kepadaku. Lalu aku terlihat sangat bingung dan mama Bee langsung pulang meninggalkanku dengan wajah yang tak pernah kulihat selama ini. Wajahnya murung seperti terdapat kesedihan yang mendalam dimatanya, memang sejak tadi aku agak aneh melihatnya, ia pucat dan terlihat sangat tersiksa saat tersenyum dan tertawa bersamaku (read: tersenyum&tertawa terpaksa).

Aku sampai dirumah, tak sabar aku ingin membaca surat itu. Aku membuka dengan hati yang tak menentu dan pensaran. Entah apa yang aku rasakan, dan ternyata isinya:

Dear, Kaysha


Aku tahu mungkin sekarang kamu bingung, apa maksud aku menulis surat ini untukmu. Mungkin saat baca surat ini, aku udah gaada lagi disini. Aku cuma mau bilang maafin aku, Kay. Aku ga bilang ke kamu kalau sebenarnya, aku nyembunyiin penyakit ini ke kamu.. Kanker Darah. Aku udah ga tahan merasakan sakitnya yang luar biasa menyiksa. Udah stadium terakhir. Dan sekarang aku udah di penghujung mautku, Kay. Maafin aku kalau selama ini aku gabisa ngasih kebahagiaan untuk kamu. Yang perlu kamu tahu, kalau aku sayang dan cinta kamu lebih dari apapun. Makasih selama 2 tahun lebih ini kamu buat rasa sakit karena kanker ini berkurang. Aku mutusin kamu, karena aku ga mau kamu nangis ngeliat aku menderita sama penyakit yang aku alamin. Semoga cinta kita ga sampe di dunia ini aja, semoga di dunia yang akan aku tempatin nanti juga ya, Kay. Aku rindu musim dingin tahun lalu, saat hujan kamu begitu manis saat menutup mata yang mendapati aku mengecup bibirmu. Temui nisanku, di TPU Cempaka. Jangan nangis. Aku mohon kamu bahagia.. Tetaplah menjadi cokelat yang disukai semua orang. Love you!


Your Love, Bryan


Aku menangis tersedu-sedu. Tak ambil waktu lama, aku menancapkan gas mobilku, menuju TPU Cempaka. Kulihat nisan yang masih baru ku perkirakan mungkin baru satu minggu yang lalu. Kulihat nisannya yang berada di pojok sebelah kanan beruliskan nama Bryan di nisan tersebut. Aku menciumnya dengan pipiku yang masih basah dan meluapkan semuanya disana, diatas kuburan Bee. Aku merasa sangat menyesal dan sangat sedih. Tuhan.. aku ingin bisa memutar ulang waktu!

0 comments:

Post a Comment

Aug 5, 2012

Chocolate Love (Rainy Season)

Kurasakan hangat saat aku memeluk secangkir coklat panas dengan jemari-jemari mungilku dalam musim yang cuacanya sangat menusuk kulit, ya! musim dingin dengan coklat panas membuat aku mengingat kenangan musim dingin tahun lalu, beradu cerita denganmu ditemani 2 cangkir coklat panas, tawa beriringan dan saling berpandangan mata. Tak ada ragu untuk saling berbagi dan mengasihi sesama dari kita.
Aku merindukan masa itu, terlebih saat hujan deras saat kau dirumahku, masih ditemani 2 cangkir coklat panas yang sedari tadi belum juga habis terseruput oleh kita. Kau rangkul aku dengan penuh kasih sayang, api unggun yang menyala membuatku lebih nyaman berada di dekapanmu membuat aku tersadar kau mulai mendekati hidung dan mengecup bibirku, tak ku sangka namun ragu untuk memastikan bahwa itu benar nyata, atau jangan-jangan aku hanya sedang tertidur dan menikmati mimpi, tapi ternyata tidak. Aku menutup mata dan kau pun melakukan hal yang sama. Entah apa yang ku rasakan selama 2 menit terakhir, yang pasti aku sangat bahagia dan nyaman. I feel so shy.. hahahaha but it's real! yap, itu nyata! ah benarkah? aku masih tak percaya momen itu bukanlah mimpiku. Aku merasa rona bahagiaku muncul dengan pipiku yang berubah menjadi merah muda. So sweet, right? Saat hujan, dia menciumku? oh God! I love this moment! ini yang pertama kali untukku. Thanks God..
Aku rasa waktu telah berhenti saat kita berada dalam jarak yang sangat dekat. Hujan pun reda dan orang yang aku sebut dia 'Bee' itu pun pulang bersama mobil miliknya dan meninggalkan kecupan hangat di keningku. Baru ini aku merasa begitu hangat dan bahagia. Yap! Begitu membahagiakan.
1 bulan berlalu...
Aku tak mendapati lagi kabarnya hari ini sejak 30 hari yang lalu ia memberiku kehangatan.
Aku terus menunggu.. seminggu pun berlalu, waktu begitu cepat! hingga aku tersadar Bee yang mempunyai nama asli Bryan itu tak memberi aku sepucuk kabar pun. Aku gelisah.. sampai 3 hari kemudian, aku mendapati 1 buah email masuk:

From     : Bryanlee@email.com
Subject : Sorry..

Aku rasa kita harus putus. Aku harap kamu bisa lupain aku, Kay. Aku sayang kamu..

Aku kaku seketika, mematung, diam, lalu tiba-tiba air mata telah menguasai pipiku. Lalu aku tersadar, aku merasa kehilangan. Mengapa ia lakukan ini? hah! setelah sekitar 10 hari dia tidak memberi kabar dan sekarang ia memutuskan hubungan yang sudah 2 tahun lebih kami rajut dan sudah aku bumbui dengan kasih sayang dan perhatian? haaa! berengsek! aku geram dalam hati. Marah, sedih, kecewa, dan perasaan kesal lainnya bercampur jadi satu. Rasanya ingin marah tidak bisa ku lakukan lagi. Lalu apa arti kecupan sebulan yang lalu? Aku dapati aku berkutat sibuk dengan mimpi kami dulu, dia menjadi suamiku, lalu kami mempunyai anak yang beretnis seperti aku yang blasteran Indonesia-Belanda atau ia yang blasteran Jerman-Cina yang tinggal di Indonesia sejak kecil. ah, bodoh tolol dungu!!!! aku memarahi diriku sendiri. Murka oleh keidiotanku sendiri yang mau saja menerima rayuan dia selama ini. Lalu tanpa tinggal diam, aku mengirim pesan singkat atas kekesalanku sekitar 34 sms dan sekitar 12 email yang sudah ku kirim yang isinya pertanyaan mengapa, tumpahan kesedihan, dan kemarahan. Tapi.. tak ada satu jawabanpun. Aku meneleponnya, tak pernah ia angkat. Lalu aku merasa sangat pusing di kepala dan memutuskan untuk tidur berharap aku bisa melupakan masalah yang rumit ini.

***

Dan sekarang, di musim dingin ini bersama hujan dan coklat panas yang terakhir bulan lalu bersama Bee.. aku rindu masa itu. Lalu dalam lamunanku aku mendengar suara getaran yang cukup keras dari handphoneku. Satu panggilan dari Bee's mom. Aku mengangkatnya, dan ternyata ibu Bryan mengajakku bertemu di Chocolate Cafe yang tak terlalu jauh dari komplek rumahku, tempat biasa aku berkencan dengan Bee karena kesukaan kami yang sama yaitu cokelat. Aku mengiyakan lalu bergegas dan lengsung meluncur. Setelah sampai aku melihat wajah wanita setengah baya yang familiar aku lihat ya.. ia adalah mamanya Bee. Aku segera menghampirinya lalu kami berbincang mulai dari hubungan aku yang kandas di tengah jalan bersama Bee panjang lebar sekitar hampir 2 jam, lalu ia pamit pulang dan memberi amplop berwarna cokelat titipan Bryan kepadaku. Lalu aku terlihat sangat bingung dan mama Bee langsung pulang meninggalkanku dengan wajah yang tak pernah kulihat selama ini. Wajahnya murung seperti terdapat kesedihan yang mendalam dimatanya, memang sejak tadi aku agak aneh melihatnya, ia pucat dan terlihat sangat tersiksa saat tersenyum dan tertawa bersamaku (read: tersenyum&tertawa terpaksa).

Aku sampai dirumah, tak sabar aku ingin membaca surat itu. Aku membuka dengan hati yang tak menentu dan pensaran. Entah apa yang aku rasakan, dan ternyata isinya:

Dear, Kaysha


Aku tahu mungkin sekarang kamu bingung, apa maksud aku menulis surat ini untukmu. Mungkin saat baca surat ini, aku udah gaada lagi disini. Aku cuma mau bilang maafin aku, Kay. Aku ga bilang ke kamu kalau sebenarnya, aku nyembunyiin penyakit ini ke kamu.. Kanker Darah. Aku udah ga tahan merasakan sakitnya yang luar biasa menyiksa. Udah stadium terakhir. Dan sekarang aku udah di penghujung mautku, Kay. Maafin aku kalau selama ini aku gabisa ngasih kebahagiaan untuk kamu. Yang perlu kamu tahu, kalau aku sayang dan cinta kamu lebih dari apapun. Makasih selama 2 tahun lebih ini kamu buat rasa sakit karena kanker ini berkurang. Aku mutusin kamu, karena aku ga mau kamu nangis ngeliat aku menderita sama penyakit yang aku alamin. Semoga cinta kita ga sampe di dunia ini aja, semoga di dunia yang akan aku tempatin nanti juga ya, Kay. Aku rindu musim dingin tahun lalu, saat hujan kamu begitu manis saat menutup mata yang mendapati aku mengecup bibirmu. Temui nisanku, di TPU Cempaka. Jangan nangis. Aku mohon kamu bahagia.. Tetaplah menjadi cokelat yang disukai semua orang. Love you!


Your Love, Bryan


Aku menangis tersedu-sedu. Tak ambil waktu lama, aku menancapkan gas mobilku, menuju TPU Cempaka. Kulihat nisan yang masih baru ku perkirakan mungkin baru satu minggu yang lalu. Kulihat nisannya yang berada di pojok sebelah kanan beruliskan nama Bryan di nisan tersebut. Aku menciumnya dengan pipiku yang masih basah dan meluapkan semuanya disana, diatas kuburan Bee. Aku merasa sangat menyesal dan sangat sedih. Tuhan.. aku ingin bisa memutar ulang waktu!

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design