Hari ini Ibu meracau dengan seisi rumah lagi. Seakan
tembok, koleksi piring tua dalam lemari-lemari kecil disetiap sudut rumah
miliknya, kursi dari kayu jati, dan semua isi rumah ini harus tahu apa yang dia
rasakan.
“Oh, dia adalah Drama King untuk memilih masa
lalunya dibanding aku.”
Tidak, Ibu tidak gila. Separuh jiwanya hanya belum
bisa menerima perpisahan itu. Bahkan setiap detak jantungnya selalu memanggil
nama Ayah untuk kembali, jika bisa.

