“Masih menunggu?”
katanya dengan nada mengejek. Adikku satu itu benar-benar mengesalkan ketika sok mengerti tentang keadaannya setiap kali Reno—pacarku—tidak memberi kabar saat memiliki janji untuk berkencan.
katanya dengan nada mengejek. Adikku satu itu benar-benar mengesalkan ketika sok mengerti tentang keadaannya setiap kali Reno—pacarku—tidak memberi kabar saat memiliki janji untuk berkencan.
Aku hanya diam, sudah tahu bahwa Lily akan memberiku
ceramah gratis yang tidak cukup penting untuk kudengarkan.
“Orang yang mencintaimu, tidak akan membuatmu
menunggu walau hanya sedetik. Setahuku dia tidak cukup mencintaimu karena sejak
bersamanya, kulihat kau lebih sering menangis dibanding sumringah bahagia. Dia
terlalu egois, kau tahu.” Lily menambahkan kalimat demi kalimat yang menghujam
jantung Arisa dengan ribuan belati. Menusuk sekali. Kalimatnya singkat, namun
cukup sakti untuk membuatnya merasa tersindir.
“Kau itu umur berapa sih sebenarnya? Aku jadi
bingung, siapa yang seharusnya jadi adik. Ini pasti karena kau terlalu sering
membaca novel.”
“Toh, novel itu memang benar? Kalau tidak, kau
mungkin tidak merasa tersindir. Dan kalau memang kak Reno kesayanganmu itu
memang mencintaimu, dia sudah kesini sejak 2 jam yang lalu.”
Arisa diam. Mencerna kalimat kelas atas dari adik
kecil—tapi
berpikiran terlalu dewasa untuk anak seumuran 11 tahun—nya
itu. Dengan suasana yang kian mencekam hatinya, sebuah getaran dengan nada
dering standar berbunyi cukup nyaring. Arisa tahu itu bunyi ponselnya, tetapi
dia tidak dapat menemukannya secepat yang dia bisa karena dia lupa menaruh
benda kecil itu dimana. Bunyinya meredam, sepersekian detik berikutnya, Pupu
mengeong dan pindah posisi di atas bantal empuk, dan disitulah Arisa bersyukur
karena ponselnya ternyata ada di bawah perut si gembul Pupu.
Secepat kilat Arisa menatap layar ponsel, mendapati
sebuah panggilan tidak terjawab dan pesan singkat dari pujaan hatinya, Reno.
Namun, detik berikutnya, wajahnya muram dan Arisa hanya bisa tertunduk lesu.
“Apa? Mobilnya mogok lagi? Ada urusan keluarga
mendadak lagi? Ketiduran lagi? Atau jangan-jangan dia lupa bahwa dia memiliki
pacar?” cerocos Lily tanpa ampun.
Arisa masih diam. “Kali ini, dia sedang tidak enak
badan, Lily, berhentilah berpikir yang tidak-tidak tentang Reno.”
“Tidakkah kau berpikir untuk mengakhirinya saja? Aku
lelah melihat kantung matamu kian hari kian hitam dan tebal. Dan aku kasihan
pada Pupu yang selalu kau jadikan bantal tiap kali kau menunggunya. Kau tahu,
terkadang aku lebih merasa kasihan daripada empati padamu, dia terlalu
mementingkan urusannya yang tidak penting dibanding dirimu. Aku tahu dia cinta
pertamamu, tapi kau harus berpikir ulang tentang perasaannya. Kupikir kau sudah
dewasa melebihi aku.” Lily ngeloyor pergi begitu saja dan meninggalkan sejumput
kegelisahan dalam hati Arisa, yang semakin Arisa pikirkan semakin lelah pula
otaknya untuk diajak berpikir.
***
Bintang mengetuk pintu beberapa kali, lalu terkejut
sesaat setelah si mungil Lily yang membukakan pintunya.
“Kak Bintang!” sahut Lily berhambur keluar untuk
segera memeluk sosok jangkung di depannya itu, seperti sudah sekian abad tidak
bertemu. Lily tidak segera merapikan rambut ikalnya yang sengaja Bintang acak-acak
seperti yang selalu dilakukannya pada Lily.
“Kak Sasa ada?”
“Kak Sasa terus, Lily kapan kakak cariin sampe
bela-belain jauh-jauh kesini?” Lily cemberut. Wajahnya lucu sekali.
Arisa yang merasa mendengar kericuhan di depan
rumahnya bergegas mencari tahu apa yang sedang terjadi. Lalu, malah kegirangan melihat
sahabat kecilnya berkunjung.
“Bintang!!! Bintang!!!” Arisa menyerbu kepala si
jangkung dan langsung menjitaknya beberapa kali. Itu juga ritual dari Arisa
untuk Bintang seperti Bintang mengacak-acak rambut Lily.
Arisa melompat-lompat bahagia seperti habis
dibelikan permen cokelat. “Masuk!” katanya cepat.
Bintang hanya bisa tersenyum. Sebenarnya, dia yang
lebih bahagia dapat melihat sesosok Putri Saljunya kembali setelah sekitar
sebulan tidak bertemu. Ada triliunan rasa rindu yang tertahan di hatinya pada
sosok ini. Sosok yang selalu dia jaili saat kecil, tetapi itu berbalik ketika
mereka dewasa.
Arisa kecil memang sempat tinggal di Berlin selama 7
tahun sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke tempat asal bundanya,
Indonesia. Bintang yang kala itu sudah menetap 2 tahun di Berlin senang bertemu
dengan orang Indonesia sebagai tetangga barunya. Saat berkenalan dengan
Bintang, Arisa sedang mengaduh kesakitan karena terjatuh. Lututnya terluka
cukup parah hingga Bintang sangat khawatir dengan keadaan Arisa kecil yang
sangat menggemaskan ketika menangis.
“Eh? Kau terluka?” Bintang berbasa-basi padahal dia
melihat sendiri kerjadian yang menimpa Arisa. Bintang memang seringkali
memperhatikan Arisa sejak dia bermain salju di depan rumahnya, tetapi Bintang
kecil terlalu pemalu untuk mengajak Arisa berkenalan. Dia takjub dengan rona
kemerahan yang ditimbulkan pada kedua pipi Arisa kecil saat melumuri wajahnya
dengan bongkahan es. Arisa sungguh konyol, tetapi mungkin itu yang dirasakan
oleh anak-anak yang baru pertama kali merasakan adanya musim salju karena
Indonesia tidak punya itu.
Arisa yang menyadari kehadiran orang Indonesia
langsung tersenyum, melupakan lukanya lalu mengangguk masih menahan perih karena
lukanya.
“Aku bisa membereskan ini. Kita mampir dulu
kerumahku. Ada perlengkapan P3K disana. Ayahku seorang dokter.” Bintang
tersenyum manis. Dia tahu sudah seharusnya dia bersikap berani seperti lelaki
jantan yang akan mendekati wanita pada umumnya.
Bintang menarik lengan Arisa dengan lembut, ada
kekhawatiran di wajah Arisa karena diajak oleh orang asing di kota yang belum
seminggu dia singgahi, namun dia tidak melawan ajakan itu, seperti ada energi
baik yang Bintang beri padanya melalui sentuhan pada lengannya.
Sejak itulah mereka dekat, bahkan sangat dekat.
Arisa kecil sangat jarang menangis dan lebih banyak menghabiskan banyak
waktunya untuk tersenyum dan tertawa. Namun lihatlah sekarang, Bintang menyadari
perubahan besar dalam diri Arisa. Wajahnya kian muram dan kantung matanya… ah
tidak perlu ditanyakan, persis seperti orang frustasi. Mungkin kemurungan itu
tertutup dengan tabiat asli Arisa yang sangat ceria dan aktif, tetapi bila dia
sedang melamun, wajah zombie itu akan terlihat begitu jelas.
“Tidak mengabariku kalau ingin datang? Kemana saja
kau! Aku menunggumu hampir jutaan abad yang lalu.” Arisa meringis. Arisa sangat
rindu sahabat-sehidup-semati-nya ini. Terlalu banyak kejadian yang Arisa alami
dan terlewatkan Bintang. Semuanya karena jarak. Jarak yang jauhnya cukup untuk
menghabiskan waktu 2 jam untuk Bintang sampai kerumah Arisa yang sekarang.
Sejak 3 tahun kepulangan Arisa ke Indonesia, Bintang memberi kabar bahwa dia
akan segera pindah ke Indonesia, negara kelahirannya. Tetapi, apa mau dikata takdir
tidak membiarkan mereka menjadi tetangga lagi.
“Aku sedang banyak pasien.” Bintang menjawab singkat
sambil terus tersenyum. Mungkin pengaruh berdekatan dengan Arisa yang ringan
memberi banyak senyuman pada semua orang, lalu ketika melihat wajahnya, Bintang
merasakan ketenangan dan kedamaian itu menumpuk pada hatinya yang diselimuti
kebahagiaan karena dapat bertemu Putri Saljunya yang telah lama dia rindukan.
“Mana Pupu? Apa dia bertambah gemuk?”
“Tentu saja sedang berleha-leha di atas tempat
tidurku. Kucingmu itu sungguh sangat keterlaluan saat makan dan tidur.” Arisa
cemberut lagi, masih marah atas keterlambatan Bintang datang kemari. Walaupun
sebenarnya dia sangat senang sahabat karibnya itu sudah disini. Arisa sudah
siap bercerita, namun sepertinya Lily tidak akan membiarkan pujaannya itu jatuh
tangan pada kakaknya yang haus akan perhatian seorang Bintang. Lily masih saja
menempel di samping Bintang.
“Tapi kau senang menjadikannya bantal.” Lily
nyeletuk tajam. Bintang langsung mengarahkan pandangan pada Lily seakan
bertanya ‘benarkah?’ lalu Lily hanya mengangguk meyakinkan Bintang.
Gadis di depan Bintang hanya diam, menunduk malu,
dan ber-hehehe. Pipinya memanas hingga merona kemerahan sangking malunya.
“Apa kabar Reno?” ujar Bintang masih sambil terus
saja tersenyum kearah Arisa yang rupanya masih menunduk. Lily tidak percaya
kakak pujaannya itu tidak marah dengan kakak menyebalkannya. Lily hanya
membuang muka karena merasa diabaikan.
Arisa yang mendengar nama orang yang disayanginya
disebut langsung mengangkat kepala, wajahnya cerah seketika, namun mengingat
kejadian pahit semalam dia kembali menunduk, wajahnya kembali muram
memperlihatkan zombie dalam wajahnya terlihat sangat jelas.
“Ada apa?” Bintang tidak heran lagi mengapa Arisa
murung ketika ditanya tentang Reno. Bajingan itu memang selalu membuat Putri
Saljunya menangis dan kian murung. Jarang sekali secuil kebahagiaan yang
terpancar di wajah Arisa saat ditanya mengenai Reno. Dia tidak tahu mengapa,
tanpa Arisa ceritakan pun dia sudah memastikan bahwa wajah zombie gadis itu
berasal dari lelaki yang masih diragukan kejantannya oleh Bintang. Setiap
Bintang melihat Arisa murung seperti sekarang, ingin rasanya dia memukulkan
kepalannya di wajah laki-laki itu.
Bintang tetap tersenyum. Dapat memaklumi situasi
berat yang dialami Arisa.
Namun kali ini Arisa harus bercerita semuanya, dia
tidak merasa lebih lega selain bercerita kepada Bintang. Saat Lily memutuskan
untuk masuk ke dalam kamarnya karena tahu tujuan pembicaraan ini kemana, Arisa
langsung tancap gas bersemangat untuk menceritakan semuanya. Arisa tahu Lily
sangat membenci topik pembicaraan tentang Reno, katanya dia ingin muntah saja
bila mendengar nama itu disebut-sebut.
Semangat juangnya yang tinggi dalam bercerita dari
awal sampai akhir, bahkan ceramah yang diberikan oleh Lily secara cuma-cuma
Arisa ulang dan ceritakan kepada Bintang. Lelehan air yang mencair dari pelupuk
mata Arisa tidak dapat dibendung lagi. Rasanya sakit bagi Bintang untuk melihat
gadis yang dia cintai menangis karena lelaki bangsat yang tidak benar-benar
mencintainya. Namun, gadis ini tetap mempertahankannya. Entah itu karena alasan
‘buta’-nya tentang cinta pertama harus menjadi cinta yang terakhir untuknya.
Bintang masih diam sambil tersenyum, menunggu gadis
di depannya berhenti. Namun, tanpa disangka kakinya menuju gadis mungil itu,
menangkapnya dalam dekapannya. Bintang tidak tahan lagi kalau selalu saja
seperti ini. Arisa terisak. Dia tahu ini yang dia butuhkan, dia butuh
kehangatan yang tidak pernah dia dapat dari Reno, dan merasa dilindungi seperti
sekarang. Seperti yang selalu Bintang lakukan pada Arisa.
Hingga senja, riuh-rendah yang terdengar sangat
bahagia itu menutupi kesedihan Arisa sementara. Lily yang tadinya seperti
monster kecil sekarang berlaku seperti adik manis pada umumnya ketika ada
Bintang, entah energi hebat apa yang Bintang beri pada mereka hingga mereka
bisa sebahagia hari ini dan hari-hari lain setiap Bintang berkunjung.
***
Terik matahari siang ini benar-benar luar biasa
hebat, hingga mampu menembus hati Arisa yang terasa panas dan terbakar. Matanya
memanas, seperti ada cairan yang siap terjun bebas detik itu juga, namun dia
menahannnya, tidak di depan Lara dan
tidak juga di depan Reno, celotehnya dalam hati. Jadi, Arisa hanya berusaha
untuk kuat dan tegar. Dari satu jam lalu, Arisa berjalan di belakang Reno dan
Lara yang sangat mesra di depannya. Inikah rasanya cemburu? Yang Arisa rasakan
hanya sesak, dan tidak membantah jika perasaannya sangat sakit.
“Risa kok gak kamu ajak ngobrol sih, Ren?” Lara
bertanya dengan manja. Arisa yang mendengarnya seperti mendengar drama queen sedang tampil.
“Risa juga gak keberatan kan?” seketika wajah Reno
beralih ke belakang, menatap Arisa menjawab ‘iya’ dengan penuh harap.
Arisa hanya mengangguk lesu. Hatinya nyeri. Dia
tidak tahu, mengapa begini jadinya saat Reno menepati janjinya, Reno malah mengajak
serta Lara yang kelihatannya seperti membubuhi garam pada luka yang dibuat
Reno.
Saat melihat sosok Bintang yang sepertinya ada di
seberang jalan yang sedang mereka lewati, tanpa pamit Arisa kabur meninggalkan
dua orang—yang
lebih kelihatan sebagai sepasang kekasih—di depannya itu. Arisa
tidak peduli lagi bagaimana hubungannya dengan Reno. Ini sudah terlalu
menyakitkan.
“Sasa?” Bintang yang sedang duduk di bawah rimbunnya
pohon di sebuah taman itu terkejut saat tiba-tiba gadis yang dicintainya
berlari sambil terisak. Arisa langsung memeluk Bintang.
Hati Bintang ngilu menyaksikan butiran-butiran cair
itu tumpah deras di pipi Arisa. Dia memeluk Arisa erat. Dia tahu hati Arisa
sudah terlalu kuat menghadapi bajingan itu—Reno. Dia tahu hati
gadis itu sedang teriris entah karena apa. Dia tahu, Arisa terlalu bodoh untuk
mencintai Reno, tetapi gadis itu masih terlalu kecil untuk menyadari betapa
jahatnya Reno.
Diiringi dengan sunyi, kesenyapan masih merayapi
diri mereka masing-masing masih dalam posisi tadi. Angin menjadi nyanyian di
antara telinga mereka. Daun berguguran seakan menjadi saksi betapa Arisa
sebenarnya sangat membutuhkan Bintang lebih betapapun dia mencintai Reno. Dan
Bintang, terlalu sakit hati untuk tinggal diam membiarkan Arisa menangis
terus-menerus seperti ini. Bahunya masih sanggup untuk menahan segala kesakitan
yang Arisa alami, dan hatinya sungguh sangat menginginkan Arisa menjadi pengisi
satu-satunya. Beberapa bagian dalam diri Bintang mengerang, marah karena Arisa
sudah dibuat sebegini menderitanya.
“Oh jadi ini? Berduaan sama Bintang?” suara ketus
yang taka sing bagi Arisa terdengar begitu keras dan penuh amarah, namun Arisa
masih membutuhkan pelukan Bintang yang begitu menenangkan hati dan jiwanya yang
terluka karena Reno.
“Arisa!” suara itu membentak sekali lagi, membuat
Arisa dan Bintang mengendurkan pelukannya masing-masing. Wajah Arisa masih
sembab akibat menangis sesugukkan.
Arisa diam seribu bahasa. Dia tidak peduli lagi
dengan laki-laki bejat bernama lengkap Reno Alvindo. Arisa masih diam. Bintang
terlihat menggenggam jari-jari kecil Arisa, memberi kekuatan lewat sentuhan
ajaibnya yang entah bagaimana bisa membuat Arisa tenang dan semakin kuat di
depan Reno dan Lara.
Arisa menatap tajam kedua pasang mata Reno dan Lara.
Seperti zombie yang siap memangsa korbannya. Ditatap seperti itu Lara kikuk dan
takut, lalu sedetik setelah itu Arisa tersenyum sinis. Dia tahu sudah saatnya
dia melakukan ini. Adegan yang selalu didamba-dambakan Lily untuk Reno terima.
Arisa mengepalkan tangannya, lalu BUGH!
Sebuah pukulan keras mendarat mulus di pipi kiri
Reno, Arisa tahu ini pasti sakit jika dia sedang tidak marah atau sakit hati,
berhubung dia sedang marah dia melanjutkan aksinya itu sekali lagi.
BUGH!
Masih di pipi kiri Reno, Arisa tidak iba melihat
darah mengucur di ujung bibir laki-laki itu. Lara panik dan mencoba
menghentikan Arisa. Namun, satu senyuman iblis yang Arisa berikan cukup untuk
membuat Lara mengurungkan niatnya.
“Apa yang kau lakukan? Aku gak cinta denganmu dari
awal. Terserah apa pendapatmu. Aku mencintai Lara, tidak denganmu, Arisa.
Namun, saat tahu Lara menduakanku, aku beralih kepadamu hanya untuk membalaskan
dendamku terhadapnya. Tapi sekarang lihat, Lara sudah kembali saat dia tahu aku
berpacaran denganmu. Kau kira kau siapa, Arisa?” Reno memberi Arisa tatapan
mematikan dan senyum sinis yang membuat Arisa sangat muak melihatnya.
Bintang maju selangkah, lalu tersenyum kearah Reno
dan senyum sinis dengan Lara. Lalu, detik berikutnya sudah ada tiga kali bunyi BUGH! Yang menghantam wajah dan perut
Reno. Bintang tak tahan lagi lalu menarik lembut tangan Arisa. Arisa tidak
menolaknya. Dia pasrah, selalu begitu jika dengan Bintang. Dia tidak pernah
menolak perbuatan laki-laki itu terhadapnya. Baginya, Bintang adalah sosok
pelindungnya sejak kecil, sejak Bintang menolongnya saat lututnya terluka.
Namun sekarang, Bintang membuat ‘mata’ Arisa terbuka lebar atas kebodohan yang
Arisa lakukan karena terus saja mencintai laki-laki macam Reno.
Bintang tidak pernah memberinya kalimat-kalimat yang
membenarkan bahwa Arisa sudah salah jalan, Bintang hanya akan memeluknya
memberi pengertian atas sikap kekanak-kanakkannya.
Sekarang dia tahu. Sekarang dia mengerti. Dan bahkan
mengapa baru sekarang?
Sosok yang dibutuhkannya bukan hanya sosok yang
menepati janjinya untuk berkencan, atau hanya sekedar kata-kata manis pengantar
tidur, atau speak gombal yang sering
Reno lakukan untuk melelehkan hati Arisa. Namun, sosok pelindung dan merasa
disayangi adalah yang dibutuhkan Arisa. Dan semua itu ada dalam diri Bintang.
***
Esoknya, Bintang tergopoh-gopoh memasuki lorong
putih dengan cahaya menyilaukan mata. Matanya mencari-cari sebuah ruangan
dimana di dalamnya terdapat tubuh gadis yang dia cintai.
“Suster tau dimana ruangan anggrek nomor 17A?”
Bintang tidak tahan untuk menunggu lebih lama lagi untuk bertemu dengan Arisa
yang dikabarkan masuk rumah sakit dini hari tadi.
“Bapak harus naik 2 tangga lagi dari sini, lalu
ruangan paling pojok sebelah kiri itu tempat yang bapak cari.”
Bintang hanya tersenyum, suster tadi mengetahui
bahwa itu tanda terimakasih Bintang walaupun dia tidak mengucapkannya secara
langsung, suster itu tahu wajah Bintang sangat khawatir.
Walaupun Bintang adalah seorang dokter, dia tidak
pernah ke rumah sakit ini sebelumnya. Bintang ditempatkan di rumah sakit yang
jaraknya 1.5 dari rumahnya, dan ini adalah rumah sakit yang jaraknya 800m dari
rumah Arisa.
Bintang mempercepat langkahnya yang besar. Dia
sangat tidak sabar dan sangat khawatir dengan keadaan Putri Saljunya itu.
Setelah memastikan ruangan yang dicarinya hanya
tinggal beberapa langkah lagi, degub jantung Bintang berpacu sangat cepat,
entah apa yang membuatnya seperti itu, gelar sebagai dokter tidak mampu
membuang rasa takutnya saat ingin melihat keadaan orang yang disayanginya. Itu
memang tabiat asli Bintang yang menurun dari alm. Ayahnya.
Krek!
Pintu terbuka, semua mata tertuju pada Bintang yang
membeku di depan pintu.
“Maaf saya terlambat.” katanya sambil tersenyum
kikuk.
Dia melihat Arisa tersenyum lemah. Di samping
kanannya ada bunda dan ayahnya. Di samping kirinya terdapat Lily yang matanya
sembab.
Satu hal yang baru disadarinya, Lily tidak
sehisteris biasanya. Kebiasaan itu hilang seketika. Kedua tangan Lily memegangi
jari-jari kecil Arisa yang lemas tidak bertenaga.
“Bagaimana keadaanmu?” Bintang mencairkan suasana
yang kaku.
“Aku baik-baik saja.” ujar Arisa, masih sambil
tersenyum lemah. Wajahnya pucat sekali.
Ayah dan Bundanya memaksakan senyum yang Bintang
tahu dibaliknya terdapat kesedihan yang teramat dalam.
“Kau sakit apa?” Bintang bertanya dengan tatapan
serius kearah Arisa.
“Dia tidak apa-apa, Bintang. Hanya demam. Apa
kabarmu? Sudah lama tidak berjumpa, bagaimana kabar dokter Deni?”
“Saya baik, Bun. Ayah juga baik.” Bintang merasa ada
sesuatu yang ditutup-tutupi disini. Namun, Bintang mencoba untuk tetap tenang
dan berpikir jernih. Tetapi, semakin mencoba berpikir jernih, yang keluar dalam
otaknya malah pikiran-pikiran aneh tentang Arisa, Putri Salju yang dia cintai
itu.
Dua hari setelah acara penjengukkan Bintang, Arisa
memaksa ingin pulang, padahal Bunda dan Ayahnya melarang keras. Tetapi, dia
tetap bersikeras untuk pulang. Ada sesuatu yang aneh menyembul ke permukaan
hati Bintang. Jadi, kali ini sebelum Arisa pulang, Bintang mengajak Arisa
berkeliling taman.
Arisa sempat meminta beberapa helai lap tangan yang
disiapkan oleh Bunda dan Ayahnya, dan Bintang tidak mengerti untuk apa itu
semua. Awalnya, Bintang hanya mengajak Arisa bercanda. Arisa terlihat sangat
bahagia. Ada sepercik kebahagiaan yang menari-nari dalam hari Bintang melihat
senyum dan tawa renyah itu kembali, walau Bintang mempunyai firasat yang tidak
baik dengan kesehatan gadis mungil itu.
“Antar aku ke danau, Bintang. Aku ingin kesana.”
pinta Arisa dengan nada sedikit memaksa, ada sinar kekhawatiran di mata Arisa
jika dia tidak kesana sekarang. “Aku hanya ingin menikmatinya, jarang-jarang
aku berada di rumah sakit.”
Bintang hanya menjawabnya dengan senyuman hangat.
Dia tahu ada yang tidak beres dengan ucapan Arisa kali ini. Dia tidak bahagia
dalam senyumnya sejak di rumah sakit, Bintang menyadari itu.
Bintang menghentikan kursi roda untuk menampung
Arisa yang lelah berjalan tepat di pinggir danau.
“Indah.” ucap Arisa, memejamkan matanya untuk
menghirup udara disitu, sangat dalam dan seperti mencari-cari agar pemandangan
itu tersimpan di memorinya.
Arisa cepat mendekap hidungnya, saat Bintang tahu
banyak darah yang mengalir disana, Bintang panik setengah mati. Arisa gesit
mengambil lap tangan untuk mengelapnya dan mendongakkan kepalanya agar darahnya
berhenti keluar. Bintang diam. Dia begitu terkejut dengan pemandangan yang
barusan saja dilihatnya. Bintang yang ingin memastikan sesuatu, dengan cepat
mengusap rambut panjang Arisa, dan terkejut hingga lemas ketika ratusan helai
rambut berjatuhan di tangannya hanya dengan sentuhan pelan.
“Ya Tuhan..” lirihnya. Sekarang dia tahu apa yang
selama ini mereka katakan ‘tidak apa-apa’.
Arisa beralih melihat tangan Bintang yang penuh
dengan rambutnya. Bulir air matanya tidak tahan lagi untuk membanjiri pipinya.
Arisa berdiri, menatap sosok lembut di hadapannya dengan lemah, masih sambil
menangis, dan memeluknya dengan erat. Dia tidak peduli lagi darah dari
hidungnya yang terus keluar. Dia tidak tahan melihat Bintang lemah seperti itu.
Dia tidak ingin Bintang tahu, dia tidak ingin terlihat sakit di depan orang
yang dia cintai.
“Jangan sedih, aku mohon.” pinta Arisa sambil
terisak di pelukan Bintang, lalu duduk kembali di tempat duduk yang berada di
sana. Arisa menyeka darahnya dengan tangannya secara asal. Dia tidak peduli
lagi dengan darah-darah itu. Dia sudah muak dengan semuanya.
Hati Bintang teriris, baru saja dia merasa lega
karena penjara yang selama ini menahan Arisa untuk bebas udah hancur di tangan
Arisa sendiri, namun sekarang, cobaan bertubi-tubi menimpa hatinya. Arisa sakit
parah dan sudah stadium akhir. Hatinya nyeri, ngilu, dan perih secara
bersamaan, seperti ada yang menaburi garam pada sayatan luka yang dalam di
hatinya.
Hening.
Keadaan senyap, hanya isakan mereka berdua yang
terdengar.
“Dengar ini baik-baik. Aku mencintaimu..” lirih
Arisa dengan nada yang susah payah untuk dia perjelas, tenggorokannya seakan
kering.
“Aku lebih mencintaimu, maka bertahanlah.” Bintang
mengusap-ngusap punggung kurus Arisa. Arisa semakin erat memeluk Bintang,
seakan inilah kesempatan terakhirnya untuk memeluk Bintang.
Isakan Arisa mereda. Napasnya berat dan darah dari
hidungnya terus keluar. Badannya terasa lemas, lalu secara tidak sadar pelukan
Arisa melonggar pada Bintang. Lalu, detik berikutnya, pelukan itu benar-benar
terlepas dan napas Arisa tidak terasa lagi ada.
Bintang yang menyadari itu memeluk Arisa yang tidak
bernyawa semakin erat. Dia menangis sesugukkan. Dia seperti kehilangan separuh
jiwanya, seakan separuh jiwanya itu terbawa angin.
Namun Bintang tahu, yang bertahan dalam dirinya dan
Arisa adalah cinta mereka. Yang tidak akan terbawa angin sekencang apapun.
0 comments:
Post a Comment