Aug 12, 2013

Bintang

Arisa membenarkan posisi kepalanya yang menyumput di balik Pupu yang hanya pasrah dijadikan bantal. Arisa tidak peduli lagi gaun merah mudanya kucel karena tidur-tiduran tidak karuan. Pupu membiarkan majikannya itu menggeliat-liat seperti tubuhnya yang entah sudah bagaimana mengulet di kasur luas nan empuk itu, tidak risih sama sekali dijadikan tumpuan kepala Arisa yang terasa seberat sejuta ton. Arisa terbangun sedetik setelah pintu kamarnya di buka secara buru-buru olehtentu saja orang paling menyebalkan di rumah iniLily.

“Masih menunggu?”
katanya dengan nada mengejek. Adikku satu itu benar-benar mengesalkan ketika sok mengerti tentang keadaannya setiap kali Renopacarkutidak memberi kabar saat memiliki janji untuk berkencan.
Aku hanya diam, sudah tahu bahwa Lily akan memberiku ceramah gratis yang tidak cukup penting untuk kudengarkan.
“Orang yang mencintaimu, tidak akan membuatmu menunggu walau hanya sedetik. Setahuku dia tidak cukup mencintaimu karena sejak bersamanya, kulihat kau lebih sering menangis dibanding sumringah bahagia. Dia terlalu egois, kau tahu.” Lily menambahkan kalimat demi kalimat yang menghujam jantung Arisa dengan ribuan belati. Menusuk sekali. Kalimatnya singkat, namun cukup sakti untuk membuatnya merasa tersindir.
“Kau itu umur berapa sih sebenarnya? Aku jadi bingung, siapa yang seharusnya jadi adik. Ini pasti karena kau terlalu sering membaca novel.”
“Toh, novel itu memang benar? Kalau tidak, kau mungkin tidak merasa tersindir. Dan kalau memang kak Reno kesayanganmu itu memang mencintaimu, dia sudah kesini sejak 2 jam yang lalu.”
Arisa diam. Mencerna kalimat kelas atas dari adik keciltapi berpikiran terlalu dewasa untuk anak seumuran 11 tahunnya itu. Dengan suasana yang kian mencekam hatinya, sebuah getaran dengan nada dering standar berbunyi cukup nyaring. Arisa tahu itu bunyi ponselnya, tetapi dia tidak dapat menemukannya secepat yang dia bisa karena dia lupa menaruh benda kecil itu dimana. Bunyinya meredam, sepersekian detik berikutnya, Pupu mengeong dan pindah posisi di atas bantal empuk, dan disitulah Arisa bersyukur karena ponselnya ternyata ada di bawah perut si gembul Pupu.
Secepat kilat Arisa menatap layar ponsel, mendapati sebuah panggilan tidak terjawab dan pesan singkat dari pujaan hatinya, Reno. Namun, detik berikutnya, wajahnya muram dan Arisa hanya bisa tertunduk lesu.
“Apa? Mobilnya mogok lagi? Ada urusan keluarga mendadak lagi? Ketiduran lagi? Atau jangan-jangan dia lupa bahwa dia memiliki pacar?” cerocos Lily tanpa ampun.
Arisa masih diam. “Kali ini, dia sedang tidak enak badan, Lily, berhentilah berpikir yang tidak-tidak tentang Reno.”
“Tidakkah kau berpikir untuk mengakhirinya saja? Aku lelah melihat kantung matamu kian hari kian hitam dan tebal. Dan aku kasihan pada Pupu yang selalu kau jadikan bantal tiap kali kau menunggunya. Kau tahu, terkadang aku lebih merasa kasihan daripada empati padamu, dia terlalu mementingkan urusannya yang tidak penting dibanding dirimu. Aku tahu dia cinta pertamamu, tapi kau harus berpikir ulang tentang perasaannya. Kupikir kau sudah dewasa melebihi aku.” Lily ngeloyor pergi begitu saja dan meninggalkan sejumput kegelisahan dalam hati Arisa, yang semakin Arisa pikirkan semakin lelah pula otaknya untuk diajak berpikir.
***

Bintang mengetuk pintu beberapa kali, lalu terkejut sesaat setelah si mungil Lily yang membukakan pintunya.
“Kak Bintang!” sahut Lily berhambur keluar untuk segera memeluk sosok jangkung di depannya itu, seperti sudah sekian abad tidak bertemu. Lily tidak segera merapikan rambut ikalnya yang sengaja Bintang acak-acak seperti yang selalu dilakukannya pada Lily.
“Kak Sasa ada?”
“Kak Sasa terus, Lily kapan kakak cariin sampe bela-belain jauh-jauh kesini?” Lily cemberut. Wajahnya lucu sekali.
Arisa yang merasa mendengar kericuhan di depan rumahnya bergegas mencari tahu apa yang sedang terjadi. Lalu, malah kegirangan melihat sahabat kecilnya berkunjung.
“Bintang!!! Bintang!!!” Arisa menyerbu kepala si jangkung dan langsung menjitaknya beberapa kali. Itu juga ritual dari Arisa untuk Bintang seperti Bintang mengacak-acak rambut Lily.
Arisa melompat-lompat bahagia seperti habis dibelikan permen cokelat. “Masuk!” katanya cepat.
Bintang hanya bisa tersenyum. Sebenarnya, dia yang lebih bahagia dapat melihat sesosok Putri Saljunya kembali setelah sekitar sebulan tidak bertemu. Ada triliunan rasa rindu yang tertahan di hatinya pada sosok ini. Sosok yang selalu dia jaili saat kecil, tetapi itu berbalik ketika mereka dewasa.
Arisa kecil memang sempat tinggal di Berlin selama 7 tahun sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke tempat asal bundanya, Indonesia. Bintang yang kala itu sudah menetap 2 tahun di Berlin senang bertemu dengan orang Indonesia sebagai tetangga barunya. Saat berkenalan dengan Bintang, Arisa sedang mengaduh kesakitan karena terjatuh. Lututnya terluka cukup parah hingga Bintang sangat khawatir dengan keadaan Arisa kecil yang sangat menggemaskan ketika menangis.
“Eh? Kau terluka?” Bintang berbasa-basi padahal dia melihat sendiri kerjadian yang menimpa Arisa. Bintang memang seringkali memperhatikan Arisa sejak dia bermain salju di depan rumahnya, tetapi Bintang kecil terlalu pemalu untuk mengajak Arisa berkenalan. Dia takjub dengan rona kemerahan yang ditimbulkan pada kedua pipi Arisa kecil saat melumuri wajahnya dengan bongkahan es. Arisa sungguh konyol, tetapi mungkin itu yang dirasakan oleh anak-anak yang baru pertama kali merasakan adanya musim salju karena Indonesia tidak punya itu.
Arisa yang menyadari kehadiran orang Indonesia langsung tersenyum, melupakan lukanya lalu mengangguk masih menahan perih karena lukanya.
“Aku bisa membereskan ini. Kita mampir dulu kerumahku. Ada perlengkapan P3K disana. Ayahku seorang dokter.” Bintang tersenyum manis. Dia tahu sudah seharusnya dia bersikap berani seperti lelaki jantan yang akan mendekati wanita pada umumnya.
Bintang menarik lengan Arisa dengan lembut, ada kekhawatiran di wajah Arisa karena diajak oleh orang asing di kota yang belum seminggu dia singgahi, namun dia tidak melawan ajakan itu, seperti ada energi baik yang Bintang beri padanya melalui sentuhan pada lengannya.
Sejak itulah mereka dekat, bahkan sangat dekat. Arisa kecil sangat jarang menangis dan lebih banyak menghabiskan banyak waktunya untuk tersenyum dan tertawa. Namun lihatlah sekarang, Bintang menyadari perubahan besar dalam diri Arisa. Wajahnya kian muram dan kantung matanya… ah tidak perlu ditanyakan, persis seperti orang frustasi. Mungkin kemurungan itu tertutup dengan tabiat asli Arisa yang sangat ceria dan aktif, tetapi bila dia sedang melamun, wajah zombie itu akan terlihat begitu jelas.
“Tidak mengabariku kalau ingin datang? Kemana saja kau! Aku menunggumu hampir jutaan abad yang lalu.” Arisa meringis. Arisa sangat rindu sahabat-sehidup-semati-nya ini. Terlalu banyak kejadian yang Arisa alami dan terlewatkan Bintang. Semuanya karena jarak. Jarak yang jauhnya cukup untuk menghabiskan waktu 2 jam untuk Bintang sampai kerumah Arisa yang sekarang. Sejak 3 tahun kepulangan Arisa ke Indonesia, Bintang memberi kabar bahwa dia akan segera pindah ke Indonesia, negara kelahirannya. Tetapi, apa mau dikata takdir tidak membiarkan mereka menjadi tetangga lagi.
“Aku sedang banyak pasien.” Bintang menjawab singkat sambil terus tersenyum. Mungkin pengaruh berdekatan dengan Arisa yang ringan memberi banyak senyuman pada semua orang, lalu ketika melihat wajahnya, Bintang merasakan ketenangan dan kedamaian itu menumpuk pada hatinya yang diselimuti kebahagiaan karena dapat bertemu Putri Saljunya yang telah lama dia rindukan. “Mana Pupu? Apa dia bertambah gemuk?”
“Tentu saja sedang berleha-leha di atas tempat tidurku. Kucingmu itu sungguh sangat keterlaluan saat makan dan tidur.” Arisa cemberut lagi, masih marah atas keterlambatan Bintang datang kemari. Walaupun sebenarnya dia sangat senang sahabat karibnya itu sudah disini. Arisa sudah siap bercerita, namun sepertinya Lily tidak akan membiarkan pujaannya itu jatuh tangan pada kakaknya yang haus akan perhatian seorang Bintang. Lily masih saja menempel di samping Bintang.
“Tapi kau senang menjadikannya bantal.” Lily nyeletuk tajam. Bintang langsung mengarahkan pandangan pada Lily seakan bertanya ‘benarkah?’ lalu Lily hanya mengangguk meyakinkan Bintang.
Gadis di depan Bintang hanya diam, menunduk malu, dan ber-hehehe. Pipinya memanas hingga merona kemerahan sangking malunya.
“Apa kabar Reno?” ujar Bintang masih sambil terus saja tersenyum kearah Arisa yang rupanya masih menunduk. Lily tidak percaya kakak pujaannya itu tidak marah dengan kakak menyebalkannya. Lily hanya membuang muka karena merasa diabaikan.
Arisa yang mendengar nama orang yang disayanginya disebut langsung mengangkat kepala, wajahnya cerah seketika, namun mengingat kejadian pahit semalam dia kembali menunduk, wajahnya kembali muram memperlihatkan zombie dalam wajahnya terlihat sangat jelas.
“Ada apa?” Bintang tidak heran lagi mengapa Arisa murung ketika ditanya tentang Reno. Bajingan itu memang selalu membuat Putri Saljunya menangis dan kian murung. Jarang sekali secuil kebahagiaan yang terpancar di wajah Arisa saat ditanya mengenai Reno. Dia tidak tahu mengapa, tanpa Arisa ceritakan pun dia sudah memastikan bahwa wajah zombie gadis itu berasal dari lelaki yang masih diragukan kejantannya oleh Bintang. Setiap Bintang melihat Arisa murung seperti sekarang, ingin rasanya dia memukulkan kepalannya di wajah laki-laki itu.
Bintang tetap tersenyum. Dapat memaklumi situasi berat yang dialami Arisa.
Namun kali ini Arisa harus bercerita semuanya, dia tidak merasa lebih lega selain bercerita kepada Bintang. Saat Lily memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya karena tahu tujuan pembicaraan ini kemana, Arisa langsung tancap gas bersemangat untuk menceritakan semuanya. Arisa tahu Lily sangat membenci topik pembicaraan tentang Reno, katanya dia ingin muntah saja bila mendengar nama itu disebut-sebut.
Semangat juangnya yang tinggi dalam bercerita dari awal sampai akhir, bahkan ceramah yang diberikan oleh Lily secara cuma-cuma Arisa ulang dan ceritakan kepada Bintang. Lelehan air yang mencair dari pelupuk mata Arisa tidak dapat dibendung lagi. Rasanya sakit bagi Bintang untuk melihat gadis yang dia cintai menangis karena lelaki bangsat yang tidak benar-benar mencintainya. Namun, gadis ini tetap mempertahankannya. Entah itu karena alasan ‘buta’-nya tentang cinta pertama harus menjadi cinta yang terakhir untuknya.
Bintang masih diam sambil tersenyum, menunggu gadis di depannya berhenti. Namun, tanpa disangka kakinya menuju gadis mungil itu, menangkapnya dalam dekapannya. Bintang tidak tahan lagi kalau selalu saja seperti ini. Arisa terisak. Dia tahu ini yang dia butuhkan, dia butuh kehangatan yang tidak pernah dia dapat dari Reno, dan merasa dilindungi seperti sekarang. Seperti yang selalu Bintang lakukan pada Arisa.
Hingga senja, riuh-rendah yang terdengar sangat bahagia itu menutupi kesedihan Arisa sementara. Lily yang tadinya seperti monster kecil sekarang berlaku seperti adik manis pada umumnya ketika ada Bintang, entah energi hebat apa yang Bintang beri pada mereka hingga mereka bisa sebahagia hari ini dan hari-hari lain setiap Bintang berkunjung.
***

Terik matahari siang ini benar-benar luar biasa hebat, hingga mampu menembus hati Arisa yang terasa panas dan terbakar. Matanya memanas, seperti ada cairan yang siap terjun bebas detik itu juga, namun dia menahannnya, tidak di depan Lara dan tidak juga di depan Reno, celotehnya dalam hati. Jadi, Arisa hanya berusaha untuk kuat dan tegar. Dari satu jam lalu, Arisa berjalan di belakang Reno dan Lara yang sangat mesra di depannya. Inikah rasanya cemburu? Yang Arisa rasakan hanya sesak, dan tidak membantah jika perasaannya sangat sakit.
“Risa kok gak kamu ajak ngobrol sih, Ren?” Lara bertanya dengan manja. Arisa yang mendengarnya seperti mendengar drama queen sedang tampil.
“Risa juga gak keberatan kan?” seketika wajah Reno beralih ke belakang, menatap Arisa menjawab ‘iya’ dengan penuh harap.
Arisa hanya mengangguk lesu. Hatinya nyeri. Dia tidak tahu, mengapa begini jadinya saat Reno menepati janjinya, Reno malah mengajak serta Lara yang kelihatannya seperti membubuhi garam pada luka yang dibuat Reno.
Saat melihat sosok Bintang yang sepertinya ada di seberang jalan yang sedang mereka lewati, tanpa pamit Arisa kabur meninggalkan dua orangyang lebih kelihatan sebagai sepasang kekasihdi depannya itu. Arisa tidak peduli lagi bagaimana hubungannya dengan Reno. Ini sudah terlalu menyakitkan.
“Sasa?” Bintang yang sedang duduk di bawah rimbunnya pohon di sebuah taman itu terkejut saat tiba-tiba gadis yang dicintainya berlari sambil terisak. Arisa langsung memeluk Bintang.
Hati Bintang ngilu menyaksikan butiran-butiran cair itu tumpah deras di pipi Arisa. Dia memeluk Arisa erat. Dia tahu hati Arisa sudah terlalu kuat menghadapi bajingan ituReno. Dia tahu hati gadis itu sedang teriris entah karena apa. Dia tahu, Arisa terlalu bodoh untuk mencintai Reno, tetapi gadis itu masih terlalu kecil untuk menyadari betapa jahatnya Reno.
Diiringi dengan sunyi, kesenyapan masih merayapi diri mereka masing-masing masih dalam posisi tadi. Angin menjadi nyanyian di antara telinga mereka. Daun berguguran seakan menjadi saksi betapa Arisa sebenarnya sangat membutuhkan Bintang lebih betapapun dia mencintai Reno. Dan Bintang, terlalu sakit hati untuk tinggal diam membiarkan Arisa menangis terus-menerus seperti ini. Bahunya masih sanggup untuk menahan segala kesakitan yang Arisa alami, dan hatinya sungguh sangat menginginkan Arisa menjadi pengisi satu-satunya. Beberapa bagian dalam diri Bintang mengerang, marah karena Arisa sudah dibuat sebegini menderitanya.
“Oh jadi ini? Berduaan sama Bintang?” suara ketus yang taka sing bagi Arisa terdengar begitu keras dan penuh amarah, namun Arisa masih membutuhkan pelukan Bintang yang begitu menenangkan hati dan jiwanya yang terluka karena Reno.
“Arisa!” suara itu membentak sekali lagi, membuat Arisa dan Bintang mengendurkan pelukannya masing-masing. Wajah Arisa masih sembab akibat menangis sesugukkan.
Arisa diam seribu bahasa. Dia tidak peduli lagi dengan laki-laki bejat bernama lengkap Reno Alvindo. Arisa masih diam. Bintang terlihat menggenggam jari-jari kecil Arisa, memberi kekuatan lewat sentuhan ajaibnya yang entah bagaimana bisa membuat Arisa tenang dan semakin kuat di depan Reno dan Lara.
Arisa menatap tajam kedua pasang mata Reno dan Lara. Seperti zombie yang siap memangsa korbannya. Ditatap seperti itu Lara kikuk dan takut, lalu sedetik setelah itu Arisa tersenyum sinis. Dia tahu sudah saatnya dia melakukan ini. Adegan yang selalu didamba-dambakan Lily untuk Reno terima.
Arisa mengepalkan tangannya, lalu BUGH!
Sebuah pukulan keras mendarat mulus di pipi kiri Reno, Arisa tahu ini pasti sakit jika dia sedang tidak marah atau sakit hati, berhubung dia sedang marah dia melanjutkan aksinya itu sekali lagi.
BUGH!
Masih di pipi kiri Reno, Arisa tidak iba melihat darah mengucur di ujung bibir laki-laki itu. Lara panik dan mencoba menghentikan Arisa. Namun, satu senyuman iblis yang Arisa berikan cukup untuk membuat Lara mengurungkan niatnya.
“Apa yang kau lakukan? Aku gak cinta denganmu dari awal. Terserah apa pendapatmu. Aku mencintai Lara, tidak denganmu, Arisa. Namun, saat tahu Lara menduakanku, aku beralih kepadamu hanya untuk membalaskan dendamku terhadapnya. Tapi sekarang lihat, Lara sudah kembali saat dia tahu aku berpacaran denganmu. Kau kira kau siapa, Arisa?” Reno memberi Arisa tatapan mematikan dan senyum sinis yang membuat Arisa sangat muak melihatnya.
Bintang maju selangkah, lalu tersenyum kearah Reno dan senyum sinis dengan Lara. Lalu, detik berikutnya sudah ada tiga kali bunyi BUGH! Yang menghantam wajah dan perut Reno. Bintang tak tahan lagi lalu menarik lembut tangan Arisa. Arisa tidak menolaknya. Dia pasrah, selalu begitu jika dengan Bintang. Dia tidak pernah menolak perbuatan laki-laki itu terhadapnya. Baginya, Bintang adalah sosok pelindungnya sejak kecil, sejak Bintang menolongnya saat lututnya terluka. Namun sekarang, Bintang membuat ‘mata’ Arisa terbuka lebar atas kebodohan yang Arisa lakukan karena terus saja mencintai laki-laki macam Reno.
Bintang tidak pernah memberinya kalimat-kalimat yang membenarkan bahwa Arisa sudah salah jalan, Bintang hanya akan memeluknya memberi pengertian atas sikap kekanak-kanakkannya.
Sekarang dia tahu. Sekarang dia mengerti. Dan bahkan mengapa baru sekarang?
Sosok yang dibutuhkannya bukan hanya sosok yang menepati janjinya untuk berkencan, atau hanya sekedar kata-kata manis pengantar tidur, atau speak gombal yang sering Reno lakukan untuk melelehkan hati Arisa. Namun, sosok pelindung dan merasa disayangi adalah yang dibutuhkan Arisa. Dan semua itu ada dalam diri Bintang.
***

Esoknya, Bintang tergopoh-gopoh memasuki lorong putih dengan cahaya menyilaukan mata. Matanya mencari-cari sebuah ruangan dimana di dalamnya terdapat tubuh gadis yang dia cintai.
“Suster tau dimana ruangan anggrek nomor 17A?” Bintang tidak tahan untuk menunggu lebih lama lagi untuk bertemu dengan Arisa yang dikabarkan masuk rumah sakit dini hari tadi.
“Bapak harus naik 2 tangga lagi dari sini, lalu ruangan paling pojok sebelah kiri itu tempat yang bapak cari.”
Bintang hanya tersenyum, suster tadi mengetahui bahwa itu tanda terimakasih Bintang walaupun dia tidak mengucapkannya secara langsung, suster itu tahu wajah Bintang sangat khawatir.
Walaupun Bintang adalah seorang dokter, dia tidak pernah ke rumah sakit ini sebelumnya. Bintang ditempatkan di rumah sakit yang jaraknya 1.5 dari rumahnya, dan ini adalah rumah sakit yang jaraknya 800m dari rumah Arisa.
Bintang mempercepat langkahnya yang besar. Dia sangat tidak sabar dan sangat khawatir dengan keadaan Putri Saljunya itu.
Setelah memastikan ruangan yang dicarinya hanya tinggal beberapa langkah lagi, degub jantung Bintang berpacu sangat cepat, entah apa yang membuatnya seperti itu, gelar sebagai dokter tidak mampu membuang rasa takutnya saat ingin melihat keadaan orang yang disayanginya. Itu memang tabiat asli Bintang yang menurun dari alm. Ayahnya.
Krek!
Pintu terbuka, semua mata tertuju pada Bintang yang membeku di depan pintu.
“Maaf saya terlambat.” katanya sambil tersenyum kikuk.
Dia melihat Arisa tersenyum lemah. Di samping kanannya ada bunda dan ayahnya. Di samping kirinya terdapat Lily yang matanya sembab.
Satu hal yang baru disadarinya, Lily tidak sehisteris biasanya. Kebiasaan itu hilang seketika. Kedua tangan Lily memegangi jari-jari kecil Arisa yang lemas tidak bertenaga.
“Bagaimana keadaanmu?” Bintang mencairkan suasana yang kaku.
“Aku baik-baik saja.” ujar Arisa, masih sambil tersenyum lemah. Wajahnya pucat sekali.
Ayah dan Bundanya memaksakan senyum yang Bintang tahu dibaliknya terdapat kesedihan yang teramat dalam.
“Kau sakit apa?” Bintang bertanya dengan tatapan serius kearah Arisa.
“Dia tidak apa-apa, Bintang. Hanya demam. Apa kabarmu? Sudah lama tidak berjumpa, bagaimana kabar dokter Deni?”
“Saya baik, Bun. Ayah juga baik.” Bintang merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi disini. Namun, Bintang mencoba untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Tetapi, semakin mencoba berpikir jernih, yang keluar dalam otaknya malah pikiran-pikiran aneh tentang Arisa, Putri Salju yang dia cintai itu.
Dua hari setelah acara penjengukkan Bintang, Arisa memaksa ingin pulang, padahal Bunda dan Ayahnya melarang keras. Tetapi, dia tetap bersikeras untuk pulang. Ada sesuatu yang aneh menyembul ke permukaan hati Bintang. Jadi, kali ini sebelum Arisa pulang, Bintang mengajak Arisa berkeliling taman.
Arisa sempat meminta beberapa helai lap tangan yang disiapkan oleh Bunda dan Ayahnya, dan Bintang tidak mengerti untuk apa itu semua. Awalnya, Bintang hanya mengajak Arisa bercanda. Arisa terlihat sangat bahagia. Ada sepercik kebahagiaan yang menari-nari dalam hari Bintang melihat senyum dan tawa renyah itu kembali, walau Bintang mempunyai firasat yang tidak baik dengan kesehatan gadis mungil itu.
“Antar aku ke danau, Bintang. Aku ingin kesana.” pinta Arisa dengan nada sedikit memaksa, ada sinar kekhawatiran di mata Arisa jika dia tidak kesana sekarang. “Aku hanya ingin menikmatinya, jarang-jarang aku berada di rumah sakit.”
Bintang hanya menjawabnya dengan senyuman hangat. Dia tahu ada yang tidak beres dengan ucapan Arisa kali ini. Dia tidak bahagia dalam senyumnya sejak di rumah sakit, Bintang menyadari itu.
Bintang menghentikan kursi roda untuk menampung Arisa yang lelah berjalan tepat di pinggir danau.
“Indah.” ucap Arisa, memejamkan matanya untuk menghirup udara disitu, sangat dalam dan seperti mencari-cari agar pemandangan itu tersimpan di memorinya.
Arisa cepat mendekap hidungnya, saat Bintang tahu banyak darah yang mengalir disana, Bintang panik setengah mati. Arisa gesit mengambil lap tangan untuk mengelapnya dan mendongakkan kepalanya agar darahnya berhenti keluar. Bintang diam. Dia begitu terkejut dengan pemandangan yang barusan saja dilihatnya. Bintang yang ingin memastikan sesuatu, dengan cepat mengusap rambut panjang Arisa, dan terkejut hingga lemas ketika ratusan helai rambut berjatuhan di tangannya hanya dengan sentuhan pelan.
“Ya Tuhan..” lirihnya. Sekarang dia tahu apa yang selama ini mereka katakan ‘tidak apa-apa’.
Arisa beralih melihat tangan Bintang yang penuh dengan rambutnya. Bulir air matanya tidak tahan lagi untuk membanjiri pipinya. Arisa berdiri, menatap sosok lembut di hadapannya dengan lemah, masih sambil menangis, dan memeluknya dengan erat. Dia tidak peduli lagi darah dari hidungnya yang terus keluar. Dia tidak tahan melihat Bintang lemah seperti itu. Dia tidak ingin Bintang tahu, dia tidak ingin terlihat sakit di depan orang yang dia cintai.
“Jangan sedih, aku mohon.” pinta Arisa sambil terisak di pelukan Bintang, lalu duduk kembali di tempat duduk yang berada di sana. Arisa menyeka darahnya dengan tangannya secara asal. Dia tidak peduli lagi dengan darah-darah itu. Dia sudah muak dengan semuanya.
Hati Bintang teriris, baru saja dia merasa lega karena penjara yang selama ini menahan Arisa untuk bebas udah hancur di tangan Arisa sendiri, namun sekarang, cobaan bertubi-tubi menimpa hatinya. Arisa sakit parah dan sudah stadium akhir. Hatinya nyeri, ngilu, dan perih secara bersamaan, seperti ada yang menaburi garam pada sayatan luka yang dalam di hatinya.
Hening.
Keadaan senyap, hanya isakan mereka berdua yang terdengar.
“Dengar ini baik-baik. Aku mencintaimu..” lirih Arisa dengan nada yang susah payah untuk dia perjelas, tenggorokannya seakan kering.
“Aku lebih mencintaimu, maka bertahanlah.” Bintang mengusap-ngusap punggung kurus Arisa. Arisa semakin erat memeluk Bintang, seakan inilah kesempatan terakhirnya untuk memeluk Bintang.
Isakan Arisa mereda. Napasnya berat dan darah dari hidungnya terus keluar. Badannya terasa lemas, lalu secara tidak sadar pelukan Arisa melonggar pada Bintang. Lalu, detik berikutnya, pelukan itu benar-benar terlepas dan napas Arisa tidak terasa lagi ada.
Bintang yang menyadari itu memeluk Arisa yang tidak bernyawa semakin erat. Dia menangis sesugukkan. Dia seperti kehilangan separuh jiwanya, seakan separuh jiwanya itu terbawa angin.
Namun Bintang tahu, yang bertahan dalam dirinya dan Arisa adalah cinta mereka. Yang tidak akan terbawa angin sekencang apapun.

0 comments:

Post a Comment

Aug 12, 2013

Bintang

Arisa membenarkan posisi kepalanya yang menyumput di balik Pupu yang hanya pasrah dijadikan bantal. Arisa tidak peduli lagi gaun merah mudanya kucel karena tidur-tiduran tidak karuan. Pupu membiarkan majikannya itu menggeliat-liat seperti tubuhnya yang entah sudah bagaimana mengulet di kasur luas nan empuk itu, tidak risih sama sekali dijadikan tumpuan kepala Arisa yang terasa seberat sejuta ton. Arisa terbangun sedetik setelah pintu kamarnya di buka secara buru-buru olehtentu saja orang paling menyebalkan di rumah iniLily.

“Masih menunggu?”
katanya dengan nada mengejek. Adikku satu itu benar-benar mengesalkan ketika sok mengerti tentang keadaannya setiap kali Renopacarkutidak memberi kabar saat memiliki janji untuk berkencan.
Aku hanya diam, sudah tahu bahwa Lily akan memberiku ceramah gratis yang tidak cukup penting untuk kudengarkan.
“Orang yang mencintaimu, tidak akan membuatmu menunggu walau hanya sedetik. Setahuku dia tidak cukup mencintaimu karena sejak bersamanya, kulihat kau lebih sering menangis dibanding sumringah bahagia. Dia terlalu egois, kau tahu.” Lily menambahkan kalimat demi kalimat yang menghujam jantung Arisa dengan ribuan belati. Menusuk sekali. Kalimatnya singkat, namun cukup sakti untuk membuatnya merasa tersindir.
“Kau itu umur berapa sih sebenarnya? Aku jadi bingung, siapa yang seharusnya jadi adik. Ini pasti karena kau terlalu sering membaca novel.”
“Toh, novel itu memang benar? Kalau tidak, kau mungkin tidak merasa tersindir. Dan kalau memang kak Reno kesayanganmu itu memang mencintaimu, dia sudah kesini sejak 2 jam yang lalu.”
Arisa diam. Mencerna kalimat kelas atas dari adik keciltapi berpikiran terlalu dewasa untuk anak seumuran 11 tahunnya itu. Dengan suasana yang kian mencekam hatinya, sebuah getaran dengan nada dering standar berbunyi cukup nyaring. Arisa tahu itu bunyi ponselnya, tetapi dia tidak dapat menemukannya secepat yang dia bisa karena dia lupa menaruh benda kecil itu dimana. Bunyinya meredam, sepersekian detik berikutnya, Pupu mengeong dan pindah posisi di atas bantal empuk, dan disitulah Arisa bersyukur karena ponselnya ternyata ada di bawah perut si gembul Pupu.
Secepat kilat Arisa menatap layar ponsel, mendapati sebuah panggilan tidak terjawab dan pesan singkat dari pujaan hatinya, Reno. Namun, detik berikutnya, wajahnya muram dan Arisa hanya bisa tertunduk lesu.
“Apa? Mobilnya mogok lagi? Ada urusan keluarga mendadak lagi? Ketiduran lagi? Atau jangan-jangan dia lupa bahwa dia memiliki pacar?” cerocos Lily tanpa ampun.
Arisa masih diam. “Kali ini, dia sedang tidak enak badan, Lily, berhentilah berpikir yang tidak-tidak tentang Reno.”
“Tidakkah kau berpikir untuk mengakhirinya saja? Aku lelah melihat kantung matamu kian hari kian hitam dan tebal. Dan aku kasihan pada Pupu yang selalu kau jadikan bantal tiap kali kau menunggunya. Kau tahu, terkadang aku lebih merasa kasihan daripada empati padamu, dia terlalu mementingkan urusannya yang tidak penting dibanding dirimu. Aku tahu dia cinta pertamamu, tapi kau harus berpikir ulang tentang perasaannya. Kupikir kau sudah dewasa melebihi aku.” Lily ngeloyor pergi begitu saja dan meninggalkan sejumput kegelisahan dalam hati Arisa, yang semakin Arisa pikirkan semakin lelah pula otaknya untuk diajak berpikir.
***

Bintang mengetuk pintu beberapa kali, lalu terkejut sesaat setelah si mungil Lily yang membukakan pintunya.
“Kak Bintang!” sahut Lily berhambur keluar untuk segera memeluk sosok jangkung di depannya itu, seperti sudah sekian abad tidak bertemu. Lily tidak segera merapikan rambut ikalnya yang sengaja Bintang acak-acak seperti yang selalu dilakukannya pada Lily.
“Kak Sasa ada?”
“Kak Sasa terus, Lily kapan kakak cariin sampe bela-belain jauh-jauh kesini?” Lily cemberut. Wajahnya lucu sekali.
Arisa yang merasa mendengar kericuhan di depan rumahnya bergegas mencari tahu apa yang sedang terjadi. Lalu, malah kegirangan melihat sahabat kecilnya berkunjung.
“Bintang!!! Bintang!!!” Arisa menyerbu kepala si jangkung dan langsung menjitaknya beberapa kali. Itu juga ritual dari Arisa untuk Bintang seperti Bintang mengacak-acak rambut Lily.
Arisa melompat-lompat bahagia seperti habis dibelikan permen cokelat. “Masuk!” katanya cepat.
Bintang hanya bisa tersenyum. Sebenarnya, dia yang lebih bahagia dapat melihat sesosok Putri Saljunya kembali setelah sekitar sebulan tidak bertemu. Ada triliunan rasa rindu yang tertahan di hatinya pada sosok ini. Sosok yang selalu dia jaili saat kecil, tetapi itu berbalik ketika mereka dewasa.
Arisa kecil memang sempat tinggal di Berlin selama 7 tahun sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke tempat asal bundanya, Indonesia. Bintang yang kala itu sudah menetap 2 tahun di Berlin senang bertemu dengan orang Indonesia sebagai tetangga barunya. Saat berkenalan dengan Bintang, Arisa sedang mengaduh kesakitan karena terjatuh. Lututnya terluka cukup parah hingga Bintang sangat khawatir dengan keadaan Arisa kecil yang sangat menggemaskan ketika menangis.
“Eh? Kau terluka?” Bintang berbasa-basi padahal dia melihat sendiri kerjadian yang menimpa Arisa. Bintang memang seringkali memperhatikan Arisa sejak dia bermain salju di depan rumahnya, tetapi Bintang kecil terlalu pemalu untuk mengajak Arisa berkenalan. Dia takjub dengan rona kemerahan yang ditimbulkan pada kedua pipi Arisa kecil saat melumuri wajahnya dengan bongkahan es. Arisa sungguh konyol, tetapi mungkin itu yang dirasakan oleh anak-anak yang baru pertama kali merasakan adanya musim salju karena Indonesia tidak punya itu.
Arisa yang menyadari kehadiran orang Indonesia langsung tersenyum, melupakan lukanya lalu mengangguk masih menahan perih karena lukanya.
“Aku bisa membereskan ini. Kita mampir dulu kerumahku. Ada perlengkapan P3K disana. Ayahku seorang dokter.” Bintang tersenyum manis. Dia tahu sudah seharusnya dia bersikap berani seperti lelaki jantan yang akan mendekati wanita pada umumnya.
Bintang menarik lengan Arisa dengan lembut, ada kekhawatiran di wajah Arisa karena diajak oleh orang asing di kota yang belum seminggu dia singgahi, namun dia tidak melawan ajakan itu, seperti ada energi baik yang Bintang beri padanya melalui sentuhan pada lengannya.
Sejak itulah mereka dekat, bahkan sangat dekat. Arisa kecil sangat jarang menangis dan lebih banyak menghabiskan banyak waktunya untuk tersenyum dan tertawa. Namun lihatlah sekarang, Bintang menyadari perubahan besar dalam diri Arisa. Wajahnya kian muram dan kantung matanya… ah tidak perlu ditanyakan, persis seperti orang frustasi. Mungkin kemurungan itu tertutup dengan tabiat asli Arisa yang sangat ceria dan aktif, tetapi bila dia sedang melamun, wajah zombie itu akan terlihat begitu jelas.
“Tidak mengabariku kalau ingin datang? Kemana saja kau! Aku menunggumu hampir jutaan abad yang lalu.” Arisa meringis. Arisa sangat rindu sahabat-sehidup-semati-nya ini. Terlalu banyak kejadian yang Arisa alami dan terlewatkan Bintang. Semuanya karena jarak. Jarak yang jauhnya cukup untuk menghabiskan waktu 2 jam untuk Bintang sampai kerumah Arisa yang sekarang. Sejak 3 tahun kepulangan Arisa ke Indonesia, Bintang memberi kabar bahwa dia akan segera pindah ke Indonesia, negara kelahirannya. Tetapi, apa mau dikata takdir tidak membiarkan mereka menjadi tetangga lagi.
“Aku sedang banyak pasien.” Bintang menjawab singkat sambil terus tersenyum. Mungkin pengaruh berdekatan dengan Arisa yang ringan memberi banyak senyuman pada semua orang, lalu ketika melihat wajahnya, Bintang merasakan ketenangan dan kedamaian itu menumpuk pada hatinya yang diselimuti kebahagiaan karena dapat bertemu Putri Saljunya yang telah lama dia rindukan. “Mana Pupu? Apa dia bertambah gemuk?”
“Tentu saja sedang berleha-leha di atas tempat tidurku. Kucingmu itu sungguh sangat keterlaluan saat makan dan tidur.” Arisa cemberut lagi, masih marah atas keterlambatan Bintang datang kemari. Walaupun sebenarnya dia sangat senang sahabat karibnya itu sudah disini. Arisa sudah siap bercerita, namun sepertinya Lily tidak akan membiarkan pujaannya itu jatuh tangan pada kakaknya yang haus akan perhatian seorang Bintang. Lily masih saja menempel di samping Bintang.
“Tapi kau senang menjadikannya bantal.” Lily nyeletuk tajam. Bintang langsung mengarahkan pandangan pada Lily seakan bertanya ‘benarkah?’ lalu Lily hanya mengangguk meyakinkan Bintang.
Gadis di depan Bintang hanya diam, menunduk malu, dan ber-hehehe. Pipinya memanas hingga merona kemerahan sangking malunya.
“Apa kabar Reno?” ujar Bintang masih sambil terus saja tersenyum kearah Arisa yang rupanya masih menunduk. Lily tidak percaya kakak pujaannya itu tidak marah dengan kakak menyebalkannya. Lily hanya membuang muka karena merasa diabaikan.
Arisa yang mendengar nama orang yang disayanginya disebut langsung mengangkat kepala, wajahnya cerah seketika, namun mengingat kejadian pahit semalam dia kembali menunduk, wajahnya kembali muram memperlihatkan zombie dalam wajahnya terlihat sangat jelas.
“Ada apa?” Bintang tidak heran lagi mengapa Arisa murung ketika ditanya tentang Reno. Bajingan itu memang selalu membuat Putri Saljunya menangis dan kian murung. Jarang sekali secuil kebahagiaan yang terpancar di wajah Arisa saat ditanya mengenai Reno. Dia tidak tahu mengapa, tanpa Arisa ceritakan pun dia sudah memastikan bahwa wajah zombie gadis itu berasal dari lelaki yang masih diragukan kejantannya oleh Bintang. Setiap Bintang melihat Arisa murung seperti sekarang, ingin rasanya dia memukulkan kepalannya di wajah laki-laki itu.
Bintang tetap tersenyum. Dapat memaklumi situasi berat yang dialami Arisa.
Namun kali ini Arisa harus bercerita semuanya, dia tidak merasa lebih lega selain bercerita kepada Bintang. Saat Lily memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya karena tahu tujuan pembicaraan ini kemana, Arisa langsung tancap gas bersemangat untuk menceritakan semuanya. Arisa tahu Lily sangat membenci topik pembicaraan tentang Reno, katanya dia ingin muntah saja bila mendengar nama itu disebut-sebut.
Semangat juangnya yang tinggi dalam bercerita dari awal sampai akhir, bahkan ceramah yang diberikan oleh Lily secara cuma-cuma Arisa ulang dan ceritakan kepada Bintang. Lelehan air yang mencair dari pelupuk mata Arisa tidak dapat dibendung lagi. Rasanya sakit bagi Bintang untuk melihat gadis yang dia cintai menangis karena lelaki bangsat yang tidak benar-benar mencintainya. Namun, gadis ini tetap mempertahankannya. Entah itu karena alasan ‘buta’-nya tentang cinta pertama harus menjadi cinta yang terakhir untuknya.
Bintang masih diam sambil tersenyum, menunggu gadis di depannya berhenti. Namun, tanpa disangka kakinya menuju gadis mungil itu, menangkapnya dalam dekapannya. Bintang tidak tahan lagi kalau selalu saja seperti ini. Arisa terisak. Dia tahu ini yang dia butuhkan, dia butuh kehangatan yang tidak pernah dia dapat dari Reno, dan merasa dilindungi seperti sekarang. Seperti yang selalu Bintang lakukan pada Arisa.
Hingga senja, riuh-rendah yang terdengar sangat bahagia itu menutupi kesedihan Arisa sementara. Lily yang tadinya seperti monster kecil sekarang berlaku seperti adik manis pada umumnya ketika ada Bintang, entah energi hebat apa yang Bintang beri pada mereka hingga mereka bisa sebahagia hari ini dan hari-hari lain setiap Bintang berkunjung.
***

Terik matahari siang ini benar-benar luar biasa hebat, hingga mampu menembus hati Arisa yang terasa panas dan terbakar. Matanya memanas, seperti ada cairan yang siap terjun bebas detik itu juga, namun dia menahannnya, tidak di depan Lara dan tidak juga di depan Reno, celotehnya dalam hati. Jadi, Arisa hanya berusaha untuk kuat dan tegar. Dari satu jam lalu, Arisa berjalan di belakang Reno dan Lara yang sangat mesra di depannya. Inikah rasanya cemburu? Yang Arisa rasakan hanya sesak, dan tidak membantah jika perasaannya sangat sakit.
“Risa kok gak kamu ajak ngobrol sih, Ren?” Lara bertanya dengan manja. Arisa yang mendengarnya seperti mendengar drama queen sedang tampil.
“Risa juga gak keberatan kan?” seketika wajah Reno beralih ke belakang, menatap Arisa menjawab ‘iya’ dengan penuh harap.
Arisa hanya mengangguk lesu. Hatinya nyeri. Dia tidak tahu, mengapa begini jadinya saat Reno menepati janjinya, Reno malah mengajak serta Lara yang kelihatannya seperti membubuhi garam pada luka yang dibuat Reno.
Saat melihat sosok Bintang yang sepertinya ada di seberang jalan yang sedang mereka lewati, tanpa pamit Arisa kabur meninggalkan dua orangyang lebih kelihatan sebagai sepasang kekasihdi depannya itu. Arisa tidak peduli lagi bagaimana hubungannya dengan Reno. Ini sudah terlalu menyakitkan.
“Sasa?” Bintang yang sedang duduk di bawah rimbunnya pohon di sebuah taman itu terkejut saat tiba-tiba gadis yang dicintainya berlari sambil terisak. Arisa langsung memeluk Bintang.
Hati Bintang ngilu menyaksikan butiran-butiran cair itu tumpah deras di pipi Arisa. Dia memeluk Arisa erat. Dia tahu hati Arisa sudah terlalu kuat menghadapi bajingan ituReno. Dia tahu hati gadis itu sedang teriris entah karena apa. Dia tahu, Arisa terlalu bodoh untuk mencintai Reno, tetapi gadis itu masih terlalu kecil untuk menyadari betapa jahatnya Reno.
Diiringi dengan sunyi, kesenyapan masih merayapi diri mereka masing-masing masih dalam posisi tadi. Angin menjadi nyanyian di antara telinga mereka. Daun berguguran seakan menjadi saksi betapa Arisa sebenarnya sangat membutuhkan Bintang lebih betapapun dia mencintai Reno. Dan Bintang, terlalu sakit hati untuk tinggal diam membiarkan Arisa menangis terus-menerus seperti ini. Bahunya masih sanggup untuk menahan segala kesakitan yang Arisa alami, dan hatinya sungguh sangat menginginkan Arisa menjadi pengisi satu-satunya. Beberapa bagian dalam diri Bintang mengerang, marah karena Arisa sudah dibuat sebegini menderitanya.
“Oh jadi ini? Berduaan sama Bintang?” suara ketus yang taka sing bagi Arisa terdengar begitu keras dan penuh amarah, namun Arisa masih membutuhkan pelukan Bintang yang begitu menenangkan hati dan jiwanya yang terluka karena Reno.
“Arisa!” suara itu membentak sekali lagi, membuat Arisa dan Bintang mengendurkan pelukannya masing-masing. Wajah Arisa masih sembab akibat menangis sesugukkan.
Arisa diam seribu bahasa. Dia tidak peduli lagi dengan laki-laki bejat bernama lengkap Reno Alvindo. Arisa masih diam. Bintang terlihat menggenggam jari-jari kecil Arisa, memberi kekuatan lewat sentuhan ajaibnya yang entah bagaimana bisa membuat Arisa tenang dan semakin kuat di depan Reno dan Lara.
Arisa menatap tajam kedua pasang mata Reno dan Lara. Seperti zombie yang siap memangsa korbannya. Ditatap seperti itu Lara kikuk dan takut, lalu sedetik setelah itu Arisa tersenyum sinis. Dia tahu sudah saatnya dia melakukan ini. Adegan yang selalu didamba-dambakan Lily untuk Reno terima.
Arisa mengepalkan tangannya, lalu BUGH!
Sebuah pukulan keras mendarat mulus di pipi kiri Reno, Arisa tahu ini pasti sakit jika dia sedang tidak marah atau sakit hati, berhubung dia sedang marah dia melanjutkan aksinya itu sekali lagi.
BUGH!
Masih di pipi kiri Reno, Arisa tidak iba melihat darah mengucur di ujung bibir laki-laki itu. Lara panik dan mencoba menghentikan Arisa. Namun, satu senyuman iblis yang Arisa berikan cukup untuk membuat Lara mengurungkan niatnya.
“Apa yang kau lakukan? Aku gak cinta denganmu dari awal. Terserah apa pendapatmu. Aku mencintai Lara, tidak denganmu, Arisa. Namun, saat tahu Lara menduakanku, aku beralih kepadamu hanya untuk membalaskan dendamku terhadapnya. Tapi sekarang lihat, Lara sudah kembali saat dia tahu aku berpacaran denganmu. Kau kira kau siapa, Arisa?” Reno memberi Arisa tatapan mematikan dan senyum sinis yang membuat Arisa sangat muak melihatnya.
Bintang maju selangkah, lalu tersenyum kearah Reno dan senyum sinis dengan Lara. Lalu, detik berikutnya sudah ada tiga kali bunyi BUGH! Yang menghantam wajah dan perut Reno. Bintang tak tahan lagi lalu menarik lembut tangan Arisa. Arisa tidak menolaknya. Dia pasrah, selalu begitu jika dengan Bintang. Dia tidak pernah menolak perbuatan laki-laki itu terhadapnya. Baginya, Bintang adalah sosok pelindungnya sejak kecil, sejak Bintang menolongnya saat lututnya terluka. Namun sekarang, Bintang membuat ‘mata’ Arisa terbuka lebar atas kebodohan yang Arisa lakukan karena terus saja mencintai laki-laki macam Reno.
Bintang tidak pernah memberinya kalimat-kalimat yang membenarkan bahwa Arisa sudah salah jalan, Bintang hanya akan memeluknya memberi pengertian atas sikap kekanak-kanakkannya.
Sekarang dia tahu. Sekarang dia mengerti. Dan bahkan mengapa baru sekarang?
Sosok yang dibutuhkannya bukan hanya sosok yang menepati janjinya untuk berkencan, atau hanya sekedar kata-kata manis pengantar tidur, atau speak gombal yang sering Reno lakukan untuk melelehkan hati Arisa. Namun, sosok pelindung dan merasa disayangi adalah yang dibutuhkan Arisa. Dan semua itu ada dalam diri Bintang.
***

Esoknya, Bintang tergopoh-gopoh memasuki lorong putih dengan cahaya menyilaukan mata. Matanya mencari-cari sebuah ruangan dimana di dalamnya terdapat tubuh gadis yang dia cintai.
“Suster tau dimana ruangan anggrek nomor 17A?” Bintang tidak tahan untuk menunggu lebih lama lagi untuk bertemu dengan Arisa yang dikabarkan masuk rumah sakit dini hari tadi.
“Bapak harus naik 2 tangga lagi dari sini, lalu ruangan paling pojok sebelah kiri itu tempat yang bapak cari.”
Bintang hanya tersenyum, suster tadi mengetahui bahwa itu tanda terimakasih Bintang walaupun dia tidak mengucapkannya secara langsung, suster itu tahu wajah Bintang sangat khawatir.
Walaupun Bintang adalah seorang dokter, dia tidak pernah ke rumah sakit ini sebelumnya. Bintang ditempatkan di rumah sakit yang jaraknya 1.5 dari rumahnya, dan ini adalah rumah sakit yang jaraknya 800m dari rumah Arisa.
Bintang mempercepat langkahnya yang besar. Dia sangat tidak sabar dan sangat khawatir dengan keadaan Putri Saljunya itu.
Setelah memastikan ruangan yang dicarinya hanya tinggal beberapa langkah lagi, degub jantung Bintang berpacu sangat cepat, entah apa yang membuatnya seperti itu, gelar sebagai dokter tidak mampu membuang rasa takutnya saat ingin melihat keadaan orang yang disayanginya. Itu memang tabiat asli Bintang yang menurun dari alm. Ayahnya.
Krek!
Pintu terbuka, semua mata tertuju pada Bintang yang membeku di depan pintu.
“Maaf saya terlambat.” katanya sambil tersenyum kikuk.
Dia melihat Arisa tersenyum lemah. Di samping kanannya ada bunda dan ayahnya. Di samping kirinya terdapat Lily yang matanya sembab.
Satu hal yang baru disadarinya, Lily tidak sehisteris biasanya. Kebiasaan itu hilang seketika. Kedua tangan Lily memegangi jari-jari kecil Arisa yang lemas tidak bertenaga.
“Bagaimana keadaanmu?” Bintang mencairkan suasana yang kaku.
“Aku baik-baik saja.” ujar Arisa, masih sambil tersenyum lemah. Wajahnya pucat sekali.
Ayah dan Bundanya memaksakan senyum yang Bintang tahu dibaliknya terdapat kesedihan yang teramat dalam.
“Kau sakit apa?” Bintang bertanya dengan tatapan serius kearah Arisa.
“Dia tidak apa-apa, Bintang. Hanya demam. Apa kabarmu? Sudah lama tidak berjumpa, bagaimana kabar dokter Deni?”
“Saya baik, Bun. Ayah juga baik.” Bintang merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi disini. Namun, Bintang mencoba untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Tetapi, semakin mencoba berpikir jernih, yang keluar dalam otaknya malah pikiran-pikiran aneh tentang Arisa, Putri Salju yang dia cintai itu.
Dua hari setelah acara penjengukkan Bintang, Arisa memaksa ingin pulang, padahal Bunda dan Ayahnya melarang keras. Tetapi, dia tetap bersikeras untuk pulang. Ada sesuatu yang aneh menyembul ke permukaan hati Bintang. Jadi, kali ini sebelum Arisa pulang, Bintang mengajak Arisa berkeliling taman.
Arisa sempat meminta beberapa helai lap tangan yang disiapkan oleh Bunda dan Ayahnya, dan Bintang tidak mengerti untuk apa itu semua. Awalnya, Bintang hanya mengajak Arisa bercanda. Arisa terlihat sangat bahagia. Ada sepercik kebahagiaan yang menari-nari dalam hari Bintang melihat senyum dan tawa renyah itu kembali, walau Bintang mempunyai firasat yang tidak baik dengan kesehatan gadis mungil itu.
“Antar aku ke danau, Bintang. Aku ingin kesana.” pinta Arisa dengan nada sedikit memaksa, ada sinar kekhawatiran di mata Arisa jika dia tidak kesana sekarang. “Aku hanya ingin menikmatinya, jarang-jarang aku berada di rumah sakit.”
Bintang hanya menjawabnya dengan senyuman hangat. Dia tahu ada yang tidak beres dengan ucapan Arisa kali ini. Dia tidak bahagia dalam senyumnya sejak di rumah sakit, Bintang menyadari itu.
Bintang menghentikan kursi roda untuk menampung Arisa yang lelah berjalan tepat di pinggir danau.
“Indah.” ucap Arisa, memejamkan matanya untuk menghirup udara disitu, sangat dalam dan seperti mencari-cari agar pemandangan itu tersimpan di memorinya.
Arisa cepat mendekap hidungnya, saat Bintang tahu banyak darah yang mengalir disana, Bintang panik setengah mati. Arisa gesit mengambil lap tangan untuk mengelapnya dan mendongakkan kepalanya agar darahnya berhenti keluar. Bintang diam. Dia begitu terkejut dengan pemandangan yang barusan saja dilihatnya. Bintang yang ingin memastikan sesuatu, dengan cepat mengusap rambut panjang Arisa, dan terkejut hingga lemas ketika ratusan helai rambut berjatuhan di tangannya hanya dengan sentuhan pelan.
“Ya Tuhan..” lirihnya. Sekarang dia tahu apa yang selama ini mereka katakan ‘tidak apa-apa’.
Arisa beralih melihat tangan Bintang yang penuh dengan rambutnya. Bulir air matanya tidak tahan lagi untuk membanjiri pipinya. Arisa berdiri, menatap sosok lembut di hadapannya dengan lemah, masih sambil menangis, dan memeluknya dengan erat. Dia tidak peduli lagi darah dari hidungnya yang terus keluar. Dia tidak tahan melihat Bintang lemah seperti itu. Dia tidak ingin Bintang tahu, dia tidak ingin terlihat sakit di depan orang yang dia cintai.
“Jangan sedih, aku mohon.” pinta Arisa sambil terisak di pelukan Bintang, lalu duduk kembali di tempat duduk yang berada di sana. Arisa menyeka darahnya dengan tangannya secara asal. Dia tidak peduli lagi dengan darah-darah itu. Dia sudah muak dengan semuanya.
Hati Bintang teriris, baru saja dia merasa lega karena penjara yang selama ini menahan Arisa untuk bebas udah hancur di tangan Arisa sendiri, namun sekarang, cobaan bertubi-tubi menimpa hatinya. Arisa sakit parah dan sudah stadium akhir. Hatinya nyeri, ngilu, dan perih secara bersamaan, seperti ada yang menaburi garam pada sayatan luka yang dalam di hatinya.
Hening.
Keadaan senyap, hanya isakan mereka berdua yang terdengar.
“Dengar ini baik-baik. Aku mencintaimu..” lirih Arisa dengan nada yang susah payah untuk dia perjelas, tenggorokannya seakan kering.
“Aku lebih mencintaimu, maka bertahanlah.” Bintang mengusap-ngusap punggung kurus Arisa. Arisa semakin erat memeluk Bintang, seakan inilah kesempatan terakhirnya untuk memeluk Bintang.
Isakan Arisa mereda. Napasnya berat dan darah dari hidungnya terus keluar. Badannya terasa lemas, lalu secara tidak sadar pelukan Arisa melonggar pada Bintang. Lalu, detik berikutnya, pelukan itu benar-benar terlepas dan napas Arisa tidak terasa lagi ada.
Bintang yang menyadari itu memeluk Arisa yang tidak bernyawa semakin erat. Dia menangis sesugukkan. Dia seperti kehilangan separuh jiwanya, seakan separuh jiwanya itu terbawa angin.
Namun Bintang tahu, yang bertahan dalam dirinya dan Arisa adalah cinta mereka. Yang tidak akan terbawa angin sekencang apapun.

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design