Omong-omong masalah cinta, bolehkah sedikit aku
membahas tentang kisah aku dan kamu yang pernah terjalin dalam kata ‘kita’?
Dalam ruang lingkup yang berbeda, hubungan yang tak
lagi seperti dulu, tempat yang tidak sama, dan waktu yang berbeda pula, mungkin
jika kamu masih menanyakan apa kabar perasaanku terhadapmu, maka aku akan diam
lalu tersenyum, menarik napas berat kemudian berkata dalam hatiku sendiri “Perasaanku
masih sama, seperti dulu. Saat pertama kali kau mengambil hatiku secara
perlahan.”
Aku hanya ingin mencintaimu secara sederhana.
Melafadzkan selalu namamu dalam setiap percakapanku dengan Allah. Aku berkata,
“Tolong jaga senyumnya untukku, ya Allah. Amin.”
Cukup sesederhana itu. Namamu bahkan turut serta
dalam alasan mengapa aku tersenyum dan menangis secara bersamaan.
Dan sejauh ini, aku masih merindukan
pertikaian-pertikaian kecil saat aku dan kamu masih terikat dalam ‘kita’.
Kamu tahu? Aku masih baik-baik saja sebelum kamu
pergi.
Lalu, sebagian dari diriku masih meronta untuk kamu
kembali, namun aku memaksa menolaknya. Maaf. Bukan karena tidak ada lagi
kesempatan dan cinta yang tersisa untukmu, hanya saja terkadang “meninggalkan
adalah salah satu cara menghindari untuk menyakiti” (@adelladellaide).
Kemudian, aku hanya menghela napas panjang, meyakinkan diriku dan menahan bulir
air mataku yang hampir terjun bebas di pipiku.
Aku tahu, sebagian dari diriku membenci diriku
sendiri. Namun, aku juga mengerti,
mungkin sudah saatnya kamu dibahagiakan oleh orang lain.
Tetapi, namamu dalam percakapanku dengan Allah tidak
berakhir sampai disitu, aku masih saja ingin menjaga senyummu dalam dekapan
kasih sayang-Nya hingga aku rela dan ikhlas. Dan ketika aku sudah ikhlas, maka
saat itu aku akan berhenti melafadzkan namamu, aku akan menggantinya menjadi,
“Ya Allah, buatlah kekasihnya kelak membuatnya selalu tersenyum atau setidaknya
mendo’akannya agar terus tersenyum. Amin.”
Romantis? Menurutku, dalam diam, senyuman, dan do’a
terus-menerus yang kualami ketika mengingat namamu, adalah keromantisan yang
tidak dapat dinilai walau dibayar dengan cokelat atau bunga.
Aku akan berusaha tersenyum saat orang lain datang
padamu atau kamu yang mendatangi orang tersebut untuk menyelimuti luka,
menyembuhkan sakit yang teramat sangat dalam hatimu, ingatlah aku ikut
berbahagia di antaranya.
Namun, masih bolehkah aku meneteskan air mata?
Karena luka hatiku yang belum juga mengering, dibubuhi garam atas bahagiamu.
Tetapi, egoisku mengalah, dan aku terus berbohong. Manakala aku berkata
apa-apa, maka selalu ada apa-apa dibalik itu.
Dan saat ini, aku ingin melupakanmu secara
sederhana. Bukan karena takut akan kesepian yang melanda atau kekosongan yang
akan kurasa. Namun, tidak pantas rasanya terus menerus tersiksa atas
kebahagiaan yang baru saja kau rajut. Hingga kini, aku turut berbahagia.
Sungguh, aku bahagia. Walaupun, bahagia itu terluapkan dalam tangisan, tangisan
yang setiap tetesnya mengandung jeritan kehilanganmu.
Ternyata, begini rasanya mencintaimu secara
sederhana.
Ternyata, begini sakitnya kehilanganmu secara
sederhana.
Ternyata, melupakanmu tidak sesederhana meluapkan
cinta untukmu.
Bagiku, itu terlalu mudah untuk tidak memikirkanmu
lagi. Tetapi, bayanganmu yang masih saja muncul dalam benakku selalu
menyulitkanku dalam perkataanku sendiri yang berbunyi ‘itu terlalu mudah’ untuk
tidak memikirkanmu lagi.
Sungguh sederhana untuk jatuh cinta, namun luka yang
tergores saat kau jatuh dalam cinta itu sendiri tidak sesederhana itu. Luka itu
mungkin akan sembuh, namun bekasnya akan tetap ada.
Dalam relung jiwaku atau jiwamu, mungkin sama. Kita
memiliki perasaan yang harus saling merelakan dan membiarkan nama kita
masing-masing pergi dengan bantuan waktu. Dan mungkin, hati kita sama-sama
memaksa agar rasa itu cepat meluruh, agar luka cepat mengering dan perihnya
berkurang.
Demi Allah, jangan pedulikan aku lagi. Karena aku
hanya bagian dari nama yang pernah mengisi ruang kosong dalam hatimu yang
sengaja tak kau kunci. Kau membiarkan aku masuk dengan bebas, menguasai seluruh
ruang di sana, lalu dengan mudah pula aku keluar dari sana yang lagi-lagi kau
biarkan.
Sungguh, perpisahan kali ini begitu sulit, bagiku,
mungkin tidak bagimu.
Aku lelah bertahan, namun aku terlalu sakit untuk
melepaskan. Hatiku perih penuh luka, jika saja kau ingin tahu bagaimana
keadaannya sampai saat ini. Namun, simpanlah ini sebagai penuntunmu; ada banyak
perempuan yang lebih baik dariku, lebih bisa kau mengerti, lebih bisa
membahagiakanmu, lebih sering membuatmu tersenyum, aku disini berharap sama
denganmu yang ingin pergi dari kesakitan, maka biarkan aku pergi dan temukan
yang membuatmu nyaman, yang membuatmu terus tersenyum ketika mengingat
senyumnya. Sungguh, aku bahagia, jika kau akan membahagiakan perempuan itu
lebih dari yang kau lakukan untukku dan jika kau turut keluar dalam kepedihan
yang pernah kita buat bersama.
Selamat tinggal. Dan selamat datang, partner masa
laluku yang hendak menjadi teman baik^^
0 comments:
Post a Comment