Aug 12, 2013

sabishikunaru-wa^^

Apa kabar, kamu? Aku (tidak) baik-baik saja jika kamu bertanya bagaimana kabarku sekarang.
Omong-omong masalah cinta, bolehkah sedikit aku membahas tentang kisah aku dan kamu yang pernah terjalin dalam kata ‘kita’?
Dalam ruang lingkup yang berbeda, hubungan yang tak lagi seperti dulu, tempat yang tidak sama, dan waktu yang berbeda pula, mungkin jika kamu masih menanyakan apa kabar perasaanku terhadapmu, maka aku akan diam lalu tersenyum, menarik napas berat kemudian berkata dalam hatiku sendiri “Perasaanku masih sama, seperti dulu. Saat pertama kali kau mengambil hatiku secara perlahan.”
Aku hanya ingin mencintaimu secara sederhana. Melafadzkan selalu namamu dalam setiap percakapanku dengan Allah. Aku berkata, “Tolong jaga senyumnya untukku, ya Allah. Amin.”
Cukup sesederhana itu. Namamu bahkan turut serta dalam alasan mengapa aku tersenyum dan menangis secara bersamaan.
Dan sejauh ini, aku masih merindukan pertikaian-pertikaian kecil saat aku dan kamu masih terikat dalam ‘kita’.
Kamu tahu? Aku masih baik-baik saja sebelum kamu pergi.
Lalu, sebagian dari diriku masih meronta untuk kamu kembali, namun aku memaksa menolaknya. Maaf. Bukan karena tidak ada lagi kesempatan dan cinta yang tersisa untukmu, hanya saja terkadang “meninggalkan adalah salah satu cara menghindari untuk menyakiti” (@adelladellaide). Kemudian, aku hanya menghela napas panjang, meyakinkan diriku dan menahan bulir air mataku yang hampir terjun bebas di pipiku.
Aku tahu, sebagian dari diriku membenci diriku sendiri.  Namun, aku juga mengerti, mungkin sudah saatnya kamu dibahagiakan oleh orang lain.
Tetapi, namamu dalam percakapanku dengan Allah tidak berakhir sampai disitu, aku masih saja ingin menjaga senyummu dalam dekapan kasih sayang-Nya hingga aku rela dan ikhlas. Dan ketika aku sudah ikhlas, maka saat itu aku akan berhenti melafadzkan namamu, aku akan menggantinya menjadi, “Ya Allah, buatlah kekasihnya kelak membuatnya selalu tersenyum atau setidaknya mendo’akannya agar terus tersenyum. Amin.”
Romantis? Menurutku, dalam diam, senyuman, dan do’a terus-menerus yang kualami ketika mengingat namamu, adalah keromantisan yang tidak dapat dinilai walau dibayar dengan cokelat atau bunga.
Aku akan berusaha tersenyum saat orang lain datang padamu atau kamu yang mendatangi orang tersebut untuk menyelimuti luka, menyembuhkan sakit yang teramat sangat dalam hatimu, ingatlah aku ikut berbahagia di antaranya.
Namun, masih bolehkah aku meneteskan air mata? Karena luka hatiku yang belum juga mengering, dibubuhi garam atas bahagiamu. Tetapi, egoisku mengalah, dan aku terus berbohong. Manakala aku berkata apa-apa, maka selalu ada apa-apa dibalik itu.

Dan saat ini, aku ingin melupakanmu secara sederhana. Bukan karena takut akan kesepian yang melanda atau kekosongan yang akan kurasa. Namun, tidak pantas rasanya terus menerus tersiksa atas kebahagiaan yang baru saja kau rajut. Hingga kini, aku turut berbahagia. Sungguh, aku bahagia. Walaupun, bahagia itu terluapkan dalam tangisan, tangisan yang setiap tetesnya mengandung jeritan kehilanganmu.
Ternyata, begini rasanya mencintaimu secara sederhana.
Ternyata, begini sakitnya kehilanganmu secara sederhana.
Ternyata, melupakanmu tidak sesederhana meluapkan cinta untukmu.
Bagiku, itu terlalu mudah untuk tidak memikirkanmu lagi. Tetapi, bayanganmu yang masih saja muncul dalam benakku selalu menyulitkanku dalam perkataanku sendiri yang berbunyi ‘itu terlalu mudah’ untuk tidak memikirkanmu lagi.
Sungguh sederhana untuk jatuh cinta, namun luka yang tergores saat kau jatuh dalam cinta itu sendiri tidak sesederhana itu. Luka itu mungkin akan sembuh, namun bekasnya akan tetap ada.
Dalam relung jiwaku atau jiwamu, mungkin sama. Kita memiliki perasaan yang harus saling merelakan dan membiarkan nama kita masing-masing pergi dengan bantuan waktu. Dan mungkin, hati kita sama-sama memaksa agar rasa itu cepat meluruh, agar luka cepat mengering dan perihnya berkurang.

Demi Allah, jangan pedulikan aku lagi. Karena aku hanya bagian dari nama yang pernah mengisi ruang kosong dalam hatimu yang sengaja tak kau kunci. Kau membiarkan aku masuk dengan bebas, menguasai seluruh ruang di sana, lalu dengan mudah pula aku keluar dari sana yang lagi-lagi kau biarkan.
Sungguh, perpisahan kali ini begitu sulit, bagiku, mungkin tidak bagimu.
Aku lelah bertahan, namun aku terlalu sakit untuk melepaskan. Hatiku perih penuh luka, jika saja kau ingin tahu bagaimana keadaannya sampai saat ini. Namun, simpanlah ini sebagai penuntunmu; ada banyak perempuan yang lebih baik dariku, lebih bisa kau mengerti, lebih bisa membahagiakanmu, lebih sering membuatmu tersenyum, aku disini berharap sama denganmu yang ingin pergi dari kesakitan, maka biarkan aku pergi dan temukan yang membuatmu nyaman, yang membuatmu terus tersenyum ketika mengingat senyumnya. Sungguh, aku bahagia, jika kau akan membahagiakan perempuan itu lebih dari yang kau lakukan untukku dan jika kau turut keluar dalam kepedihan yang pernah kita buat bersama.

Selamat tinggal. Dan selamat datang, partner masa laluku yang hendak menjadi teman baik^^

0 comments:

Post a Comment

Aug 12, 2013

sabishikunaru-wa^^

Apa kabar, kamu? Aku (tidak) baik-baik saja jika kamu bertanya bagaimana kabarku sekarang.
Omong-omong masalah cinta, bolehkah sedikit aku membahas tentang kisah aku dan kamu yang pernah terjalin dalam kata ‘kita’?
Dalam ruang lingkup yang berbeda, hubungan yang tak lagi seperti dulu, tempat yang tidak sama, dan waktu yang berbeda pula, mungkin jika kamu masih menanyakan apa kabar perasaanku terhadapmu, maka aku akan diam lalu tersenyum, menarik napas berat kemudian berkata dalam hatiku sendiri “Perasaanku masih sama, seperti dulu. Saat pertama kali kau mengambil hatiku secara perlahan.”
Aku hanya ingin mencintaimu secara sederhana. Melafadzkan selalu namamu dalam setiap percakapanku dengan Allah. Aku berkata, “Tolong jaga senyumnya untukku, ya Allah. Amin.”
Cukup sesederhana itu. Namamu bahkan turut serta dalam alasan mengapa aku tersenyum dan menangis secara bersamaan.
Dan sejauh ini, aku masih merindukan pertikaian-pertikaian kecil saat aku dan kamu masih terikat dalam ‘kita’.
Kamu tahu? Aku masih baik-baik saja sebelum kamu pergi.
Lalu, sebagian dari diriku masih meronta untuk kamu kembali, namun aku memaksa menolaknya. Maaf. Bukan karena tidak ada lagi kesempatan dan cinta yang tersisa untukmu, hanya saja terkadang “meninggalkan adalah salah satu cara menghindari untuk menyakiti” (@adelladellaide). Kemudian, aku hanya menghela napas panjang, meyakinkan diriku dan menahan bulir air mataku yang hampir terjun bebas di pipiku.
Aku tahu, sebagian dari diriku membenci diriku sendiri.  Namun, aku juga mengerti, mungkin sudah saatnya kamu dibahagiakan oleh orang lain.
Tetapi, namamu dalam percakapanku dengan Allah tidak berakhir sampai disitu, aku masih saja ingin menjaga senyummu dalam dekapan kasih sayang-Nya hingga aku rela dan ikhlas. Dan ketika aku sudah ikhlas, maka saat itu aku akan berhenti melafadzkan namamu, aku akan menggantinya menjadi, “Ya Allah, buatlah kekasihnya kelak membuatnya selalu tersenyum atau setidaknya mendo’akannya agar terus tersenyum. Amin.”
Romantis? Menurutku, dalam diam, senyuman, dan do’a terus-menerus yang kualami ketika mengingat namamu, adalah keromantisan yang tidak dapat dinilai walau dibayar dengan cokelat atau bunga.
Aku akan berusaha tersenyum saat orang lain datang padamu atau kamu yang mendatangi orang tersebut untuk menyelimuti luka, menyembuhkan sakit yang teramat sangat dalam hatimu, ingatlah aku ikut berbahagia di antaranya.
Namun, masih bolehkah aku meneteskan air mata? Karena luka hatiku yang belum juga mengering, dibubuhi garam atas bahagiamu. Tetapi, egoisku mengalah, dan aku terus berbohong. Manakala aku berkata apa-apa, maka selalu ada apa-apa dibalik itu.

Dan saat ini, aku ingin melupakanmu secara sederhana. Bukan karena takut akan kesepian yang melanda atau kekosongan yang akan kurasa. Namun, tidak pantas rasanya terus menerus tersiksa atas kebahagiaan yang baru saja kau rajut. Hingga kini, aku turut berbahagia. Sungguh, aku bahagia. Walaupun, bahagia itu terluapkan dalam tangisan, tangisan yang setiap tetesnya mengandung jeritan kehilanganmu.
Ternyata, begini rasanya mencintaimu secara sederhana.
Ternyata, begini sakitnya kehilanganmu secara sederhana.
Ternyata, melupakanmu tidak sesederhana meluapkan cinta untukmu.
Bagiku, itu terlalu mudah untuk tidak memikirkanmu lagi. Tetapi, bayanganmu yang masih saja muncul dalam benakku selalu menyulitkanku dalam perkataanku sendiri yang berbunyi ‘itu terlalu mudah’ untuk tidak memikirkanmu lagi.
Sungguh sederhana untuk jatuh cinta, namun luka yang tergores saat kau jatuh dalam cinta itu sendiri tidak sesederhana itu. Luka itu mungkin akan sembuh, namun bekasnya akan tetap ada.
Dalam relung jiwaku atau jiwamu, mungkin sama. Kita memiliki perasaan yang harus saling merelakan dan membiarkan nama kita masing-masing pergi dengan bantuan waktu. Dan mungkin, hati kita sama-sama memaksa agar rasa itu cepat meluruh, agar luka cepat mengering dan perihnya berkurang.

Demi Allah, jangan pedulikan aku lagi. Karena aku hanya bagian dari nama yang pernah mengisi ruang kosong dalam hatimu yang sengaja tak kau kunci. Kau membiarkan aku masuk dengan bebas, menguasai seluruh ruang di sana, lalu dengan mudah pula aku keluar dari sana yang lagi-lagi kau biarkan.
Sungguh, perpisahan kali ini begitu sulit, bagiku, mungkin tidak bagimu.
Aku lelah bertahan, namun aku terlalu sakit untuk melepaskan. Hatiku perih penuh luka, jika saja kau ingin tahu bagaimana keadaannya sampai saat ini. Namun, simpanlah ini sebagai penuntunmu; ada banyak perempuan yang lebih baik dariku, lebih bisa kau mengerti, lebih bisa membahagiakanmu, lebih sering membuatmu tersenyum, aku disini berharap sama denganmu yang ingin pergi dari kesakitan, maka biarkan aku pergi dan temukan yang membuatmu nyaman, yang membuatmu terus tersenyum ketika mengingat senyumnya. Sungguh, aku bahagia, jika kau akan membahagiakan perempuan itu lebih dari yang kau lakukan untukku dan jika kau turut keluar dalam kepedihan yang pernah kita buat bersama.

Selamat tinggal. Dan selamat datang, partner masa laluku yang hendak menjadi teman baik^^

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design