Rindu ini masih saja menyelinap diam-diam, sebagai
kamu tujuannya.
Ajari aku melupakan caranya mencintaimu, karena aku
terus saja melakukannya
Ajari aku melupakan caranya merindukanmu, karena aku
terus saja mengingatnya
Tatkala detik kunjung menjadi menit, dan menit
berlalu hingga jam, lalu jam begitu saja berganti hari..
Bayangmu enggan keluar dalam jangkauan pikiranku
Hingga bergulirnya pasir waktu yang terus saja
kubuang sia-sia hanya untuk mencintaimu, karena betapapun aku mencoba untuk
tidak mencintaimu, rasa itu telah berlabuh lebih dulu sebelum rasa sesalku
karena ku tau cintamu bukan untukku
Senduku semakin kelam
Alunan-alunan merintih dalam ruang-ruang jantungku
memaksa namamu agar tidak keluar
Gemerisik dalam hatiku, yang tak kunjung membiarkan
bayangmu pergi
Aku lelah..
Lantas, sayap-sayap harapan yang kau buat, sudah
pupus seiring kau patahkan semua harap
Girang yang kau ganti dengan bulir-bulir air mata,
tetap tidak membuat jiwaku goyah
Kau tetap tujuan betapapun kau mencoba putuskan
segala jalanku menujumu
Oksigen pun kian susah terhirup, bahkan aku sesak.
Karena, terlalu banyak pahatan namamu dalam setiap lorong jiwa
Keluhku tak ubahnya rintihan sampah yang tidak
berguna
Karena, penderitaan selalu aku nikmati lebih dari
aku mencintai kebahagiaan tanpamu
Lantas, sebenarnya aku ini apa?
Hanya kertas bekas untuk menampung permen karet yang
sudah pahit?
Atau ruang yang kau biarkan kosong, tetapi tidak
membiarkan orang lain masuk dan kau datangi hanya saat sepi melandamu?
Atau malah bahkan, kunci cadangan?
Kau memberi pahit, namun kau selalu mengubahnya
seakan madu
Senandung alunan kesedihan dan kegusaran yang
mendalam di dasar hati selalu saja karenamu.
Seharusnya kau sadar, aku mencintaimu lebih dari
yang orang lain bisa lakukan.
Seharusnya kau tau, bahwa ketika kau beriringan
dengan yang lain, aku menukar binar nanarku dengan senyum paksaan yang
kubuat-buat secara sengaja
Agar luka mendalam ini, tidak pernah kau sadari,
hingga nanti kau bukan lagi tujuanku,
…hingga nanti aku tidak lagi berdiri untukmu dan
bersabar karenamu,
…hingga nanti aku tidak lagi perlu menahan seperti
ada ribuan sembilu yang menancap pada hatiku,
…hingga nanti aku tidak perlu lagi memastikanmu
bahagia atau tidak,
…hingga nanti aku tidak perlu lagi menghirup napas
panjang karena air mataku hampir jatuh saat kau tidak pernah menganggapku ada,
…hingga hati yang telah remuk redam ini akan segera
terobati,
…dan kamu akan mencariku dan aku tidak lagi senang, malah..
aku akan tersenyum dan tidak akan memperdulikanmu,
…hingga kau akan terus merasa memerlukanku, tapi aku
tidak ada lagi untukmu setiap waktu,
…hingga nanti.. kau sadar, hanya aku yang mampu
bertahan sebegini jauh.
Dan aku. Bukan kertas bekas atau ruang kosong atau
kunci cadanganmu. Lagi.
0 comments:
Post a Comment