Jun 29, 2013

random:')))

Rindu ini masih saja melafadzkan alunannya untukmu

Rindu ini masih saja menyelinap diam-diam, sebagai kamu tujuannya.

Ajari aku melupakan caranya mencintaimu, karena aku terus saja melakukannya
Ajari aku melupakan caranya merindukanmu, karena aku terus saja mengingatnya

Tatkala detik kunjung menjadi menit, dan menit berlalu hingga jam, lalu jam begitu saja berganti hari..
Bayangmu enggan keluar dalam jangkauan pikiranku
Hingga bergulirnya pasir waktu yang terus saja kubuang sia-sia hanya untuk mencintaimu, karena betapapun aku mencoba untuk tidak mencintaimu, rasa itu telah berlabuh lebih dulu sebelum rasa sesalku karena ku tau cintamu bukan untukku

Senduku semakin kelam
Alunan-alunan merintih dalam ruang-ruang jantungku memaksa namamu agar tidak keluar

Gemerisik dalam hatiku, yang tak kunjung membiarkan bayangmu pergi
Aku lelah..

Lantas, sayap-sayap harapan yang kau buat, sudah pupus seiring kau patahkan semua harap
Girang yang kau ganti dengan bulir-bulir air mata, tetap tidak membuat jiwaku goyah

Kau tetap tujuan betapapun kau mencoba putuskan segala jalanku menujumu
Oksigen pun kian susah terhirup, bahkan aku sesak. Karena, terlalu banyak pahatan namamu dalam setiap lorong jiwa
Keluhku tak ubahnya rintihan sampah yang tidak berguna
Karena, penderitaan selalu aku nikmati lebih dari aku mencintai kebahagiaan tanpamu

Lantas, sebenarnya aku ini apa?
Hanya kertas bekas untuk menampung permen karet yang sudah pahit?
Atau ruang yang kau biarkan kosong, tetapi tidak membiarkan orang lain masuk dan kau datangi hanya saat sepi melandamu?
Atau malah bahkan, kunci cadangan?

Kau memberi pahit, namun kau selalu mengubahnya seakan madu
Senandung alunan kesedihan dan kegusaran yang mendalam di dasar hati selalu saja karenamu.
Seharusnya kau sadar, aku mencintaimu lebih dari yang orang lain bisa lakukan.
Seharusnya kau tau, bahwa ketika kau beriringan dengan yang lain, aku menukar binar nanarku dengan senyum paksaan yang kubuat-buat secara sengaja
Agar luka mendalam ini, tidak pernah kau sadari, hingga nanti kau bukan lagi tujuanku,
…hingga nanti aku tidak lagi berdiri untukmu dan bersabar karenamu,
…hingga nanti aku tidak lagi perlu menahan seperti ada ribuan sembilu yang menancap pada hatiku,
…hingga nanti aku tidak perlu lagi memastikanmu bahagia atau tidak,
…hingga nanti aku tidak perlu lagi menghirup napas panjang karena air mataku hampir jatuh saat kau tidak pernah menganggapku ada,
…hingga hati yang telah remuk redam ini akan segera terobati,
…dan kamu akan mencariku dan aku tidak lagi senang, malah.. aku akan tersenyum dan tidak akan memperdulikanmu,
…hingga kau akan terus merasa memerlukanku, tapi aku tidak ada lagi untukmu setiap waktu,
…hingga nanti.. kau sadar, hanya aku yang mampu bertahan sebegini jauh.
Dan aku. Bukan kertas bekas atau ruang kosong atau kunci cadanganmu. Lagi.

0 comments:

Post a Comment

Jun 29, 2013

random:')))

Rindu ini masih saja melafadzkan alunannya untukmu

Rindu ini masih saja menyelinap diam-diam, sebagai kamu tujuannya.

Ajari aku melupakan caranya mencintaimu, karena aku terus saja melakukannya
Ajari aku melupakan caranya merindukanmu, karena aku terus saja mengingatnya

Tatkala detik kunjung menjadi menit, dan menit berlalu hingga jam, lalu jam begitu saja berganti hari..
Bayangmu enggan keluar dalam jangkauan pikiranku
Hingga bergulirnya pasir waktu yang terus saja kubuang sia-sia hanya untuk mencintaimu, karena betapapun aku mencoba untuk tidak mencintaimu, rasa itu telah berlabuh lebih dulu sebelum rasa sesalku karena ku tau cintamu bukan untukku

Senduku semakin kelam
Alunan-alunan merintih dalam ruang-ruang jantungku memaksa namamu agar tidak keluar

Gemerisik dalam hatiku, yang tak kunjung membiarkan bayangmu pergi
Aku lelah..

Lantas, sayap-sayap harapan yang kau buat, sudah pupus seiring kau patahkan semua harap
Girang yang kau ganti dengan bulir-bulir air mata, tetap tidak membuat jiwaku goyah

Kau tetap tujuan betapapun kau mencoba putuskan segala jalanku menujumu
Oksigen pun kian susah terhirup, bahkan aku sesak. Karena, terlalu banyak pahatan namamu dalam setiap lorong jiwa
Keluhku tak ubahnya rintihan sampah yang tidak berguna
Karena, penderitaan selalu aku nikmati lebih dari aku mencintai kebahagiaan tanpamu

Lantas, sebenarnya aku ini apa?
Hanya kertas bekas untuk menampung permen karet yang sudah pahit?
Atau ruang yang kau biarkan kosong, tetapi tidak membiarkan orang lain masuk dan kau datangi hanya saat sepi melandamu?
Atau malah bahkan, kunci cadangan?

Kau memberi pahit, namun kau selalu mengubahnya seakan madu
Senandung alunan kesedihan dan kegusaran yang mendalam di dasar hati selalu saja karenamu.
Seharusnya kau sadar, aku mencintaimu lebih dari yang orang lain bisa lakukan.
Seharusnya kau tau, bahwa ketika kau beriringan dengan yang lain, aku menukar binar nanarku dengan senyum paksaan yang kubuat-buat secara sengaja
Agar luka mendalam ini, tidak pernah kau sadari, hingga nanti kau bukan lagi tujuanku,
…hingga nanti aku tidak lagi berdiri untukmu dan bersabar karenamu,
…hingga nanti aku tidak lagi perlu menahan seperti ada ribuan sembilu yang menancap pada hatiku,
…hingga nanti aku tidak perlu lagi memastikanmu bahagia atau tidak,
…hingga nanti aku tidak perlu lagi menghirup napas panjang karena air mataku hampir jatuh saat kau tidak pernah menganggapku ada,
…hingga hati yang telah remuk redam ini akan segera terobati,
…dan kamu akan mencariku dan aku tidak lagi senang, malah.. aku akan tersenyum dan tidak akan memperdulikanmu,
…hingga kau akan terus merasa memerlukanku, tapi aku tidak ada lagi untukmu setiap waktu,
…hingga nanti.. kau sadar, hanya aku yang mampu bertahan sebegini jauh.
Dan aku. Bukan kertas bekas atau ruang kosong atau kunci cadanganmu. Lagi.

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design