aku lagi seneng banget, btw. hehehehe jadi ceritanya itu, pas 14 november kemarin aku ikut lomba cerpen, terus karena pengumumannya agak lama, aku udah agak lupa dan tau-tau dapet mention yang begini pas jumat malem tanggal 29:
dan sms kayagini:
dan inilah cerpen aku yang berhasil jadi juara 1. alhamdulillah, makasiyah SDUB!:")
Senja
Di Ujung Bangku
19..
20.. 21.. 22.. 23…
Aku
lelah menghitung. Entah kenapa aku malah membuat daftar nama-nama mereka di
buku harianku. Aku hampir saja ingin bercerita tentang seseorang yang namanya
sering kutulis dengan ukiran pena yang indah disini—buku
harianku. Tetapi daftar jumlah mantan pacarku malah sudah begitu saja kutulis
dengan lihai. Kaget? Bagiku ini biasa saja. Ini malah bukan apa-apa. Masih
banyak laki-laki yang belum sempat kuhitung karena mungkin
aku sudah benar-benar tidak mengingat wajahnya lagi, atau bahkan namanya pun
sudah samar-samar dalam ingatanku.
Perempuan
pada umumnya berpacaran karena sungguh tergila-gila pada pacarnya bukan? Aku
tidak. Bahkan kutegaskan, TIDAK SAMA SEKALI bagiku. Aku menganggap mereka angin
lalu, tidak satupun dari mereka yang benar-benar tulus kucintai. Aku
melakukannya karena tidak tega berlama-lama melihat wajah memelas dengan bunga
mawar merah yang selalu mereka bawa ke hadapanku saat menyatakan cinta. Bagi kalian,
aku terlalu kejam? Terserah. Kalian pikir aku peduli?
Oh,
tidak. Aku memikirkan ini lagi dan menulisnya dengan sengaja, sama saja
mengupas luka lama. Lagi-lagi aku terjerembab dalam situasi dimana aku harus
mengulang ingatan. Mengetuk pintu-pintu luka dalam hatiku, memaksanya kembali
terbuka. Letupan-letupan bahagia yang manisnya seharusnya masih kukecap hingga sekarang,
termakan oleh rasa pedih yang menjalar dalam setiap nadiku. Aku memaki diriku
sendiri dalam hati.
Perempuan
tidak punya hati seperti aku memang pantas sedih dan dikutuk. Teman-temanku
bahkan bilang begitu, walau dalam nada setengah bercanda, tapi aku mendengar kesan
serius dalam suara mereka, membenarkan bahwa aku memang pantas untuk
sekali-kali bersedih—merasakan apa yang sudah kuperbuat pada
semua mantan pacarku. Aku mengingat omongan bersama teman-temanku itu, yang
dulu hampir tidak pernah kuanggap serius, tetapi kini kata-kata itu selalu menjadi
sambaran petir yang menggelegar dalam hatiku, hingga celah dan sudut terdalam.
Sesungguhnya, aku sudah terkutuk sejak 3 tahun lalu, jika kalian ingin tahu.
Aku
tidak pernah serius menanggapi semua laki-laki yang pernah kujadikan—lebih
tepatnya, hanya terpaksa kujadikan—pacarku. Entah apa yang
membuatku menganggap bila ‘dipuja’ lawan jenis itu sebagai hal yang
menyenangkan. Setidaknya, memang iya bila menikmatinya. Mungkin saat itu aku
terlalu menikmati ‘pemujaan’ yang dilakukan hampir kebanyakan lawan jenis itu
untukku, hingga aku selalu menganggap mereka remeh dan aku hampir selalu
mengacuhkan mereka walaupun mereka sudah menyandang status sebagai pacarku.
Dulu, aku tidak mempedulikan itu sedikitpun. Aku tidak menaruh simpati sama
sekali pada mereka. Bahkan, aku terkesan angkuh.
Keangkuhanku
berhenti pada titik dimana aku mulai merasa kutukan itu tiba-tiba saja datang
padaku tanpa permisi, tanpa meminta izin, tanpa memberiku sedikit saja waktu
untuk mencegah kutukan itu terjadi, hingga akhirnya aku malah menikmati perihnya
luka yang ditorehkan kutukan itu. Hingga sekarang.
Semburat
jingga yang menggantung di langit begitu indahnya, menahanku untuk tidak
melakukan aktivitas apapun selain menatap keindahan itu selama beberapa saat
yang cukup lama. Lalu, langit bisu yang mulai gelap mengingatkanku untuk
berkemas dan pulang. Kemudian, aku menutup buku harianku.
Sampai
besok, Adrian.
***
Adrian
mempercepat laju langkahnya, dia sudah tidak sabar ingin cepat menemukan objek
pemotretannya. Kali ini dia memilih taman bunga aster yang letaknya juga dia
tidak tahu sama sekali. Ke kompleks Indah
Sejahtera saja dulu, baru nanti tanya-tanya, pikirnya.
Setelah
bertanya sana-sini dengan beberapa ibu-ibu dan orang yang sedang tidak sengaja lewat,
akhirnya Adrian menemukan taman bunga itu. Tempatnya sejuk, luas, indah,
rindang, dan sangat jarang ada taman seperti ini lagi di kota-kota besar. Yang
ada hanya taman bangunan super mewah nan megah yang berhasil menggusur lahan
untuk tanaman-tanaman tumbuh. Adrian merasa bersyukur bisa tahu tempat ini,
sekaligus bersyukur karena punya teman sekantor yang menyarankannya untuk
mengambil gambar di taman ini sebagai objek pemotretan.
Sebenarnya
Adrian adalah pegawai swasta yang baru saja lulus kuliah setahun lalu dan
langsung diterima secara hangat dikantornya bekerja selama sebulan belakangan, namun
kecintaannya memotret tidak berhenti sampai situ meskipun gaji yang diterimanya
sebagai pegawai sudah melampaui batas cukup.
Adrian
menatap sekeliling tempat ini. Terik matahari yang menyusup masuk dari celah
pepohonan rindang yang mengelilingi taman bunga aster ini tentu saja tidak
terlalu menusuk kulit. Bahkan malah terasa sejuk. Bunga aster berwarna putih
mendominasi hampir seluruh isi taman, tapi tak jarang aster berwarna ungu,
kuning, dan yang lainnya terlihat disisi sudut yang jarang dapat dijangkau mata
atau terselip disisi ujung. Bunga mawar putih dan merah muda juga terlihat
walaupun hanya beberapa.
Terdapat
lampu berpendar kekuningan di setiap sudut taman serta bangku nyaman di ujung
sudut sebelah kanan yang cukup romantis—jika Adrian bayangkan.
Namun sangat jarang ada orang yang kesini. Karena yang Adrian lihat disini
hanya ada tukang sapu yang sedang membersihkan daun kering yang berserakan dari
pepohonan di sekeliling taman ini.
Adrian
yang sempat ‘disihir’ taman langka ini langsung melancarkan aksinya memotret di
beberapa tempat. Salah satunya Adrian memotret bangku romantis dalam benaknya tadi
dengan latar belakang bunga-bunga aster yang mengembang cantik.
Ini
sudah pukul 4 sore dan Adrian masih betah disini meskipun ratusan foto berhasil
ditangkapnya. Adrian masih ingin menikmati sore disini, entah karena apa.
Kemudian,
dari arah berlawanan, Adrian melihat sosok perempuan memakai mini dress berwarna baby pink selutut dengan sepatu sport
serupa dengan warna dressnya.
Perempuan itu juga memrentangkan payung di tangan kanannya berwarna ungu muda
dan memegang keranjang piknik di tangan kirinya. Bagi Adrian itu pemandangan
yang sungguh menarik, wajah perempuan itu baby
face dengan seluruh penampilannya. Adrian menelan ludah. Cantik, pikirnya. Tidak menunggu lama,
Adrian langsung mengambil beberapa foto perempuan itu, walaupun jarak mereka
cukup jauh. Sedangkan, perempuan yang menjadi objek potret itu sendiri tidak sadar
sedang dijadikan objek menarik oleh Adrian.
Riana
tampak terkejut ‘wilayah kekuasaannya’ selama 3 tahun ditempati orang asing
dengan kamera yang tergantung di lehernya.
“Kamu
ingin duduk?” sapa Adrian ramah.
“Ini
memang tempat dudukku,” Riana menatap Adrian tajam “dan Adrian, tentu saja.” tambah Riana dalam hati.
Adrian
tertawa pelan, “Bukankah ini bangku milik umum?”
Riana
cukup geram selama beberapa saat. Lalu, dengan gerakan yang cepat Riana duduk
di ujung bangku yang sama dengan pria yang menyebalkan ini, tanpa memedulikan
tatapan aneh dari sang pemilik kamera. Lalu, menutup payungnya. Menaruh
keranjang pikniknya yang memberinya jarak dengan laki-laki itu. Tempat yang didudukinya itu milik Adrian,
biar saja, kau akan menyesal karena telah mendudukinya, hati Riana berkata.
Setelah
dikuasai kesenyapan selama beberapa menit yang sangat canggung bagi Adrian,
namun biasa saja untuk Riana, Adrian akhirnya memberanikan diri membuka
percakapan.
“Aku
sedang bekerja untuk memotret beberapa pemandangan disini. Kamu tinggal
disini?”
“Seperti
yang kamu duga,” jawab Riana acuh.
“Namamu?”
“Riana.
Ariana lengkapnya.”
“Senang
bertemu kamu, Ariana.” Adrian tersenyum manis sekali. “Aku Adrian,” tambahnya
sambil mengulurkan tangan, masih dengan senyum manis menyungging di bibirnya.
Riana
seperti baru saja disambar petir. Dia tiba-tiba pusing, lututnya lemas, dadanya
berdesir hebat, kenangan yang telah lama berusaha dia kubur kembali berputar
seperti rekaman video dalam otaknya, dan dalam setiap aliran darahnya dia
merasakan semuanya menjerit ‘Oh, Adrian! Dia Adrian, Riana!’
“Ap..apa?”
kata Riana tergagap. Terlalu kaget. Betapa nama ‘Adrian’ begitu bisa membuat
pertahanan kokoh untuk tidak memikirkan nama itu yang Riana bangun selama 3
tahun dalam hatinya meruntuh dan hancur dalam hitungan detik.
“Aku
Adrian. Hanya Adrian, tidak ada nama panjang,” ulang Adrian menyurutkan senyum
manisnya yang sekarang berubah menjadi khawatir karena melihat wajah perempuan
imut di sampingnya ini pucat pasi. “Kamu baik-baik saja, Riana?” kata Adrian
lagi karena tidak mendengar satu patah katapun yang keluar dari mulut Riana.
Riana
hanya menjawabnya dengan gelengan kuat.
Sunyi
menyelinap masuk di antara mereka. Riana sendiri masih pucat. Shock dengan kenyataan yang baru
didapatkannya. Kemudian, dia mengambil bekal dalam tupperwarenya berisi 2 roti isi yang sangat spesial. Riana menambah
keju dan daging pada roti isinya hari ini. Lalu, tanpa sadar menawari Adrian.
Adrian hanya tersenyum sebagai tanda ‘terimakasih’ lalu melahapnya.
Warna
jingga pekat sudah menghiasi langit yang menggelap, tidak seperti biasanya yang
selalu cerah. Dugaan Riana itu benar ketika merasakan rintik hujan jatuh dengan
tidak sabar di tubuhnya. Beberapa detik setelah itu, hujan lebat turun, memaksa
Riana dan Adrian kalap karena bingung. Kemudian, dengan gerakan yang cukup
cepat, Adrian mengambil payung ungu muda milik Riana karena melihat perempuan
itu sedang beres-beres. Adrian sendiri udah mengemasi barang-barangnya sejak
tadi.
“Bisakah
sedikit lebih cepat? Hujannya turun semakin deras, Riana! Jangan seperti
siput!” teriak Adrian, untuk mengalahkan suara gemuruh hujan.
Riana
merasakan de javu dengan kejadian
barusan. Kata-kata Adrian tanpa nama panjang ini membuatnya diam seribu bahasa.
Lalu, dengan tatapan aneh, Riana menatap Adrian yang sedang memegang payung
dengan setengah badannya yang sudah basah kuyup karena melindungi Riana. Persis
seperti kejadian 3 tahun lalu. Ini bukan
kebetulan, ini takdir, otaknya tiba-tiba saja bersuara.
Akhirnya,
untuk kali pertama setelah 3 tahun terakhir, dia berjalan berdampingan dengan
seorang laki-laki yang namanya sama dengan laki-laki di masa lalunya. Hanya
saja, berbeda orang. Riana mencoba mengenyahkan gejolak aneh dalam dadanya.
Rasa itu kembali lagi. Riana deg-degan.
Setelah
sampai di rumah, Riana masih terus bungkam. Terlalu banyak hal yang ada dalam
otaknya dan memaksa berpikir keras. Perasaan apa ini? Dia bukan Adrian masa laluku, tentu saja, Riana menguatkan hatinya.
Adrian
sendiri hanya mengikuti kesunyian yang melanda mereka. Sejak melihat mata
Riana, Adrian jadi salah tingkah. Walaupun, Adrian sadar dalam mata perempuan
itu terdapat banyak hal yang dipendamnya, kehampaan, kesepian, dan rasa rindu.
Dia sadar dia telah jatuh cinta pada binar mata Riana, dan pada Riana. Adrian
sangat ingin menghilangkan binar kehampaan dalam mata indah itu.
Riana
mengalah. Dia lari ke dalam rumahnya dan mengambil handuk untuk Adrian yang
tampak kedinginan.
“Kamu
ingin kupinjamkan baju?” kata Riana, kali ini lebih lembut. Sebenarnya, dia
juga heran kenapa laki-laki ini bisa mau mengantarnya sampai rumah, padahal
mereka baru kenal.
“Tidak
usah. Aku mengantarmu hanya untuk memastikan kamu selamat sampai di rumah. Aku
akan pulang,” jawab Adrian sambil tersenyum. Kata-katanya seakan menjawab
pertanyaan Riana.
Setelah
itu, Adrian pamit pulang dengan baju hampir basah kuyup, kecuali tas besarnya
yang dia beri lapis plastik. Riana tahu itu berisi kamera yang menggantung di
lehernya tadi dan barang-barang penting lainnya.
Riana
menunggu di depan pintu rumah sambil mencoba untuk tersenyum saat Adrian
melambaikan tangan, sampai sosoknya hilang di persimpangan jalan.
Riana
yakin ini pertanda baik. Tanpa sadar dia tersenyum manis. Senyuman yang telah
hilang selama 3 tahun. Dan senyuman itu dilihat ibunya yang sengaja ikut ke
depan pintu rumah mereka untuk mengucap selamat jalan dan hati-hati kepada
Adrian tadi.
“Ini
kemajuan yang bagus, Riana. Ini pertanda baik. Ini bagus sekali. Senyum itu
kembali lagi, dan kamu tahu, Ibu bahagia karenanya. Ibu senang sekali. Adrian
ini anugerah. Jawaban atas segala tangismu. Ibu senaaaaaaang,” kata wanita
paruh baya itu sambil memeluk Riana.
Riana
sendiri tidak menyangka senyuman dan getaran dalam hatinya itu kembali
berfungsi. Kembali pada dirinya saat Adrian di masa lalu masih ada untuk
melindunginya.
***
“Cepat!
Hujannya turun semakin deras, Riana! Jangan seperti siput!” suara itu dinaikkan
beberapa oktaf dari suaranya yang asli untuk mengalahkan suara gemuruh rintik
besar-besar air hujan yang berebut menghantam tanah. Dia tentu saja tidak
bermaksud membuatku sakit hati dengan nada suaranya yang hampir seperti
membentak, karena laki-laki di hadapanku ini sudah tahu aku tidak mempan dengan
hal yang seperti itu.
Sementara
aku yang biasanya jarang mengikuti perintah orang lain, malah selalu mengikuti
perintah laki-laki yang sedang memegang payung berwarna ungu muda untuk
melindungiku agar tidak basah itu. Aku sibuk berkemas-kemas dengan keranjang
piknikku, lalu dengan sigap mengikuti langkahnya yang panjang untuk sampai di
rumahku secepatnya. Untung saja kami sedang tidak membawa sepeda kami
masing-masing.
Sampai
di rumah, tentu saja aku tidak peduli lagi dengan badanku yang setengah basah
kuyup karena berbagi payung dengan laki-laki beralis menyatu yang sekarang tampak
menggigil kedinginan itu. Aku langsung masuk dan mendapati kerut di dahi Ibuku
berlipat-lipat melihatku berlari menuju kamar mandi dengan baju hampir basah
semua, tetapi aku tidak bisa menjelaskan alasanku pada wanita paruh baya yang
sangat kucintai itu sekarang.
Setelah
mendapatkan benda yang kucari, secepat kilat aku memberikannya pada Adrian. Iya,
Adrian Hadi Laksana, akhirnya aku menyebutkan nama laki-laki tampan itu juga
kan.
“Oh,
Adrian. Masuk nak. Ibu bikinin teh hangat ya,” Ibuku selalu seperti itu.
Sayangnya, hanya pada Adrian. Alasan mengapa dia begitu baik kepada laki-laki
itu juga aku tidak tahu dengan pasti, tetapi Ibuku pernah bilang bahwa Adrian
mirip Ayahku saat muda dan aku langsung membenci alasan itu.
Kami
masuk lalu duduk di ruang tamu rumahku setelah aku berganti pakaian—Adrian
juga, memakai pinjaman baju kekecilan dariku. Tiba-tiba saja, tatapan laki-laki
di hadapanku ini begitu hangat mengarah padaku. Aku balas menatapnya, kali ini
lebih dalam. Refleks entah darimana yang membuat darah yang mengalir dalam
dadaku tiba-tiba berdesir. Debaran jantungku berdetak seakan terdapat gempa
mini, dan seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan dalam perutku membuat
aku semakin tidak nyaman. Tidak tahan dengan kondisi seperti ini, aku jadi
menunduk. Tetapi, semakin menunduk aku semakin merasakan ‘gempa mini’ itu,
namun—jujur
saja—aku
begitu menikmati ini.
Adrian
terkekeh melihatku. Pipiku terasa panas, dan mungkin jika aku berkaca wajahku
sudah seperti saudara kembar udang rebus.
Detik
itu juga aku merasa kutukan itu menyusup dalam setiap nadiku. Tapi, bukan. Ini
bukan kutukan. Ini berkah.
Akhirnya.
Aku
jatuh cinta. Dengan… yah, dia adalah tetanggaku. Teman kecilku, tepatnya. Aku
tidak menyangka ini akan sebegini cepat, hanya dengan beberapa piknik kecil,
bermain sepeda bersama, dan obrolan riuh dengan tawa di taman bunga aster yang
terletak di jantung kompleks perumahan kami. Aku bahkan baru ingat Adrian lagi
saat beberapa hari lalu dia membantu mengobati lututku yang terluka karena
jatuh dari tangga saat membenarkan posisi pot gantung di rumahku.
Saat
itu kukira aku melihat laki-laki tampan yang nyasar atau apa, tetapi saat dia
menyebutkan nama lengkapnya aku jadi sadar, aku tidak pernah lagi memperhatikan
lingkungan di sekitarku hingga aku lupa dia adalah teman masa kecilku yang
rumahnya hanya berjarak 300 meter dari rumahku.
Aku
menyayangkan diriku sendiri yang tidak pernah peduli lagi dengan laki-laki
tampan—walaupun
hampir semua mantan pacarku semuanya tampan, tetapi memangnya aku pernah peduli
pada mereka?—sejak
Ayah mengajarkanku bahwa semua laki-laki itu sama saja. Mudah mencampakkan dan
mengabaikan.
Sikapnya yang egois meninggalkan aku dan Ibuku
‘berdiri’ sendiri adalah hal yang awalnya menyebabkan aku menjadi suka menyakiti
perasaan semua laki-laki yang pernah menyatakan perasaannya padaku. Yang jika
kupikir-pikir lagi, lalu apa bedanya aku dengan Ayahku? Meskipun begitu, aku
tidak ambil pusing, toh ini yang Ayah ajarkan padaku bahkan pada saat aku masih
berumur 8 tahun, jadi jangan salahkan aku sepenuhnya.
Tanpa
Ayahku sadari, perbuatannya itu sudah menorehkan luka panjang dalam hati
kecilku yang bekasnya tidak pernah hilang. Bahkan menyebabkan hati nuraniku
jarang berfungsi.
Dan,
oh ya, Adrian! Dia baru saja pamit dengan ibuku karena takut Ibunya khawatir.
Aku tersenyum tipis saja saat Adrian memberi alasan semacam itu, karena aku
tahu alasan sebenarnya adalah dia tidak nyaman dengan baju kekecilan yang
kupinjamkan.
3 minggu setelah itu…
Hari
ini Riana berkabung. Langit gelap mewakilinya. Mendung menemaninya.
“Gue
masih bisa piknik tiap hari di taman bunga aster kan Na?” Riana memaksakan
senyum, sedangkan air matanya masih mengalir deras dari matanya yang basah.
“Nana!
Karin! Kalisa! Ica! Jawab gue! Adrian pasti bakal dateng kan, dia sekarang lagi
di jalan. Dia lagi beli bunga untuk gue. Dia bilang ke kalian mau nembak gue
hari ini, kalian inget itu kan?”
Plak!
Tamparan
itu membuat Riana berhenti menangis dan diam untuk sesaat. Nana menamparnya.
Tidak, Nana menampar kenyataan di depan mata Riana sekarang.
Riana
tahu itu bukan tamparan penanda benci atau kesal. Itu alarm agar Riana sadar,
agar Riana bangun.
Ini
sudah pukul 17:21 dan Adrian tidak datang. Adrian tidak datang. Adrian tidak
datang. Itu kalimat yang semakin menampar Riana. Membungkam mulutnya untuk
beberapa saat. Selanjutnya, hanya ada sepi yang menyelimuti mereka.
Sahabat-sahabat
Riana sengaja menyusul gadis itu di taman untuk memberitahu kabar duka. Yang
datangnya, kalian tahu darimana? Dari rumah yang jaraknya hanya 300 meter dari
rumah Riana. Iya, rumah Adrian Hadi Laksana. Cinta pertama Riana yang belum
sempat Riana miliki.
Truk
yang dibawa supir ugal-ugalan mengakibatkan tabrakan beruntun. Adrian yang
sedang dalam perjalanan pulang untuk melancarkan rencana ‘menembak’ Riana sialnya
adalah salah satu diantara 11 korban tewas.
Sungguh
tragis memang.
Setelah
beberapa saat, mereka mendekap Riana. Nana yang baru saja menampar Riana tetapi
tidak merasa bersalah itu membuka pembicaraan, “Kita bukan Tuhan, Ri,” suaranya
serak, bulir air mata yang sedari tadi ditahannya tumpah, diikuti sahabat Riana
yang lain.
“Dan
kita gak bisa bilang ini cuma mimpi,” Ica menambahkan dengan lirih.
Riana
semakin terisak. Dia tahu sahabat-sahabatnya itu baik dan tidak mungkin membuat
lelucon murahan membawa-bawa kematian. Riana tahu bagi mereka itu tidak lucu.
Jadi, saat mendengar berita itu, Riana hanya mampu membeku di ujung bangku
taman. Bekal berisi 2 roti isi yang sedang dia pegang, jatuh berserakan karena
Riana merasa seluruh ototnya lemas, tulang-tulangnya seperti ditusuk angin
dingin, dan hatinya? Hatinya sudah menjadi kepingan tidak berbentuk akibat
hantaman luka, sakit, dan perih yang datang bersamaan.
Bagi
Riana ini kejutan. Kejutan Tuhan yang selalu tidak bisa ditebak. Dan setelah
ini, dia tahu dia tidak akan mampu menanggungnya sendirian. Dia membutuhkan
‘alat’ untuk menuntunnya berjalan menghadapi semuanya.
Dan,
setelah hari ini, semuanya tidak akan sama. Tidak akan sama tanpa Adrian.
***
“Kita
harus rayakan ini!” Kalisa yang lebih sering mendengarkan daripada bicara itu
memberi pendapat antusias dan langsung mendapat 4 anggukan kepala tanda setuju,
diantaranya Ibu Riana, Ica, Nana dan Karin.
Kabut-kabut
yang menutupi hati Riana yang membeku selama 3 tahun sudah hilang. Sebulan
terakhir Adrian sering berkunjung dan bagi Riana itu candu. Itu membuat Riana
bahagia sekaligus terharu. Selain piknik mini lengkap dengan payung ungu muda,
buku harian dan bekal 2 roti isi adalah obat untuk Riana, ternyata Adrian masa
kini adalah obat dalam bentuk yang lain bagi Riana.
Adrian
masa kini sudah mengetahui secara detail tentang Adrian masa lalu. Dan semakin
bertekad untuk menuntun Riana berjalan. Tidak sendirian, namun bersamanya.
***
Hari
ini mereka masih di tempat yang sama. Di ujung bangku taman bunga aster setiap
senja tiba. Namun, Adrian hari ini tentu berbeda dengan Adrian 3 tahun lalu. Adrian
lain kiriman Tuhan untuk Riana.
Dan
kini, Riana percaya kata-kata Ibunya katakan tepat saat di pemakaman Adrian
bahwa, “Ketika kamu kehilangan cinta, cinta yang lain selalu siap menyambutmu,
memberimu bahagia. Kamu tidak usah khawatir, saatnya akan tiba,” itu benar.
“I’m so lucky having a great man to accompany
me in the journey I’ve never been before,” ucap Riana lirih dalam pelukan
Adrian.
“Jangan-jangan
ini kata-kata kamu ke Adrian dulu ya?” dahi Adrian berkerut mendengar kata-kata
Riana yang berkata ‘i’ve never been
before’. Riana tentu sudah pernah merasakan hal seperti ini, bersama
Adrian, namun bukan Adrian yang berarti dirinya.
“Emang
iya!” kata Riana jahil. Adrian langsung cemberut. Lalu, melahap dengan cepat
roti isi yang kejunya banyak sekali pesanan Adrian.
“Tapi
aku serius, makasih banyak ya,” kata Riana serius. Sejurus kemudian Adrian
tertawa kecil, lalu mengangguk tulus.
Mata
mereka memang tidak bisa berkata, namun kenyataan yang terlihat hanyalah bahagia
yang terpancar dari dalamnya.
Well, benar kata Nana; When you lost one thing, you’ll find another
for sure. Riana membuktikannya.
Dan
sekarang, kebiasaan piknik saat senja, membawa payung, buku harian dan berbekal
2 roti isi yang tidak pernah hilang itu ditambah dengan acara potret-memotret
wajah idiot Riana dimanapun dan kapanpun. Ternyata itu begitu menyenangkan bagi
Riana. Kebiasaan baru bersama Adrian yang baru. Betapa momen yang tentu saja
tidak bisa Riana sia-siakan, Adrian juga. Untuk selamanya. Untuk hari ini dan
seterusnya.
Semoga
Riana tidak harus mencari Adrian lain lagi. Itu doa Riana yang diucapkannya
bahkan hampir setiap jam.
Dan,
oh iya.. Adrian masa laluku? Aku yakin dia selalu tersenyum saat senja
menyambut kami—Adrian
masa kini dan aku di ujung bangku.
Aku
tahu aku tidak akan kehilangan senyumku lagi sejak hari ini. Bahkan mungkin
sebenarnya sejak sebulan yang lalu, saat bertemu Adrian.


0 comments:
Post a Comment