Dec 1, 2013

29/11/13 PENGUMUMAN:")

Moshi-moshi guys!<3 HAVEN'T SEEN YOU FOR SUCH A LOOOOOOOOOOOOOOOOOONG TIMEEEEEEEE:(:(:( I MISS YOU, my beloved visitors!:(
aku lagi seneng banget, btw. hehehehe jadi ceritanya itu, pas 14 november kemarin aku ikut lomba cerpen, terus karena pengumumannya agak lama, aku udah agak lupa dan tau-tau dapet mention yang begini pas jumat malem tanggal 29:



dan sms kayagini:



dan inilah cerpen aku yang berhasil jadi juara 1. alhamdulillah, makasiyah SDUB!:") 


Senja Di Ujung Bangku

            19.. 20.. 21.. 22..  23…
            Aku lelah menghitung. Entah kenapa aku malah membuat daftar nama-nama mereka di buku harianku. Aku hampir saja ingin bercerita tentang seseorang yang namanya sering kutulis dengan ukiran pena yang indah disinibuku harianku. Tetapi daftar jumlah mantan pacarku malah sudah begitu saja kutulis dengan lihai. Kaget? Bagiku ini biasa saja. Ini malah bukan apa-apa. Masih banyak laki-laki yang belum sempat kuhitung karena mungkin aku sudah benar-benar tidak mengingat wajahnya lagi, atau bahkan namanya pun sudah samar-samar dalam ingatanku.
            Perempuan pada umumnya berpacaran karena sungguh tergila-gila pada pacarnya bukan? Aku tidak. Bahkan kutegaskan, TIDAK SAMA SEKALI bagiku. Aku menganggap mereka angin lalu, tidak satupun dari mereka yang benar-benar tulus kucintai. Aku melakukannya karena tidak tega berlama-lama melihat wajah memelas dengan bunga mawar merah yang selalu mereka bawa ke hadapanku saat menyatakan cinta. Bagi kalian, aku terlalu kejam? Terserah. Kalian pikir aku peduli?
            Oh, tidak. Aku memikirkan ini lagi dan menulisnya dengan sengaja, sama saja mengupas luka lama. Lagi-lagi aku terjerembab dalam situasi dimana aku harus mengulang ingatan. Mengetuk pintu-pintu luka dalam hatiku, memaksanya kembali terbuka. Letupan-letupan bahagia yang manisnya seharusnya masih kukecap hingga sekarang, termakan oleh rasa pedih yang menjalar dalam setiap nadiku. Aku memaki diriku sendiri dalam hati.
            Perempuan tidak punya hati seperti aku memang pantas sedih dan dikutuk. Teman-temanku bahkan bilang begitu, walau dalam nada setengah bercanda, tapi aku mendengar kesan serius dalam suara mereka, membenarkan bahwa aku memang pantas untuk sekali-kali bersedihmerasakan apa yang sudah kuperbuat pada semua mantan pacarku. Aku mengingat omongan bersama teman-temanku itu, yang dulu hampir tidak pernah kuanggap serius, tetapi kini kata-kata itu selalu menjadi sambaran petir yang menggelegar dalam hatiku, hingga celah dan sudut terdalam. Sesungguhnya, aku sudah terkutuk sejak 3 tahun lalu, jika kalian ingin tahu.
            Aku tidak pernah serius menanggapi semua laki-laki yang pernah kujadikanlebih tepatnya, hanya terpaksa kujadikanpacarku. Entah apa yang membuatku menganggap bila ‘dipuja’ lawan jenis itu sebagai hal yang menyenangkan. Setidaknya, memang iya bila menikmatinya. Mungkin saat itu aku terlalu menikmati ‘pemujaan’ yang dilakukan hampir kebanyakan lawan jenis itu untukku, hingga aku selalu menganggap mereka remeh dan aku hampir selalu mengacuhkan mereka walaupun mereka sudah menyandang status sebagai pacarku. Dulu, aku tidak mempedulikan itu sedikitpun. Aku tidak menaruh simpati sama sekali pada mereka. Bahkan, aku terkesan angkuh.
            Keangkuhanku berhenti pada titik dimana aku mulai merasa kutukan itu tiba-tiba saja datang padaku tanpa permisi, tanpa meminta izin, tanpa memberiku sedikit saja waktu untuk mencegah kutukan itu terjadi, hingga akhirnya aku malah menikmati perihnya luka yang ditorehkan kutukan itu. Hingga sekarang.
            Semburat jingga yang menggantung di langit begitu indahnya, menahanku untuk tidak melakukan aktivitas apapun selain menatap keindahan itu selama beberapa saat yang cukup lama. Lalu, langit bisu yang mulai gelap mengingatkanku untuk berkemas dan pulang. Kemudian, aku menutup buku harianku.
            Sampai besok, Adrian.
***

            Adrian mempercepat laju langkahnya, dia sudah tidak sabar ingin cepat menemukan objek pemotretannya. Kali ini dia memilih taman bunga aster yang letaknya juga dia tidak tahu sama sekali. Ke kompleks Indah Sejahtera saja dulu, baru nanti tanya-tanya, pikirnya.
            Setelah bertanya sana-sini dengan beberapa ibu-ibu dan orang yang sedang tidak sengaja lewat, akhirnya Adrian menemukan taman bunga itu. Tempatnya sejuk, luas, indah, rindang, dan sangat jarang ada taman seperti ini lagi di kota-kota besar. Yang ada hanya taman bangunan super mewah nan megah yang berhasil menggusur lahan untuk tanaman-tanaman tumbuh. Adrian merasa bersyukur bisa tahu tempat ini, sekaligus bersyukur karena punya teman sekantor yang menyarankannya untuk mengambil gambar di taman ini sebagai objek pemotretan.
            Sebenarnya Adrian adalah pegawai swasta yang baru saja lulus kuliah setahun lalu dan langsung diterima secara hangat dikantornya bekerja selama sebulan belakangan, namun kecintaannya memotret tidak berhenti sampai situ meskipun gaji yang diterimanya sebagai pegawai sudah melampaui batas cukup.
            Adrian menatap sekeliling tempat ini. Terik matahari yang menyusup masuk dari celah pepohonan rindang yang mengelilingi taman bunga aster ini tentu saja tidak terlalu menusuk kulit. Bahkan malah terasa sejuk. Bunga aster berwarna putih mendominasi hampir seluruh isi taman, tapi tak jarang aster berwarna ungu, kuning, dan yang lainnya terlihat disisi sudut yang jarang dapat dijangkau mata atau terselip disisi ujung. Bunga mawar putih dan merah muda juga terlihat walaupun hanya beberapa.
            Terdapat lampu berpendar kekuningan di setiap sudut taman serta bangku nyaman di ujung sudut sebelah kanan yang cukup romantisjika Adrian bayangkan. Namun sangat jarang ada orang yang kesini. Karena yang Adrian lihat disini hanya ada tukang sapu yang sedang membersihkan daun kering yang berserakan dari pepohonan di sekeliling taman ini.
            Adrian yang sempat ‘disihir’ taman langka ini langsung melancarkan aksinya memotret di beberapa tempat. Salah satunya Adrian memotret bangku romantis dalam benaknya tadi dengan latar belakang bunga-bunga aster yang mengembang cantik.
            Ini sudah pukul 4 sore dan Adrian masih betah disini meskipun ratusan foto berhasil ditangkapnya. Adrian masih ingin menikmati sore disini, entah karena apa.
            Kemudian, dari arah berlawanan, Adrian melihat sosok perempuan memakai mini dress berwarna baby pink selutut dengan sepatu sport serupa dengan warna dressnya. Perempuan itu juga memrentangkan payung di tangan kanannya berwarna ungu muda dan memegang keranjang piknik di tangan kirinya. Bagi Adrian itu pemandangan yang sungguh menarik, wajah perempuan itu baby face dengan seluruh penampilannya. Adrian menelan ludah. Cantik, pikirnya. Tidak menunggu lama, Adrian langsung mengambil beberapa foto perempuan itu, walaupun jarak mereka cukup jauh. Sedangkan, perempuan yang menjadi objek potret itu sendiri tidak sadar sedang dijadikan objek menarik oleh Adrian.

            Riana tampak terkejut ‘wilayah kekuasaannya’ selama 3 tahun ditempati orang asing dengan kamera yang tergantung di lehernya.
            “Kamu ingin duduk?” sapa Adrian ramah.
            “Ini memang tempat dudukku,” Riana menatap Adrian tajam “dan Adrian, tentu saja.” tambah Riana dalam hati.
            Adrian tertawa pelan, “Bukankah ini bangku milik umum?”
            Riana cukup geram selama beberapa saat. Lalu, dengan gerakan yang cepat Riana duduk di ujung bangku yang sama dengan pria yang menyebalkan ini, tanpa memedulikan tatapan aneh dari sang pemilik kamera. Lalu, menutup payungnya. Menaruh keranjang pikniknya yang memberinya jarak dengan laki-laki itu. Tempat yang didudukinya itu milik Adrian, biar saja, kau akan menyesal karena telah mendudukinya, hati Riana berkata.
            Setelah dikuasai kesenyapan selama beberapa menit yang sangat canggung bagi Adrian, namun biasa saja untuk Riana, Adrian akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.
            “Aku sedang bekerja untuk memotret beberapa pemandangan disini. Kamu tinggal disini?”
            “Seperti yang kamu duga,” jawab Riana acuh.
            “Namamu?”
            “Riana. Ariana lengkapnya.”
            “Senang bertemu kamu, Ariana.” Adrian tersenyum manis sekali. “Aku Adrian,” tambahnya sambil mengulurkan tangan, masih dengan senyum manis menyungging di bibirnya.
            Riana seperti baru saja disambar petir. Dia tiba-tiba pusing, lututnya lemas, dadanya berdesir hebat, kenangan yang telah lama berusaha dia kubur kembali berputar seperti rekaman video dalam otaknya, dan dalam setiap aliran darahnya dia merasakan semuanya menjerit ‘Oh, Adrian! Dia Adrian, Riana!’
            “Ap..apa?” kata Riana tergagap. Terlalu kaget. Betapa nama ‘Adrian’ begitu bisa membuat pertahanan kokoh untuk tidak memikirkan nama itu yang Riana bangun selama 3 tahun dalam hatinya meruntuh dan hancur dalam hitungan detik.
            “Aku Adrian. Hanya Adrian, tidak ada nama panjang,” ulang Adrian menyurutkan senyum manisnya yang sekarang berubah menjadi khawatir karena melihat wajah perempuan imut di sampingnya ini pucat pasi. “Kamu baik-baik saja, Riana?” kata Adrian lagi karena tidak mendengar satu patah katapun yang keluar dari mulut Riana.
            Riana hanya menjawabnya dengan gelengan kuat.
            Sunyi menyelinap masuk di antara mereka. Riana sendiri masih pucat. Shock dengan kenyataan yang baru didapatkannya. Kemudian, dia mengambil bekal dalam tupperwarenya berisi 2 roti isi yang sangat spesial. Riana menambah keju dan daging pada roti isinya hari ini. Lalu, tanpa sadar menawari Adrian. Adrian hanya tersenyum sebagai tanda ‘terimakasih’ lalu melahapnya.
            Warna jingga pekat sudah menghiasi langit yang menggelap, tidak seperti biasanya yang selalu cerah. Dugaan Riana itu benar ketika merasakan rintik hujan jatuh dengan tidak sabar di tubuhnya. Beberapa detik setelah itu, hujan lebat turun, memaksa Riana dan Adrian kalap karena bingung. Kemudian, dengan gerakan yang cukup cepat, Adrian mengambil payung ungu muda milik Riana karena melihat perempuan itu sedang beres-beres. Adrian sendiri udah mengemasi barang-barangnya sejak tadi.
            “Bisakah sedikit lebih cepat? Hujannya turun semakin deras, Riana! Jangan seperti siput!” teriak Adrian, untuk mengalahkan suara gemuruh hujan.
            Riana merasakan de javu dengan kejadian barusan. Kata-kata Adrian tanpa nama panjang ini membuatnya diam seribu bahasa. Lalu, dengan tatapan aneh, Riana menatap Adrian yang sedang memegang payung dengan setengah badannya yang sudah basah kuyup karena melindungi Riana. Persis seperti kejadian 3 tahun lalu. Ini bukan kebetulan, ini takdir, otaknya tiba-tiba saja bersuara.
            Akhirnya, untuk kali pertama setelah 3 tahun terakhir, dia berjalan berdampingan dengan seorang laki-laki yang namanya sama dengan laki-laki di masa lalunya. Hanya saja, berbeda orang. Riana mencoba mengenyahkan gejolak aneh dalam dadanya. Rasa itu kembali lagi. Riana deg-degan.
            Setelah sampai di rumah, Riana masih terus bungkam. Terlalu banyak hal yang ada dalam otaknya dan memaksa berpikir keras. Perasaan apa ini? Dia bukan Adrian masa laluku, tentu saja, Riana menguatkan hatinya.
            Adrian sendiri hanya mengikuti kesunyian yang melanda mereka. Sejak melihat mata Riana, Adrian jadi salah tingkah. Walaupun, Adrian sadar dalam mata perempuan itu terdapat banyak hal yang dipendamnya, kehampaan, kesepian, dan rasa rindu. Dia sadar dia telah jatuh cinta pada binar mata Riana, dan pada Riana. Adrian sangat ingin menghilangkan binar kehampaan dalam mata indah itu.
            Riana mengalah. Dia lari ke dalam rumahnya dan mengambil handuk untuk Adrian yang tampak kedinginan.
            “Kamu ingin kupinjamkan baju?” kata Riana, kali ini lebih lembut. Sebenarnya, dia juga heran kenapa laki-laki ini bisa mau mengantarnya sampai rumah, padahal mereka baru kenal.
            “Tidak usah. Aku mengantarmu hanya untuk memastikan kamu selamat sampai di rumah. Aku akan pulang,” jawab Adrian sambil tersenyum. Kata-katanya seakan menjawab pertanyaan Riana.
            Setelah itu, Adrian pamit pulang dengan baju hampir basah kuyup, kecuali tas besarnya yang dia beri lapis plastik. Riana tahu itu berisi kamera yang menggantung di lehernya tadi dan barang-barang penting lainnya.
            Riana menunggu di depan pintu rumah sambil mencoba untuk tersenyum saat Adrian melambaikan tangan, sampai sosoknya hilang di persimpangan jalan.
            Riana yakin ini pertanda baik. Tanpa sadar dia tersenyum manis. Senyuman yang telah hilang selama 3 tahun. Dan senyuman itu dilihat ibunya yang sengaja ikut ke depan pintu rumah mereka untuk mengucap selamat jalan dan hati-hati kepada Adrian tadi.
            “Ini kemajuan yang bagus, Riana. Ini pertanda baik. Ini bagus sekali. Senyum itu kembali lagi, dan kamu tahu, Ibu bahagia karenanya. Ibu senang sekali. Adrian ini anugerah. Jawaban atas segala tangismu. Ibu senaaaaaaang,” kata wanita paruh baya itu sambil memeluk Riana.
            Riana sendiri tidak menyangka senyuman dan getaran dalam hatinya itu kembali berfungsi. Kembali pada dirinya saat Adrian di masa lalu masih ada untuk melindunginya.
***

            “Cepat! Hujannya turun semakin deras, Riana! Jangan seperti siput!” suara itu dinaikkan beberapa oktaf dari suaranya yang asli untuk mengalahkan suara gemuruh rintik besar-besar air hujan yang berebut menghantam tanah. Dia tentu saja tidak bermaksud membuatku sakit hati dengan nada suaranya yang hampir seperti membentak, karena laki-laki di hadapanku ini sudah tahu aku tidak mempan dengan hal yang seperti itu.
            Sementara aku yang biasanya jarang mengikuti perintah orang lain, malah selalu mengikuti perintah laki-laki yang sedang memegang payung berwarna ungu muda untuk melindungiku agar tidak basah itu. Aku sibuk berkemas-kemas dengan keranjang piknikku, lalu dengan sigap mengikuti langkahnya yang panjang untuk sampai di rumahku secepatnya. Untung saja kami sedang tidak membawa sepeda kami masing-masing.
            Sampai di rumah, tentu saja aku tidak peduli lagi dengan badanku yang setengah basah kuyup karena berbagi payung dengan laki-laki beralis menyatu yang sekarang tampak menggigil kedinginan itu. Aku langsung masuk dan mendapati kerut di dahi Ibuku berlipat-lipat melihatku berlari menuju kamar mandi dengan baju hampir basah semua, tetapi aku tidak bisa menjelaskan alasanku pada wanita paruh baya yang sangat kucintai itu sekarang.
            Setelah mendapatkan benda yang kucari, secepat kilat aku memberikannya pada Adrian. Iya, Adrian Hadi Laksana, akhirnya aku menyebutkan nama laki-laki tampan itu juga kan.
            “Oh, Adrian. Masuk nak. Ibu bikinin teh hangat ya,” Ibuku selalu seperti itu. Sayangnya, hanya pada Adrian. Alasan mengapa dia begitu baik kepada laki-laki itu juga aku tidak tahu dengan pasti, tetapi Ibuku pernah bilang bahwa Adrian mirip Ayahku saat muda dan aku langsung membenci alasan itu.
            Kami masuk lalu duduk di ruang tamu rumahku setelah aku berganti pakaianAdrian juga, memakai pinjaman baju kekecilan dariku. Tiba-tiba saja, tatapan laki-laki di hadapanku ini begitu hangat mengarah padaku. Aku balas menatapnya, kali ini lebih dalam. Refleks entah darimana yang membuat darah yang mengalir dalam dadaku tiba-tiba berdesir. Debaran jantungku berdetak seakan terdapat gempa mini, dan seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan dalam perutku membuat aku semakin tidak nyaman. Tidak tahan dengan kondisi seperti ini, aku jadi menunduk. Tetapi, semakin menunduk aku semakin merasakan ‘gempa mini’ itu, namunjujur sajaaku begitu menikmati ini.
            Adrian terkekeh melihatku. Pipiku terasa panas, dan mungkin jika aku berkaca wajahku sudah seperti saudara kembar udang rebus.
            Detik itu juga aku merasa kutukan itu menyusup dalam setiap nadiku. Tapi, bukan. Ini bukan kutukan. Ini berkah.
            Akhirnya.
            Aku jatuh cinta. Dengan… yah, dia adalah tetanggaku. Teman kecilku, tepatnya. Aku tidak menyangka ini akan sebegini cepat, hanya dengan beberapa piknik kecil, bermain sepeda bersama, dan obrolan riuh dengan tawa di taman bunga aster yang terletak di jantung kompleks perumahan kami. Aku bahkan baru ingat Adrian lagi saat beberapa hari lalu dia membantu mengobati lututku yang terluka karena jatuh dari tangga saat membenarkan posisi pot gantung di rumahku.
            Saat itu kukira aku melihat laki-laki tampan yang nyasar atau apa, tetapi saat dia menyebutkan nama lengkapnya aku jadi sadar, aku tidak pernah lagi memperhatikan lingkungan di sekitarku hingga aku lupa dia adalah teman masa kecilku yang rumahnya hanya berjarak 300 meter dari rumahku.
            Aku menyayangkan diriku sendiri yang tidak pernah peduli lagi dengan laki-laki tampanwalaupun hampir semua mantan pacarku semuanya tampan, tetapi memangnya aku pernah peduli pada mereka?sejak Ayah mengajarkanku bahwa semua laki-laki itu sama saja. Mudah mencampakkan dan mengabaikan.
            Sikapnya  yang egois meninggalkan aku dan Ibuku ‘berdiri’ sendiri adalah hal yang awalnya menyebabkan aku menjadi suka menyakiti perasaan semua laki-laki yang pernah menyatakan perasaannya padaku. Yang jika kupikir-pikir lagi, lalu apa bedanya aku dengan Ayahku? Meskipun begitu, aku tidak ambil pusing, toh ini yang Ayah ajarkan padaku bahkan pada saat aku masih berumur 8 tahun, jadi jangan salahkan aku sepenuhnya.
            Tanpa Ayahku sadari, perbuatannya itu sudah menorehkan luka panjang dalam hati kecilku yang bekasnya tidak pernah hilang. Bahkan menyebabkan hati nuraniku jarang berfungsi.
            Dan, oh ya, Adrian! Dia baru saja pamit dengan ibuku karena takut Ibunya khawatir. Aku tersenyum tipis saja saat Adrian memberi alasan semacam itu, karena aku tahu alasan sebenarnya adalah dia tidak nyaman dengan baju kekecilan yang kupinjamkan.

3 minggu setelah itu…
            Hari ini Riana berkabung. Langit gelap mewakilinya. Mendung menemaninya.
            “Gue masih bisa piknik tiap hari di taman bunga aster kan Na?” Riana memaksakan senyum, sedangkan air matanya masih mengalir deras dari matanya yang basah.
            “Nana! Karin! Kalisa! Ica! Jawab gue! Adrian pasti bakal dateng kan, dia sekarang lagi di jalan. Dia lagi beli bunga untuk gue. Dia bilang ke kalian mau nembak gue hari ini, kalian inget itu kan?”
            Plak!
            Tamparan itu membuat Riana berhenti menangis dan diam untuk sesaat. Nana menamparnya. Tidak, Nana menampar kenyataan di depan mata Riana sekarang.
            Riana tahu itu bukan tamparan penanda benci atau kesal. Itu alarm agar Riana sadar, agar Riana bangun.
            Ini sudah pukul 17:21 dan Adrian tidak datang. Adrian tidak datang. Adrian tidak datang. Itu kalimat yang semakin menampar Riana. Membungkam mulutnya untuk beberapa saat. Selanjutnya, hanya ada sepi yang menyelimuti mereka.
            Sahabat-sahabat Riana sengaja menyusul gadis itu di taman untuk memberitahu kabar duka. Yang datangnya, kalian tahu darimana? Dari rumah yang jaraknya hanya 300 meter dari rumah Riana. Iya, rumah Adrian Hadi Laksana. Cinta pertama Riana yang belum sempat Riana miliki.
            Truk yang dibawa supir ugal-ugalan mengakibatkan tabrakan beruntun. Adrian yang sedang dalam perjalanan pulang untuk melancarkan rencana ‘menembak’ Riana sialnya adalah salah satu diantara 11 korban tewas.
            Sungguh tragis memang.
            Setelah beberapa saat, mereka mendekap Riana. Nana yang baru saja menampar Riana tetapi tidak merasa bersalah itu membuka pembicaraan, “Kita bukan Tuhan, Ri,” suaranya serak, bulir air mata yang sedari tadi ditahannya tumpah, diikuti sahabat Riana yang lain.
            “Dan kita gak bisa bilang ini cuma mimpi,” Ica menambahkan dengan lirih.
            Riana semakin terisak. Dia tahu sahabat-sahabatnya itu baik dan tidak mungkin membuat lelucon murahan membawa-bawa kematian. Riana tahu bagi mereka itu tidak lucu. Jadi, saat mendengar berita itu, Riana hanya mampu membeku di ujung bangku taman. Bekal berisi 2 roti isi yang sedang dia pegang, jatuh berserakan karena Riana merasa seluruh ototnya lemas, tulang-tulangnya seperti ditusuk angin dingin, dan hatinya? Hatinya sudah menjadi kepingan tidak berbentuk akibat hantaman luka, sakit, dan perih yang datang bersamaan.
            Bagi Riana ini kejutan. Kejutan Tuhan yang selalu tidak bisa ditebak. Dan setelah ini, dia tahu dia tidak akan mampu menanggungnya sendirian. Dia membutuhkan ‘alat’ untuk menuntunnya berjalan menghadapi semuanya.
            Dan, setelah hari ini, semuanya tidak akan sama. Tidak akan sama tanpa Adrian.
***

            “Kita harus rayakan ini!” Kalisa yang lebih sering mendengarkan daripada bicara itu memberi pendapat antusias dan langsung mendapat 4 anggukan kepala tanda setuju, diantaranya Ibu Riana, Ica, Nana dan Karin.
            Kabut-kabut yang menutupi hati Riana yang membeku selama 3 tahun sudah hilang. Sebulan terakhir Adrian sering berkunjung dan bagi Riana itu candu. Itu membuat Riana bahagia sekaligus terharu. Selain piknik mini lengkap dengan payung ungu muda, buku harian dan bekal 2 roti isi adalah obat untuk Riana, ternyata Adrian masa kini adalah obat dalam bentuk yang lain bagi Riana.
            Adrian masa kini sudah mengetahui secara detail tentang Adrian masa lalu. Dan semakin bertekad untuk menuntun Riana berjalan. Tidak sendirian, namun bersamanya.
***

            Hari ini mereka masih di tempat yang sama. Di ujung bangku taman bunga aster setiap senja tiba. Namun, Adrian hari ini tentu berbeda dengan Adrian 3 tahun lalu. Adrian lain kiriman Tuhan untuk Riana.
            Dan kini, Riana percaya kata-kata Ibunya katakan tepat saat di pemakaman Adrian bahwa, “Ketika kamu kehilangan cinta, cinta yang lain selalu siap menyambutmu, memberimu bahagia. Kamu tidak usah khawatir, saatnya akan tiba,” itu benar.
            I’m so lucky having a great man to accompany me in the journey I’ve never been before,” ucap Riana lirih dalam pelukan Adrian.
            “Jangan-jangan ini kata-kata kamu ke Adrian dulu ya?” dahi Adrian berkerut mendengar kata-kata Riana yang berkata ‘i’ve never been before’. Riana tentu sudah pernah merasakan hal seperti ini, bersama Adrian, namun bukan Adrian yang berarti dirinya.
            “Emang iya!” kata Riana jahil. Adrian langsung cemberut. Lalu, melahap dengan cepat roti isi yang kejunya banyak sekali pesanan Adrian.
            “Tapi aku serius, makasih banyak ya,” kata Riana serius. Sejurus kemudian Adrian tertawa kecil, lalu mengangguk tulus.
            Mata mereka memang tidak bisa berkata, namun kenyataan yang terlihat hanyalah bahagia yang terpancar dari dalamnya.
            Well, benar kata Nana; When you lost one thing, you’ll find another for sure. Riana membuktikannya.
            Dan sekarang, kebiasaan piknik saat senja, membawa payung, buku harian dan berbekal 2 roti isi yang tidak pernah hilang itu ditambah dengan acara potret-memotret wajah idiot Riana dimanapun dan kapanpun. Ternyata itu begitu menyenangkan bagi Riana. Kebiasaan baru bersama Adrian yang baru. Betapa momen yang tentu saja tidak bisa Riana sia-siakan, Adrian juga. Untuk selamanya. Untuk hari ini dan seterusnya.
            Semoga Riana tidak harus mencari Adrian lain lagi. Itu doa Riana yang diucapkannya bahkan hampir setiap jam.


            Dan, oh iya.. Adrian masa laluku? Aku yakin dia selalu tersenyum saat senja menyambut kamiAdrian masa kini dan aku di ujung bangku.
            Aku tahu aku tidak akan kehilangan senyumku lagi sejak hari ini. Bahkan mungkin sebenarnya sejak sebulan yang lalu, saat bertemu Adrian.

0 comments:

Post a Comment

Dec 1, 2013

29/11/13 PENGUMUMAN:")

Moshi-moshi guys!<3 HAVEN'T SEEN YOU FOR SUCH A LOOOOOOOOOOOOOOOOOONG TIMEEEEEEEE:(:(:( I MISS YOU, my beloved visitors!:(
aku lagi seneng banget, btw. hehehehe jadi ceritanya itu, pas 14 november kemarin aku ikut lomba cerpen, terus karena pengumumannya agak lama, aku udah agak lupa dan tau-tau dapet mention yang begini pas jumat malem tanggal 29:



dan sms kayagini:



dan inilah cerpen aku yang berhasil jadi juara 1. alhamdulillah, makasiyah SDUB!:") 


Senja Di Ujung Bangku

            19.. 20.. 21.. 22..  23…
            Aku lelah menghitung. Entah kenapa aku malah membuat daftar nama-nama mereka di buku harianku. Aku hampir saja ingin bercerita tentang seseorang yang namanya sering kutulis dengan ukiran pena yang indah disinibuku harianku. Tetapi daftar jumlah mantan pacarku malah sudah begitu saja kutulis dengan lihai. Kaget? Bagiku ini biasa saja. Ini malah bukan apa-apa. Masih banyak laki-laki yang belum sempat kuhitung karena mungkin aku sudah benar-benar tidak mengingat wajahnya lagi, atau bahkan namanya pun sudah samar-samar dalam ingatanku.
            Perempuan pada umumnya berpacaran karena sungguh tergila-gila pada pacarnya bukan? Aku tidak. Bahkan kutegaskan, TIDAK SAMA SEKALI bagiku. Aku menganggap mereka angin lalu, tidak satupun dari mereka yang benar-benar tulus kucintai. Aku melakukannya karena tidak tega berlama-lama melihat wajah memelas dengan bunga mawar merah yang selalu mereka bawa ke hadapanku saat menyatakan cinta. Bagi kalian, aku terlalu kejam? Terserah. Kalian pikir aku peduli?
            Oh, tidak. Aku memikirkan ini lagi dan menulisnya dengan sengaja, sama saja mengupas luka lama. Lagi-lagi aku terjerembab dalam situasi dimana aku harus mengulang ingatan. Mengetuk pintu-pintu luka dalam hatiku, memaksanya kembali terbuka. Letupan-letupan bahagia yang manisnya seharusnya masih kukecap hingga sekarang, termakan oleh rasa pedih yang menjalar dalam setiap nadiku. Aku memaki diriku sendiri dalam hati.
            Perempuan tidak punya hati seperti aku memang pantas sedih dan dikutuk. Teman-temanku bahkan bilang begitu, walau dalam nada setengah bercanda, tapi aku mendengar kesan serius dalam suara mereka, membenarkan bahwa aku memang pantas untuk sekali-kali bersedihmerasakan apa yang sudah kuperbuat pada semua mantan pacarku. Aku mengingat omongan bersama teman-temanku itu, yang dulu hampir tidak pernah kuanggap serius, tetapi kini kata-kata itu selalu menjadi sambaran petir yang menggelegar dalam hatiku, hingga celah dan sudut terdalam. Sesungguhnya, aku sudah terkutuk sejak 3 tahun lalu, jika kalian ingin tahu.
            Aku tidak pernah serius menanggapi semua laki-laki yang pernah kujadikanlebih tepatnya, hanya terpaksa kujadikanpacarku. Entah apa yang membuatku menganggap bila ‘dipuja’ lawan jenis itu sebagai hal yang menyenangkan. Setidaknya, memang iya bila menikmatinya. Mungkin saat itu aku terlalu menikmati ‘pemujaan’ yang dilakukan hampir kebanyakan lawan jenis itu untukku, hingga aku selalu menganggap mereka remeh dan aku hampir selalu mengacuhkan mereka walaupun mereka sudah menyandang status sebagai pacarku. Dulu, aku tidak mempedulikan itu sedikitpun. Aku tidak menaruh simpati sama sekali pada mereka. Bahkan, aku terkesan angkuh.
            Keangkuhanku berhenti pada titik dimana aku mulai merasa kutukan itu tiba-tiba saja datang padaku tanpa permisi, tanpa meminta izin, tanpa memberiku sedikit saja waktu untuk mencegah kutukan itu terjadi, hingga akhirnya aku malah menikmati perihnya luka yang ditorehkan kutukan itu. Hingga sekarang.
            Semburat jingga yang menggantung di langit begitu indahnya, menahanku untuk tidak melakukan aktivitas apapun selain menatap keindahan itu selama beberapa saat yang cukup lama. Lalu, langit bisu yang mulai gelap mengingatkanku untuk berkemas dan pulang. Kemudian, aku menutup buku harianku.
            Sampai besok, Adrian.
***

            Adrian mempercepat laju langkahnya, dia sudah tidak sabar ingin cepat menemukan objek pemotretannya. Kali ini dia memilih taman bunga aster yang letaknya juga dia tidak tahu sama sekali. Ke kompleks Indah Sejahtera saja dulu, baru nanti tanya-tanya, pikirnya.
            Setelah bertanya sana-sini dengan beberapa ibu-ibu dan orang yang sedang tidak sengaja lewat, akhirnya Adrian menemukan taman bunga itu. Tempatnya sejuk, luas, indah, rindang, dan sangat jarang ada taman seperti ini lagi di kota-kota besar. Yang ada hanya taman bangunan super mewah nan megah yang berhasil menggusur lahan untuk tanaman-tanaman tumbuh. Adrian merasa bersyukur bisa tahu tempat ini, sekaligus bersyukur karena punya teman sekantor yang menyarankannya untuk mengambil gambar di taman ini sebagai objek pemotretan.
            Sebenarnya Adrian adalah pegawai swasta yang baru saja lulus kuliah setahun lalu dan langsung diterima secara hangat dikantornya bekerja selama sebulan belakangan, namun kecintaannya memotret tidak berhenti sampai situ meskipun gaji yang diterimanya sebagai pegawai sudah melampaui batas cukup.
            Adrian menatap sekeliling tempat ini. Terik matahari yang menyusup masuk dari celah pepohonan rindang yang mengelilingi taman bunga aster ini tentu saja tidak terlalu menusuk kulit. Bahkan malah terasa sejuk. Bunga aster berwarna putih mendominasi hampir seluruh isi taman, tapi tak jarang aster berwarna ungu, kuning, dan yang lainnya terlihat disisi sudut yang jarang dapat dijangkau mata atau terselip disisi ujung. Bunga mawar putih dan merah muda juga terlihat walaupun hanya beberapa.
            Terdapat lampu berpendar kekuningan di setiap sudut taman serta bangku nyaman di ujung sudut sebelah kanan yang cukup romantisjika Adrian bayangkan. Namun sangat jarang ada orang yang kesini. Karena yang Adrian lihat disini hanya ada tukang sapu yang sedang membersihkan daun kering yang berserakan dari pepohonan di sekeliling taman ini.
            Adrian yang sempat ‘disihir’ taman langka ini langsung melancarkan aksinya memotret di beberapa tempat. Salah satunya Adrian memotret bangku romantis dalam benaknya tadi dengan latar belakang bunga-bunga aster yang mengembang cantik.
            Ini sudah pukul 4 sore dan Adrian masih betah disini meskipun ratusan foto berhasil ditangkapnya. Adrian masih ingin menikmati sore disini, entah karena apa.
            Kemudian, dari arah berlawanan, Adrian melihat sosok perempuan memakai mini dress berwarna baby pink selutut dengan sepatu sport serupa dengan warna dressnya. Perempuan itu juga memrentangkan payung di tangan kanannya berwarna ungu muda dan memegang keranjang piknik di tangan kirinya. Bagi Adrian itu pemandangan yang sungguh menarik, wajah perempuan itu baby face dengan seluruh penampilannya. Adrian menelan ludah. Cantik, pikirnya. Tidak menunggu lama, Adrian langsung mengambil beberapa foto perempuan itu, walaupun jarak mereka cukup jauh. Sedangkan, perempuan yang menjadi objek potret itu sendiri tidak sadar sedang dijadikan objek menarik oleh Adrian.

            Riana tampak terkejut ‘wilayah kekuasaannya’ selama 3 tahun ditempati orang asing dengan kamera yang tergantung di lehernya.
            “Kamu ingin duduk?” sapa Adrian ramah.
            “Ini memang tempat dudukku,” Riana menatap Adrian tajam “dan Adrian, tentu saja.” tambah Riana dalam hati.
            Adrian tertawa pelan, “Bukankah ini bangku milik umum?”
            Riana cukup geram selama beberapa saat. Lalu, dengan gerakan yang cepat Riana duduk di ujung bangku yang sama dengan pria yang menyebalkan ini, tanpa memedulikan tatapan aneh dari sang pemilik kamera. Lalu, menutup payungnya. Menaruh keranjang pikniknya yang memberinya jarak dengan laki-laki itu. Tempat yang didudukinya itu milik Adrian, biar saja, kau akan menyesal karena telah mendudukinya, hati Riana berkata.
            Setelah dikuasai kesenyapan selama beberapa menit yang sangat canggung bagi Adrian, namun biasa saja untuk Riana, Adrian akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.
            “Aku sedang bekerja untuk memotret beberapa pemandangan disini. Kamu tinggal disini?”
            “Seperti yang kamu duga,” jawab Riana acuh.
            “Namamu?”
            “Riana. Ariana lengkapnya.”
            “Senang bertemu kamu, Ariana.” Adrian tersenyum manis sekali. “Aku Adrian,” tambahnya sambil mengulurkan tangan, masih dengan senyum manis menyungging di bibirnya.
            Riana seperti baru saja disambar petir. Dia tiba-tiba pusing, lututnya lemas, dadanya berdesir hebat, kenangan yang telah lama berusaha dia kubur kembali berputar seperti rekaman video dalam otaknya, dan dalam setiap aliran darahnya dia merasakan semuanya menjerit ‘Oh, Adrian! Dia Adrian, Riana!’
            “Ap..apa?” kata Riana tergagap. Terlalu kaget. Betapa nama ‘Adrian’ begitu bisa membuat pertahanan kokoh untuk tidak memikirkan nama itu yang Riana bangun selama 3 tahun dalam hatinya meruntuh dan hancur dalam hitungan detik.
            “Aku Adrian. Hanya Adrian, tidak ada nama panjang,” ulang Adrian menyurutkan senyum manisnya yang sekarang berubah menjadi khawatir karena melihat wajah perempuan imut di sampingnya ini pucat pasi. “Kamu baik-baik saja, Riana?” kata Adrian lagi karena tidak mendengar satu patah katapun yang keluar dari mulut Riana.
            Riana hanya menjawabnya dengan gelengan kuat.
            Sunyi menyelinap masuk di antara mereka. Riana sendiri masih pucat. Shock dengan kenyataan yang baru didapatkannya. Kemudian, dia mengambil bekal dalam tupperwarenya berisi 2 roti isi yang sangat spesial. Riana menambah keju dan daging pada roti isinya hari ini. Lalu, tanpa sadar menawari Adrian. Adrian hanya tersenyum sebagai tanda ‘terimakasih’ lalu melahapnya.
            Warna jingga pekat sudah menghiasi langit yang menggelap, tidak seperti biasanya yang selalu cerah. Dugaan Riana itu benar ketika merasakan rintik hujan jatuh dengan tidak sabar di tubuhnya. Beberapa detik setelah itu, hujan lebat turun, memaksa Riana dan Adrian kalap karena bingung. Kemudian, dengan gerakan yang cukup cepat, Adrian mengambil payung ungu muda milik Riana karena melihat perempuan itu sedang beres-beres. Adrian sendiri udah mengemasi barang-barangnya sejak tadi.
            “Bisakah sedikit lebih cepat? Hujannya turun semakin deras, Riana! Jangan seperti siput!” teriak Adrian, untuk mengalahkan suara gemuruh hujan.
            Riana merasakan de javu dengan kejadian barusan. Kata-kata Adrian tanpa nama panjang ini membuatnya diam seribu bahasa. Lalu, dengan tatapan aneh, Riana menatap Adrian yang sedang memegang payung dengan setengah badannya yang sudah basah kuyup karena melindungi Riana. Persis seperti kejadian 3 tahun lalu. Ini bukan kebetulan, ini takdir, otaknya tiba-tiba saja bersuara.
            Akhirnya, untuk kali pertama setelah 3 tahun terakhir, dia berjalan berdampingan dengan seorang laki-laki yang namanya sama dengan laki-laki di masa lalunya. Hanya saja, berbeda orang. Riana mencoba mengenyahkan gejolak aneh dalam dadanya. Rasa itu kembali lagi. Riana deg-degan.
            Setelah sampai di rumah, Riana masih terus bungkam. Terlalu banyak hal yang ada dalam otaknya dan memaksa berpikir keras. Perasaan apa ini? Dia bukan Adrian masa laluku, tentu saja, Riana menguatkan hatinya.
            Adrian sendiri hanya mengikuti kesunyian yang melanda mereka. Sejak melihat mata Riana, Adrian jadi salah tingkah. Walaupun, Adrian sadar dalam mata perempuan itu terdapat banyak hal yang dipendamnya, kehampaan, kesepian, dan rasa rindu. Dia sadar dia telah jatuh cinta pada binar mata Riana, dan pada Riana. Adrian sangat ingin menghilangkan binar kehampaan dalam mata indah itu.
            Riana mengalah. Dia lari ke dalam rumahnya dan mengambil handuk untuk Adrian yang tampak kedinginan.
            “Kamu ingin kupinjamkan baju?” kata Riana, kali ini lebih lembut. Sebenarnya, dia juga heran kenapa laki-laki ini bisa mau mengantarnya sampai rumah, padahal mereka baru kenal.
            “Tidak usah. Aku mengantarmu hanya untuk memastikan kamu selamat sampai di rumah. Aku akan pulang,” jawab Adrian sambil tersenyum. Kata-katanya seakan menjawab pertanyaan Riana.
            Setelah itu, Adrian pamit pulang dengan baju hampir basah kuyup, kecuali tas besarnya yang dia beri lapis plastik. Riana tahu itu berisi kamera yang menggantung di lehernya tadi dan barang-barang penting lainnya.
            Riana menunggu di depan pintu rumah sambil mencoba untuk tersenyum saat Adrian melambaikan tangan, sampai sosoknya hilang di persimpangan jalan.
            Riana yakin ini pertanda baik. Tanpa sadar dia tersenyum manis. Senyuman yang telah hilang selama 3 tahun. Dan senyuman itu dilihat ibunya yang sengaja ikut ke depan pintu rumah mereka untuk mengucap selamat jalan dan hati-hati kepada Adrian tadi.
            “Ini kemajuan yang bagus, Riana. Ini pertanda baik. Ini bagus sekali. Senyum itu kembali lagi, dan kamu tahu, Ibu bahagia karenanya. Ibu senang sekali. Adrian ini anugerah. Jawaban atas segala tangismu. Ibu senaaaaaaang,” kata wanita paruh baya itu sambil memeluk Riana.
            Riana sendiri tidak menyangka senyuman dan getaran dalam hatinya itu kembali berfungsi. Kembali pada dirinya saat Adrian di masa lalu masih ada untuk melindunginya.
***

            “Cepat! Hujannya turun semakin deras, Riana! Jangan seperti siput!” suara itu dinaikkan beberapa oktaf dari suaranya yang asli untuk mengalahkan suara gemuruh rintik besar-besar air hujan yang berebut menghantam tanah. Dia tentu saja tidak bermaksud membuatku sakit hati dengan nada suaranya yang hampir seperti membentak, karena laki-laki di hadapanku ini sudah tahu aku tidak mempan dengan hal yang seperti itu.
            Sementara aku yang biasanya jarang mengikuti perintah orang lain, malah selalu mengikuti perintah laki-laki yang sedang memegang payung berwarna ungu muda untuk melindungiku agar tidak basah itu. Aku sibuk berkemas-kemas dengan keranjang piknikku, lalu dengan sigap mengikuti langkahnya yang panjang untuk sampai di rumahku secepatnya. Untung saja kami sedang tidak membawa sepeda kami masing-masing.
            Sampai di rumah, tentu saja aku tidak peduli lagi dengan badanku yang setengah basah kuyup karena berbagi payung dengan laki-laki beralis menyatu yang sekarang tampak menggigil kedinginan itu. Aku langsung masuk dan mendapati kerut di dahi Ibuku berlipat-lipat melihatku berlari menuju kamar mandi dengan baju hampir basah semua, tetapi aku tidak bisa menjelaskan alasanku pada wanita paruh baya yang sangat kucintai itu sekarang.
            Setelah mendapatkan benda yang kucari, secepat kilat aku memberikannya pada Adrian. Iya, Adrian Hadi Laksana, akhirnya aku menyebutkan nama laki-laki tampan itu juga kan.
            “Oh, Adrian. Masuk nak. Ibu bikinin teh hangat ya,” Ibuku selalu seperti itu. Sayangnya, hanya pada Adrian. Alasan mengapa dia begitu baik kepada laki-laki itu juga aku tidak tahu dengan pasti, tetapi Ibuku pernah bilang bahwa Adrian mirip Ayahku saat muda dan aku langsung membenci alasan itu.
            Kami masuk lalu duduk di ruang tamu rumahku setelah aku berganti pakaianAdrian juga, memakai pinjaman baju kekecilan dariku. Tiba-tiba saja, tatapan laki-laki di hadapanku ini begitu hangat mengarah padaku. Aku balas menatapnya, kali ini lebih dalam. Refleks entah darimana yang membuat darah yang mengalir dalam dadaku tiba-tiba berdesir. Debaran jantungku berdetak seakan terdapat gempa mini, dan seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan dalam perutku membuat aku semakin tidak nyaman. Tidak tahan dengan kondisi seperti ini, aku jadi menunduk. Tetapi, semakin menunduk aku semakin merasakan ‘gempa mini’ itu, namunjujur sajaaku begitu menikmati ini.
            Adrian terkekeh melihatku. Pipiku terasa panas, dan mungkin jika aku berkaca wajahku sudah seperti saudara kembar udang rebus.
            Detik itu juga aku merasa kutukan itu menyusup dalam setiap nadiku. Tapi, bukan. Ini bukan kutukan. Ini berkah.
            Akhirnya.
            Aku jatuh cinta. Dengan… yah, dia adalah tetanggaku. Teman kecilku, tepatnya. Aku tidak menyangka ini akan sebegini cepat, hanya dengan beberapa piknik kecil, bermain sepeda bersama, dan obrolan riuh dengan tawa di taman bunga aster yang terletak di jantung kompleks perumahan kami. Aku bahkan baru ingat Adrian lagi saat beberapa hari lalu dia membantu mengobati lututku yang terluka karena jatuh dari tangga saat membenarkan posisi pot gantung di rumahku.
            Saat itu kukira aku melihat laki-laki tampan yang nyasar atau apa, tetapi saat dia menyebutkan nama lengkapnya aku jadi sadar, aku tidak pernah lagi memperhatikan lingkungan di sekitarku hingga aku lupa dia adalah teman masa kecilku yang rumahnya hanya berjarak 300 meter dari rumahku.
            Aku menyayangkan diriku sendiri yang tidak pernah peduli lagi dengan laki-laki tampanwalaupun hampir semua mantan pacarku semuanya tampan, tetapi memangnya aku pernah peduli pada mereka?sejak Ayah mengajarkanku bahwa semua laki-laki itu sama saja. Mudah mencampakkan dan mengabaikan.
            Sikapnya  yang egois meninggalkan aku dan Ibuku ‘berdiri’ sendiri adalah hal yang awalnya menyebabkan aku menjadi suka menyakiti perasaan semua laki-laki yang pernah menyatakan perasaannya padaku. Yang jika kupikir-pikir lagi, lalu apa bedanya aku dengan Ayahku? Meskipun begitu, aku tidak ambil pusing, toh ini yang Ayah ajarkan padaku bahkan pada saat aku masih berumur 8 tahun, jadi jangan salahkan aku sepenuhnya.
            Tanpa Ayahku sadari, perbuatannya itu sudah menorehkan luka panjang dalam hati kecilku yang bekasnya tidak pernah hilang. Bahkan menyebabkan hati nuraniku jarang berfungsi.
            Dan, oh ya, Adrian! Dia baru saja pamit dengan ibuku karena takut Ibunya khawatir. Aku tersenyum tipis saja saat Adrian memberi alasan semacam itu, karena aku tahu alasan sebenarnya adalah dia tidak nyaman dengan baju kekecilan yang kupinjamkan.

3 minggu setelah itu…
            Hari ini Riana berkabung. Langit gelap mewakilinya. Mendung menemaninya.
            “Gue masih bisa piknik tiap hari di taman bunga aster kan Na?” Riana memaksakan senyum, sedangkan air matanya masih mengalir deras dari matanya yang basah.
            “Nana! Karin! Kalisa! Ica! Jawab gue! Adrian pasti bakal dateng kan, dia sekarang lagi di jalan. Dia lagi beli bunga untuk gue. Dia bilang ke kalian mau nembak gue hari ini, kalian inget itu kan?”
            Plak!
            Tamparan itu membuat Riana berhenti menangis dan diam untuk sesaat. Nana menamparnya. Tidak, Nana menampar kenyataan di depan mata Riana sekarang.
            Riana tahu itu bukan tamparan penanda benci atau kesal. Itu alarm agar Riana sadar, agar Riana bangun.
            Ini sudah pukul 17:21 dan Adrian tidak datang. Adrian tidak datang. Adrian tidak datang. Itu kalimat yang semakin menampar Riana. Membungkam mulutnya untuk beberapa saat. Selanjutnya, hanya ada sepi yang menyelimuti mereka.
            Sahabat-sahabat Riana sengaja menyusul gadis itu di taman untuk memberitahu kabar duka. Yang datangnya, kalian tahu darimana? Dari rumah yang jaraknya hanya 300 meter dari rumah Riana. Iya, rumah Adrian Hadi Laksana. Cinta pertama Riana yang belum sempat Riana miliki.
            Truk yang dibawa supir ugal-ugalan mengakibatkan tabrakan beruntun. Adrian yang sedang dalam perjalanan pulang untuk melancarkan rencana ‘menembak’ Riana sialnya adalah salah satu diantara 11 korban tewas.
            Sungguh tragis memang.
            Setelah beberapa saat, mereka mendekap Riana. Nana yang baru saja menampar Riana tetapi tidak merasa bersalah itu membuka pembicaraan, “Kita bukan Tuhan, Ri,” suaranya serak, bulir air mata yang sedari tadi ditahannya tumpah, diikuti sahabat Riana yang lain.
            “Dan kita gak bisa bilang ini cuma mimpi,” Ica menambahkan dengan lirih.
            Riana semakin terisak. Dia tahu sahabat-sahabatnya itu baik dan tidak mungkin membuat lelucon murahan membawa-bawa kematian. Riana tahu bagi mereka itu tidak lucu. Jadi, saat mendengar berita itu, Riana hanya mampu membeku di ujung bangku taman. Bekal berisi 2 roti isi yang sedang dia pegang, jatuh berserakan karena Riana merasa seluruh ototnya lemas, tulang-tulangnya seperti ditusuk angin dingin, dan hatinya? Hatinya sudah menjadi kepingan tidak berbentuk akibat hantaman luka, sakit, dan perih yang datang bersamaan.
            Bagi Riana ini kejutan. Kejutan Tuhan yang selalu tidak bisa ditebak. Dan setelah ini, dia tahu dia tidak akan mampu menanggungnya sendirian. Dia membutuhkan ‘alat’ untuk menuntunnya berjalan menghadapi semuanya.
            Dan, setelah hari ini, semuanya tidak akan sama. Tidak akan sama tanpa Adrian.
***

            “Kita harus rayakan ini!” Kalisa yang lebih sering mendengarkan daripada bicara itu memberi pendapat antusias dan langsung mendapat 4 anggukan kepala tanda setuju, diantaranya Ibu Riana, Ica, Nana dan Karin.
            Kabut-kabut yang menutupi hati Riana yang membeku selama 3 tahun sudah hilang. Sebulan terakhir Adrian sering berkunjung dan bagi Riana itu candu. Itu membuat Riana bahagia sekaligus terharu. Selain piknik mini lengkap dengan payung ungu muda, buku harian dan bekal 2 roti isi adalah obat untuk Riana, ternyata Adrian masa kini adalah obat dalam bentuk yang lain bagi Riana.
            Adrian masa kini sudah mengetahui secara detail tentang Adrian masa lalu. Dan semakin bertekad untuk menuntun Riana berjalan. Tidak sendirian, namun bersamanya.
***

            Hari ini mereka masih di tempat yang sama. Di ujung bangku taman bunga aster setiap senja tiba. Namun, Adrian hari ini tentu berbeda dengan Adrian 3 tahun lalu. Adrian lain kiriman Tuhan untuk Riana.
            Dan kini, Riana percaya kata-kata Ibunya katakan tepat saat di pemakaman Adrian bahwa, “Ketika kamu kehilangan cinta, cinta yang lain selalu siap menyambutmu, memberimu bahagia. Kamu tidak usah khawatir, saatnya akan tiba,” itu benar.
            I’m so lucky having a great man to accompany me in the journey I’ve never been before,” ucap Riana lirih dalam pelukan Adrian.
            “Jangan-jangan ini kata-kata kamu ke Adrian dulu ya?” dahi Adrian berkerut mendengar kata-kata Riana yang berkata ‘i’ve never been before’. Riana tentu sudah pernah merasakan hal seperti ini, bersama Adrian, namun bukan Adrian yang berarti dirinya.
            “Emang iya!” kata Riana jahil. Adrian langsung cemberut. Lalu, melahap dengan cepat roti isi yang kejunya banyak sekali pesanan Adrian.
            “Tapi aku serius, makasih banyak ya,” kata Riana serius. Sejurus kemudian Adrian tertawa kecil, lalu mengangguk tulus.
            Mata mereka memang tidak bisa berkata, namun kenyataan yang terlihat hanyalah bahagia yang terpancar dari dalamnya.
            Well, benar kata Nana; When you lost one thing, you’ll find another for sure. Riana membuktikannya.
            Dan sekarang, kebiasaan piknik saat senja, membawa payung, buku harian dan berbekal 2 roti isi yang tidak pernah hilang itu ditambah dengan acara potret-memotret wajah idiot Riana dimanapun dan kapanpun. Ternyata itu begitu menyenangkan bagi Riana. Kebiasaan baru bersama Adrian yang baru. Betapa momen yang tentu saja tidak bisa Riana sia-siakan, Adrian juga. Untuk selamanya. Untuk hari ini dan seterusnya.
            Semoga Riana tidak harus mencari Adrian lain lagi. Itu doa Riana yang diucapkannya bahkan hampir setiap jam.


            Dan, oh iya.. Adrian masa laluku? Aku yakin dia selalu tersenyum saat senja menyambut kamiAdrian masa kini dan aku di ujung bangku.
            Aku tahu aku tidak akan kehilangan senyumku lagi sejak hari ini. Bahkan mungkin sebenarnya sejak sebulan yang lalu, saat bertemu Adrian.

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design