Jun 29, 2013

Dari Balik Jendela

Aluna memejamkan matanya. Tenggelam dalam lukanya yang kembali terbuka. Sedangkan, dia sendiri tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang mengawasinya dengan sangat prihatin. Sesekali Aluna sesak karena tangisnya dalam kesunyian gerimis sendu yang dia tahan agar tidak bersuara. Dan sesekali pula sepasang mata yang mengawasinya tersebut menahan diri untuk memeluk Aluna, agar Aluna menghentikan tangisnya. Karena, Aluna tidak sama sekali menyadari bahwa sepasang mata tersebut sudah mengawasinya sejak pertama mereka tidak sengaja bertemu. Dan.. jatuh cinta.

***

Aluna menahan tawa saat salah satu teman baiknya dihukum oleh salah satu guru ketika ketahuan mengintip laboratorium kimia yang Aluna tahu bahwa ada salah satu diantara murid disana disukai oleh teman baiknya—Nina—yang sedang dihukum lari jongkok mengelilingi lapangan sekolah.
Aluna hanya memerhatikan Nina dari lantai 2 dengan senyum kecil mengembang dari bibirnya. Lalu, tanpa sengaja Aluna melihat seorang pria asing yang sedang memasukkan bola ke dalam ring dan selalu berhasil. Dari belakang, perawakannya yang tinggi besar dan rambut gondrong yang basah oleh keringat terlihat menawan di mata Aluna. Ada sesuatu yang menarik Aluna untuk mengetahui pria tersebut dan Aluna bertekad untuk mencari tahu siapa pria tersebut.
Nina yang terlihat sangat kelelahan menangkap rona wajah Aluna yang bersemu merah muda di pipinya yang tirus dan wajahnya yang mungil dengan rambut ikal panjang. Nina mengikuti arah pandangan mata Aluna. Dia menyimpulkan ‘sesuatu’ tersebut sudah pasti seseorang yang menjadi titik fokus pandangannya sekarang. Pria berbaju olahraga yang sedang bermain basket sendirian.
“Kak Billy?”
“Ha? Siapa?” Aluna terkejut dengan kedatangan Nina yang tiba-tiba menyebutkan nama seseorang.
“Itu kak Billy. Ah, dia seleb sekolah. Jangan banyak berharap! Mantannya Nadine. You know her, right?
“Hmm..” Aluna terdiam. Dia bukanlah tipe wanita yang akan menyerah hanya karena pria yang disukainya seleb sekolah atau sejenisnya. Dia akan terus berusaha untuk mendapatkannya, walaupun yang dilakukannya hanyalah menunggu. Iya, menunggu keajaiban datang menghampirinya. Berangan-angan Billy tertarik padanya tanpa sengaja. Sungguh keajaiban sekali mungkin bila itu terjadi pada Aluna, namun dia tidak pernah berhenti berharap.
***

Aluna sadar, 3 bulan terakhir yang dilakukannya hanyalah memerhatikan Billy dari jauh. Dari jarak yang tak mungkin dijangkau oleh Billy.
Dia sadar, dia telah terlalu banyak berharap. Tetapi, dia terus menanam gengsinya dan berseru dalam hati, “Masa iya aku yang mulai duluan?”
Aluna bukanlah wanita agresif walaupun dia memiliki tekad dan ambisius yang sangat kuat. Namun segalanya seakan runtuh seketika saat gengsi mengalahkan rasa ambisiusnya. Gengsi membiarkannya menunggu terlalu lama.
“Ke laboratorium kimia yuk!” suara serak khas dari Nina memecahkan lamunan panjang Aluna.
“Boleh deh.”
“Asal kamu bilang ya Al kalo ada pak Handoko!”
“Waktu itu kan aku diselametin sama Keynan, suruh dia aja tuh yang jangan narik aku sembarangan lagi.”
“Kayaknya kamu gak pernah cerita ya Al tentang.. siapa? Kinan?  What the…? Keynan maksud kamu!? Anak sekelas Doni? Al, do you know him? He’s the most famous people in this school! Arghhh, jangan bilang kamu gak tau dia?!!!” nada bicara Nina bersemangat dan meninggi seperti ingin makan orang.
“Ak.. aku emang gak tau dia. Aku aja gelagapan kenapa dia bisa nyelametin aku. Sinting banget pas tiba-tiba narik aku dan nutup mulut aku waktu aku mau teriak manggil kamu! Aku diem aja, lumayan kan aku gak jadi dihukum bareng kamu.”
“How lucky you are, Aluna!!!!!! Semua cewek pengen banget kali deket sama dia, sayangnya gak ada yang pernah bisa. Bahkan, Nadine pun nggak bisa, Al!”
“Udah ah, yuk!”
***

Hari ini Aluna sumringah. Akan ada pertandingan basket antar kelas yang diadakan oleh sekolah untuk memeriahkan acara ulang tahun sekolah.
Wajah Billy ikut pertandingan sudah terekam jelas dalam otak jahil Aluna. Diatentu sajasangat senang. Seminggu kedepan dia akan melihat wajah Billy secara exclusive.
Dan yang lebih menyenangkannya lagi, Aluna dan Nina akan menjadi salah satu panitia dalam acara tersebut. Sungguh berita paling menggembirakan, padahal biasanya Aluna sangat malas berurusan dengan apapun tentang ke-panitia-an.


Dan hari itu pun datang. Hari dimana dimulainya pertandingan yang telah ditunggu-tunggu banyak orang terutama Aluna, pertandingan basket antar kelas yang akan diadakan seminggu kedepan. Sebenarnya, tidak mungkin bagi Aluna untuk melihat Billy dalam jarak dekat seminggu full karena kelasnya bermain hanya pada hari rabu dan kalau masuk perempatan final, semi final, dan final hanya pada hari kamis, jumat, dan sabtu saja. Tetapi, ini yang lebih menyenangkan lagi, Billy adalah seleb sekolah yang akan selalu mendukung teman-temannya dalam pertandingan ini, dan itu artinya pula Aluna akan menyaksikan Billy walaupun hanya sebagai supporter selama seminggu full. How lucky I am! Dalam hatinya Aluna bersorak gembira, seperti ada ribuan kembang api indah di langit-langit hatinya.
Hari ini adalah hari pertama, dan Aluna harus bersikap setenang mungkin dan tidak mengetarakan dirinya mengintai wajah Billy secara diam-diam lewat meja panitia yang tentu jaraknya akan lebih dekat dengan Billy.
Hatinya sudah gusar, entah karena apa dia menjadi salah tingkah saat Billy dan kawan-kawannya datang. Beberapa orang yang tempatnya akan diambil alih oleh rombongan seleb sekolah tersebut menghindar kebelakang, dan mencari tempat lain di bagian belakang.
Semua orang di sekolah sudah tahukecuali AlunaBilly dan kawan-kawannya tersebut adalah rombongan paling disegani. Mungkin karena ada Nadine sebagai putri dari kepala yayasan sekolah ini yang menjadi bagian dari mereka. Billy selalu bersikap tenang dan tidak suka banyak bicara, sedangkan temannya yang lain terutama Nadine sangat tidak suka ketenangan seperti Billy. Mungkin karena itulah Billy sangat disukai banyak orang, saat Nadine dan temannya yang lain tidak ada. Tetapi, saat Billy bersama Nadine dan rombongan lainnya, tidak jarang banyak orang membicarakannya dengan suara berbisik-bisik.
Wajah polos Aluna menyaksikan pemandangan tidak enak saat ia memandang ke bagian belakang, dia melihat beberapa orang memandang sinis kearah Billy dan Nadine dengan nada berbicara yang berbisik-bisik serta tatapan benci. Namun, Aluna mengabaikannya. Mungkin, itu adalah sebagian orang yang cintanya tidak kesampaian dengan kak Billy, Aluna berpikir positif.

Hari pertama dan kedua berjalan dengan lancar. Aluna sebagai panitia bagian konsumsi sangat puas dengan tugasnya yang tidak terlalu sulit tetapi mendapat imbalan yang sangat besar karena dapat melihat wajah Billy dalam jarak dekat.
Hari ini adalah hari ketiga atau lebih tepatnya hari rabu. Dan itu artinya kelas Billy akan bertanding.
Hari ini, 2 pertandingan berjalan mulus dan diakhiri dengan kemenangan kelas Billy. Entah sudah berapa teriakan mengagetkan yang tidak bisa Aluna kontrol saat Billy memasukkan bola ke dalam ring. Alhasil, semua mata tertuju pada Aluna yang terlihat sangat antusias menonton Billy, bahkan Nadine sempat memberi Aluna tatapan sinis selama beberapa detik saat sebelum Billy jatuh dan semua yang bersorak terutama Aluna menjadi hening seketika. Lalu, tidak lama, Billy bangkit dan melihat sebentar kearah Aluna yang terlihat begitu prihatin, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pertandingan dihentikan sejenak kala itu, lalu saat Billy kembali dengan lukanya yang sudah diobati semua bersorak girang, terlebih Aluna.
Tetapi, Aluna tidak sadar ada 2 pasang mata yang melihatnya dari kejauhan. 1 pasang mata melihatnya dengan begitu senang karena dapat melihat Aluna begitu gembira hari ini, dan sepasang lainnya melihat Aluna begitu tidak suka hingga hampir saja marah dan kesal.

Pertandingan berakhir, kelas Aluna yang memenangi pertandingan. Tetapi, Aluna terlihat begitu biasa saja.
Setelah seminggu ternyata bekas luka yang ditinggalkan oleh pertandingan itu tidak kunjung hilang di kaki kiri Billy, walaupun sudah mengering.
***

Wajah Aluna merona saat sebelum Billy dengan cepat melenggang pergi dengan senyum mengembang yang sebelumnya belum pernah dilihat Aluna.
Aluna sadar ada yang berbeda dari Billy hari ini. Dia terlalu banyak tersenyum pada Aluna. Dan baru kali itu pula, Billy dapat sebaik itu saat Aluna tidak sengaja jatuh. Iya. Baru kali itu.

Aluna terperanjat saat Billy tersenyum padanya keesokan harinya.
“Makasih ya seminggu yang lalu udah teriak-teriak. Aku tau kamu mau bantu aku pas aku jatuh, tapi takut dikira yang enggak-enggak sama anak-anak.”
Aluna mengangguk pelan. Aluna tersenyum kembali. Dan terus tersenyum.
Hingga Nina, tahu ada sesuatu karena apa yang sahabatnya itu alami begitu cepat dan tidak masuk akal.
“Al, kak Billy agak aneh gitu ya?”
“Aneh gimana?” Aluna membersihkan rok osisnya yang agak kotor sehabis jatuh tadi.
“Sekarang lebih banyak senyum ke kamu, padahal sebelumnya sama Nadine pun dia jarang senyum. Seriously, aku curiga.”
“Curiga gimana?”
“Al.. mungkin aja dia suka sama kamu. Tapi, gak nutup kemungkinan juga, dia cuma pengen buat kamu GR.”
Aluna terdiam. Menyerap ucapan Nina yang bisa saja benar. Aluna hanya bisa diam. Dan hanya ingin diam karena sejujurnya, Aluna pun memiliki firasat seperti itu.


Hingga hari ini datang…
Kak Billy berdiri tegap sambil menyembunyikan tangan kanan di punggungnya, awalnya Aluna hanya memperhatikan kak Billy dari lantai 2 di depan kelasnya. Lalu, sampailah kak Billy di tengah lapangan sekolah tersebut, mendongak ke atas tepat menghadap ke arah Aluna. Kemudian dia berteriak, “Aluna! Will you be mine?” sambil mengeluarkan se-bucket mawar putih dari balik badan di tangan kanannya.
Pipi Aluna bersemu sambil mengangguk setuju. “Bagaimana dia bisa tiba-tiba begini?” pikirnya.
Sepasang mata yang selalu memperhatikan Aluna dari jauh menyulutkan tatapan cemburu dan kemarahan. Dia mengetahui apa yang semua orang tidak tahu tentang Billy dan Nadine. Namun, dia hanya berhak diam.
***


Aluna dan Billy selalu bersama dan melewatkan hampir setiap hari penuh kegembiraan. Sampai akhirnya, 1 bulan berlalu, Billy terlihat berbeda. Selalu membuat alasan untuk tidak jalan bersama dan jarang menghubungi Aluna tidak seperti sebelumnya.
Dan nightmare itu akhirnya datang…
***

Keynan menatap miris sosok di depannya. Peluh membasahi wajahnya yang mungil. Keynan tidak sabar ingin membawanya pergi dari sini. Tempat terkutuk yang biasa Aluna dan Billy datangi untuk bertemu. Billy tidak menepati janjinya. Lagi.
Namun, kali ini berbeda, Billy tidak menepati janjinya karena pergi bersama Nadine. Dan secara frontal, Billy memperlihatkan itu. Ditambah lagi dengan kabar angin yang mengabarkan bahwa Aluna hanya dijadikan bahan taruhan oleh teman-temannya terutama Nadine. Dan setelah 1 bulan, Billy berhak meninggalkan Aluna sesukanya.
Keynan sangat ingat bagaimana dia jatuh cinta dengan Aluna. Saat mereka tidak sengaja bertemu di laboratorium kimia yang sedang mengantar Nina mengintip Dinopria yang disukai Nina. Keynan menarik tangan Aluna untuk menjauh di pojokan saat Nina sedang fokus memperhatikan Dino ketika Pak Handoko berjalan mendekati Nina. Ditutupnya mulut Aluna oleh Keynan yang hampir berteriak memanggil Nina, karena tahu Aluna akan ikut dihukum bersama Nina jika tidak segera menariknya dan menutup mulut Aluna.
Tangan Keynan gemetar dan dadanya berdegub kencang. Dan saat itu dia tahu, bahwa hatinya telah dicuri Aluna. Hingga yang dapat dilakukan Keynan hanyalah memperhatikan Aluna dari balik jendela kelasnya, mengawasinya dengan perhatian, mencari tahu semua tentangnya. Hingga saat ini, Keynan tahu dia tidak tahan lagi setelah menahan diri beberapa kali untuk memeluk Aluna agar tidak menangis lagi dan membenarkan bahwa Billy hanya mempermainkannya dan menjadikannya bahan taruhan selama 1 bulan dan masih memiliki hubungan dengan Nadine walaupun hanya kepada Aluna-lah Billy mendapatkan kenyamanan. Namun, jika tidak begitu Nadine akan menyayat-nyayat tangannya atau bahkan yang lebih parah dia akan menyayat lehernya sendiri seperti yang dilakukan Nadine saat Keynan tidak menerima cintanya. Karena kasihan, Billy memilih untuk berpura-pura mencintai Nadine. Nadine memang memiliki kelainan, menyakiti dirinya sendiri adalah suatu bentuk pemberontakan dan kepuasan bagi dirinya.
Keynan memilih untuk menjauh saat Billy sangat marah kepadanya, saat mereka hanya bertiga. Nadine, Billy, dan Keynan. Nadine adalah anak angkat dari kepala yayasan sekolah, dan ayah dari Keynan dan Billy adalah bawahan ayah angkat Nadine. Maka dari itu, sebelum Keynan memilih untuk menjauh, Billy dan Keynan sudah terlebih dulu berjanji untuk menjaga Nadine, hingga akhirnya Keynan sadar Nadine memiliki kelainan.
Keynan bukan Billy yang akan memaksakan perasaannya dan harus menyakiti perasaan Alune demi membahagiakan Nadine. Keynan tidak mungkin melakukan itu. Namun, Billy yang membuat pilihannya sendiri. Walaupun begitu, Keynan tidak ingin menghajar Billy karena dialah yang meminta Billy menjaga dan membahagiakan Aluna walaupun hanya sebulan.
Hingga langkah kakinya tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya yang melihat Aluna menangis begitu pilu di bawah rintik-rintik air kecil yang tidak terlalu turun deras.
***

Aluna mendongak saat pundak kanannya terasa disentuh oleh tangan hangat saat gerimis seperti ini.
Keynan memeluk Aluna dengan erat.
Tangis Aluna tumpah di pundak Keynan. Keynan hanya diam. Merasakan segala kesakitan yang Aluna rasakan dan meredamkannya dengan memeluknya semakin erat.
Hingga, kemudian, Aluna sadar saat Keynan berbicara jujur tentang semuanya, sepasang mata yang selalu mengawasinya adalah Keynan yang selalu memperhatikannya dari balik jendela dan menyembunyikannya cintanya dalam diam.
Aluna bersyukur. Dia memaafkan Billy dan memaklumi Nadine. Dan Aluna, mencintai Keynan setelah semua yang dilakukan oleh Keynan untuk Aluna, yang tidak akan lunas bila hanya mengucapkan terimakasih.

0 comments:

Post a Comment

Jun 29, 2013

Dari Balik Jendela

Aluna memejamkan matanya. Tenggelam dalam lukanya yang kembali terbuka. Sedangkan, dia sendiri tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang mengawasinya dengan sangat prihatin. Sesekali Aluna sesak karena tangisnya dalam kesunyian gerimis sendu yang dia tahan agar tidak bersuara. Dan sesekali pula sepasang mata yang mengawasinya tersebut menahan diri untuk memeluk Aluna, agar Aluna menghentikan tangisnya. Karena, Aluna tidak sama sekali menyadari bahwa sepasang mata tersebut sudah mengawasinya sejak pertama mereka tidak sengaja bertemu. Dan.. jatuh cinta.

***

Aluna menahan tawa saat salah satu teman baiknya dihukum oleh salah satu guru ketika ketahuan mengintip laboratorium kimia yang Aluna tahu bahwa ada salah satu diantara murid disana disukai oleh teman baiknya—Nina—yang sedang dihukum lari jongkok mengelilingi lapangan sekolah.
Aluna hanya memerhatikan Nina dari lantai 2 dengan senyum kecil mengembang dari bibirnya. Lalu, tanpa sengaja Aluna melihat seorang pria asing yang sedang memasukkan bola ke dalam ring dan selalu berhasil. Dari belakang, perawakannya yang tinggi besar dan rambut gondrong yang basah oleh keringat terlihat menawan di mata Aluna. Ada sesuatu yang menarik Aluna untuk mengetahui pria tersebut dan Aluna bertekad untuk mencari tahu siapa pria tersebut.
Nina yang terlihat sangat kelelahan menangkap rona wajah Aluna yang bersemu merah muda di pipinya yang tirus dan wajahnya yang mungil dengan rambut ikal panjang. Nina mengikuti arah pandangan mata Aluna. Dia menyimpulkan ‘sesuatu’ tersebut sudah pasti seseorang yang menjadi titik fokus pandangannya sekarang. Pria berbaju olahraga yang sedang bermain basket sendirian.
“Kak Billy?”
“Ha? Siapa?” Aluna terkejut dengan kedatangan Nina yang tiba-tiba menyebutkan nama seseorang.
“Itu kak Billy. Ah, dia seleb sekolah. Jangan banyak berharap! Mantannya Nadine. You know her, right?
“Hmm..” Aluna terdiam. Dia bukanlah tipe wanita yang akan menyerah hanya karena pria yang disukainya seleb sekolah atau sejenisnya. Dia akan terus berusaha untuk mendapatkannya, walaupun yang dilakukannya hanyalah menunggu. Iya, menunggu keajaiban datang menghampirinya. Berangan-angan Billy tertarik padanya tanpa sengaja. Sungguh keajaiban sekali mungkin bila itu terjadi pada Aluna, namun dia tidak pernah berhenti berharap.
***

Aluna sadar, 3 bulan terakhir yang dilakukannya hanyalah memerhatikan Billy dari jauh. Dari jarak yang tak mungkin dijangkau oleh Billy.
Dia sadar, dia telah terlalu banyak berharap. Tetapi, dia terus menanam gengsinya dan berseru dalam hati, “Masa iya aku yang mulai duluan?”
Aluna bukanlah wanita agresif walaupun dia memiliki tekad dan ambisius yang sangat kuat. Namun segalanya seakan runtuh seketika saat gengsi mengalahkan rasa ambisiusnya. Gengsi membiarkannya menunggu terlalu lama.
“Ke laboratorium kimia yuk!” suara serak khas dari Nina memecahkan lamunan panjang Aluna.
“Boleh deh.”
“Asal kamu bilang ya Al kalo ada pak Handoko!”
“Waktu itu kan aku diselametin sama Keynan, suruh dia aja tuh yang jangan narik aku sembarangan lagi.”
“Kayaknya kamu gak pernah cerita ya Al tentang.. siapa? Kinan?  What the…? Keynan maksud kamu!? Anak sekelas Doni? Al, do you know him? He’s the most famous people in this school! Arghhh, jangan bilang kamu gak tau dia?!!!” nada bicara Nina bersemangat dan meninggi seperti ingin makan orang.
“Ak.. aku emang gak tau dia. Aku aja gelagapan kenapa dia bisa nyelametin aku. Sinting banget pas tiba-tiba narik aku dan nutup mulut aku waktu aku mau teriak manggil kamu! Aku diem aja, lumayan kan aku gak jadi dihukum bareng kamu.”
“How lucky you are, Aluna!!!!!! Semua cewek pengen banget kali deket sama dia, sayangnya gak ada yang pernah bisa. Bahkan, Nadine pun nggak bisa, Al!”
“Udah ah, yuk!”
***

Hari ini Aluna sumringah. Akan ada pertandingan basket antar kelas yang diadakan oleh sekolah untuk memeriahkan acara ulang tahun sekolah.
Wajah Billy ikut pertandingan sudah terekam jelas dalam otak jahil Aluna. Diatentu sajasangat senang. Seminggu kedepan dia akan melihat wajah Billy secara exclusive.
Dan yang lebih menyenangkannya lagi, Aluna dan Nina akan menjadi salah satu panitia dalam acara tersebut. Sungguh berita paling menggembirakan, padahal biasanya Aluna sangat malas berurusan dengan apapun tentang ke-panitia-an.


Dan hari itu pun datang. Hari dimana dimulainya pertandingan yang telah ditunggu-tunggu banyak orang terutama Aluna, pertandingan basket antar kelas yang akan diadakan seminggu kedepan. Sebenarnya, tidak mungkin bagi Aluna untuk melihat Billy dalam jarak dekat seminggu full karena kelasnya bermain hanya pada hari rabu dan kalau masuk perempatan final, semi final, dan final hanya pada hari kamis, jumat, dan sabtu saja. Tetapi, ini yang lebih menyenangkan lagi, Billy adalah seleb sekolah yang akan selalu mendukung teman-temannya dalam pertandingan ini, dan itu artinya pula Aluna akan menyaksikan Billy walaupun hanya sebagai supporter selama seminggu full. How lucky I am! Dalam hatinya Aluna bersorak gembira, seperti ada ribuan kembang api indah di langit-langit hatinya.
Hari ini adalah hari pertama, dan Aluna harus bersikap setenang mungkin dan tidak mengetarakan dirinya mengintai wajah Billy secara diam-diam lewat meja panitia yang tentu jaraknya akan lebih dekat dengan Billy.
Hatinya sudah gusar, entah karena apa dia menjadi salah tingkah saat Billy dan kawan-kawannya datang. Beberapa orang yang tempatnya akan diambil alih oleh rombongan seleb sekolah tersebut menghindar kebelakang, dan mencari tempat lain di bagian belakang.
Semua orang di sekolah sudah tahukecuali AlunaBilly dan kawan-kawannya tersebut adalah rombongan paling disegani. Mungkin karena ada Nadine sebagai putri dari kepala yayasan sekolah ini yang menjadi bagian dari mereka. Billy selalu bersikap tenang dan tidak suka banyak bicara, sedangkan temannya yang lain terutama Nadine sangat tidak suka ketenangan seperti Billy. Mungkin karena itulah Billy sangat disukai banyak orang, saat Nadine dan temannya yang lain tidak ada. Tetapi, saat Billy bersama Nadine dan rombongan lainnya, tidak jarang banyak orang membicarakannya dengan suara berbisik-bisik.
Wajah polos Aluna menyaksikan pemandangan tidak enak saat ia memandang ke bagian belakang, dia melihat beberapa orang memandang sinis kearah Billy dan Nadine dengan nada berbicara yang berbisik-bisik serta tatapan benci. Namun, Aluna mengabaikannya. Mungkin, itu adalah sebagian orang yang cintanya tidak kesampaian dengan kak Billy, Aluna berpikir positif.

Hari pertama dan kedua berjalan dengan lancar. Aluna sebagai panitia bagian konsumsi sangat puas dengan tugasnya yang tidak terlalu sulit tetapi mendapat imbalan yang sangat besar karena dapat melihat wajah Billy dalam jarak dekat.
Hari ini adalah hari ketiga atau lebih tepatnya hari rabu. Dan itu artinya kelas Billy akan bertanding.
Hari ini, 2 pertandingan berjalan mulus dan diakhiri dengan kemenangan kelas Billy. Entah sudah berapa teriakan mengagetkan yang tidak bisa Aluna kontrol saat Billy memasukkan bola ke dalam ring. Alhasil, semua mata tertuju pada Aluna yang terlihat sangat antusias menonton Billy, bahkan Nadine sempat memberi Aluna tatapan sinis selama beberapa detik saat sebelum Billy jatuh dan semua yang bersorak terutama Aluna menjadi hening seketika. Lalu, tidak lama, Billy bangkit dan melihat sebentar kearah Aluna yang terlihat begitu prihatin, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pertandingan dihentikan sejenak kala itu, lalu saat Billy kembali dengan lukanya yang sudah diobati semua bersorak girang, terlebih Aluna.
Tetapi, Aluna tidak sadar ada 2 pasang mata yang melihatnya dari kejauhan. 1 pasang mata melihatnya dengan begitu senang karena dapat melihat Aluna begitu gembira hari ini, dan sepasang lainnya melihat Aluna begitu tidak suka hingga hampir saja marah dan kesal.

Pertandingan berakhir, kelas Aluna yang memenangi pertandingan. Tetapi, Aluna terlihat begitu biasa saja.
Setelah seminggu ternyata bekas luka yang ditinggalkan oleh pertandingan itu tidak kunjung hilang di kaki kiri Billy, walaupun sudah mengering.
***

Wajah Aluna merona saat sebelum Billy dengan cepat melenggang pergi dengan senyum mengembang yang sebelumnya belum pernah dilihat Aluna.
Aluna sadar ada yang berbeda dari Billy hari ini. Dia terlalu banyak tersenyum pada Aluna. Dan baru kali itu pula, Billy dapat sebaik itu saat Aluna tidak sengaja jatuh. Iya. Baru kali itu.

Aluna terperanjat saat Billy tersenyum padanya keesokan harinya.
“Makasih ya seminggu yang lalu udah teriak-teriak. Aku tau kamu mau bantu aku pas aku jatuh, tapi takut dikira yang enggak-enggak sama anak-anak.”
Aluna mengangguk pelan. Aluna tersenyum kembali. Dan terus tersenyum.
Hingga Nina, tahu ada sesuatu karena apa yang sahabatnya itu alami begitu cepat dan tidak masuk akal.
“Al, kak Billy agak aneh gitu ya?”
“Aneh gimana?” Aluna membersihkan rok osisnya yang agak kotor sehabis jatuh tadi.
“Sekarang lebih banyak senyum ke kamu, padahal sebelumnya sama Nadine pun dia jarang senyum. Seriously, aku curiga.”
“Curiga gimana?”
“Al.. mungkin aja dia suka sama kamu. Tapi, gak nutup kemungkinan juga, dia cuma pengen buat kamu GR.”
Aluna terdiam. Menyerap ucapan Nina yang bisa saja benar. Aluna hanya bisa diam. Dan hanya ingin diam karena sejujurnya, Aluna pun memiliki firasat seperti itu.


Hingga hari ini datang…
Kak Billy berdiri tegap sambil menyembunyikan tangan kanan di punggungnya, awalnya Aluna hanya memperhatikan kak Billy dari lantai 2 di depan kelasnya. Lalu, sampailah kak Billy di tengah lapangan sekolah tersebut, mendongak ke atas tepat menghadap ke arah Aluna. Kemudian dia berteriak, “Aluna! Will you be mine?” sambil mengeluarkan se-bucket mawar putih dari balik badan di tangan kanannya.
Pipi Aluna bersemu sambil mengangguk setuju. “Bagaimana dia bisa tiba-tiba begini?” pikirnya.
Sepasang mata yang selalu memperhatikan Aluna dari jauh menyulutkan tatapan cemburu dan kemarahan. Dia mengetahui apa yang semua orang tidak tahu tentang Billy dan Nadine. Namun, dia hanya berhak diam.
***


Aluna dan Billy selalu bersama dan melewatkan hampir setiap hari penuh kegembiraan. Sampai akhirnya, 1 bulan berlalu, Billy terlihat berbeda. Selalu membuat alasan untuk tidak jalan bersama dan jarang menghubungi Aluna tidak seperti sebelumnya.
Dan nightmare itu akhirnya datang…
***

Keynan menatap miris sosok di depannya. Peluh membasahi wajahnya yang mungil. Keynan tidak sabar ingin membawanya pergi dari sini. Tempat terkutuk yang biasa Aluna dan Billy datangi untuk bertemu. Billy tidak menepati janjinya. Lagi.
Namun, kali ini berbeda, Billy tidak menepati janjinya karena pergi bersama Nadine. Dan secara frontal, Billy memperlihatkan itu. Ditambah lagi dengan kabar angin yang mengabarkan bahwa Aluna hanya dijadikan bahan taruhan oleh teman-temannya terutama Nadine. Dan setelah 1 bulan, Billy berhak meninggalkan Aluna sesukanya.
Keynan sangat ingat bagaimana dia jatuh cinta dengan Aluna. Saat mereka tidak sengaja bertemu di laboratorium kimia yang sedang mengantar Nina mengintip Dinopria yang disukai Nina. Keynan menarik tangan Aluna untuk menjauh di pojokan saat Nina sedang fokus memperhatikan Dino ketika Pak Handoko berjalan mendekati Nina. Ditutupnya mulut Aluna oleh Keynan yang hampir berteriak memanggil Nina, karena tahu Aluna akan ikut dihukum bersama Nina jika tidak segera menariknya dan menutup mulut Aluna.
Tangan Keynan gemetar dan dadanya berdegub kencang. Dan saat itu dia tahu, bahwa hatinya telah dicuri Aluna. Hingga yang dapat dilakukan Keynan hanyalah memperhatikan Aluna dari balik jendela kelasnya, mengawasinya dengan perhatian, mencari tahu semua tentangnya. Hingga saat ini, Keynan tahu dia tidak tahan lagi setelah menahan diri beberapa kali untuk memeluk Aluna agar tidak menangis lagi dan membenarkan bahwa Billy hanya mempermainkannya dan menjadikannya bahan taruhan selama 1 bulan dan masih memiliki hubungan dengan Nadine walaupun hanya kepada Aluna-lah Billy mendapatkan kenyamanan. Namun, jika tidak begitu Nadine akan menyayat-nyayat tangannya atau bahkan yang lebih parah dia akan menyayat lehernya sendiri seperti yang dilakukan Nadine saat Keynan tidak menerima cintanya. Karena kasihan, Billy memilih untuk berpura-pura mencintai Nadine. Nadine memang memiliki kelainan, menyakiti dirinya sendiri adalah suatu bentuk pemberontakan dan kepuasan bagi dirinya.
Keynan memilih untuk menjauh saat Billy sangat marah kepadanya, saat mereka hanya bertiga. Nadine, Billy, dan Keynan. Nadine adalah anak angkat dari kepala yayasan sekolah, dan ayah dari Keynan dan Billy adalah bawahan ayah angkat Nadine. Maka dari itu, sebelum Keynan memilih untuk menjauh, Billy dan Keynan sudah terlebih dulu berjanji untuk menjaga Nadine, hingga akhirnya Keynan sadar Nadine memiliki kelainan.
Keynan bukan Billy yang akan memaksakan perasaannya dan harus menyakiti perasaan Alune demi membahagiakan Nadine. Keynan tidak mungkin melakukan itu. Namun, Billy yang membuat pilihannya sendiri. Walaupun begitu, Keynan tidak ingin menghajar Billy karena dialah yang meminta Billy menjaga dan membahagiakan Aluna walaupun hanya sebulan.
Hingga langkah kakinya tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya yang melihat Aluna menangis begitu pilu di bawah rintik-rintik air kecil yang tidak terlalu turun deras.
***

Aluna mendongak saat pundak kanannya terasa disentuh oleh tangan hangat saat gerimis seperti ini.
Keynan memeluk Aluna dengan erat.
Tangis Aluna tumpah di pundak Keynan. Keynan hanya diam. Merasakan segala kesakitan yang Aluna rasakan dan meredamkannya dengan memeluknya semakin erat.
Hingga, kemudian, Aluna sadar saat Keynan berbicara jujur tentang semuanya, sepasang mata yang selalu mengawasinya adalah Keynan yang selalu memperhatikannya dari balik jendela dan menyembunyikannya cintanya dalam diam.
Aluna bersyukur. Dia memaafkan Billy dan memaklumi Nadine. Dan Aluna, mencintai Keynan setelah semua yang dilakukan oleh Keynan untuk Aluna, yang tidak akan lunas bila hanya mengucapkan terimakasih.

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design