***
Aluna menahan tawa saat salah satu teman baiknya dihukum
oleh salah satu guru ketika ketahuan mengintip laboratorium kimia yang Aluna
tahu bahwa ada salah satu diantara murid disana disukai oleh teman baiknya—Nina—yang
sedang dihukum lari jongkok mengelilingi lapangan sekolah.
Aluna hanya memerhatikan Nina dari lantai 2 dengan senyum kecil mengembang dari bibirnya. Lalu, tanpa sengaja Aluna melihat seorang pria asing yang sedang memasukkan bola ke dalam ring dan selalu berhasil. Dari belakang, perawakannya yang tinggi besar dan rambut gondrong yang basah oleh keringat terlihat menawan di mata Aluna. Ada sesuatu yang menarik Aluna untuk mengetahui pria tersebut dan Aluna bertekad untuk mencari tahu siapa pria tersebut.
Aluna hanya memerhatikan Nina dari lantai 2 dengan senyum kecil mengembang dari bibirnya. Lalu, tanpa sengaja Aluna melihat seorang pria asing yang sedang memasukkan bola ke dalam ring dan selalu berhasil. Dari belakang, perawakannya yang tinggi besar dan rambut gondrong yang basah oleh keringat terlihat menawan di mata Aluna. Ada sesuatu yang menarik Aluna untuk mengetahui pria tersebut dan Aluna bertekad untuk mencari tahu siapa pria tersebut.
Nina yang terlihat sangat kelelahan menangkap rona
wajah Aluna yang bersemu merah muda di pipinya yang tirus dan wajahnya yang
mungil dengan rambut ikal panjang. Nina mengikuti arah pandangan mata Aluna. Dia
menyimpulkan ‘sesuatu’ tersebut sudah pasti seseorang yang menjadi titik fokus
pandangannya sekarang. Pria berbaju olahraga yang sedang bermain basket
sendirian.
“Kak Billy?”
“Ha? Siapa?” Aluna terkejut dengan kedatangan Nina
yang tiba-tiba menyebutkan nama seseorang.
“Itu kak Billy. Ah, dia seleb sekolah. Jangan banyak
berharap! Mantannya Nadine. You know her, right?”
“Hmm..” Aluna terdiam. Dia bukanlah tipe wanita yang
akan menyerah hanya karena pria yang disukainya seleb sekolah atau sejenisnya.
Dia akan terus berusaha untuk mendapatkannya, walaupun yang dilakukannya
hanyalah menunggu. Iya, menunggu keajaiban datang menghampirinya.
Berangan-angan Billy tertarik padanya tanpa sengaja. Sungguh keajaiban sekali
mungkin bila itu terjadi pada Aluna, namun dia tidak pernah berhenti berharap.
***
Aluna sadar, 3 bulan terakhir yang dilakukannya
hanyalah memerhatikan Billy dari jauh. Dari jarak yang tak mungkin dijangkau oleh
Billy.
Dia sadar, dia telah terlalu banyak berharap.
Tetapi, dia terus menanam gengsinya dan berseru dalam hati, “Masa iya aku yang mulai duluan?”
Aluna bukanlah wanita agresif walaupun dia memiliki
tekad dan ambisius yang sangat kuat. Namun segalanya seakan runtuh seketika
saat gengsi mengalahkan rasa ambisiusnya. Gengsi membiarkannya menunggu terlalu
lama.
“Ke laboratorium kimia yuk!” suara serak khas dari
Nina memecahkan lamunan panjang Aluna.
“Boleh deh.”
“Asal kamu bilang ya Al kalo ada pak Handoko!”
“Waktu itu kan aku diselametin sama Keynan, suruh
dia aja tuh yang jangan narik aku sembarangan lagi.”
“Kayaknya kamu gak pernah cerita ya Al tentang..
siapa? Kinan? What the…? Keynan maksud
kamu!? Anak sekelas Doni? Al, do you know him? He’s the most famous people in
this school! Arghhh, jangan bilang kamu gak tau dia?!!!” nada bicara Nina bersemangat
dan meninggi seperti ingin makan orang.
“Ak.. aku emang gak tau dia. Aku aja gelagapan
kenapa dia bisa nyelametin aku. Sinting banget pas tiba-tiba narik aku dan
nutup mulut aku waktu aku mau teriak manggil kamu! Aku diem aja, lumayan kan
aku gak jadi dihukum bareng kamu.”
“How lucky you are, Aluna!!!!!! Semua cewek pengen
banget kali deket sama dia, sayangnya gak ada yang pernah bisa. Bahkan, Nadine
pun nggak bisa, Al!”
“Udah ah, yuk!”
***
Hari ini Aluna sumringah. Akan ada pertandingan
basket antar kelas yang diadakan oleh sekolah untuk memeriahkan acara ulang
tahun sekolah.
Wajah Billy ikut pertandingan sudah terekam jelas
dalam otak jahil Aluna. Dia—tentu
saja—sangat senang. Seminggu kedepan dia
akan melihat wajah Billy secara exclusive.
Dan yang lebih menyenangkannya lagi, Aluna dan Nina
akan menjadi salah satu panitia dalam acara tersebut. Sungguh berita paling
menggembirakan, padahal biasanya Aluna sangat malas berurusan dengan apapun
tentang ke-panitia-an.
Dan hari itu pun datang. Hari dimana dimulainya
pertandingan yang telah ditunggu-tunggu banyak orang terutama Aluna,
pertandingan basket antar kelas yang akan diadakan seminggu kedepan.
Sebenarnya, tidak mungkin bagi Aluna untuk melihat Billy dalam jarak dekat
seminggu full karena kelasnya bermain hanya pada hari rabu dan kalau masuk
perempatan final, semi final, dan final hanya pada hari kamis, jumat, dan sabtu
saja. Tetapi, ini yang lebih menyenangkan lagi, Billy adalah seleb sekolah yang
akan selalu mendukung teman-temannya dalam pertandingan ini, dan itu artinya pula
Aluna akan menyaksikan Billy walaupun hanya sebagai supporter selama seminggu full. How
lucky I am! Dalam hatinya Aluna bersorak gembira, seperti ada ribuan
kembang api indah di langit-langit hatinya.
Hari ini adalah hari pertama, dan Aluna harus
bersikap setenang mungkin dan tidak mengetarakan dirinya mengintai wajah Billy
secara diam-diam lewat meja panitia yang tentu jaraknya akan lebih dekat dengan
Billy.
Hatinya sudah gusar, entah karena apa dia menjadi
salah tingkah saat Billy dan kawan-kawannya datang. Beberapa orang yang
tempatnya akan diambil alih oleh rombongan seleb sekolah tersebut menghindar
kebelakang, dan mencari tempat lain di bagian belakang.
Semua orang di sekolah sudah tahu—kecuali Aluna—Billy dan kawan-kawannya tersebut
adalah rombongan paling disegani. Mungkin karena ada Nadine sebagai putri dari
kepala yayasan sekolah ini yang menjadi bagian dari mereka. Billy selalu
bersikap tenang dan tidak suka banyak bicara, sedangkan temannya yang lain
terutama Nadine sangat tidak suka ketenangan seperti Billy. Mungkin karena
itulah Billy sangat disukai banyak orang, saat Nadine dan temannya yang lain
tidak ada. Tetapi, saat Billy bersama Nadine dan rombongan lainnya, tidak
jarang banyak orang membicarakannya dengan suara berbisik-bisik.
Wajah polos Aluna menyaksikan pemandangan tidak enak
saat ia memandang ke bagian belakang, dia melihat beberapa orang memandang
sinis kearah Billy dan Nadine dengan nada berbicara yang berbisik-bisik serta
tatapan benci. Namun, Aluna mengabaikannya. Mungkin,
itu adalah sebagian orang yang cintanya tidak kesampaian dengan kak Billy,
Aluna berpikir positif.
Hari pertama dan kedua berjalan dengan lancar. Aluna
sebagai panitia bagian konsumsi sangat puas dengan tugasnya yang tidak terlalu
sulit tetapi mendapat imbalan yang sangat besar karena dapat melihat wajah
Billy dalam jarak dekat.
Hari ini adalah hari ketiga atau lebih tepatnya hari
rabu. Dan itu artinya kelas Billy akan bertanding.
Hari ini, 2 pertandingan berjalan mulus dan diakhiri
dengan kemenangan kelas Billy. Entah sudah berapa teriakan mengagetkan yang
tidak bisa Aluna kontrol saat Billy memasukkan bola ke dalam ring. Alhasil,
semua mata tertuju pada Aluna yang terlihat sangat antusias menonton Billy,
bahkan Nadine sempat memberi Aluna tatapan sinis selama beberapa detik saat
sebelum Billy jatuh dan semua yang bersorak terutama Aluna menjadi hening
seketika. Lalu, tidak lama, Billy bangkit dan melihat sebentar kearah Aluna
yang terlihat begitu prihatin, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pertandingan
dihentikan sejenak kala itu, lalu saat Billy kembali dengan lukanya yang sudah
diobati semua bersorak girang, terlebih Aluna.
Tetapi, Aluna tidak sadar ada 2 pasang mata yang
melihatnya dari kejauhan. 1 pasang mata melihatnya dengan begitu senang karena
dapat melihat Aluna begitu gembira hari ini, dan sepasang lainnya melihat Aluna
begitu tidak suka hingga hampir saja marah dan kesal.
Pertandingan berakhir, kelas Aluna yang memenangi
pertandingan. Tetapi, Aluna terlihat begitu biasa saja.
Setelah seminggu ternyata bekas luka yang
ditinggalkan oleh pertandingan itu tidak kunjung hilang di kaki kiri Billy,
walaupun sudah mengering.
***
Wajah Aluna merona saat sebelum Billy dengan cepat
melenggang pergi dengan senyum mengembang yang sebelumnya belum pernah dilihat
Aluna.
Aluna sadar ada yang berbeda dari Billy hari ini.
Dia terlalu banyak tersenyum pada Aluna. Dan baru kali itu pula, Billy dapat
sebaik itu saat Aluna tidak sengaja jatuh. Iya. Baru kali itu.
Aluna terperanjat saat Billy tersenyum padanya
keesokan harinya.
“Makasih ya seminggu yang lalu udah teriak-teriak.
Aku tau kamu mau bantu aku pas aku jatuh, tapi takut dikira yang enggak-enggak
sama anak-anak.”
Aluna mengangguk pelan. Aluna tersenyum kembali. Dan
terus tersenyum.
Hingga Nina, tahu ada sesuatu karena apa yang
sahabatnya itu alami begitu cepat dan tidak masuk akal.
“Al, kak Billy agak aneh gitu ya?”
“Aneh gimana?” Aluna membersihkan rok osisnya yang
agak kotor sehabis jatuh tadi.
“Sekarang lebih banyak senyum ke kamu, padahal
sebelumnya sama Nadine pun dia jarang senyum. Seriously, aku curiga.”
“Curiga gimana?”
“Al.. mungkin aja dia suka sama kamu. Tapi, gak
nutup kemungkinan juga, dia cuma pengen buat kamu GR.”
Aluna terdiam. Menyerap ucapan Nina yang bisa saja
benar. Aluna hanya bisa diam. Dan hanya ingin diam karena sejujurnya, Aluna pun
memiliki firasat seperti itu.
Hingga hari ini datang…
Kak Billy berdiri tegap sambil menyembunyikan tangan
kanan di punggungnya, awalnya Aluna hanya memperhatikan kak Billy dari lantai 2
di depan kelasnya. Lalu, sampailah kak Billy di tengah lapangan sekolah
tersebut, mendongak ke atas tepat menghadap ke arah Aluna. Kemudian dia
berteriak, “Aluna! Will you be mine?”
sambil mengeluarkan se-bucket mawar
putih dari balik badan di tangan kanannya.
Pipi Aluna bersemu sambil mengangguk setuju. “Bagaimana dia bisa tiba-tiba begini?”
pikirnya.
Sepasang mata yang selalu memperhatikan Aluna dari
jauh menyulutkan tatapan cemburu dan kemarahan. Dia mengetahui apa yang semua
orang tidak tahu tentang Billy dan Nadine. Namun, dia hanya berhak diam.
***
Aluna dan Billy selalu bersama dan melewatkan hampir
setiap hari penuh kegembiraan. Sampai akhirnya, 1 bulan berlalu, Billy terlihat
berbeda. Selalu membuat alasan untuk tidak jalan bersama dan jarang menghubungi
Aluna tidak seperti sebelumnya.
Dan nightmare
itu akhirnya datang…
***
Keynan menatap miris sosok di depannya. Peluh
membasahi wajahnya yang mungil. Keynan tidak sabar ingin membawanya pergi dari
sini. Tempat terkutuk yang biasa Aluna dan Billy datangi untuk bertemu. Billy
tidak menepati janjinya. Lagi.
Namun, kali ini berbeda, Billy tidak menepati
janjinya karena pergi bersama Nadine. Dan secara frontal, Billy memperlihatkan
itu. Ditambah lagi dengan kabar angin yang mengabarkan bahwa Aluna hanya
dijadikan bahan taruhan oleh teman-temannya terutama Nadine. Dan setelah 1
bulan, Billy berhak meninggalkan Aluna sesukanya.
Keynan sangat ingat bagaimana dia jatuh cinta dengan
Aluna. Saat mereka tidak sengaja bertemu di laboratorium kimia yang sedang
mengantar Nina mengintip Dino—pria
yang disukai Nina. Keynan menarik tangan Aluna untuk menjauh di pojokan saat
Nina sedang fokus memperhatikan Dino ketika Pak Handoko berjalan mendekati
Nina. Ditutupnya mulut Aluna oleh Keynan yang hampir berteriak memanggil Nina,
karena tahu Aluna akan ikut dihukum bersama Nina jika tidak segera menariknya
dan menutup mulut Aluna.
Tangan Keynan gemetar dan dadanya berdegub kencang.
Dan saat itu dia tahu, bahwa hatinya telah dicuri Aluna. Hingga yang dapat
dilakukan Keynan hanyalah memperhatikan Aluna dari balik jendela kelasnya,
mengawasinya dengan perhatian, mencari tahu semua tentangnya. Hingga saat ini,
Keynan tahu dia tidak tahan lagi setelah menahan diri beberapa kali untuk
memeluk Aluna agar tidak menangis lagi dan membenarkan bahwa Billy hanya
mempermainkannya dan menjadikannya bahan taruhan selama 1 bulan dan masih memiliki
hubungan dengan Nadine walaupun hanya kepada Aluna-lah Billy mendapatkan
kenyamanan. Namun, jika tidak begitu Nadine akan menyayat-nyayat tangannya atau
bahkan yang lebih parah dia akan menyayat lehernya sendiri seperti yang
dilakukan Nadine saat Keynan tidak menerima cintanya. Karena kasihan, Billy
memilih untuk berpura-pura mencintai Nadine. Nadine memang memiliki kelainan,
menyakiti dirinya sendiri adalah suatu bentuk pemberontakan dan kepuasan bagi
dirinya.
Keynan memilih untuk menjauh saat Billy sangat marah
kepadanya, saat mereka hanya bertiga. Nadine, Billy, dan Keynan. Nadine adalah
anak angkat dari kepala yayasan sekolah, dan ayah dari Keynan dan Billy adalah
bawahan ayah angkat Nadine. Maka dari itu, sebelum Keynan memilih untuk
menjauh, Billy dan Keynan sudah terlebih dulu berjanji untuk menjaga Nadine,
hingga akhirnya Keynan sadar Nadine memiliki kelainan.
Keynan bukan Billy yang akan memaksakan perasaannya
dan harus menyakiti perasaan Alune demi membahagiakan Nadine. Keynan tidak
mungkin melakukan itu. Namun, Billy yang membuat pilihannya sendiri. Walaupun
begitu, Keynan tidak ingin menghajar Billy karena dialah yang meminta Billy
menjaga dan membahagiakan Aluna walaupun hanya sebulan.
Hingga langkah kakinya tidak mampu lagi menahan rasa
sakitnya yang melihat Aluna menangis begitu pilu di bawah rintik-rintik air
kecil yang tidak terlalu turun deras.
***
Aluna mendongak saat pundak kanannya terasa disentuh
oleh tangan hangat saat gerimis seperti ini.
Keynan memeluk Aluna dengan erat.
Tangis Aluna tumpah di pundak Keynan. Keynan hanya
diam. Merasakan segala kesakitan yang Aluna rasakan dan meredamkannya dengan
memeluknya semakin erat.
Hingga, kemudian, Aluna sadar saat Keynan berbicara
jujur tentang semuanya, sepasang mata yang selalu mengawasinya adalah Keynan
yang selalu memperhatikannya dari balik jendela dan menyembunyikannya cintanya
dalam diam.
Aluna bersyukur. Dia memaafkan Billy dan memaklumi
Nadine. Dan Aluna, mencintai Keynan setelah semua yang dilakukan oleh Keynan
untuk Aluna, yang tidak akan lunas bila hanya mengucapkan terimakasih.
0 comments:
Post a Comment