Jan 21, 2013

Hujan


            Aku menepi di sebuah halte bus. Hujan, lagi.
            Aroma hujan kali ini benar-benar pilu. Suaranya kian lirih. Membiarkan siapa saja ikut merintih dalam tetesan-tetesannya.
            Aku mencoba tidak kesal, dengan menikmati hamparan kesenduan yang Tuhan berikan lewat hujan. Aku meresapi rasanya. Nyaman. Disapu angin, udara dingin, dan air yang secara ajaib membuat suasana menjadi kelabu dengan tiba-tiba.
            Aku mendongakkan kepala dan memejamkan mata. Merasakan kenikmatan yang sedang terjadi. Aku selalu suka melakukan ritual ini setiap hujan.

***

            “Saat itu juga, aku merasakan aku mulai mencintaimu. Aku mencintaimu dengan caramu menikmati hujan. Aku mulai menirumu dan melakukan ritual yang sama setiap kali hujan turun. Aku merasakan kau ada dengan datangnya hujan. Ternyata, hujan bukan hanya membawa lirih, namun membawa cinta pula bersamaan dengan sendunya.” Aku menulis dalam sebuah kertas biru kecil dan segera kumasukkan dalam kardus berwarna biru pula.

***

            “Dek, besok anterin pesenan kue dari pelanggan ibu, bisa?”
            “Dimana bu?”
            “Rumahnya gedongan, perumahan di samping jalan di ujung gang rumah kita.”
            “Aku nggak perlu pake sepeda kan bu, kalo jalan ga jauh kan?”
            “Iya, bisa kok nak.” Katanya sambil merapihkan pakaian.
            Aku melanjutkan pekerjaan rumahku.

***

            “Akhirnya, aku bisa melihatmu dengan jarak sedekat ini. Tidak terbayang dibenakku kau akan datang kerumahku. Kenapa baru sekarang? Tetapi aku bersyukur kepada Tuhan. Dia yang telah membawamu kesini, bukan?” ku masukkan lagi lembaran selanjutnya untuk kardus biru mudaku.

***

            “Bu, itu rumah pelanggan ibu ada anak laki-lakinya yah?” aku bertanya antusias dan tidak sabar dengan jawaban dari ibuku.
            Dia melirik aneh kearahku, lalu tersenyum geli, “Iya, kenapa? Kamu suka ya?”
            “Emang boleh?” aku menatap aneh kearah mata ibuku yang hitam pekat.
            “Ya emang apa salahnya kalo kamu suka sama cowok? Emang ibu bisa larang?”
            “Kalo masih ada ayah, pasti ayah larang.”
            Ibuku hanya menatapku dengan tatapan aneh (lagi), dan melanjutkan adonan kue yang sedang dia aduk.


 ***

            Malam itu aneh, pinggangku seperti ingin copot, dan perutku sakit sekali. Dan yang lebih mengejutkan lagi, saat aku buang air kecil, aku mendapati celana dalamku berisikan darah yang cukup banyak. Aku langsung menangis dan berteriak ketakutan dengan kalap kepada ibuku.
            “Ibu, ikut Keyla sebentar, bu! Keyla berdarah!” kataku, khawatir dengan diriku sendiri. “Ibu cepet bu, Keyla takut! Kita harus ke dokter bu!” dengan cepat menarik-narik bajunya yang sedang memasukkan adonan kuenya ke dalam panggangan. Dia dengan cemas mengikutiku ke dalam kamar.
            Dia tertawa terbahak-bahak ketika dia melihat ‘itu’. Aku yang menangis jadi berhenti menangis dan malah menatap aneh kearah mata ibuku yang masih tertawa. Aku bingung apa yang sedang ia tertawakan.
            “Ibu.. ayo kita ke dokter bu, pinggang Keyla pegel ngga kaya biasanya dan perut Keyla melilit sakit banget, dan sekarang ‘itu’ Keyla berdarah. Ayo bu..” aku meringis lagi.
            “Anak ibu satu-satunya udah gede ya..”
            “Ibu.. ayo bu, Keyla lagi nggak becanda..” tangisku semakin menjadi-jadi seiring dengan tawa ibuku yang makin keras juga.
            “Dek, selamet ya!”
            “Ibu…” aku berteriak sambil menangis, merengek-rengek minta dibawa ke dokter sekarang juga.
            “Ayo, sini-sini ikut ibu. Naikin lagi celananya, duh duh nangis celananya belum dinaikin,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
            Tangisku reda dan sekarang aku malah merasa konyol sehabis menangis, karena celanaku belum kunaikkan saat aku menangis tadi. Aku mengikuti langkah ibuku.
            “Sini ibu gantiin, sekalian pakein sama ajarin kamu.”
            “Itu obat apa?”
            “Ini bukan obat. Cie, anak ibu udah remaja..”
            “Aku kan emang udah gede..” kataku dengan asal.
            “Kamu emang belum belajar ini di pelajaran biologi di sekolah?”
            “Materi apa?”
            “Anu loh.. kamu dapet.. anu..”
            “Datang bulan?” mataku berbinar-binar bangga.
            “Ya!” katanya tersenyum lebar.
            Kami berpelukan. Aku senang. Sangat senang.

            Itulah kali pertama aku ‘dapat’. Konyol, tapi sangat lucu juga. Bagaimana bisa aku sepanik itu, padahal itu materi yang ku pelajari ketika kelas 6 dan kala itu ketika aku kelas 1 SMP.
            Sejak itu juga, perubahan-perubahan lain muncul. Mulai dari yang sangat percaya diri, mulai malu-malu, dan mulai suka terhadap lawan jenis.
            Pertama sekali, saat kelas 3 SMP, aku berbicara kepada teman-temanku, bahwa aku menyukai salah satu teman sekelas kami. Mereka semua kaget, karena aku yang biasanya acuh, ternyata bisa memperhatikan pria juga. Kami hanya tertawa saja. Aku tidak menganggapnya serius dan mereka juga. Tidak pernah terlintas dibenakku untuk pacaran dengan siapapun. Aku kira diusia yang masih dini seperti itu, cinta hanyalah sekedar hiburan, cinta monyet.
            Dan saat ini, aku sudah SMA. Sudah merasakan perubahan-perubahan yang jauh berbeda dengan SMP layaknya wanita pada umumnya. Itu wajar, memang sudah sepantasnya pertumbuhan diusiaku yang segini.
            Tetapi aku belum juga merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Belum pernah. Sama sekali. Aku memang tidak iri dengan siapapun temanku yang sudah merasakan bagaimana rasanya berpacaran, tidak sama sekali. Tetapi, aku hanya penasaran, bagaimana rasanya? Aku pernah merasa gugup dan deg-degan, tapi itu hanya sebatas minder bicara di depan umum ketika ada ujian pidato dan lain-lain, tetapi jatuh cinta? Kata mereka, rasanya berbeda. Ada gejolak yang aneh, detak jantung tak beraturan, dan entah lah aku tidak mendengar baik apa yang mereka katakan.  Yang pasti, rasanya senang sekali.

***

            “Jika nanti harus ada yang kupilih jadi yang pertama, kamulah yang terpantas.” Aku meletakkan lagi selembar biru kedalam kardus biru itu. Aku bangga. Aku adalah secret admirer terhebat yang pernah ada. Aku memendam semuanya dalam 1 kardus biru muda yang begitu rahasia.

***

            Aku berjalan-jalan dengan sepadaku. Menyusuri setiap jalan yang berada di dekat rumahku. Entah mengapa aku ingin sekali berjalan-jalan. Aku hanya mengikuti langkah rodaku. Meracau bersama arah angin dan bermain dengan gemirisnya hujan. Aku terus berjalan. Ke kanan ke kiri, melewati persimpangan. Aku tidak mempunyai tujuan. Tapi aku tahu kemana aku harus melangkah.
            Aku sampai pada perumahan elite dekat jalan menuju rumahku. Luas dan rumah-rumahnya pun terkesan glamour. Entah mengapa aku kesini.
            5 menit kemudian, hujan deras mengguyur. Aku mengayuh sepedaku semakin kencang. Aku merasa aku harus pulang, ibu pasti khawatir, batinku.

***

            “Hai..”
            “Iya?”
            “Ini..”
            “Ini apa?”
            “Untuk kamu..”
            “Maaf sebelumnya, siapa ya?”
            “Bye! Aku buru-buru..”

***

Saat pria itu tiba-tiba datang dari arah berlawanan denganku, hujan sudah reda. Tadinya dia berjarak cukup jauh, tetapi lama-lama dia mendekatiku yang mengayuh sepeda melambat karena hujan sudah tidak deras.
            Pria itu aneh sekali. Mengantarkan kardus biru muda lucu yang entah isinya apa. Aku tak bergegas membukanya. Tetapi, karena penasaran, aku buka juga. Dia bilang kan ini untuk aku, aku membatin.
            Tapi, aku seperti kenal dengan pria itu, wajahnya familiar di mataku.

***

            “Ibu, ini dari cowok yang di rumah pelanggan ibu, maksudnya apa?” aku bergegas bertanya buru-buru dengan ibuku ketika sadar pria itu adalah pria anak dari pelanggan ibuku. Aku ingat sekarang.
            Dia melihat kardus itu perlahan. Membukanya pelan-pelan, dan membaca isinya satu persatu. Isinya memang kumpulan kertas berwarna biru. Aku tidak mengerti. Ibuku hanya tersenyum kecil, “Dia suka sama kamu kali..”
            “Tapi?”
            “Eh, ini ada pesan. ‘Temui aku di danau belakang perumahanku’ katanya.” Ibuku, dengan datar.
            “Sekarang bu?”
            “Iya.. cepetan gih, kamu penasaran kan?”

***

            Aku mengikuti saran dari ibuku untuk menemui pria aneh yang kutemui kemarin. Aku agak nekad memang. Terlalu mainstream rasanya megikuti petunjuk surat dari orang yang tidak pernah ku kenal sebelumnya. Dan lagi, dia juga tergolong pria aneh dan cukup misterius. Kami tiba-tiba bertemu dan dengan spontan dia memberiku kardus berwarna biru muda itu.

***

            Aku tidak percaya.. benar-benar tidak percaya. Aku merasakan ‘itu’!
           
            “Aku mencintaimu sejak kamu memperlakukan hujan. Dan aku memperlakukan hujan juga sama seperti itu. Hujan membuatku cinta padamu. Jadi..” kalimatnya tertahan.
            “Jadi apa? Siapa kamu?”
            “Azka Liando..” katanya lirih. Entah mengapa dia berkata lirih.
            “Tapi bagaimana bisa?”
            “Memang sedikit seperti sinetron. Tapi percayalah, aku mengenalmu dengan tidak sengaja. Dengan tidak sengaja melihatmu melakukan ritual aneh terhadap hujan. Aku menyukainya.”
            “Jadi?”
            “Keyla Andriya.. jadi.. ya gitu..”
            “Apanya?”
            “Aku mencintaimu melalui derasnya hujan. Dan aku, masih bisa melihatmu dibalik gemuruhnya hujan..”
            “Umm..”
            “Mau aku anter pulang?”
            Aku gugup. Detak jantungku tidak beraturan. Dan yang tidak mereka katakan tentang jatuh cinta adalah, perut yang seperti ada kupu-kupunya, perutku rasanya aneh sekali.

***

            Sejak saat itu kami jadi sering bertemu. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja dia datang ke sekolahku hampir setiap hari. Dia memang 2 tahun lebih tua daripada aku, tetapi aku tidak tahu bagaimana ceritanya dia bisa lebih dulu pulang duluan dan menyempatkan diri menjemputku dan memberi kejutan-kejutan kecil.
            Aku senang sekali. Dan entah, aku suka caranya memperlakukan wanita. Diam tetapi berani.
            Dia… berbeda.

***

            Hujan membawa serta cintaku. Jatuh cintaku.
            Aku semakin mencintai hujan.
            Hujan membuat wajahnya, terlihat lebih manis. Senyumnya, semakin gila-gilaan indahnya. Dan matanya, begitu teduh.
            Sama seperti hujan, aku begitu mencintainya. Entah sampai kapan, dan entah dari kapan.

0 comments:

Post a Comment

Jan 21, 2013

Hujan


            Aku menepi di sebuah halte bus. Hujan, lagi.
            Aroma hujan kali ini benar-benar pilu. Suaranya kian lirih. Membiarkan siapa saja ikut merintih dalam tetesan-tetesannya.
            Aku mencoba tidak kesal, dengan menikmati hamparan kesenduan yang Tuhan berikan lewat hujan. Aku meresapi rasanya. Nyaman. Disapu angin, udara dingin, dan air yang secara ajaib membuat suasana menjadi kelabu dengan tiba-tiba.
            Aku mendongakkan kepala dan memejamkan mata. Merasakan kenikmatan yang sedang terjadi. Aku selalu suka melakukan ritual ini setiap hujan.

***

            “Saat itu juga, aku merasakan aku mulai mencintaimu. Aku mencintaimu dengan caramu menikmati hujan. Aku mulai menirumu dan melakukan ritual yang sama setiap kali hujan turun. Aku merasakan kau ada dengan datangnya hujan. Ternyata, hujan bukan hanya membawa lirih, namun membawa cinta pula bersamaan dengan sendunya.” Aku menulis dalam sebuah kertas biru kecil dan segera kumasukkan dalam kardus berwarna biru pula.

***

            “Dek, besok anterin pesenan kue dari pelanggan ibu, bisa?”
            “Dimana bu?”
            “Rumahnya gedongan, perumahan di samping jalan di ujung gang rumah kita.”
            “Aku nggak perlu pake sepeda kan bu, kalo jalan ga jauh kan?”
            “Iya, bisa kok nak.” Katanya sambil merapihkan pakaian.
            Aku melanjutkan pekerjaan rumahku.

***

            “Akhirnya, aku bisa melihatmu dengan jarak sedekat ini. Tidak terbayang dibenakku kau akan datang kerumahku. Kenapa baru sekarang? Tetapi aku bersyukur kepada Tuhan. Dia yang telah membawamu kesini, bukan?” ku masukkan lagi lembaran selanjutnya untuk kardus biru mudaku.

***

            “Bu, itu rumah pelanggan ibu ada anak laki-lakinya yah?” aku bertanya antusias dan tidak sabar dengan jawaban dari ibuku.
            Dia melirik aneh kearahku, lalu tersenyum geli, “Iya, kenapa? Kamu suka ya?”
            “Emang boleh?” aku menatap aneh kearah mata ibuku yang hitam pekat.
            “Ya emang apa salahnya kalo kamu suka sama cowok? Emang ibu bisa larang?”
            “Kalo masih ada ayah, pasti ayah larang.”
            Ibuku hanya menatapku dengan tatapan aneh (lagi), dan melanjutkan adonan kue yang sedang dia aduk.


 ***

            Malam itu aneh, pinggangku seperti ingin copot, dan perutku sakit sekali. Dan yang lebih mengejutkan lagi, saat aku buang air kecil, aku mendapati celana dalamku berisikan darah yang cukup banyak. Aku langsung menangis dan berteriak ketakutan dengan kalap kepada ibuku.
            “Ibu, ikut Keyla sebentar, bu! Keyla berdarah!” kataku, khawatir dengan diriku sendiri. “Ibu cepet bu, Keyla takut! Kita harus ke dokter bu!” dengan cepat menarik-narik bajunya yang sedang memasukkan adonan kuenya ke dalam panggangan. Dia dengan cemas mengikutiku ke dalam kamar.
            Dia tertawa terbahak-bahak ketika dia melihat ‘itu’. Aku yang menangis jadi berhenti menangis dan malah menatap aneh kearah mata ibuku yang masih tertawa. Aku bingung apa yang sedang ia tertawakan.
            “Ibu.. ayo kita ke dokter bu, pinggang Keyla pegel ngga kaya biasanya dan perut Keyla melilit sakit banget, dan sekarang ‘itu’ Keyla berdarah. Ayo bu..” aku meringis lagi.
            “Anak ibu satu-satunya udah gede ya..”
            “Ibu.. ayo bu, Keyla lagi nggak becanda..” tangisku semakin menjadi-jadi seiring dengan tawa ibuku yang makin keras juga.
            “Dek, selamet ya!”
            “Ibu…” aku berteriak sambil menangis, merengek-rengek minta dibawa ke dokter sekarang juga.
            “Ayo, sini-sini ikut ibu. Naikin lagi celananya, duh duh nangis celananya belum dinaikin,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
            Tangisku reda dan sekarang aku malah merasa konyol sehabis menangis, karena celanaku belum kunaikkan saat aku menangis tadi. Aku mengikuti langkah ibuku.
            “Sini ibu gantiin, sekalian pakein sama ajarin kamu.”
            “Itu obat apa?”
            “Ini bukan obat. Cie, anak ibu udah remaja..”
            “Aku kan emang udah gede..” kataku dengan asal.
            “Kamu emang belum belajar ini di pelajaran biologi di sekolah?”
            “Materi apa?”
            “Anu loh.. kamu dapet.. anu..”
            “Datang bulan?” mataku berbinar-binar bangga.
            “Ya!” katanya tersenyum lebar.
            Kami berpelukan. Aku senang. Sangat senang.

            Itulah kali pertama aku ‘dapat’. Konyol, tapi sangat lucu juga. Bagaimana bisa aku sepanik itu, padahal itu materi yang ku pelajari ketika kelas 6 dan kala itu ketika aku kelas 1 SMP.
            Sejak itu juga, perubahan-perubahan lain muncul. Mulai dari yang sangat percaya diri, mulai malu-malu, dan mulai suka terhadap lawan jenis.
            Pertama sekali, saat kelas 3 SMP, aku berbicara kepada teman-temanku, bahwa aku menyukai salah satu teman sekelas kami. Mereka semua kaget, karena aku yang biasanya acuh, ternyata bisa memperhatikan pria juga. Kami hanya tertawa saja. Aku tidak menganggapnya serius dan mereka juga. Tidak pernah terlintas dibenakku untuk pacaran dengan siapapun. Aku kira diusia yang masih dini seperti itu, cinta hanyalah sekedar hiburan, cinta monyet.
            Dan saat ini, aku sudah SMA. Sudah merasakan perubahan-perubahan yang jauh berbeda dengan SMP layaknya wanita pada umumnya. Itu wajar, memang sudah sepantasnya pertumbuhan diusiaku yang segini.
            Tetapi aku belum juga merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Belum pernah. Sama sekali. Aku memang tidak iri dengan siapapun temanku yang sudah merasakan bagaimana rasanya berpacaran, tidak sama sekali. Tetapi, aku hanya penasaran, bagaimana rasanya? Aku pernah merasa gugup dan deg-degan, tapi itu hanya sebatas minder bicara di depan umum ketika ada ujian pidato dan lain-lain, tetapi jatuh cinta? Kata mereka, rasanya berbeda. Ada gejolak yang aneh, detak jantung tak beraturan, dan entah lah aku tidak mendengar baik apa yang mereka katakan.  Yang pasti, rasanya senang sekali.

***

            “Jika nanti harus ada yang kupilih jadi yang pertama, kamulah yang terpantas.” Aku meletakkan lagi selembar biru kedalam kardus biru itu. Aku bangga. Aku adalah secret admirer terhebat yang pernah ada. Aku memendam semuanya dalam 1 kardus biru muda yang begitu rahasia.

***

            Aku berjalan-jalan dengan sepadaku. Menyusuri setiap jalan yang berada di dekat rumahku. Entah mengapa aku ingin sekali berjalan-jalan. Aku hanya mengikuti langkah rodaku. Meracau bersama arah angin dan bermain dengan gemirisnya hujan. Aku terus berjalan. Ke kanan ke kiri, melewati persimpangan. Aku tidak mempunyai tujuan. Tapi aku tahu kemana aku harus melangkah.
            Aku sampai pada perumahan elite dekat jalan menuju rumahku. Luas dan rumah-rumahnya pun terkesan glamour. Entah mengapa aku kesini.
            5 menit kemudian, hujan deras mengguyur. Aku mengayuh sepedaku semakin kencang. Aku merasa aku harus pulang, ibu pasti khawatir, batinku.

***

            “Hai..”
            “Iya?”
            “Ini..”
            “Ini apa?”
            “Untuk kamu..”
            “Maaf sebelumnya, siapa ya?”
            “Bye! Aku buru-buru..”

***

Saat pria itu tiba-tiba datang dari arah berlawanan denganku, hujan sudah reda. Tadinya dia berjarak cukup jauh, tetapi lama-lama dia mendekatiku yang mengayuh sepeda melambat karena hujan sudah tidak deras.
            Pria itu aneh sekali. Mengantarkan kardus biru muda lucu yang entah isinya apa. Aku tak bergegas membukanya. Tetapi, karena penasaran, aku buka juga. Dia bilang kan ini untuk aku, aku membatin.
            Tapi, aku seperti kenal dengan pria itu, wajahnya familiar di mataku.

***

            “Ibu, ini dari cowok yang di rumah pelanggan ibu, maksudnya apa?” aku bergegas bertanya buru-buru dengan ibuku ketika sadar pria itu adalah pria anak dari pelanggan ibuku. Aku ingat sekarang.
            Dia melihat kardus itu perlahan. Membukanya pelan-pelan, dan membaca isinya satu persatu. Isinya memang kumpulan kertas berwarna biru. Aku tidak mengerti. Ibuku hanya tersenyum kecil, “Dia suka sama kamu kali..”
            “Tapi?”
            “Eh, ini ada pesan. ‘Temui aku di danau belakang perumahanku’ katanya.” Ibuku, dengan datar.
            “Sekarang bu?”
            “Iya.. cepetan gih, kamu penasaran kan?”

***

            Aku mengikuti saran dari ibuku untuk menemui pria aneh yang kutemui kemarin. Aku agak nekad memang. Terlalu mainstream rasanya megikuti petunjuk surat dari orang yang tidak pernah ku kenal sebelumnya. Dan lagi, dia juga tergolong pria aneh dan cukup misterius. Kami tiba-tiba bertemu dan dengan spontan dia memberiku kardus berwarna biru muda itu.

***

            Aku tidak percaya.. benar-benar tidak percaya. Aku merasakan ‘itu’!
           
            “Aku mencintaimu sejak kamu memperlakukan hujan. Dan aku memperlakukan hujan juga sama seperti itu. Hujan membuatku cinta padamu. Jadi..” kalimatnya tertahan.
            “Jadi apa? Siapa kamu?”
            “Azka Liando..” katanya lirih. Entah mengapa dia berkata lirih.
            “Tapi bagaimana bisa?”
            “Memang sedikit seperti sinetron. Tapi percayalah, aku mengenalmu dengan tidak sengaja. Dengan tidak sengaja melihatmu melakukan ritual aneh terhadap hujan. Aku menyukainya.”
            “Jadi?”
            “Keyla Andriya.. jadi.. ya gitu..”
            “Apanya?”
            “Aku mencintaimu melalui derasnya hujan. Dan aku, masih bisa melihatmu dibalik gemuruhnya hujan..”
            “Umm..”
            “Mau aku anter pulang?”
            Aku gugup. Detak jantungku tidak beraturan. Dan yang tidak mereka katakan tentang jatuh cinta adalah, perut yang seperti ada kupu-kupunya, perutku rasanya aneh sekali.

***

            Sejak saat itu kami jadi sering bertemu. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja dia datang ke sekolahku hampir setiap hari. Dia memang 2 tahun lebih tua daripada aku, tetapi aku tidak tahu bagaimana ceritanya dia bisa lebih dulu pulang duluan dan menyempatkan diri menjemputku dan memberi kejutan-kejutan kecil.
            Aku senang sekali. Dan entah, aku suka caranya memperlakukan wanita. Diam tetapi berani.
            Dia… berbeda.

***

            Hujan membawa serta cintaku. Jatuh cintaku.
            Aku semakin mencintai hujan.
            Hujan membuat wajahnya, terlihat lebih manis. Senyumnya, semakin gila-gilaan indahnya. Dan matanya, begitu teduh.
            Sama seperti hujan, aku begitu mencintainya. Entah sampai kapan, dan entah dari kapan.

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design