Aku
menepi di sebuah halte bus. Hujan, lagi.
Aroma
hujan kali ini benar-benar pilu. Suaranya kian lirih. Membiarkan siapa saja
ikut merintih dalam tetesan-tetesannya.
Aku
mencoba tidak kesal, dengan menikmati hamparan kesenduan yang Tuhan berikan
lewat hujan. Aku meresapi rasanya. Nyaman. Disapu angin, udara dingin, dan air
yang secara ajaib membuat suasana menjadi kelabu dengan tiba-tiba.
Aku
mendongakkan kepala dan memejamkan mata. Merasakan kenikmatan yang sedang
terjadi. Aku selalu suka melakukan ritual ini setiap hujan.
***
“Saat itu juga, aku merasakan aku mulai
mencintaimu. Aku mencintaimu dengan caramu menikmati hujan. Aku mulai menirumu
dan melakukan ritual yang sama setiap kali hujan turun. Aku merasakan kau ada
dengan datangnya hujan. Ternyata, hujan bukan hanya membawa lirih, namun
membawa cinta pula bersamaan dengan sendunya.” Aku menulis dalam sebuah
kertas biru kecil dan segera kumasukkan dalam kardus berwarna biru pula.
***
“Dek,
besok anterin pesenan kue dari pelanggan ibu, bisa?”
“Dimana
bu?”
“Rumahnya
gedongan, perumahan di samping jalan di ujung gang rumah kita.”
“Aku
nggak perlu pake sepeda kan bu, kalo jalan ga jauh kan?”
“Iya,
bisa kok nak.” Katanya sambil merapihkan pakaian.
Aku
melanjutkan pekerjaan rumahku.
***
“Akhirnya, aku bisa
melihatmu dengan jarak sedekat ini. Tidak terbayang dibenakku kau akan datang
kerumahku. Kenapa baru sekarang? Tetapi aku bersyukur kepada Tuhan. Dia yang
telah membawamu kesini, bukan?” ku masukkan lagi lembaran selanjutnya untuk
kardus biru mudaku.
***
“Bu, itu rumah pelanggan ibu ada anak laki-lakinya yah?”
aku bertanya antusias dan tidak sabar dengan jawaban dari ibuku.
Dia
melirik aneh kearahku, lalu tersenyum geli, “Iya, kenapa? Kamu suka ya?”
“Emang
boleh?” aku menatap aneh kearah mata ibuku yang hitam pekat.
“Ya
emang apa salahnya kalo kamu suka sama cowok? Emang ibu bisa larang?”
“Kalo
masih ada ayah, pasti ayah larang.”
Ibuku
hanya menatapku dengan tatapan aneh (lagi), dan melanjutkan adonan kue yang
sedang dia aduk.
***
Malam itu aneh, pinggangku seperti ingin
copot, dan perutku sakit sekali. Dan yang lebih mengejutkan lagi, saat aku
buang air kecil, aku mendapati celana dalamku berisikan darah yang cukup
banyak. Aku langsung menangis dan berteriak ketakutan dengan kalap kepada
ibuku.
“Ibu, ikut Keyla sebentar, bu! Keyla
berdarah!” kataku, khawatir dengan diriku sendiri. “Ibu cepet bu, Keyla takut!
Kita harus ke dokter bu!” dengan cepat menarik-narik bajunya yang sedang
memasukkan adonan kuenya ke dalam panggangan. Dia dengan cemas mengikutiku ke
dalam kamar.
Dia tertawa terbahak-bahak ketika
dia melihat ‘itu’. Aku yang menangis jadi berhenti menangis dan malah menatap aneh
kearah mata ibuku yang masih tertawa. Aku bingung apa yang sedang ia
tertawakan.
“Ibu.. ayo kita ke dokter bu,
pinggang Keyla pegel ngga kaya biasanya dan perut Keyla melilit sakit banget,
dan sekarang ‘itu’ Keyla berdarah. Ayo bu..” aku meringis lagi.
“Anak ibu satu-satunya udah gede
ya..”
“Ibu.. ayo bu, Keyla lagi nggak
becanda..” tangisku semakin menjadi-jadi seiring dengan tawa ibuku yang makin
keras juga.
“Dek, selamet ya!”
“Ibu…” aku berteriak sambil
menangis, merengek-rengek minta dibawa ke dokter sekarang juga.
“Ayo, sini-sini ikut ibu. Naikin
lagi celananya, duh duh nangis celananya belum dinaikin,” katanya sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
Tangisku reda dan sekarang aku malah
merasa konyol sehabis menangis, karena celanaku belum kunaikkan saat aku
menangis tadi. Aku mengikuti langkah ibuku.
“Sini ibu gantiin, sekalian pakein
sama ajarin kamu.”
“Itu obat apa?”
“Ini bukan obat. Cie, anak ibu udah
remaja..”
“Aku kan emang udah gede..” kataku
dengan asal.
“Kamu emang belum belajar ini di
pelajaran biologi di sekolah?”
“Materi apa?”
“Anu loh.. kamu dapet.. anu..”
“Datang bulan?” mataku
berbinar-binar bangga.
“Ya!” katanya tersenyum lebar.
Kami berpelukan. Aku senang. Sangat
senang.
Itulah kali
pertama aku ‘dapat’. Konyol, tapi sangat lucu juga. Bagaimana bisa aku sepanik
itu, padahal itu materi yang ku pelajari ketika kelas 6 dan kala itu ketika aku
kelas 1 SMP.
Sejak
itu juga, perubahan-perubahan lain muncul. Mulai dari yang sangat percaya diri,
mulai malu-malu, dan mulai suka terhadap lawan jenis.
Pertama
sekali, saat kelas 3 SMP, aku berbicara kepada teman-temanku, bahwa aku
menyukai salah satu teman sekelas kami. Mereka semua kaget, karena aku yang
biasanya acuh, ternyata bisa memperhatikan pria juga. Kami hanya tertawa saja.
Aku tidak menganggapnya serius dan mereka juga. Tidak pernah terlintas
dibenakku untuk pacaran dengan siapapun. Aku kira diusia yang masih dini
seperti itu, cinta hanyalah sekedar hiburan, cinta monyet.
Dan
saat ini, aku sudah SMA. Sudah merasakan perubahan-perubahan yang jauh berbeda
dengan SMP layaknya wanita pada umumnya. Itu wajar, memang sudah sepantasnya
pertumbuhan diusiaku yang segini.
Tetapi
aku belum juga merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Belum pernah. Sama
sekali. Aku memang tidak iri dengan siapapun temanku yang sudah merasakan
bagaimana rasanya berpacaran, tidak sama sekali. Tetapi, aku hanya penasaran,
bagaimana rasanya? Aku pernah merasa gugup dan deg-degan, tapi itu hanya
sebatas minder bicara di depan umum ketika ada ujian pidato dan lain-lain,
tetapi jatuh cinta? Kata mereka, rasanya berbeda. Ada gejolak yang aneh, detak
jantung tak beraturan, dan entah lah aku tidak mendengar baik apa yang mereka
katakan. Yang pasti, rasanya senang
sekali.
***
“Jika nanti harus ada yang kupilih
jadi yang pertama, kamulah yang terpantas.” Aku meletakkan
lagi selembar biru kedalam kardus biru itu. Aku bangga. Aku adalah secret admirer terhebat yang pernah ada.
Aku memendam semuanya dalam 1 kardus biru muda yang begitu rahasia.
***
Aku
berjalan-jalan dengan sepadaku. Menyusuri setiap jalan yang berada di dekat
rumahku. Entah mengapa aku ingin sekali berjalan-jalan. Aku hanya mengikuti
langkah rodaku. Meracau bersama arah angin dan bermain dengan gemirisnya hujan.
Aku terus berjalan. Ke kanan ke kiri, melewati persimpangan. Aku tidak
mempunyai tujuan. Tapi aku tahu kemana aku harus melangkah.
Aku
sampai pada perumahan elite dekat
jalan menuju rumahku. Luas dan rumah-rumahnya pun terkesan glamour. Entah mengapa aku kesini.
5
menit kemudian, hujan deras mengguyur. Aku mengayuh sepedaku semakin kencang.
Aku merasa aku harus pulang, ibu pasti
khawatir, batinku.
***
“Hai..”
“Iya?”
“Ini..”
“Ini apa?”
“Untuk kamu..”
“Maaf sebelumnya, siapa ya?”
“Bye! Aku buru-buru..”
***
Saat pria itu tiba-tiba datang dari arah berlawanan
denganku, hujan sudah reda. Tadinya dia berjarak cukup jauh, tetapi lama-lama
dia mendekatiku yang mengayuh sepeda melambat karena hujan sudah tidak deras.
Pria
itu aneh sekali. Mengantarkan kardus biru muda lucu yang entah isinya apa. Aku
tak bergegas membukanya. Tetapi, karena penasaran, aku buka juga. Dia bilang kan ini untuk aku, aku
membatin.
Tapi,
aku seperti kenal dengan pria itu, wajahnya familiar di mataku.
***
“Ibu, ini dari cowok yang di rumah pelanggan ibu,
maksudnya apa?” aku bergegas bertanya buru-buru dengan ibuku ketika sadar pria
itu adalah pria anak dari pelanggan ibuku. Aku ingat sekarang.
Dia melihat kardus itu perlahan. Membukanya pelan-pelan,
dan membaca isinya satu persatu. Isinya memang kumpulan kertas berwarna biru.
Aku tidak mengerti. Ibuku hanya tersenyum kecil, “Dia suka sama kamu kali..”
“Tapi?”
“Eh, ini ada pesan. ‘Temui aku di danau belakang
perumahanku’ katanya.” Ibuku, dengan datar.
“Sekarang bu?”
“Iya..
cepetan gih, kamu penasaran kan?”
***
Aku
mengikuti saran dari ibuku untuk menemui pria aneh yang kutemui kemarin. Aku
agak nekad memang. Terlalu mainstream rasanya megikuti petunjuk surat dari
orang yang tidak pernah ku kenal sebelumnya. Dan lagi, dia juga tergolong pria
aneh dan cukup misterius. Kami tiba-tiba bertemu dan dengan spontan dia
memberiku kardus berwarna biru muda itu.
***
Aku
tidak percaya.. benar-benar tidak percaya. Aku merasakan ‘itu’!
“Aku mencintaimu sejak kamu memperlakukan
hujan. Dan aku memperlakukan hujan juga sama seperti itu. Hujan membuatku cinta
padamu. Jadi..” kalimatnya tertahan.
“Jadi apa? Siapa kamu?”
“Azka Liando..” katanya lirih. Entah
mengapa dia berkata lirih.
“Tapi bagaimana bisa?”
“Memang sedikit seperti sinetron. Tapi
percayalah, aku mengenalmu dengan tidak sengaja. Dengan tidak sengaja melihatmu
melakukan ritual aneh terhadap hujan. Aku menyukainya.”
“Jadi?”
“Keyla Andriya.. jadi.. ya gitu..”
“Apanya?”
“Aku mencintaimu melalui derasnya
hujan. Dan aku, masih bisa melihatmu dibalik gemuruhnya hujan..”
“Umm..”
“Mau aku anter pulang?”
Aku
gugup. Detak jantungku tidak beraturan. Dan yang tidak mereka katakan tentang
jatuh cinta adalah, perut yang seperti ada kupu-kupunya, perutku rasanya aneh
sekali.
***
Sejak
saat itu kami jadi sering bertemu. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja
dia datang ke sekolahku hampir setiap hari. Dia memang 2 tahun lebih tua
daripada aku, tetapi aku tidak tahu bagaimana ceritanya dia bisa lebih dulu
pulang duluan dan menyempatkan diri menjemputku dan memberi kejutan-kejutan
kecil.
Aku
senang sekali. Dan entah, aku suka caranya memperlakukan wanita. Diam tetapi
berani.
Dia…
berbeda.
***
Hujan
membawa serta cintaku. Jatuh cintaku.
Aku
semakin mencintai hujan.
Hujan
membuat wajahnya, terlihat lebih manis. Senyumnya, semakin gila-gilaan
indahnya. Dan matanya, begitu teduh.
Sama
seperti hujan, aku begitu mencintainya. Entah sampai kapan, dan entah dari
kapan.
0 comments:
Post a Comment