Feb 25, 2013

Kanindy

            “Dek?” ibuku membangunkan tidur panjangku, “Udah baikan?” katanya lagi.
            Aku mengangguk lemah.
            “Mangkanya, mbok ya jangan suka main hujan gitu lho..” ujarnya pernuh perhatian sambil menyuapi sendok ke-5 bubur yang sedari tadi kupaksakan untuk kutelan.
            Beberapa saat kemudian hanya ada hening yang diiringi dentingan sendok dan mangkuk buburku yang beradu merdu dalam kamarku. Ibuku sibuk mengaduk-ngaduk buburku yang sebenarnya sudah teraduk karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan.
            “Permisi..” terdengar ketukan pintu kamarku yang memecahkan keheningan ibu dan aku. Ibuku bergegas membukakan pintu melihat siapa yang ada di hadapannya.
            “Oh, Rio.. ayo masuk!”
            “Yasudah, ibu permisi dulu, nak Rio nanti tolong suruh Nindynya minum obatnya yang udah ibu siapin disana ya,” katanya sambil menunjuk meja disamping tempat tidurku.
            “Ibu bu,” Rio sambil tersenyum ramahnya yang khas. Lalu, dia mendekat untuk melihatku lebih jelas dengan tatapan khawatir “Hai..” katanya.
            Aku hanya tersenyum tipis. Tenggorokanku kering dan malas sekali untuk sekedar berbicara membalas sapa laki-laki jangkung ini.
            “Udah baikan?” katanya lagi, tak berhenti berusaha mengajakku berbicara.
            Aku mengangguk pelan dan belum terlepas dari senyum tipisku.
            Dia tersenyum lebar. Senyumnya itu selalu menular, khas, dan sangat manis. Tetapi, kali ini aku tidak meleleh dibuatnya, malah biasa saja dengan senyuman ‘mematikan’-nya itu.
            “Minum obat dulu ya.”
            Aku mengangguk lemah, lagi-lagi membiarkan Rio menerima bahasa isyaratku yang berarti ‘iya’.
            “Maaf ya baru bisa jengukin sekarang,” rona wajahnya berubah menjadi sedikit murung penuh penyesalan.
            “Nggak apa-apa..” kataku seadanya.
            “Nanti kita bisa main lagi kan? Mangkanya kamu cepetan sembuh ya, Ka..” dia sedikit memohon.
            Aku mengangguk ceria. Sahabatku itu selalu punya cara membuat aku semangat.
***

            “Kakak, jangan gitu sama Kanin..” ibu yang masih terlihat muda itu memarahi anak kecil yang tadi mengolok-olok baju yang kupakai.
            “Kanin? Namanya jelek sekali, ma!” katanya sambil tertawa senang, seakan-akan namaku adalah lelucon paling menggelikan.
            “Namanya Kanindy, manis kok anaknya, pinter lagi..” sambil mengelus lembut rambut panjangku dan senyumnya yang belum lepas pada bibir tipisnya.
            Aku menunduk malu dan ingin menangis.
            “Kanin bebek gila.. kanin bebek gila..” katanya sambil tertawa-tawa riang seperti mendapat mainan baru dari mamanya.
            Aku menitihkan air mata. Menangis lebih keras saat teriakan dan tawa Rio semakin senang terdengar di telingaku. Aku berlari pulang. Siang itu benar-benar menyedihkan. Anak laki-laki tadi benar-benar menyebalkan. Dia tidak tahu saja aku sedang mencoba kostum yang akan aku pakai minggu besok, aku baru mendapat peran hebat dalam drama hebat yang diselenggarakan oleh sekolahku. Mulai siang itu, aku agak sebal tinggal di perumahan yang baru ini. Aku memang baru pindah satu minggu disini, tetapi ada saja yang membuat tidak betah.
            Aku melamun, terlintas lagi kenangan itu. Cerita konyol 12 tahun lalu, saat Rio lebih mirip seorang zombie daripada anak laki-laki bagiku. Memang, setelah itu mama Rio langsung kerumahku dan berbicara langsung dengan ibuku untuk meminta maaf karena perlakuan Rio terhadapku. Rio terlihat murung dan kepalanya tertunduk disebelah mamanya yang antusias berbicara segala hal sehabis meminta maaf kepada tetangga baru seperti ibuku.
            “Maafin Rio ya, Kanin..”
            Aku berlari ke kamarku saat dia menjulurkan tangan kanannya, aku merasa dia begitu jahat sehingga tidak pantas untuk kumaafkan.
            Ibuku mengetuk pintu kamarku. Aku masih menggerutu sebal di depan boneka-bonekaku. Aku terpaksa membuka pintu kamar.
            “Adek nggak boleh gitu, harus maafin orang yang minta maaf sama adek, dia kan cuma iseng. Nanti Kanin dosa, mau? Tuhan aja pemaaf..”
            Aku hanya mengangguk.
            “Ayo Rio, ajak Kanin main.”
            “Ayo, Kanin!” dia menarik lengan kiriku dan dengan malas ku perhatikan apa yang dia lakukan selanjutnya.
            Kami sampai di taman perumahan, yang ternyata lebih dekat dengan rumahku dibanding dengan rumah Rio.
            “Kanin bebek cantik, kok..” katanya tersenyum merayu. Aku geli sekali melihat tampang jahilnya yang merayu sekaligus dengan nada mengejek. Rona merah tampak pada kedua pipinya yang tebal, tetapi tatapan matanya begitu nakal. Mau tidak mau, aku tersenyum, lalu tertawa.
            “Maafin Rio ya,” dengan faseh menyebut R dalam nada bicaranya, aku sendiri belum bisa menyebut huruf R dengan benar dan sefaseh dia.
            Aku mengangguk.
            Sejak saat itu, umur 5 tahun, kami berteman akrab dan menjalin persahabatan.
***

            “Eh, Nindy.. dipanggil kak Odi,” seru temanku yang bernama Syahwa.

            “Hi, Nin..” suara berat itu sudah lama ku kenal sejak aku berada di SMA ini, dia kakak tingkatku yang ‘menel’–sebutan untuknya dari kawan-kawanku.
            Aku hanya mengangkat alis. Tidak begitu mengerti mengapa dia tiba-tiba memanggil namaku dengan gugup. Biasanya dia begitu santai dan tenang.
            “Pulang nanti ada acara?”
            Aku menggeleng cepat.
            “Pulang bareng gue, bisa?”
            “Bisa. Ada apa?”
            “Liat entar aja ya, Nin. Udah itu aja, si yuuu..” dengan nada centil dalam suaranya, sambil tersenyum jahil.

            “Ngapain tuh cina oleng?”
            “Kak Odi?”
            “Iyalah, siapa lagi?”
            “Ngajak pulang bareng dia,” kataku santai dan acuh.
            “Terus kamu mau?” jawabnya dengan mata terbelalak.
            “Emang kenapa harus nggak mau?” kataku mengangkat alis kiriku, menyelidik kalimat yang barusan Rio lontarkan dengan kaget.
            “Masa kamu nggak ngerti sih Kanin, gosipnya dia suka sama kamu.”
            “Kabar angin dipercaya, gimana kalo dia cuma iseng nganter gue balik karena capek ngeliat gue jalan kaki? terus kenapa lo jadi kebakaran jenggot gitu sih?” aku sekarang malah heran.
            “Nggak, gak apa-apa Ka.. balik ke kelas yuk!”
***

            Ternyata benar, kekhawatiran Rio itu hanya sekedar khawatir seorang sahabat saja. Buktinya, kak Odi hanya memintaku menemaninya makan siang.
            “Si Rio nggak khawatir, Nin?” membuka obrolan.
            “Tadi sih, pas abis lo manggil gue,” jawabku santai.
            “Kalian kapan jadiannya sih?”
            Aku kaget, lalu meluncurkan sepasang mata heran menatap kak Odi, namun aku berusaha untuk tetap bersikap tenang, “Apaan sih?”
            “Ampun deh nin, gak nyadar apa lo dia cinta gitu sama lo?”
            “Dia itu sahabat gue dari kecil. Doyan bikin gue nangis sampe bikin gue seneng. Demen jagain gue, perhatiin gue, ya dia emang gitu.”
            “Sikapnya beda kalo sama lo, and the way he looks at you.
            “Ha?”
            “Iyalah nin. Lo gak sadar?”
            “Sama sekali nggak, kak. Dia sahabat gue, gitu. Tetangga gue, abang gue, sodara gue.”
            “Lo gak peka juga ya, Nin. Terus perasaan lo ke dia cuma sekedar sahabat-deket-banget-dan-nempel-terus gitu aja?”
            Aku mengangguk pelan, lalu melanjutkan makan. Secara tidak sadar, sedang diinterogasi oleh kakak kelasnya.
            “Lo gak sayang sama dia?”
            “Sayang. Banget.”
            “Tuh!”
            “Ya emang kenapa? Dia kan sahabat gue? Lo kenapasih? Ribet lo ah!” aku melemparnya dengan tisu kotor.
            “Gue cemburu nin..” dengan suara yang pelan sambil menunduk.
            Aku diam, tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kak Odi karena terlalu fokus dengan ice cream.
            “Nin!!!!!!!” kak Odi berteriak.
            “Apa?” aku tetap tenang di tempatku masih fokus dengan es krimku.
            “Nggak, nin. Gak ada apa-apa. Udah belum? Balik yuk!”
***

            Sejak saat itu, kak Odi sering mengajakku pulang dengannya. Entah itu akan langsung pulang atau mampir ke tempat makan atau sekedar berjalan-jalan tidak memiliki arah, seperti sekarang.
            “Nin..” kak Odi memanggilku dengan nada –yang aneh ditelingaku–lembut, sambil mengecilkan suara radio dalam mobilnya.
            Aku hanya menoleh, menunggu apa yang akan dikatakan laki-laki beralis menyatu ini.
            “Pacaran sama gue, bisa?”
            “Odong-odong!!!!!”
            “Nin, gue serius? Jangan panggil gue odong-odong lagi kalo nggak mau jadi pacar gue.”
            “Kak…”
            “Iya, Nin? Kenapa?”
            You know me than I know myself, right? And you know that I can’t..” kataku sambil menundukan kepala, merasa ini adalah beban berat.
***

            “Terus kamu terima dia?” kata Rio kaget, kali ini benar-benar kaget.
            “Lo tuli atau gimana? Gue bilang ke dia, gue nggak bisa. Lo juga tau sendiri, abis di-ditch Kendi gue jadi males sama cowok.”
            “Kamu harusnya nggak gitu dong, kan gak semua cowok kaya Kendi..”
            “Cuma bapak gue sih, yang nggak kaya Kendi.”
            “Aku?”
            “Lo?”
            “Maksudnya, aku kan gak seburuk dia?”
            “Bisa jadi, tapi siapa yang tau..”
            “Terus kak Odi gimana?”
            “Dia megang tangan gue, terus dia bilang nggak apa-apa sambil senyum.”
            “Dia megang tangan kamu terus kamu gak marah?” mata Rio penuh amarah.
            “Apaansih, yo?”
            “Aku aja belum pernah megang tangan kamu..”
            “Ya terus?”
            “Ya aku cemburu, Nin!” katanya, sambil membuang muka.
            “Lo cemburu sama ‘Kanin bebek jelek’ macem gue?” selidikku.
            “Gak tau deh, Nin. Aku pulang ya!”
***

            “Di dunia ini banyak cewek cantik yang beruntung. Gue kadang iri sama mereka. Gimana mereka bisa punya pacar yang ganteng dan suka ngasih mereka kejutan. Gimana mereka bisa main kapan aja mereka suka, dan punya gadget yang lagi in. Coba gue? Main aja mesti nabung dulu. Punya pacar jarang-jarang yang nyenengin, nyakitin iya juga. Untung aja gue masih sanggup ngucap syukur,” ujarku sambil bertopang dagu pada meja café.
            “Cantik itu relatif sih..” kata kak Odi hati-hati.
            “Relatif seksinya, relatif putihnya, relatif panjang rambutnya, iya nggak?”
            “Kenapasih, Nin?”
            “Minder, bang..”
            “Lo selalu percaya diri gue perhatiin, lo tuh terlalu membatasi diri. Oh iya, kapan sih lo bakal jadian sama Rio? Gak sabar gue..”
            “Dia sahabat gue, jadian apanya?”

            “Nin!”
            “Iya, yo, bentar. Bang, duluan ya!”
            Kak Odi hanya mengangguk pelan, lalu aku agak berlari untuk menyusul Rio.
            “Aku mau ngomong..”
            “Apaan lagi sih, yo?”
***

            “Sahabat itu tetep sahabat yo, sahabat jadi cinta itu cuma ada di novel..” aku menunduk sedih karena merasa bersalah.
            “Tapi, apa nggak bisa lebih ya, Nin? Aku sayangnya cuma sama kamu. Aku udah suka sama kamu dari kamu kecil, sampe kita segede ini. Masa kamu nggak pernah ngerasa aku suka kamu?”
            “Kita masih bisa jadi sahabat aja kan yo?”
            “Oke, makasih Nin..”
            “Yo..”
            “Iya?”
            “Tapi, gue nggak bohong kok. Gue emang sayang sama lo, banget. Tapi nggak untuk ngejalin hubungan.”
            “Iya, Nin.”
            Aku teringat lagi obrolan sore hari tadi saat Rio bilang dia menyayangiku. Tetapi, aku bilang dia hanyalah… sahabatku. Rio tetap sahabatku, dan kami tetap bersahabat. Kak Odi tetap menjadi abangku, dan Kendi, masih bagian dari masa lalu kelamku.
***

            “Kanindy?”
            Aku mengangkat alis, tidak merasa kenal dengan sosok yang sekarang berada di hadapanku ini.
            “Oh iya, gue editor di majalah GADIS. Gue disuruh pak Danang wakilin dia buat ketemu sama lo.”
            “Oh..”
            “Cerpen lo bagus, dan katanya pak Danang mau nawarin kontrak buat angkat lo jadi penulis cerpen atau tetap untuk halaman 15-17. Perbulan 2 kali lo harus ngirim karya lo, date line 3 hari sebelum cerpen dimunculin. Tanda tangan disini, dan selamat bekerja sama!” dia tersenyum hangat, dan menyodorkan pena.
            “Makasih…?”
            “Tian.”
            Thanks.. gue kirimin e-mail aja ke lo untuk cerpen yang mau gue munculin, soalnya gue banyak urusan sekolah, dan karena kantor majalah GADIS yang lumayan sih dari rumah gue. Bisa?”
            “Umm.. bisa.”
            “Oke, bye!”
            “Eh…?”
            “Iya?”
            “Mau bareng sama gue? Tapi naik bus.”
            “Gue biasa jalan kaki sih, café ini kebetulan cuma beberapa blok dari rumah gue. Jadi percuma buang duit untuk naik bus.”
            “Kebetulan juga sih, gue baru pindah ke daerah sini. Yuk bareng, partner.
***

            Matanya teduh. Kilatan dalam matanya berbinar. Senyumnya hangat sekaligus menular. Ada goresan keterpaksaan memang saat dia mencoba tersenyum, tetapi ketulusan juga menyertai segaris senyum itu.
            Aku tidak bisa mengontrol ini, perutku tidak enak. Kurasakan, banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya. Aku mencoba mengatur detak jantungku yang mulai gila. Dan nafasku yang tidak teratur lagi.
            I’m flying without wings…
            Aku menyadarinya sekarang. Dia membawaku terbang tinggi kesana-kemari, hingga kurasa aku dan ragaku mulai berpisah, tapi aku menikmati ini.
            Jatuh cinta…
My dearest, Kanindy.
***

            Tian mencoba menyibak rambut-rambut kecil yang menutupi keningku. Dia begitu serius memperhatikanku saat aku sedang mengetik cerpen baru di café biasa kami bertemu.
            Aku gugup. Tidak ada seorang pun yang memperhatikanku sebegitu serius dan fokus. Aku jadi salah tingkah dan tidak enak. Aku bukanlah seorang wanita yang cukup cantik. Tidak untuk seorang Tian yang begitu menawan.
            Dia melingkarkan tangannya pada bahuku. Mendekatkan tubuhnya di samping tubuhku. Aku semakin gugup.
            “Nin?” dia masih fokus menatap wajahku, sekarang dia semakin mendekat. Nada suaranya juga melembut. Entah mengapa, aku sangat nyaman. Ada aliran listrik yang menyentak jantungku.
            Aku hanya bisa ber-ehem, menandakan kalimat ‘apa?’ pada Tian, pura-pura serius pada cerpen yang sedang aku buat, padahal aku sedang mencoba untuk tetap tenang memperbaiki jantungku yang hampir melorot. God, help me! Aku membatin.
            “Kamu sadar nggak kamu cantik?”
            “Nggak..”
            “Oh gitu..” dia melonggarkan jaraknya denganku, melepas lingkaran tangannya pada bahuku dan tidak menatapku lagi.
            Aku agak sedih, Tuhan! Pertolonganmu cepat sekali, tapi kenapa aku jadi nyesel minta tolong pada-Mu? Aku lebih nyaman di posisi tadi.. aku malah membatin.
            Hening.
            Masih hening.

            “Udah nih..”
            “Cewek jenius. Entar gue periksa ya..”
            Aku mengangguk pelan.
            Dia mengacak-acak rambutku dan menarik ikat rambutku, hingga rambutku terurai. “Lo ini apa-apaan!”
            “Uw uw uw lo marah makin imut ya!”
            “Apasih lo!” aku mendengus sebal.
            “Nin?”
            “Apa?” nada bicaraku agak keras.
            “Balik yuk!”
            Aku langsung berdiri, membenarkan mini dress-ku. Lalu mengambil tas dan berjalan menuju pintu keluar.

16:47 Penjalanan pulang yang canggung…
            Hati dan pikiranku bentrok, bertengkar satu sama lain. Hatiku berbicara ‘kau jatuh cinta’ dan pikiranku berkata ‘kau bodoh!’
            “Nin?” Tian memecahkan keheningan.
            Aku hanya menoleh, menunggu apa yang akan dikatakan laki-laki berkumis tipis ini.
            “Rio itu siapa?”
            “Sahabat dari kecil.”
            “Kalian pacaran?”
            “Kenapa semua orang bilang gitu?” aku mengangkat kedua alisku.
            “Cara dia ngeliat kamu, sikap dia, perhatian dia, beda…”
            “Aku pernah bilang nggak untuk itu..” tanpa sadar, aku terbawa suasana sehingga memakai aksen ‘aku-kamu’
            “Terus? Kenapa sekarang dia masih deket sama kamu?”
            “Itu resiko dia, kenapa sih?”
            Dia berhenti. Aku yang sedari tadi menunduk dan berjalan dibelakangnya menabrak tubuhnya yang kurus.
            “Aw..” aku merintih saat kepalaku menabrak bahunya.
            “Sakit?” dia terlihat khawatir.
            “Nggak..”
            Lalu, sejurus kemudian, dia diniup-niupi kepalaku yang menabrak bahunya. Lalu mencium keningku. Aliran listrik itu terasa lagi. kehangatan itupun muncul seketika. Aku tidak tahu harus marah atau apa? Aku malah merasa… senang.
            “Udah sembuh kan?”
            Aku hanya tersenyum malu. Semakin menunduk menyembunyikan pipiku yang mungkin sudah merona menjadi merah padam dan mencoba untuk menenangkan debar jantungku yang tak beraturan.
***

            “Lo pasti masih marah?”
            “Nggak kok, Nin.” Rio tersenyum manis.
            “Gimana kalo gue suka sama orang?”
            “Siapa?”
            “Kan kata gue kalo..” jawabku gelagapan.
            “Jangan bohong!” suaranya agak mendengking, aku sedikit ketakutan.
            “Hmm.. pasti lo sakit hati.”
            “Siapa, Nin!!!?” suaranya semakin serak dan berat.
            “Tian!” aku menutup wajahku… menangis.
            Rio diam.
            Hening.
            “Bye, Nin! Lo harus cari siapa yang pantes buat hapus air mata itu.”
***

Sebulan kemudian…

            “Jangan dengerin kata mereka. Maaf udah buat kamu dibenci sama temen-temen kamu. Yang pasti, aku sayang sama kamu.”
            Aku mengangguk pasrah. Kali ini yang bisa kulakukan hanyalah menangis.
            Tian memelukku, dan aku menangis keras dalam dadanya. Begitu nyaman.
            Rio pindah ke luar kota seminggu setelah dia marah hebat. Aku tahu ini bukan kebetulan, pasti dia yang meminta mama dan papanya untuk pindah. Dan alasannya adalah aku. Karena aku sudah menyakiti hatinya. Terlalu menyakitinya. Hingga dia tidak tahan. Dan cinta itu berubah menjadi kebencian… cinta Rio menjadi rasa benci yang teramat sangat kepadaku.
            Aku sudah mencoba menghubunginya, meminta nomor teleponnya yang baru kepada ibuku lewat mamanya, tetapi tetap saja, tidak ada jawaban. Nomor handphone-nya aktif namun tiap kali aku sms atau telepon, selalu tidak ada jawaban. Hasilnya nihil. Rio benar-benar membenciku…
            Yang bisa kutekadkan sekarang, dibenci adalah resiko, satu-satunya jalan, pilihan yang telah aku ambil dan harus kupertanggung jawabkan.
***

Di belahan dunia yang lain…

            Aku pikir ini adalah satu-satunya obat. Pergi jauh dan tidak pernah kembali lagi. Mengubur semuanya menjadi kenangan manis. Berdiri tegap dan tidak menoleh kebelakang. Aku tidak membencinya, hanya saja, terkadang menjauh lebih baik.
            Kanindy adalah seonggok kenangan…

            “Hi, tetangga baru!” suaranya begitu ceria.
            “Hi..”
            “Mau jalan-jalan? Disini banyak tempat hebat yang luar biasa menakjubkan! Kamu harus lihat! Ayo!” katanya riang, sambil menarik lengan Rio dengan senangnya. Matanya memiliki binar-binar kebahagiaan seperti anak kecil yang diberi es krim atau lollipop.
            Getaran ini… batin Rio menangkap sesuatu. Getaran yang sama yang dia rasakan saat bersama Kanin. Iya, getaran itu… getaran hebat yang membuatnya takluk, sabar, bahagia, dan sakit secara bersamaan.

THE END

0 comments:

Post a Comment

Feb 25, 2013

Kanindy

            “Dek?” ibuku membangunkan tidur panjangku, “Udah baikan?” katanya lagi.
            Aku mengangguk lemah.
            “Mangkanya, mbok ya jangan suka main hujan gitu lho..” ujarnya pernuh perhatian sambil menyuapi sendok ke-5 bubur yang sedari tadi kupaksakan untuk kutelan.
            Beberapa saat kemudian hanya ada hening yang diiringi dentingan sendok dan mangkuk buburku yang beradu merdu dalam kamarku. Ibuku sibuk mengaduk-ngaduk buburku yang sebenarnya sudah teraduk karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan.
            “Permisi..” terdengar ketukan pintu kamarku yang memecahkan keheningan ibu dan aku. Ibuku bergegas membukakan pintu melihat siapa yang ada di hadapannya.
            “Oh, Rio.. ayo masuk!”
            “Yasudah, ibu permisi dulu, nak Rio nanti tolong suruh Nindynya minum obatnya yang udah ibu siapin disana ya,” katanya sambil menunjuk meja disamping tempat tidurku.
            “Ibu bu,” Rio sambil tersenyum ramahnya yang khas. Lalu, dia mendekat untuk melihatku lebih jelas dengan tatapan khawatir “Hai..” katanya.
            Aku hanya tersenyum tipis. Tenggorokanku kering dan malas sekali untuk sekedar berbicara membalas sapa laki-laki jangkung ini.
            “Udah baikan?” katanya lagi, tak berhenti berusaha mengajakku berbicara.
            Aku mengangguk pelan dan belum terlepas dari senyum tipisku.
            Dia tersenyum lebar. Senyumnya itu selalu menular, khas, dan sangat manis. Tetapi, kali ini aku tidak meleleh dibuatnya, malah biasa saja dengan senyuman ‘mematikan’-nya itu.
            “Minum obat dulu ya.”
            Aku mengangguk lemah, lagi-lagi membiarkan Rio menerima bahasa isyaratku yang berarti ‘iya’.
            “Maaf ya baru bisa jengukin sekarang,” rona wajahnya berubah menjadi sedikit murung penuh penyesalan.
            “Nggak apa-apa..” kataku seadanya.
            “Nanti kita bisa main lagi kan? Mangkanya kamu cepetan sembuh ya, Ka..” dia sedikit memohon.
            Aku mengangguk ceria. Sahabatku itu selalu punya cara membuat aku semangat.
***

            “Kakak, jangan gitu sama Kanin..” ibu yang masih terlihat muda itu memarahi anak kecil yang tadi mengolok-olok baju yang kupakai.
            “Kanin? Namanya jelek sekali, ma!” katanya sambil tertawa senang, seakan-akan namaku adalah lelucon paling menggelikan.
            “Namanya Kanindy, manis kok anaknya, pinter lagi..” sambil mengelus lembut rambut panjangku dan senyumnya yang belum lepas pada bibir tipisnya.
            Aku menunduk malu dan ingin menangis.
            “Kanin bebek gila.. kanin bebek gila..” katanya sambil tertawa-tawa riang seperti mendapat mainan baru dari mamanya.
            Aku menitihkan air mata. Menangis lebih keras saat teriakan dan tawa Rio semakin senang terdengar di telingaku. Aku berlari pulang. Siang itu benar-benar menyedihkan. Anak laki-laki tadi benar-benar menyebalkan. Dia tidak tahu saja aku sedang mencoba kostum yang akan aku pakai minggu besok, aku baru mendapat peran hebat dalam drama hebat yang diselenggarakan oleh sekolahku. Mulai siang itu, aku agak sebal tinggal di perumahan yang baru ini. Aku memang baru pindah satu minggu disini, tetapi ada saja yang membuat tidak betah.
            Aku melamun, terlintas lagi kenangan itu. Cerita konyol 12 tahun lalu, saat Rio lebih mirip seorang zombie daripada anak laki-laki bagiku. Memang, setelah itu mama Rio langsung kerumahku dan berbicara langsung dengan ibuku untuk meminta maaf karena perlakuan Rio terhadapku. Rio terlihat murung dan kepalanya tertunduk disebelah mamanya yang antusias berbicara segala hal sehabis meminta maaf kepada tetangga baru seperti ibuku.
            “Maafin Rio ya, Kanin..”
            Aku berlari ke kamarku saat dia menjulurkan tangan kanannya, aku merasa dia begitu jahat sehingga tidak pantas untuk kumaafkan.
            Ibuku mengetuk pintu kamarku. Aku masih menggerutu sebal di depan boneka-bonekaku. Aku terpaksa membuka pintu kamar.
            “Adek nggak boleh gitu, harus maafin orang yang minta maaf sama adek, dia kan cuma iseng. Nanti Kanin dosa, mau? Tuhan aja pemaaf..”
            Aku hanya mengangguk.
            “Ayo Rio, ajak Kanin main.”
            “Ayo, Kanin!” dia menarik lengan kiriku dan dengan malas ku perhatikan apa yang dia lakukan selanjutnya.
            Kami sampai di taman perumahan, yang ternyata lebih dekat dengan rumahku dibanding dengan rumah Rio.
            “Kanin bebek cantik, kok..” katanya tersenyum merayu. Aku geli sekali melihat tampang jahilnya yang merayu sekaligus dengan nada mengejek. Rona merah tampak pada kedua pipinya yang tebal, tetapi tatapan matanya begitu nakal. Mau tidak mau, aku tersenyum, lalu tertawa.
            “Maafin Rio ya,” dengan faseh menyebut R dalam nada bicaranya, aku sendiri belum bisa menyebut huruf R dengan benar dan sefaseh dia.
            Aku mengangguk.
            Sejak saat itu, umur 5 tahun, kami berteman akrab dan menjalin persahabatan.
***

            “Eh, Nindy.. dipanggil kak Odi,” seru temanku yang bernama Syahwa.

            “Hi, Nin..” suara berat itu sudah lama ku kenal sejak aku berada di SMA ini, dia kakak tingkatku yang ‘menel’–sebutan untuknya dari kawan-kawanku.
            Aku hanya mengangkat alis. Tidak begitu mengerti mengapa dia tiba-tiba memanggil namaku dengan gugup. Biasanya dia begitu santai dan tenang.
            “Pulang nanti ada acara?”
            Aku menggeleng cepat.
            “Pulang bareng gue, bisa?”
            “Bisa. Ada apa?”
            “Liat entar aja ya, Nin. Udah itu aja, si yuuu..” dengan nada centil dalam suaranya, sambil tersenyum jahil.

            “Ngapain tuh cina oleng?”
            “Kak Odi?”
            “Iyalah, siapa lagi?”
            “Ngajak pulang bareng dia,” kataku santai dan acuh.
            “Terus kamu mau?” jawabnya dengan mata terbelalak.
            “Emang kenapa harus nggak mau?” kataku mengangkat alis kiriku, menyelidik kalimat yang barusan Rio lontarkan dengan kaget.
            “Masa kamu nggak ngerti sih Kanin, gosipnya dia suka sama kamu.”
            “Kabar angin dipercaya, gimana kalo dia cuma iseng nganter gue balik karena capek ngeliat gue jalan kaki? terus kenapa lo jadi kebakaran jenggot gitu sih?” aku sekarang malah heran.
            “Nggak, gak apa-apa Ka.. balik ke kelas yuk!”
***

            Ternyata benar, kekhawatiran Rio itu hanya sekedar khawatir seorang sahabat saja. Buktinya, kak Odi hanya memintaku menemaninya makan siang.
            “Si Rio nggak khawatir, Nin?” membuka obrolan.
            “Tadi sih, pas abis lo manggil gue,” jawabku santai.
            “Kalian kapan jadiannya sih?”
            Aku kaget, lalu meluncurkan sepasang mata heran menatap kak Odi, namun aku berusaha untuk tetap bersikap tenang, “Apaan sih?”
            “Ampun deh nin, gak nyadar apa lo dia cinta gitu sama lo?”
            “Dia itu sahabat gue dari kecil. Doyan bikin gue nangis sampe bikin gue seneng. Demen jagain gue, perhatiin gue, ya dia emang gitu.”
            “Sikapnya beda kalo sama lo, and the way he looks at you.
            “Ha?”
            “Iyalah nin. Lo gak sadar?”
            “Sama sekali nggak, kak. Dia sahabat gue, gitu. Tetangga gue, abang gue, sodara gue.”
            “Lo gak peka juga ya, Nin. Terus perasaan lo ke dia cuma sekedar sahabat-deket-banget-dan-nempel-terus gitu aja?”
            Aku mengangguk pelan, lalu melanjutkan makan. Secara tidak sadar, sedang diinterogasi oleh kakak kelasnya.
            “Lo gak sayang sama dia?”
            “Sayang. Banget.”
            “Tuh!”
            “Ya emang kenapa? Dia kan sahabat gue? Lo kenapasih? Ribet lo ah!” aku melemparnya dengan tisu kotor.
            “Gue cemburu nin..” dengan suara yang pelan sambil menunduk.
            Aku diam, tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kak Odi karena terlalu fokus dengan ice cream.
            “Nin!!!!!!!” kak Odi berteriak.
            “Apa?” aku tetap tenang di tempatku masih fokus dengan es krimku.
            “Nggak, nin. Gak ada apa-apa. Udah belum? Balik yuk!”
***

            Sejak saat itu, kak Odi sering mengajakku pulang dengannya. Entah itu akan langsung pulang atau mampir ke tempat makan atau sekedar berjalan-jalan tidak memiliki arah, seperti sekarang.
            “Nin..” kak Odi memanggilku dengan nada –yang aneh ditelingaku–lembut, sambil mengecilkan suara radio dalam mobilnya.
            Aku hanya menoleh, menunggu apa yang akan dikatakan laki-laki beralis menyatu ini.
            “Pacaran sama gue, bisa?”
            “Odong-odong!!!!!”
            “Nin, gue serius? Jangan panggil gue odong-odong lagi kalo nggak mau jadi pacar gue.”
            “Kak…”
            “Iya, Nin? Kenapa?”
            You know me than I know myself, right? And you know that I can’t..” kataku sambil menundukan kepala, merasa ini adalah beban berat.
***

            “Terus kamu terima dia?” kata Rio kaget, kali ini benar-benar kaget.
            “Lo tuli atau gimana? Gue bilang ke dia, gue nggak bisa. Lo juga tau sendiri, abis di-ditch Kendi gue jadi males sama cowok.”
            “Kamu harusnya nggak gitu dong, kan gak semua cowok kaya Kendi..”
            “Cuma bapak gue sih, yang nggak kaya Kendi.”
            “Aku?”
            “Lo?”
            “Maksudnya, aku kan gak seburuk dia?”
            “Bisa jadi, tapi siapa yang tau..”
            “Terus kak Odi gimana?”
            “Dia megang tangan gue, terus dia bilang nggak apa-apa sambil senyum.”
            “Dia megang tangan kamu terus kamu gak marah?” mata Rio penuh amarah.
            “Apaansih, yo?”
            “Aku aja belum pernah megang tangan kamu..”
            “Ya terus?”
            “Ya aku cemburu, Nin!” katanya, sambil membuang muka.
            “Lo cemburu sama ‘Kanin bebek jelek’ macem gue?” selidikku.
            “Gak tau deh, Nin. Aku pulang ya!”
***

            “Di dunia ini banyak cewek cantik yang beruntung. Gue kadang iri sama mereka. Gimana mereka bisa punya pacar yang ganteng dan suka ngasih mereka kejutan. Gimana mereka bisa main kapan aja mereka suka, dan punya gadget yang lagi in. Coba gue? Main aja mesti nabung dulu. Punya pacar jarang-jarang yang nyenengin, nyakitin iya juga. Untung aja gue masih sanggup ngucap syukur,” ujarku sambil bertopang dagu pada meja café.
            “Cantik itu relatif sih..” kata kak Odi hati-hati.
            “Relatif seksinya, relatif putihnya, relatif panjang rambutnya, iya nggak?”
            “Kenapasih, Nin?”
            “Minder, bang..”
            “Lo selalu percaya diri gue perhatiin, lo tuh terlalu membatasi diri. Oh iya, kapan sih lo bakal jadian sama Rio? Gak sabar gue..”
            “Dia sahabat gue, jadian apanya?”

            “Nin!”
            “Iya, yo, bentar. Bang, duluan ya!”
            Kak Odi hanya mengangguk pelan, lalu aku agak berlari untuk menyusul Rio.
            “Aku mau ngomong..”
            “Apaan lagi sih, yo?”
***

            “Sahabat itu tetep sahabat yo, sahabat jadi cinta itu cuma ada di novel..” aku menunduk sedih karena merasa bersalah.
            “Tapi, apa nggak bisa lebih ya, Nin? Aku sayangnya cuma sama kamu. Aku udah suka sama kamu dari kamu kecil, sampe kita segede ini. Masa kamu nggak pernah ngerasa aku suka kamu?”
            “Kita masih bisa jadi sahabat aja kan yo?”
            “Oke, makasih Nin..”
            “Yo..”
            “Iya?”
            “Tapi, gue nggak bohong kok. Gue emang sayang sama lo, banget. Tapi nggak untuk ngejalin hubungan.”
            “Iya, Nin.”
            Aku teringat lagi obrolan sore hari tadi saat Rio bilang dia menyayangiku. Tetapi, aku bilang dia hanyalah… sahabatku. Rio tetap sahabatku, dan kami tetap bersahabat. Kak Odi tetap menjadi abangku, dan Kendi, masih bagian dari masa lalu kelamku.
***

            “Kanindy?”
            Aku mengangkat alis, tidak merasa kenal dengan sosok yang sekarang berada di hadapanku ini.
            “Oh iya, gue editor di majalah GADIS. Gue disuruh pak Danang wakilin dia buat ketemu sama lo.”
            “Oh..”
            “Cerpen lo bagus, dan katanya pak Danang mau nawarin kontrak buat angkat lo jadi penulis cerpen atau tetap untuk halaman 15-17. Perbulan 2 kali lo harus ngirim karya lo, date line 3 hari sebelum cerpen dimunculin. Tanda tangan disini, dan selamat bekerja sama!” dia tersenyum hangat, dan menyodorkan pena.
            “Makasih…?”
            “Tian.”
            Thanks.. gue kirimin e-mail aja ke lo untuk cerpen yang mau gue munculin, soalnya gue banyak urusan sekolah, dan karena kantor majalah GADIS yang lumayan sih dari rumah gue. Bisa?”
            “Umm.. bisa.”
            “Oke, bye!”
            “Eh…?”
            “Iya?”
            “Mau bareng sama gue? Tapi naik bus.”
            “Gue biasa jalan kaki sih, café ini kebetulan cuma beberapa blok dari rumah gue. Jadi percuma buang duit untuk naik bus.”
            “Kebetulan juga sih, gue baru pindah ke daerah sini. Yuk bareng, partner.
***

            Matanya teduh. Kilatan dalam matanya berbinar. Senyumnya hangat sekaligus menular. Ada goresan keterpaksaan memang saat dia mencoba tersenyum, tetapi ketulusan juga menyertai segaris senyum itu.
            Aku tidak bisa mengontrol ini, perutku tidak enak. Kurasakan, banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya. Aku mencoba mengatur detak jantungku yang mulai gila. Dan nafasku yang tidak teratur lagi.
            I’m flying without wings…
            Aku menyadarinya sekarang. Dia membawaku terbang tinggi kesana-kemari, hingga kurasa aku dan ragaku mulai berpisah, tapi aku menikmati ini.
            Jatuh cinta…
My dearest, Kanindy.
***

            Tian mencoba menyibak rambut-rambut kecil yang menutupi keningku. Dia begitu serius memperhatikanku saat aku sedang mengetik cerpen baru di café biasa kami bertemu.
            Aku gugup. Tidak ada seorang pun yang memperhatikanku sebegitu serius dan fokus. Aku jadi salah tingkah dan tidak enak. Aku bukanlah seorang wanita yang cukup cantik. Tidak untuk seorang Tian yang begitu menawan.
            Dia melingkarkan tangannya pada bahuku. Mendekatkan tubuhnya di samping tubuhku. Aku semakin gugup.
            “Nin?” dia masih fokus menatap wajahku, sekarang dia semakin mendekat. Nada suaranya juga melembut. Entah mengapa, aku sangat nyaman. Ada aliran listrik yang menyentak jantungku.
            Aku hanya bisa ber-ehem, menandakan kalimat ‘apa?’ pada Tian, pura-pura serius pada cerpen yang sedang aku buat, padahal aku sedang mencoba untuk tetap tenang memperbaiki jantungku yang hampir melorot. God, help me! Aku membatin.
            “Kamu sadar nggak kamu cantik?”
            “Nggak..”
            “Oh gitu..” dia melonggarkan jaraknya denganku, melepas lingkaran tangannya pada bahuku dan tidak menatapku lagi.
            Aku agak sedih, Tuhan! Pertolonganmu cepat sekali, tapi kenapa aku jadi nyesel minta tolong pada-Mu? Aku lebih nyaman di posisi tadi.. aku malah membatin.
            Hening.
            Masih hening.

            “Udah nih..”
            “Cewek jenius. Entar gue periksa ya..”
            Aku mengangguk pelan.
            Dia mengacak-acak rambutku dan menarik ikat rambutku, hingga rambutku terurai. “Lo ini apa-apaan!”
            “Uw uw uw lo marah makin imut ya!”
            “Apasih lo!” aku mendengus sebal.
            “Nin?”
            “Apa?” nada bicaraku agak keras.
            “Balik yuk!”
            Aku langsung berdiri, membenarkan mini dress-ku. Lalu mengambil tas dan berjalan menuju pintu keluar.

16:47 Penjalanan pulang yang canggung…
            Hati dan pikiranku bentrok, bertengkar satu sama lain. Hatiku berbicara ‘kau jatuh cinta’ dan pikiranku berkata ‘kau bodoh!’
            “Nin?” Tian memecahkan keheningan.
            Aku hanya menoleh, menunggu apa yang akan dikatakan laki-laki berkumis tipis ini.
            “Rio itu siapa?”
            “Sahabat dari kecil.”
            “Kalian pacaran?”
            “Kenapa semua orang bilang gitu?” aku mengangkat kedua alisku.
            “Cara dia ngeliat kamu, sikap dia, perhatian dia, beda…”
            “Aku pernah bilang nggak untuk itu..” tanpa sadar, aku terbawa suasana sehingga memakai aksen ‘aku-kamu’
            “Terus? Kenapa sekarang dia masih deket sama kamu?”
            “Itu resiko dia, kenapa sih?”
            Dia berhenti. Aku yang sedari tadi menunduk dan berjalan dibelakangnya menabrak tubuhnya yang kurus.
            “Aw..” aku merintih saat kepalaku menabrak bahunya.
            “Sakit?” dia terlihat khawatir.
            “Nggak..”
            Lalu, sejurus kemudian, dia diniup-niupi kepalaku yang menabrak bahunya. Lalu mencium keningku. Aliran listrik itu terasa lagi. kehangatan itupun muncul seketika. Aku tidak tahu harus marah atau apa? Aku malah merasa… senang.
            “Udah sembuh kan?”
            Aku hanya tersenyum malu. Semakin menunduk menyembunyikan pipiku yang mungkin sudah merona menjadi merah padam dan mencoba untuk menenangkan debar jantungku yang tak beraturan.
***

            “Lo pasti masih marah?”
            “Nggak kok, Nin.” Rio tersenyum manis.
            “Gimana kalo gue suka sama orang?”
            “Siapa?”
            “Kan kata gue kalo..” jawabku gelagapan.
            “Jangan bohong!” suaranya agak mendengking, aku sedikit ketakutan.
            “Hmm.. pasti lo sakit hati.”
            “Siapa, Nin!!!?” suaranya semakin serak dan berat.
            “Tian!” aku menutup wajahku… menangis.
            Rio diam.
            Hening.
            “Bye, Nin! Lo harus cari siapa yang pantes buat hapus air mata itu.”
***

Sebulan kemudian…

            “Jangan dengerin kata mereka. Maaf udah buat kamu dibenci sama temen-temen kamu. Yang pasti, aku sayang sama kamu.”
            Aku mengangguk pasrah. Kali ini yang bisa kulakukan hanyalah menangis.
            Tian memelukku, dan aku menangis keras dalam dadanya. Begitu nyaman.
            Rio pindah ke luar kota seminggu setelah dia marah hebat. Aku tahu ini bukan kebetulan, pasti dia yang meminta mama dan papanya untuk pindah. Dan alasannya adalah aku. Karena aku sudah menyakiti hatinya. Terlalu menyakitinya. Hingga dia tidak tahan. Dan cinta itu berubah menjadi kebencian… cinta Rio menjadi rasa benci yang teramat sangat kepadaku.
            Aku sudah mencoba menghubunginya, meminta nomor teleponnya yang baru kepada ibuku lewat mamanya, tetapi tetap saja, tidak ada jawaban. Nomor handphone-nya aktif namun tiap kali aku sms atau telepon, selalu tidak ada jawaban. Hasilnya nihil. Rio benar-benar membenciku…
            Yang bisa kutekadkan sekarang, dibenci adalah resiko, satu-satunya jalan, pilihan yang telah aku ambil dan harus kupertanggung jawabkan.
***

Di belahan dunia yang lain…

            Aku pikir ini adalah satu-satunya obat. Pergi jauh dan tidak pernah kembali lagi. Mengubur semuanya menjadi kenangan manis. Berdiri tegap dan tidak menoleh kebelakang. Aku tidak membencinya, hanya saja, terkadang menjauh lebih baik.
            Kanindy adalah seonggok kenangan…

            “Hi, tetangga baru!” suaranya begitu ceria.
            “Hi..”
            “Mau jalan-jalan? Disini banyak tempat hebat yang luar biasa menakjubkan! Kamu harus lihat! Ayo!” katanya riang, sambil menarik lengan Rio dengan senangnya. Matanya memiliki binar-binar kebahagiaan seperti anak kecil yang diberi es krim atau lollipop.
            Getaran ini… batin Rio menangkap sesuatu. Getaran yang sama yang dia rasakan saat bersama Kanin. Iya, getaran itu… getaran hebat yang membuatnya takluk, sabar, bahagia, dan sakit secara bersamaan.

THE END

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design