Aku
mengangguk lemah.
“Mangkanya,
mbok ya jangan suka main hujan gitu lho..” ujarnya pernuh perhatian
sambil menyuapi sendok ke-5 bubur yang sedari tadi kupaksakan untuk kutelan.
Beberapa
saat kemudian hanya ada hening yang diiringi dentingan sendok dan mangkuk
buburku yang beradu merdu dalam kamarku. Ibuku sibuk mengaduk-ngaduk buburku
yang sebenarnya sudah teraduk karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan.
“Permisi..”
terdengar ketukan pintu kamarku yang memecahkan keheningan ibu dan aku. Ibuku
bergegas membukakan pintu melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Oh,
Rio.. ayo masuk!”
“Yasudah,
ibu permisi dulu, nak Rio nanti tolong suruh Nindynya minum obatnya yang udah
ibu siapin disana ya,” katanya sambil menunjuk meja disamping tempat tidurku.
“Ibu
bu,” Rio sambil tersenyum ramahnya yang khas. Lalu, dia mendekat untuk
melihatku lebih jelas dengan tatapan khawatir “Hai..” katanya.
Aku
hanya tersenyum tipis. Tenggorokanku kering dan malas sekali untuk sekedar
berbicara membalas sapa laki-laki jangkung ini.
“Udah
baikan?” katanya lagi, tak berhenti berusaha mengajakku berbicara.
Aku
mengangguk pelan dan belum terlepas dari senyum tipisku.
Dia
tersenyum lebar. Senyumnya itu selalu menular, khas, dan sangat manis. Tetapi,
kali ini aku tidak meleleh dibuatnya, malah biasa saja dengan senyuman
‘mematikan’-nya itu.
“Minum
obat dulu ya.”
Aku
mengangguk lemah, lagi-lagi membiarkan Rio menerima bahasa isyaratku yang
berarti ‘iya’.
“Maaf
ya baru bisa jengukin sekarang,” rona wajahnya berubah menjadi sedikit murung
penuh penyesalan.
“Nggak
apa-apa..” kataku seadanya.
“Nanti
kita bisa main lagi kan? Mangkanya kamu cepetan sembuh ya, Ka..” dia sedikit
memohon.
Aku
mengangguk ceria. Sahabatku itu selalu punya cara membuat aku semangat.
***
“Kakak, jangan gitu sama Kanin..” ibu yang
masih terlihat muda itu memarahi anak kecil yang tadi mengolok-olok baju yang
kupakai.
“Kanin? Namanya jelek sekali, ma!”
katanya sambil tertawa senang, seakan-akan namaku adalah lelucon paling
menggelikan.
“Namanya Kanindy, manis kok anaknya,
pinter lagi..” sambil mengelus lembut rambut panjangku dan senyumnya yang belum
lepas pada bibir tipisnya.
Aku menunduk malu dan ingin
menangis.
“Kanin bebek gila.. kanin bebek
gila..” katanya sambil tertawa-tawa riang seperti mendapat mainan baru dari
mamanya.
Aku menitihkan air mata. Menangis
lebih keras saat teriakan dan tawa Rio semakin senang terdengar di telingaku.
Aku berlari pulang. Siang itu benar-benar menyedihkan. Anak laki-laki tadi
benar-benar menyebalkan. Dia tidak tahu saja aku sedang mencoba kostum yang
akan aku pakai minggu besok, aku baru mendapat peran hebat dalam drama hebat
yang diselenggarakan oleh sekolahku. Mulai siang itu, aku agak sebal tinggal di
perumahan yang baru ini. Aku memang baru pindah satu minggu disini, tetapi ada
saja yang membuat tidak betah.
Aku
melamun, terlintas lagi kenangan itu. Cerita konyol 12 tahun lalu, saat Rio
lebih mirip seorang zombie daripada anak laki-laki bagiku. Memang, setelah itu
mama Rio langsung kerumahku dan berbicara langsung dengan ibuku untuk meminta
maaf karena perlakuan Rio terhadapku. Rio terlihat murung dan kepalanya
tertunduk disebelah mamanya yang antusias berbicara segala hal sehabis meminta
maaf kepada tetangga baru seperti ibuku.
“Maafin Rio ya, Kanin..”
Aku berlari ke kamarku saat dia
menjulurkan tangan kanannya, aku merasa dia begitu jahat sehingga tidak pantas
untuk kumaafkan.
Ibuku mengetuk pintu kamarku. Aku
masih menggerutu sebal di depan boneka-bonekaku. Aku terpaksa membuka pintu
kamar.
“Adek nggak boleh gitu, harus maafin
orang yang minta maaf sama adek, dia kan cuma iseng. Nanti Kanin dosa, mau?
Tuhan aja pemaaf..”
Aku hanya mengangguk.
“Ayo Rio, ajak Kanin main.”
“Ayo, Kanin!” dia menarik lengan
kiriku dan dengan malas ku perhatikan apa yang dia lakukan selanjutnya.
Kami sampai di taman perumahan, yang
ternyata lebih dekat dengan rumahku dibanding dengan rumah Rio.
“Kanin bebek cantik, kok..” katanya
tersenyum merayu. Aku geli sekali melihat tampang jahilnya yang merayu
sekaligus dengan nada mengejek. Rona merah tampak pada kedua pipinya yang
tebal, tetapi tatapan matanya begitu nakal. Mau tidak mau, aku tersenyum, lalu
tertawa.
“Maafin Rio ya,” dengan faseh
menyebut R dalam nada bicaranya, aku sendiri belum bisa menyebut huruf R dengan
benar dan sefaseh dia.
Aku mengangguk.
Sejak saat itu,
umur 5 tahun, kami berteman akrab dan menjalin persahabatan.
***
“Eh,
Nindy.. dipanggil kak Odi,” seru temanku yang bernama Syahwa.
“Hi,
Nin..” suara berat itu sudah lama ku kenal sejak aku berada di SMA ini, dia
kakak tingkatku yang ‘menel’–sebutan untuknya dari kawan-kawanku.
Aku
hanya mengangkat alis. Tidak begitu mengerti mengapa dia tiba-tiba memanggil
namaku dengan gugup. Biasanya dia begitu santai dan tenang.
“Pulang
nanti ada acara?”
Aku
menggeleng cepat.
“Pulang
bareng gue, bisa?”
“Bisa.
Ada apa?”
“Liat
entar aja ya, Nin. Udah itu aja, si yuuu..” dengan nada centil dalam suaranya,
sambil tersenyum jahil.
“Ngapain
tuh cina oleng?”
“Kak
Odi?”
“Iyalah,
siapa lagi?”
“Ngajak
pulang bareng dia,” kataku santai dan acuh.
“Terus
kamu mau?” jawabnya dengan mata terbelalak.
“Emang
kenapa harus nggak mau?” kataku mengangkat alis kiriku, menyelidik kalimat yang
barusan Rio lontarkan dengan kaget.
“Masa
kamu nggak ngerti sih Kanin, gosipnya dia suka sama kamu.”
“Kabar
angin dipercaya, gimana kalo dia cuma iseng nganter gue balik karena capek
ngeliat gue jalan kaki? terus kenapa lo jadi kebakaran jenggot gitu sih?” aku
sekarang malah heran.
“Nggak,
gak apa-apa Ka.. balik ke kelas yuk!”
***
Ternyata
benar, kekhawatiran Rio itu hanya sekedar khawatir seorang sahabat saja.
Buktinya, kak Odi hanya memintaku menemaninya makan siang.
“Si
Rio nggak khawatir, Nin?” membuka obrolan.
“Tadi
sih, pas abis lo manggil gue,” jawabku santai.
“Kalian
kapan jadiannya sih?”
Aku
kaget, lalu meluncurkan sepasang mata heran menatap kak Odi, namun aku berusaha
untuk tetap bersikap tenang, “Apaan sih?”
“Ampun
deh nin, gak nyadar apa lo dia cinta gitu sama lo?”
“Dia
itu sahabat gue dari kecil. Doyan bikin gue nangis sampe bikin gue seneng.
Demen jagain gue, perhatiin gue, ya dia emang gitu.”
“Sikapnya
beda kalo sama lo, and the way he looks
at you.”
“Ha?”
“Iyalah
nin. Lo gak sadar?”
“Sama
sekali nggak, kak. Dia sahabat gue, gitu. Tetangga gue, abang gue, sodara gue.”
“Lo
gak peka juga ya, Nin. Terus perasaan lo ke dia cuma sekedar
sahabat-deket-banget-dan-nempel-terus gitu aja?”
Aku
mengangguk pelan, lalu melanjutkan makan. Secara tidak sadar, sedang
diinterogasi oleh kakak kelasnya.
“Lo
gak sayang sama dia?”
“Sayang.
Banget.”
“Tuh!”
“Ya
emang kenapa? Dia kan sahabat gue? Lo kenapasih? Ribet lo ah!” aku melemparnya
dengan tisu kotor.
“Gue
cemburu nin..” dengan suara yang pelan sambil menunduk.
Aku
diam, tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kak Odi karena terlalu
fokus dengan ice cream.
“Nin!!!!!!!”
kak Odi berteriak.
“Apa?”
aku tetap tenang di tempatku masih fokus dengan es krimku.
“Nggak,
nin. Gak ada apa-apa. Udah belum? Balik yuk!”
***
Sejak
saat itu, kak Odi sering mengajakku pulang dengannya. Entah itu akan langsung
pulang atau mampir ke tempat makan atau sekedar berjalan-jalan tidak memiliki
arah, seperti sekarang.
“Nin..”
kak Odi memanggilku dengan nada –yang aneh ditelingaku–lembut, sambil
mengecilkan suara radio dalam mobilnya.
Aku
hanya menoleh, menunggu apa yang akan dikatakan laki-laki beralis menyatu ini.
“Pacaran
sama gue, bisa?”
“Odong-odong!!!!!”
“Nin,
gue serius? Jangan panggil gue odong-odong lagi kalo nggak mau jadi pacar gue.”
“Kak…”
“Iya,
Nin? Kenapa?”
“You know me than I know myself, right? And
you know that I can’t..” kataku sambil menundukan kepala, merasa ini adalah
beban berat.
***
“Terus
kamu terima dia?” kata Rio kaget, kali ini benar-benar kaget.
“Lo
tuli atau gimana? Gue bilang ke dia, gue nggak bisa. Lo juga tau sendiri, abis
di-ditch Kendi gue jadi males sama
cowok.”
“Kamu
harusnya nggak gitu dong, kan gak semua cowok kaya Kendi..”
“Cuma
bapak gue sih, yang nggak kaya Kendi.”
“Aku?”
“Lo?”
“Maksudnya,
aku kan gak seburuk dia?”
“Bisa
jadi, tapi siapa yang tau..”
“Terus
kak Odi gimana?”
“Dia
megang tangan gue, terus dia bilang nggak apa-apa sambil senyum.”
“Dia
megang tangan kamu terus kamu gak marah?” mata Rio penuh amarah.
“Apaansih,
yo?”
“Aku
aja belum pernah megang tangan kamu..”
“Ya
terus?”
“Ya
aku cemburu, Nin!” katanya, sambil membuang muka.
“Lo
cemburu sama ‘Kanin bebek jelek’ macem gue?” selidikku.
“Gak
tau deh, Nin. Aku pulang ya!”
***
“Di
dunia ini banyak cewek cantik yang beruntung. Gue kadang iri sama mereka.
Gimana mereka bisa punya pacar yang ganteng dan suka ngasih mereka kejutan.
Gimana mereka bisa main kapan aja mereka suka, dan punya gadget yang lagi in. Coba
gue? Main aja mesti nabung dulu. Punya pacar jarang-jarang yang nyenengin,
nyakitin iya juga. Untung aja gue masih sanggup ngucap syukur,” ujarku sambil
bertopang dagu pada meja café.
“Cantik
itu relatif sih..” kata kak Odi hati-hati.
“Relatif
seksinya, relatif putihnya, relatif panjang rambutnya, iya nggak?”
“Kenapasih,
Nin?”
“Minder,
bang..”
“Lo
selalu percaya diri gue perhatiin, lo tuh terlalu membatasi diri. Oh iya, kapan
sih lo bakal jadian sama Rio? Gak sabar gue..”
“Dia
sahabat gue, jadian apanya?”
“Nin!”
“Iya,
yo, bentar. Bang, duluan ya!”
Kak
Odi hanya mengangguk pelan, lalu aku agak berlari untuk menyusul Rio.
“Aku
mau ngomong..”
“Apaan
lagi sih, yo?”
***
“Sahabat itu tetep sahabat yo, sahabat jadi
cinta itu cuma ada di novel..” aku menunduk sedih karena merasa bersalah.
“Tapi, apa nggak bisa lebih ya, Nin?
Aku sayangnya cuma sama kamu. Aku udah suka sama kamu dari kamu kecil, sampe
kita segede ini. Masa kamu nggak pernah ngerasa aku suka kamu?”
“Kita masih bisa jadi sahabat aja
kan yo?”
“Oke, makasih Nin..”
“Yo..”
“Iya?”
“Tapi, gue nggak bohong kok. Gue
emang sayang sama lo, banget. Tapi nggak untuk ngejalin hubungan.”
“Iya, Nin.”
Aku
teringat lagi obrolan sore hari tadi saat Rio bilang dia menyayangiku. Tetapi,
aku bilang dia hanyalah… sahabatku. Rio tetap sahabatku, dan kami tetap
bersahabat. Kak Odi tetap menjadi abangku, dan Kendi, masih bagian dari masa
lalu kelamku.
***
“Kanindy?”
Aku
mengangkat alis, tidak merasa kenal dengan sosok yang sekarang berada di
hadapanku ini.
“Oh
iya, gue editor di majalah GADIS. Gue disuruh pak Danang wakilin dia buat
ketemu sama lo.”
“Oh..”
“Cerpen
lo bagus, dan katanya pak Danang mau nawarin kontrak buat angkat lo jadi
penulis cerpen atau tetap untuk halaman 15-17. Perbulan 2 kali lo harus ngirim
karya lo, date line 3 hari sebelum
cerpen dimunculin. Tanda tangan disini, dan selamat bekerja sama!” dia
tersenyum hangat, dan menyodorkan pena.
“Makasih…?”
“Tian.”
“Thanks.. gue kirimin e-mail aja ke lo
untuk cerpen yang mau gue munculin, soalnya gue banyak urusan sekolah, dan
karena kantor majalah GADIS yang lumayan sih dari rumah gue. Bisa?”
“Umm..
bisa.”
“Oke,
bye!”
“Eh…?”
“Iya?”
“Mau
bareng sama gue? Tapi naik bus.”
“Gue
biasa jalan kaki sih, café ini kebetulan cuma beberapa blok dari rumah gue.
Jadi percuma buang duit untuk naik bus.”
“Kebetulan
juga sih, gue baru pindah ke daerah sini. Yuk bareng, partner.”
***
Matanya teduh. Kilatan dalam matanya
berbinar. Senyumnya hangat sekaligus menular. Ada goresan keterpaksaan memang
saat dia mencoba tersenyum, tetapi ketulusan juga menyertai segaris senyum itu.
Aku tidak bisa mengontrol ini,
perutku tidak enak. Kurasakan, banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya.
Aku mencoba mengatur detak jantungku yang mulai gila. Dan nafasku yang tidak
teratur lagi.
I’m flying
without wings…
Aku menyadarinya sekarang. Dia
membawaku terbang tinggi kesana-kemari, hingga kurasa aku dan ragaku mulai
berpisah, tapi aku menikmati ini.
Jatuh cinta…
My
dearest, Kanindy.
***
Tian
mencoba menyibak rambut-rambut kecil yang menutupi keningku. Dia begitu serius
memperhatikanku saat aku sedang mengetik cerpen baru di café biasa kami
bertemu.
Aku
gugup. Tidak ada seorang pun yang memperhatikanku sebegitu serius dan fokus.
Aku jadi salah tingkah dan tidak enak. Aku bukanlah seorang wanita yang cukup
cantik. Tidak untuk seorang Tian yang begitu menawan.
Dia
melingkarkan tangannya pada bahuku. Mendekatkan tubuhnya di samping tubuhku.
Aku semakin gugup.
“Nin?”
dia masih fokus menatap wajahku, sekarang dia semakin mendekat. Nada suaranya
juga melembut. Entah mengapa, aku sangat nyaman. Ada aliran listrik yang
menyentak jantungku.
Aku
hanya bisa ber-ehem, menandakan kalimat ‘apa?’ pada Tian, pura-pura serius pada
cerpen yang sedang aku buat, padahal aku sedang mencoba untuk tetap tenang
memperbaiki jantungku yang hampir melorot. God,
help me! Aku membatin.
“Kamu
sadar nggak kamu cantik?”
“Nggak..”
“Oh
gitu..” dia melonggarkan jaraknya denganku, melepas lingkaran tangannya pada
bahuku dan tidak menatapku lagi.
Aku
agak sedih, Tuhan! Pertolonganmu cepat
sekali, tapi kenapa aku jadi nyesel minta tolong pada-Mu? Aku lebih nyaman di
posisi tadi.. aku malah membatin.
Hening.
Masih
hening.
“Udah
nih..”
“Cewek
jenius. Entar gue periksa ya..”
Aku
mengangguk pelan.
Dia
mengacak-acak rambutku dan menarik ikat rambutku, hingga rambutku terurai. “Lo
ini apa-apaan!”
“Uw
uw uw lo marah makin imut ya!”
“Apasih
lo!” aku mendengus sebal.
“Nin?”
“Apa?”
nada bicaraku agak keras.
“Balik
yuk!”
Aku
langsung berdiri, membenarkan mini dress-ku.
Lalu mengambil tas dan berjalan menuju pintu keluar.
16:47 Penjalanan pulang yang canggung…
Hati
dan pikiranku bentrok, bertengkar satu sama lain. Hatiku berbicara ‘kau jatuh
cinta’ dan pikiranku berkata ‘kau bodoh!’
“Nin?”
Tian memecahkan keheningan.
Aku
hanya menoleh, menunggu apa yang akan dikatakan laki-laki berkumis tipis ini.
“Rio
itu siapa?”
“Sahabat
dari kecil.”
“Kalian
pacaran?”
“Kenapa
semua orang bilang gitu?” aku mengangkat kedua alisku.
“Cara
dia ngeliat kamu, sikap dia, perhatian dia, beda…”
“Aku
pernah bilang nggak untuk itu..” tanpa sadar, aku terbawa suasana sehingga
memakai aksen ‘aku-kamu’
“Terus?
Kenapa sekarang dia masih deket sama kamu?”
“Itu
resiko dia, kenapa sih?”
Dia
berhenti. Aku yang sedari tadi menunduk dan berjalan dibelakangnya menabrak
tubuhnya yang kurus.
“Aw..”
aku merintih saat kepalaku menabrak bahunya.
“Sakit?”
dia terlihat khawatir.
“Nggak..”
Lalu,
sejurus kemudian, dia diniup-niupi kepalaku yang menabrak bahunya. Lalu mencium
keningku. Aliran listrik itu terasa lagi. kehangatan itupun muncul seketika.
Aku tidak tahu harus marah atau apa? Aku malah merasa… senang.
“Udah
sembuh kan?”
Aku
hanya tersenyum malu. Semakin menunduk menyembunyikan pipiku yang mungkin sudah
merona menjadi merah padam dan mencoba untuk menenangkan debar jantungku yang
tak beraturan.
***
“Lo
pasti masih marah?”
“Nggak
kok, Nin.” Rio tersenyum manis.
“Gimana
kalo gue suka sama orang?”
“Siapa?”
“Kan
kata gue kalo..” jawabku gelagapan.
“Jangan
bohong!” suaranya agak mendengking, aku sedikit ketakutan.
“Hmm..
pasti lo sakit hati.”
“Siapa,
Nin!!!?” suaranya semakin serak dan berat.
“Tian!”
aku menutup wajahku… menangis.
Rio
diam.
Hening.
“Bye,
Nin! Lo harus cari siapa yang pantes buat hapus air mata itu.”
***
Sebulan kemudian…
“Jangan
dengerin kata mereka. Maaf udah buat kamu dibenci sama temen-temen kamu. Yang
pasti, aku sayang sama kamu.”
Aku
mengangguk pasrah. Kali ini yang bisa kulakukan hanyalah menangis.
Tian
memelukku, dan aku menangis keras dalam dadanya. Begitu nyaman.
Rio
pindah ke luar kota seminggu setelah dia marah hebat. Aku tahu ini bukan
kebetulan, pasti dia yang meminta mama dan papanya untuk pindah. Dan alasannya
adalah aku. Karena aku sudah menyakiti hatinya. Terlalu menyakitinya. Hingga
dia tidak tahan. Dan cinta itu berubah menjadi kebencian… cinta Rio menjadi
rasa benci yang teramat sangat kepadaku.
Aku
sudah mencoba menghubunginya, meminta nomor teleponnya yang baru kepada ibuku
lewat mamanya, tetapi tetap saja, tidak ada jawaban. Nomor handphone-nya aktif namun tiap kali aku sms atau telepon, selalu
tidak ada jawaban. Hasilnya nihil. Rio benar-benar membenciku…
Yang
bisa kutekadkan sekarang, dibenci adalah resiko, satu-satunya jalan, pilihan
yang telah aku ambil dan harus kupertanggung jawabkan.
***
Di belahan dunia yang lain…
Aku
pikir ini adalah satu-satunya obat. Pergi jauh dan tidak pernah kembali lagi.
Mengubur semuanya menjadi kenangan manis. Berdiri tegap dan tidak menoleh
kebelakang. Aku tidak membencinya, hanya saja, terkadang menjauh lebih baik.
Kanindy
adalah seonggok kenangan…
“Hi,
tetangga baru!” suaranya begitu ceria.
“Hi..”
“Mau
jalan-jalan? Disini banyak tempat hebat yang luar biasa menakjubkan! Kamu harus
lihat! Ayo!” katanya riang, sambil menarik lengan Rio dengan senangnya. Matanya
memiliki binar-binar kebahagiaan seperti anak kecil yang diberi es krim atau
lollipop.
Getaran ini… batin Rio menangkap
sesuatu. Getaran yang sama yang dia rasakan saat bersama Kanin. Iya, getaran
itu… getaran hebat yang membuatnya takluk, sabar, bahagia, dan sakit secara
bersamaan.
THE
END
0 comments:
Post a Comment