Aug 6, 2012

Tak saling menyapa, tetapi saling menyimpan rindu

Brak. Seseorang menabrakku dari arah belakang yang membuatku serta buku-bukuku jatuh dan berantakan. Aku menengok dengan kesal, aku lihat ia tampak manis dan tak familiar (read: tak pernah lihat) di sekolah ini, sepertinya ia anak baru. Aku lihati dia dari atas sampai bawah. Tampan memang tetapi aku terlanjur kesal dibuatnya pagi ini! Huh. Dia buru-buru duduk dan membantuku merapikan buku-bukuku. Aku diam. Dia hanya mengucapkan kata 'maaf'. Aku berceloteh mengomel dalam hati. Sialnya pagi ini.


Aku masuk kelas saat bel berbunyi, aku segera masuk dan membereskan bajuku yang sedikit kumal. Guruku masuk seperti biasa, hanya ada yang aneh.. ia membawa pria yang tadi menabrakku. Hiat! Aku bertambah geram, dia sekelas denganku. Berbeda dengan ekspresi wanita-wanita lain di kelasku, yang menunjukkan muka kagum aku malah menunjukkan muka memulai permusuhan dengannya.
"Silahkan cari tempat dudukmu, Rama." Guru itu menyuruhnya. Lalu dia berjalan gontai melihatku dan berhenti di tempat dudukku, ia mengeluarkan kata-kata:
"Disini kosong?" dengan muka memelas
"Jangan duduk disini!" aku membentak
"Gue maunya disini. Gue suka orang yang suka cari masalah kaya lo." dengan santai dia duduk disampingku.
Aku geram tapi ku sembunyikan dalam hati. Setelah 2 jam pelajaran selesai, guru pelajaran selanjutnya belum masuk.
"Nama lo?" ia menoleh ke arahku.
"Zelsha." aku jawab singkat lalu berpura membereskan rambutku.

Hari yang melelahkan dan menyebalkan ini akhirnya berlalu dan aku pulang dan langsung tidur.

***

Sepertinya ia berbeda dengan wanita lain, ia tak menyukai dan menatapkan seperti wanita yang ingin cari perhatian dengan melihatku seperti pangeran, aku benci tatapan wanita seperti yang ingin dikasihani seperti. Jujur, aku lebih menyukai wanita yang cuek tetapi tetap anggun. Aku mulai menyukai senyumnya setelah hampir sebulan kami duduk berdua namun tak pernah ngobrol panjang lebar. Ia pintar. Rambutnya halus hitam panjang lurus dengan poni mangkuk yang sangat enak dipandang. Dia baby face. Aku senang menatapnya diam-diam. Walaupun SMA dia terlihat seperti adikku, dia manis dan pendiam, yang pasti talk less do more. Aktif dan tidak suka cari masalah. Hah, dia begitu sempurna walaupun sikapnya sangat dingin. Aku perlu waktu untuk mengungkap ini. Aku tetap kesepian walaupun aku selalu ditemi bayangannya yang selalu mondar-mandir dipikiranku..

***

1 semester telah usai. Aku berencana berlibur dengan ayahku. Jangan tanya mamaku, dia sudah tenang di surga. Aku tak ingin lagi air mata menetes mengingatnya yang telah tiada. Aku senang, walaupun sebenarnya aku merindukan sosok mama, tetapi ayah selalu menjadi 2 peran yang selalu aku sukai, ia bekerja layaknya seorang pria bertanggung jawab dan sore hingga malam ia selalu bertingkah keibuan. Aku senang dia mengisi kekosongan dirumah. Karena hanya aku buah hatinya dan 2 orang pembantu dirumah. Aku tidak pernah merasa bosan, aku dapat kasih sayang yang cukup. Aku menikmati dan mensyukuri hidup walaupun penuh kekurangan.
Kami ingin jalan-jalan ke filla di Bandung milik ayah. Aku senang udaranya sangat sejuk.


Sampai disana. Yeah! Aku senang. Aku berjalan-jalan. Seketika langkahku melambat saat aku melihat wajah yang ku kenal. Ya.. Itu Rama. Aku malu.
"Hai. Ngapain disini? Lo cantik banget pake baju polkadot merah muda sama sepatu yang cocok." dia menyapa yang membuat pipiku merona dan menunduk malu.
"Liburan sama Ayah." jawabku.
"Mama lo gak diajak?"
"Dia selalu liburan di surga, gue pengen nyamperin tapi selalu ga nyampe." tiba-tiba aku mengembangkan senyum
"Maaf.. gue gak bermaksud. Sejak kapan?"
"Gapapa. 5 tahun yang lalu. Kecelakaan. Tolong jangan dibahas."
"Maaf lagi. Mau jalan? Gue temenin." dia mengeluarkan senyum yang sangat manis, aku sedikit terpesona.

Kami berjalan berdua tapi suasana sangat dingin karena kami sama-sama diam. Aku mencoba mengeluarkan kata-kata yang tak sengaja aku lontarkan..
"Rumah lo disini?"
"Gue liburan. Capek dirumah. Pada bikin bosen. Jujur gue iri sama lo yang udah gak punya mama tapi dapet perhatian. Orang dirumah gue pada suka bikin suasana rumah jadi panas." dia menunduk, aku merasakan kekacauannya.
"Broken home?"
"Hampir." kulihat matanya berlinang namun tak mengeluarkan air mata.
Aku tak menjawab. Ku kira itu urusan pribadi. Aku tak pantas mendengarnya.

Kami berhenti di suatu taman. Lalu duduk bersampingan. Tak ada obrolan. Sangat sunyi. Lalu mataku bebas melihat suasana yang tenang dan damai. Tak seperti di Jakarta yang penuh, sesak, dan panas. Aku merasakan sesuatu yang hangat di tanganku, ada air mata jatuh atau air hujan? Aku berfikir. Lalu aku menatap wajah Rama yang ternyata sudah basah. Aku diam. Kami saling diam. Aku ingin mengajaknya ngebrol tapi sayang gengsiku mengalahkan semuanya. Aku berfikir, mengapa aku bisa tiba-tiba dekat dengannya? Aku pun tak mengerti akhir-akhir ini aku selalu memikirkannya..

***

Lalu...
"Gue udah lama sayang sama lo. Jujur gue kesepian sama hidup gue yang gak punya arti. Gue suka cara lo menatap gue pertama kali kita duduk sampingan, beda dari cewek lain." lalu dia mengambil kedua tanganku, dia cium dan.. "Lo mau jadi gadis gue yang pertama yang bisa ngisi kekosongan gue? Gue mohon.. Gue sayang lo." dia memelas dan aku mengangguk tanpa sadar. Aku sangat bahagia. Diapun memancarkan rona senang di pelupuk matanya.

Cinta.. merasuk diam-diam dan tak kenal waktu. Rindu yang menyergab bukan lagi aneh bagiku, semenjak aku merasa aneh, semenjak itu juga aku merasa adanya cinta yang bersarang di hati kecil ini. Dan tanpa saling menyapa, aku menyimpan rindu dengannya.

0 comments:

Post a Comment

Aug 6, 2012

Tak saling menyapa, tetapi saling menyimpan rindu

Brak. Seseorang menabrakku dari arah belakang yang membuatku serta buku-bukuku jatuh dan berantakan. Aku menengok dengan kesal, aku lihat ia tampak manis dan tak familiar (read: tak pernah lihat) di sekolah ini, sepertinya ia anak baru. Aku lihati dia dari atas sampai bawah. Tampan memang tetapi aku terlanjur kesal dibuatnya pagi ini! Huh. Dia buru-buru duduk dan membantuku merapikan buku-bukuku. Aku diam. Dia hanya mengucapkan kata 'maaf'. Aku berceloteh mengomel dalam hati. Sialnya pagi ini.


Aku masuk kelas saat bel berbunyi, aku segera masuk dan membereskan bajuku yang sedikit kumal. Guruku masuk seperti biasa, hanya ada yang aneh.. ia membawa pria yang tadi menabrakku. Hiat! Aku bertambah geram, dia sekelas denganku. Berbeda dengan ekspresi wanita-wanita lain di kelasku, yang menunjukkan muka kagum aku malah menunjukkan muka memulai permusuhan dengannya.
"Silahkan cari tempat dudukmu, Rama." Guru itu menyuruhnya. Lalu dia berjalan gontai melihatku dan berhenti di tempat dudukku, ia mengeluarkan kata-kata:
"Disini kosong?" dengan muka memelas
"Jangan duduk disini!" aku membentak
"Gue maunya disini. Gue suka orang yang suka cari masalah kaya lo." dengan santai dia duduk disampingku.
Aku geram tapi ku sembunyikan dalam hati. Setelah 2 jam pelajaran selesai, guru pelajaran selanjutnya belum masuk.
"Nama lo?" ia menoleh ke arahku.
"Zelsha." aku jawab singkat lalu berpura membereskan rambutku.

Hari yang melelahkan dan menyebalkan ini akhirnya berlalu dan aku pulang dan langsung tidur.

***

Sepertinya ia berbeda dengan wanita lain, ia tak menyukai dan menatapkan seperti wanita yang ingin cari perhatian dengan melihatku seperti pangeran, aku benci tatapan wanita seperti yang ingin dikasihani seperti. Jujur, aku lebih menyukai wanita yang cuek tetapi tetap anggun. Aku mulai menyukai senyumnya setelah hampir sebulan kami duduk berdua namun tak pernah ngobrol panjang lebar. Ia pintar. Rambutnya halus hitam panjang lurus dengan poni mangkuk yang sangat enak dipandang. Dia baby face. Aku senang menatapnya diam-diam. Walaupun SMA dia terlihat seperti adikku, dia manis dan pendiam, yang pasti talk less do more. Aktif dan tidak suka cari masalah. Hah, dia begitu sempurna walaupun sikapnya sangat dingin. Aku perlu waktu untuk mengungkap ini. Aku tetap kesepian walaupun aku selalu ditemi bayangannya yang selalu mondar-mandir dipikiranku..

***

1 semester telah usai. Aku berencana berlibur dengan ayahku. Jangan tanya mamaku, dia sudah tenang di surga. Aku tak ingin lagi air mata menetes mengingatnya yang telah tiada. Aku senang, walaupun sebenarnya aku merindukan sosok mama, tetapi ayah selalu menjadi 2 peran yang selalu aku sukai, ia bekerja layaknya seorang pria bertanggung jawab dan sore hingga malam ia selalu bertingkah keibuan. Aku senang dia mengisi kekosongan dirumah. Karena hanya aku buah hatinya dan 2 orang pembantu dirumah. Aku tidak pernah merasa bosan, aku dapat kasih sayang yang cukup. Aku menikmati dan mensyukuri hidup walaupun penuh kekurangan.
Kami ingin jalan-jalan ke filla di Bandung milik ayah. Aku senang udaranya sangat sejuk.


Sampai disana. Yeah! Aku senang. Aku berjalan-jalan. Seketika langkahku melambat saat aku melihat wajah yang ku kenal. Ya.. Itu Rama. Aku malu.
"Hai. Ngapain disini? Lo cantik banget pake baju polkadot merah muda sama sepatu yang cocok." dia menyapa yang membuat pipiku merona dan menunduk malu.
"Liburan sama Ayah." jawabku.
"Mama lo gak diajak?"
"Dia selalu liburan di surga, gue pengen nyamperin tapi selalu ga nyampe." tiba-tiba aku mengembangkan senyum
"Maaf.. gue gak bermaksud. Sejak kapan?"
"Gapapa. 5 tahun yang lalu. Kecelakaan. Tolong jangan dibahas."
"Maaf lagi. Mau jalan? Gue temenin." dia mengeluarkan senyum yang sangat manis, aku sedikit terpesona.

Kami berjalan berdua tapi suasana sangat dingin karena kami sama-sama diam. Aku mencoba mengeluarkan kata-kata yang tak sengaja aku lontarkan..
"Rumah lo disini?"
"Gue liburan. Capek dirumah. Pada bikin bosen. Jujur gue iri sama lo yang udah gak punya mama tapi dapet perhatian. Orang dirumah gue pada suka bikin suasana rumah jadi panas." dia menunduk, aku merasakan kekacauannya.
"Broken home?"
"Hampir." kulihat matanya berlinang namun tak mengeluarkan air mata.
Aku tak menjawab. Ku kira itu urusan pribadi. Aku tak pantas mendengarnya.

Kami berhenti di suatu taman. Lalu duduk bersampingan. Tak ada obrolan. Sangat sunyi. Lalu mataku bebas melihat suasana yang tenang dan damai. Tak seperti di Jakarta yang penuh, sesak, dan panas. Aku merasakan sesuatu yang hangat di tanganku, ada air mata jatuh atau air hujan? Aku berfikir. Lalu aku menatap wajah Rama yang ternyata sudah basah. Aku diam. Kami saling diam. Aku ingin mengajaknya ngebrol tapi sayang gengsiku mengalahkan semuanya. Aku berfikir, mengapa aku bisa tiba-tiba dekat dengannya? Aku pun tak mengerti akhir-akhir ini aku selalu memikirkannya..

***

Lalu...
"Gue udah lama sayang sama lo. Jujur gue kesepian sama hidup gue yang gak punya arti. Gue suka cara lo menatap gue pertama kali kita duduk sampingan, beda dari cewek lain." lalu dia mengambil kedua tanganku, dia cium dan.. "Lo mau jadi gadis gue yang pertama yang bisa ngisi kekosongan gue? Gue mohon.. Gue sayang lo." dia memelas dan aku mengangguk tanpa sadar. Aku sangat bahagia. Diapun memancarkan rona senang di pelupuk matanya.

Cinta.. merasuk diam-diam dan tak kenal waktu. Rindu yang menyergab bukan lagi aneh bagiku, semenjak aku merasa aneh, semenjak itu juga aku merasa adanya cinta yang bersarang di hati kecil ini. Dan tanpa saling menyapa, aku menyimpan rindu dengannya.

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design