Untuk kamu yang selalu menjadi alasan aku tersenyum dan menangis secara
bersamaan. Dari aku yang selalu menangisimu dalam gemuruhnya suara
hujan. With tears fall from my eyes.
Bukan aku jika bukan
pengingat suara teduhmu. Dengan peluh bercucuran, aku tetap bisa
berdiri dengan punggung tegap. Memandang abu-abunya masa depan namun
sering kali menengok menulusuri warna pelangi yang indah dalam masa
lalu. Bukan. Nanti, akan ada masa dimana masa depanku lah yang berisikan
warna pelangi lengkap dengan bulir-bulir kebahagiaan. Kamu adalah masa
depanku yang tertunda (semoga).
Segumpal darah yang menjadi
daging saat aku masih dalam kandungan, takkan menjadikan aku yang
sekarang jika tidak ada tulang belulang yang menopang. Hingga peluh ini
berbuah menjadi senyum yang mengembang. Semoga, kamulah tulang rusuk
yang dititipkan Tuhan untukku.
Aku masih tegak. Dengan
posisi sempurna menghapkan wajahku ke masa dimana aku ingin memilikimu.
Masa abu-abu yang selalu kuharapkan akan menjadi bintang di langit yang
membentuk cerita kita, nanti.
Menerka-nerka akulah alasanmu hidup
di masa nanti, apakah salah? Tidak. Aku hanya berharap. Mungkin
berlebihan. Lalu, apa yang membuat mimpi besar dan mimpi kecil berbeda?
Hanya nama. Namun tidak dengan harapannya yang sama-sama besar, jadi
untuk apa bermimpi kecil? Toh berujung berharap yang berlebihan juga.
"Aku
selalu ingin melihatmu tersenyum. Tetapi akulah alasannya." hatiku ikut
andil dalam pembicaraan yang selalu berkutat dalam tubuh ini. Namun
hanya bicara tanpa jawaban. Hanya aku pendengar setianya. Tak ada orang
konyol yang ingin mendengar hatiku yang selalu menangis dan merintih.
Selalu mengeluh sambil bersyukur.
"Bukankah aku yang pantas?"
"Lihat aku, disini!"
"Bagaimana caranya melupakan?"
"Aku lelah kesakitan dan tidak ada orang yang tahu."
"If I could have just one wish, I'd have you by my side."
"I love you more. Than I did yesterday."
"Do you see how much I need you rightnow?"
Bodoh. Hatiku berbicara dengan bayangan semu. Tiada henti.
Dengan
hembusan nafas yang ku hirup, hal gila yang disebut cinta itu merasuk
secara nyata dan diam-diam dan begitu saja menumpuk dan mengendap,
hingga sesak lalu hanya air mata yang bersaksi seberapa sakitnya ia
masuk lalu begitu saja membabi butakan hatiku menjadi idiot.
Jika cinta membahagiakan, tetapi mengapa aku begitu tersakiti? Apakah salah cinta yang hanya dirahasiakan keberadaannya?
Jika cinta bukan hal yang menyayat, mengapa aku selalu terluka? Apakah salah cinta yang ukir hanya kurasakan sendiri?
Jika
cinta bukan pisau, mengapa begitu tajam ia menusukkan rasanya dengan
begitu menyakitkan di bagian yang paling sensitif; hatiku?
Jika
cinta memiliki perasaan, mengapa aku dibiarkan terlantar? Seorang diri
menyaksikan kepedihan yang menyiksanya perlahan namun dalam.
Jika cinta bukan baja, mengapa ia begitu kuat bertahan, lalu bersarang, dan tegar menanti?
Jika cinta bukan sinetron, mengapa ia begitu rumit, sulit dimengerti, dan begitu dramatisir?
Jika
cinta bukan batu karang, mengapa yang aku rasakan adalah sakit yang
teramat, ketika sesuatu itu menerjangku kuat dan tak kenal kata ampun.
Sesuatu
itu adalah kamu. Binar matamu yang masih tergoreskan oleh kepolosan,
namun mampu membuat goresan dalam yang tak mampu lagi ku gambarkan
melalui kalimat, kata-kata atau sejenis lainnya yang membuat hatiku
seperti tertusuk benda tajam?
Goresan luka yang menganga dan belum
juga kering, kurasakan keberadaannya saat kamu melihatku namun tak
mengucap kata sapaan, saat kita saling bertatap muka dan tak sepatah
katapun keluar, saat kita bertemu tetapi tak ada yang memulai
pembicaraan hanya untuk sekedar menanyakan kabar.
Lalu, peluh
itu bukan lagi keringat yang menetes dari kulit yang lelah, namun dari
pelupuk mata karena hatinya lagi-lagi seperti dihancurkan menjadi
kepingan-kepingan yang sulit untuk disatukan lagi, bulir air mata yang
berlinang mungkin beratus-ratus kali lipat dari luka yang tak terlihat.
Tetapi
satu tetes air mata saja yang wanita keluarkan untuk seorang pria
adalah tanda kasih sayang, jika jatuh tanpa ditadah, mereka perlu
pelukan yang menghangatkan, dan aku bukanlah tipe wanita yang
mengharapkan tadahan tangan seseorang, namun hanya menginginkan prianya
sadar bahwa ada rindu yang tak terbalaskan hingga peluh yang keluar
adalah pedih basah yang bisu yang menjadi satu-satunya saksi yang dapat
membuatku lega.
Hujan membuat aku sadar. Tidak ada pelangi
yang datang sebelum adanya awan yang sedang galau dan mengeluarkan
isinya yang sudah tidak muat lagi ia tampung. Gemuruhnya membuatku riang
menari-nari diatas jutaan rintiknya. Tertawa bebas tanpa menyadari aku
bukan wanita yang sedang senang karena datangnya hujan, namun wanita
yang sedang senang karena tidak ada yang menyadari aku sedang menangis.
Karena tawa, mirip dengan tangis berlebihan. Dan sedih terkadang
tertutup dengan senyum yang selalu mengembang menyembunyikan luka.
Sep 18, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Sep 18, 2012
Always
Labels:
ehm:')
Untuk kamu yang selalu menjadi alasan aku tersenyum dan menangis secara
bersamaan. Dari aku yang selalu menangisimu dalam gemuruhnya suara
hujan. With tears fall from my eyes.
Bukan aku jika bukan pengingat suara teduhmu. Dengan peluh bercucuran, aku tetap bisa berdiri dengan punggung tegap. Memandang abu-abunya masa depan namun sering kali menengok menulusuri warna pelangi yang indah dalam masa lalu. Bukan. Nanti, akan ada masa dimana masa depanku lah yang berisikan warna pelangi lengkap dengan bulir-bulir kebahagiaan. Kamu adalah masa depanku yang tertunda (semoga).
Segumpal darah yang menjadi daging saat aku masih dalam kandungan, takkan menjadikan aku yang sekarang jika tidak ada tulang belulang yang menopang. Hingga peluh ini berbuah menjadi senyum yang mengembang. Semoga, kamulah tulang rusuk yang dititipkan Tuhan untukku.
Aku masih tegak. Dengan posisi sempurna menghapkan wajahku ke masa dimana aku ingin memilikimu. Masa abu-abu yang selalu kuharapkan akan menjadi bintang di langit yang membentuk cerita kita, nanti.
Menerka-nerka akulah alasanmu hidup di masa nanti, apakah salah? Tidak. Aku hanya berharap. Mungkin berlebihan. Lalu, apa yang membuat mimpi besar dan mimpi kecil berbeda? Hanya nama. Namun tidak dengan harapannya yang sama-sama besar, jadi untuk apa bermimpi kecil? Toh berujung berharap yang berlebihan juga.
"Aku selalu ingin melihatmu tersenyum. Tetapi akulah alasannya." hatiku ikut andil dalam pembicaraan yang selalu berkutat dalam tubuh ini. Namun hanya bicara tanpa jawaban. Hanya aku pendengar setianya. Tak ada orang konyol yang ingin mendengar hatiku yang selalu menangis dan merintih. Selalu mengeluh sambil bersyukur.
"Bukankah aku yang pantas?"
"Lihat aku, disini!"
"Bagaimana caranya melupakan?"
"Aku lelah kesakitan dan tidak ada orang yang tahu."
"If I could have just one wish, I'd have you by my side."
"I love you more. Than I did yesterday."
"Do you see how much I need you rightnow?"
Bodoh. Hatiku berbicara dengan bayangan semu. Tiada henti.
Dengan hembusan nafas yang ku hirup, hal gila yang disebut cinta itu merasuk secara nyata dan diam-diam dan begitu saja menumpuk dan mengendap, hingga sesak lalu hanya air mata yang bersaksi seberapa sakitnya ia masuk lalu begitu saja membabi butakan hatiku menjadi idiot.
Jika cinta membahagiakan, tetapi mengapa aku begitu tersakiti? Apakah salah cinta yang hanya dirahasiakan keberadaannya?
Jika cinta bukan hal yang menyayat, mengapa aku selalu terluka? Apakah salah cinta yang ukir hanya kurasakan sendiri?
Jika cinta bukan pisau, mengapa begitu tajam ia menusukkan rasanya dengan begitu menyakitkan di bagian yang paling sensitif; hatiku?
Jika cinta memiliki perasaan, mengapa aku dibiarkan terlantar? Seorang diri menyaksikan kepedihan yang menyiksanya perlahan namun dalam.
Jika cinta bukan baja, mengapa ia begitu kuat bertahan, lalu bersarang, dan tegar menanti?
Jika cinta bukan sinetron, mengapa ia begitu rumit, sulit dimengerti, dan begitu dramatisir?
Jika cinta bukan batu karang, mengapa yang aku rasakan adalah sakit yang teramat, ketika sesuatu itu menerjangku kuat dan tak kenal kata ampun.
Sesuatu itu adalah kamu. Binar matamu yang masih tergoreskan oleh kepolosan, namun mampu membuat goresan dalam yang tak mampu lagi ku gambarkan melalui kalimat, kata-kata atau sejenis lainnya yang membuat hatiku seperti tertusuk benda tajam?
Goresan luka yang menganga dan belum juga kering, kurasakan keberadaannya saat kamu melihatku namun tak mengucap kata sapaan, saat kita saling bertatap muka dan tak sepatah katapun keluar, saat kita bertemu tetapi tak ada yang memulai pembicaraan hanya untuk sekedar menanyakan kabar.
Lalu, peluh itu bukan lagi keringat yang menetes dari kulit yang lelah, namun dari pelupuk mata karena hatinya lagi-lagi seperti dihancurkan menjadi kepingan-kepingan yang sulit untuk disatukan lagi, bulir air mata yang berlinang mungkin beratus-ratus kali lipat dari luka yang tak terlihat.
Tetapi satu tetes air mata saja yang wanita keluarkan untuk seorang pria adalah tanda kasih sayang, jika jatuh tanpa ditadah, mereka perlu pelukan yang menghangatkan, dan aku bukanlah tipe wanita yang mengharapkan tadahan tangan seseorang, namun hanya menginginkan prianya sadar bahwa ada rindu yang tak terbalaskan hingga peluh yang keluar adalah pedih basah yang bisu yang menjadi satu-satunya saksi yang dapat membuatku lega.
Hujan membuat aku sadar. Tidak ada pelangi yang datang sebelum adanya awan yang sedang galau dan mengeluarkan isinya yang sudah tidak muat lagi ia tampung. Gemuruhnya membuatku riang menari-nari diatas jutaan rintiknya. Tertawa bebas tanpa menyadari aku bukan wanita yang sedang senang karena datangnya hujan, namun wanita yang sedang senang karena tidak ada yang menyadari aku sedang menangis. Karena tawa, mirip dengan tangis berlebihan. Dan sedih terkadang tertutup dengan senyum yang selalu mengembang menyembunyikan luka.
Bukan aku jika bukan pengingat suara teduhmu. Dengan peluh bercucuran, aku tetap bisa berdiri dengan punggung tegap. Memandang abu-abunya masa depan namun sering kali menengok menulusuri warna pelangi yang indah dalam masa lalu. Bukan. Nanti, akan ada masa dimana masa depanku lah yang berisikan warna pelangi lengkap dengan bulir-bulir kebahagiaan. Kamu adalah masa depanku yang tertunda (semoga).
Segumpal darah yang menjadi daging saat aku masih dalam kandungan, takkan menjadikan aku yang sekarang jika tidak ada tulang belulang yang menopang. Hingga peluh ini berbuah menjadi senyum yang mengembang. Semoga, kamulah tulang rusuk yang dititipkan Tuhan untukku.
Aku masih tegak. Dengan posisi sempurna menghapkan wajahku ke masa dimana aku ingin memilikimu. Masa abu-abu yang selalu kuharapkan akan menjadi bintang di langit yang membentuk cerita kita, nanti.
Menerka-nerka akulah alasanmu hidup di masa nanti, apakah salah? Tidak. Aku hanya berharap. Mungkin berlebihan. Lalu, apa yang membuat mimpi besar dan mimpi kecil berbeda? Hanya nama. Namun tidak dengan harapannya yang sama-sama besar, jadi untuk apa bermimpi kecil? Toh berujung berharap yang berlebihan juga.
"Aku selalu ingin melihatmu tersenyum. Tetapi akulah alasannya." hatiku ikut andil dalam pembicaraan yang selalu berkutat dalam tubuh ini. Namun hanya bicara tanpa jawaban. Hanya aku pendengar setianya. Tak ada orang konyol yang ingin mendengar hatiku yang selalu menangis dan merintih. Selalu mengeluh sambil bersyukur.
"Bukankah aku yang pantas?"
"Lihat aku, disini!"
"Bagaimana caranya melupakan?"
"Aku lelah kesakitan dan tidak ada orang yang tahu."
"If I could have just one wish, I'd have you by my side."
"I love you more. Than I did yesterday."
"Do you see how much I need you rightnow?"
Bodoh. Hatiku berbicara dengan bayangan semu. Tiada henti.
Dengan hembusan nafas yang ku hirup, hal gila yang disebut cinta itu merasuk secara nyata dan diam-diam dan begitu saja menumpuk dan mengendap, hingga sesak lalu hanya air mata yang bersaksi seberapa sakitnya ia masuk lalu begitu saja membabi butakan hatiku menjadi idiot.
Jika cinta membahagiakan, tetapi mengapa aku begitu tersakiti? Apakah salah cinta yang hanya dirahasiakan keberadaannya?
Jika cinta bukan hal yang menyayat, mengapa aku selalu terluka? Apakah salah cinta yang ukir hanya kurasakan sendiri?
Jika cinta bukan pisau, mengapa begitu tajam ia menusukkan rasanya dengan begitu menyakitkan di bagian yang paling sensitif; hatiku?
Jika cinta memiliki perasaan, mengapa aku dibiarkan terlantar? Seorang diri menyaksikan kepedihan yang menyiksanya perlahan namun dalam.
Jika cinta bukan baja, mengapa ia begitu kuat bertahan, lalu bersarang, dan tegar menanti?
Jika cinta bukan sinetron, mengapa ia begitu rumit, sulit dimengerti, dan begitu dramatisir?
Jika cinta bukan batu karang, mengapa yang aku rasakan adalah sakit yang teramat, ketika sesuatu itu menerjangku kuat dan tak kenal kata ampun.
Sesuatu itu adalah kamu. Binar matamu yang masih tergoreskan oleh kepolosan, namun mampu membuat goresan dalam yang tak mampu lagi ku gambarkan melalui kalimat, kata-kata atau sejenis lainnya yang membuat hatiku seperti tertusuk benda tajam?
Goresan luka yang menganga dan belum juga kering, kurasakan keberadaannya saat kamu melihatku namun tak mengucap kata sapaan, saat kita saling bertatap muka dan tak sepatah katapun keluar, saat kita bertemu tetapi tak ada yang memulai pembicaraan hanya untuk sekedar menanyakan kabar.
Lalu, peluh itu bukan lagi keringat yang menetes dari kulit yang lelah, namun dari pelupuk mata karena hatinya lagi-lagi seperti dihancurkan menjadi kepingan-kepingan yang sulit untuk disatukan lagi, bulir air mata yang berlinang mungkin beratus-ratus kali lipat dari luka yang tak terlihat.
Tetapi satu tetes air mata saja yang wanita keluarkan untuk seorang pria adalah tanda kasih sayang, jika jatuh tanpa ditadah, mereka perlu pelukan yang menghangatkan, dan aku bukanlah tipe wanita yang mengharapkan tadahan tangan seseorang, namun hanya menginginkan prianya sadar bahwa ada rindu yang tak terbalaskan hingga peluh yang keluar adalah pedih basah yang bisu yang menjadi satu-satunya saksi yang dapat membuatku lega.
Hujan membuat aku sadar. Tidak ada pelangi yang datang sebelum adanya awan yang sedang galau dan mengeluarkan isinya yang sudah tidak muat lagi ia tampung. Gemuruhnya membuatku riang menari-nari diatas jutaan rintiknya. Tertawa bebas tanpa menyadari aku bukan wanita yang sedang senang karena datangnya hujan, namun wanita yang sedang senang karena tidak ada yang menyadari aku sedang menangis. Karena tawa, mirip dengan tangis berlebihan. Dan sedih terkadang tertutup dengan senyum yang selalu mengembang menyembunyikan luka.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment