Karena aku benci ruang disetiap selah jariku tak lagi ada jari-jarimu.
Karena aku benci ruang waktu yang memisahkan kita untuk bersatu. Karena
aku benci terlalu besar jarak aku dan kamu untuk bersama. Karena aku
benci hatimu yang tak lagi berisi namaku. Karena aku benci kamu yang
menulisi namaku dihatimu dengan tinta yang dapat luntur.
Karena aku
benci senjaku tak ada lagi bayanganmu yang menyerupai silulet saat kita
bersama. Karena aku benci selalu menjadi konyol yang tetap kekeh
menunggumu kembali. Karena aku benci perpisahan. Karena aku benci akhir
yang bukan happy ending. Karena aku benci waktu yang terlalu cepat
membawamu berlalu jauh dari diriku disini. Karena aku benci kesepian.
Karena aku benci hati ini yang terus mengucap sendu. Karena aku benci
lidah kelu saat kamu mengucap 'selamat tinggal'. Karena aku benci ingin
berontak tetapi hanya tangis yang bisa aku keluarkan. Karena aku benci
ingin marah namun tertahan. Karena aku benci tekanan yang membuat aku
menjadi lemah. Karena aku benci kamu yang sekarang, mencintai yang lain.
Karena aku benci terlalu peduli akan membuat aku semakin sakit. Karena
aku benci terlalu berharap akan membuat aku semakin teringat. Karena aku
benci hanya kenangan yang tersisa. Karena aku benci mengapa masa lalu
yang terlalu indah hanya meninggalkan kata 'lupakanlah, cari masa
depanmu'. Aku benci. Karena aku benci ada perpisahan. Karena aku benci
kamu yang terlalu cepat mencari cinta yang baru. Karena, aku masih
mengeluarkan nafas sesak sesaat setelah kamu memanggil yang lain
'sayang'. Karena, akulah yang menanggung perih karena tidak ada yang
lebih sakit dari menunggu orang yang tidak lagi mencintai aku.
Dulu,
masih ada cinta. Yang tak terucap namun selalu bisa kita rasakan.
Merasuk hingga ke tulang belakang tubuh. Aliran darah terasa penuh
mengisi cinta kita yang dulu pernah ada. Tak ada ruang untuk mencintai
yang lain. Namun salah. Bahagia diawal saja sudah terlalu biasa, namun
itulah nyatanya. Inilah aku yang sekarang. Mungkin. Tetap dan akan
selalu. Menunggumu.
Rasa takut yang memasuki sudut-sudut tubuh,
ketika aku berfikir aku akan menemukan yang lain yang lebih baik. Bukan
ahli dalam menyembunyikan perasaan, namun aku hanya menjaganya agar
tetap utuh, dan berhenti terlihat memperdulikanmu walaupun aku selalu
melakukannya.
Dalam ruang waktu yang berbeda, aku bahkan masih
melihatmu. Karena kamulah bayangan indah yang mengukir bayangan hitam
disetiap aku berdiri dalam cahaya yang menyinari tembok, aku selalu
melihat jari-jariku terisi oleh genggamanmu yang erat. Aku hanya menutup
mata, dan aku akan merasakan kamu ada. Karena hanya dengan menutup
mata, imajinasiku begitu bebas berjalan dan mengusai otakku.
Cermin.
Aku selalu melihat bayangmu didalamnya. Memberi senyum hangat. Bukan
mistis, namun hanya imajinasiku yang membuatnya seakan nyata,
memperlihatkan indahnya kita yang dulu. Mempertunjukkan kisah bahagia
sebelum dimulai perpisahan yang teramat jauh. Mempertontonkan kenangan
yang dahulu kitalah yang menjadi pemerannya. Bermain diantara
imajinasiku dan kenyataan yang ada, bukan sakit, bahkan menyenangkan
namun semakin sulit untuk melupakan indahnya dirimu. Lekat-lekat kulihat
bayanganmu di cermin. Semakin kecil, semakin dalam, semakin masuk ke
dalam cermin itu, aku mencoba meraih tanganmu yang menjulur kepadaku,
namun entahlah, kamu menghilang sama dengan kenyataan hidup yang
kualami. Bahkan bayanganmupun, sudah muak merasuki imajinasiku.
Kamu
hanya lalu-lalang tak henti. Berjalan, berlari, duduk, dan bersantai.
Sendirian. Dan ku lihat, orang lain itu mendekatimu. Aku marah
berapi-api. Sesal. Dan ketika aku ingin menghapus orang itu, aku malah
terbangun. Aku bermimpi. Begitu buruk, namun mengajariku untuk
melupakanmu. Namun aku terlalu bosan mengingatkan diriku sendiri.
Bintang
di langit. Yang selalu menyatu serupa wajahmu sedang tersenyum. Aku
tersenyum balik. Namun bayangan orang lain itu, muncul lagi-lagi. Dan
aku, hanya bisa pergi dari tempat dimana aku baru saja melihat senyummu
yang dirangkai bintang. Aku muak. Aku benci perasaan ini. Aku terlalu
berharap. Karena kenangan itu terlalu banyak dan menumpuk di otakku. Dan
sayang untuk ku buang. Ingin ku simpan, namun aku takut mengingatnya.
Tapi, yang kulakukan sekarang, hanyalah diam. Dan hanya ingat, waktu
yang akan membuang semua bayangan hitammu di hidupku.
Sep 9, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Sep 9, 2012
Karena, tidak ada lagi KITA.
Labels:
ehm:')
Karena aku benci ruang disetiap selah jariku tak lagi ada jari-jarimu.
Karena aku benci ruang waktu yang memisahkan kita untuk bersatu. Karena
aku benci terlalu besar jarak aku dan kamu untuk bersama. Karena aku
benci hatimu yang tak lagi berisi namaku. Karena aku benci kamu yang
menulisi namaku dihatimu dengan tinta yang dapat luntur.
Karena aku benci senjaku tak ada lagi bayanganmu yang menyerupai silulet saat kita bersama. Karena aku benci selalu menjadi konyol yang tetap kekeh menunggumu kembali. Karena aku benci perpisahan. Karena aku benci akhir yang bukan happy ending. Karena aku benci waktu yang terlalu cepat membawamu berlalu jauh dari diriku disini. Karena aku benci kesepian. Karena aku benci hati ini yang terus mengucap sendu. Karena aku benci lidah kelu saat kamu mengucap 'selamat tinggal'. Karena aku benci ingin berontak tetapi hanya tangis yang bisa aku keluarkan. Karena aku benci ingin marah namun tertahan. Karena aku benci tekanan yang membuat aku menjadi lemah. Karena aku benci kamu yang sekarang, mencintai yang lain. Karena aku benci terlalu peduli akan membuat aku semakin sakit. Karena aku benci terlalu berharap akan membuat aku semakin teringat. Karena aku benci hanya kenangan yang tersisa. Karena aku benci mengapa masa lalu yang terlalu indah hanya meninggalkan kata 'lupakanlah, cari masa depanmu'. Aku benci. Karena aku benci ada perpisahan. Karena aku benci kamu yang terlalu cepat mencari cinta yang baru. Karena, aku masih mengeluarkan nafas sesak sesaat setelah kamu memanggil yang lain 'sayang'. Karena, akulah yang menanggung perih karena tidak ada yang lebih sakit dari menunggu orang yang tidak lagi mencintai aku.
Dulu, masih ada cinta. Yang tak terucap namun selalu bisa kita rasakan. Merasuk hingga ke tulang belakang tubuh. Aliran darah terasa penuh mengisi cinta kita yang dulu pernah ada. Tak ada ruang untuk mencintai yang lain. Namun salah. Bahagia diawal saja sudah terlalu biasa, namun itulah nyatanya. Inilah aku yang sekarang. Mungkin. Tetap dan akan selalu. Menunggumu.
Rasa takut yang memasuki sudut-sudut tubuh, ketika aku berfikir aku akan menemukan yang lain yang lebih baik. Bukan ahli dalam menyembunyikan perasaan, namun aku hanya menjaganya agar tetap utuh, dan berhenti terlihat memperdulikanmu walaupun aku selalu melakukannya.
Dalam ruang waktu yang berbeda, aku bahkan masih melihatmu. Karena kamulah bayangan indah yang mengukir bayangan hitam disetiap aku berdiri dalam cahaya yang menyinari tembok, aku selalu melihat jari-jariku terisi oleh genggamanmu yang erat. Aku hanya menutup mata, dan aku akan merasakan kamu ada. Karena hanya dengan menutup mata, imajinasiku begitu bebas berjalan dan mengusai otakku.
Cermin. Aku selalu melihat bayangmu didalamnya. Memberi senyum hangat. Bukan mistis, namun hanya imajinasiku yang membuatnya seakan nyata, memperlihatkan indahnya kita yang dulu. Mempertunjukkan kisah bahagia sebelum dimulai perpisahan yang teramat jauh. Mempertontonkan kenangan yang dahulu kitalah yang menjadi pemerannya. Bermain diantara imajinasiku dan kenyataan yang ada, bukan sakit, bahkan menyenangkan namun semakin sulit untuk melupakan indahnya dirimu. Lekat-lekat kulihat bayanganmu di cermin. Semakin kecil, semakin dalam, semakin masuk ke dalam cermin itu, aku mencoba meraih tanganmu yang menjulur kepadaku, namun entahlah, kamu menghilang sama dengan kenyataan hidup yang kualami. Bahkan bayanganmupun, sudah muak merasuki imajinasiku.
Kamu hanya lalu-lalang tak henti. Berjalan, berlari, duduk, dan bersantai. Sendirian. Dan ku lihat, orang lain itu mendekatimu. Aku marah berapi-api. Sesal. Dan ketika aku ingin menghapus orang itu, aku malah terbangun. Aku bermimpi. Begitu buruk, namun mengajariku untuk melupakanmu. Namun aku terlalu bosan mengingatkan diriku sendiri.
Bintang di langit. Yang selalu menyatu serupa wajahmu sedang tersenyum. Aku tersenyum balik. Namun bayangan orang lain itu, muncul lagi-lagi. Dan aku, hanya bisa pergi dari tempat dimana aku baru saja melihat senyummu yang dirangkai bintang. Aku muak. Aku benci perasaan ini. Aku terlalu berharap. Karena kenangan itu terlalu banyak dan menumpuk di otakku. Dan sayang untuk ku buang. Ingin ku simpan, namun aku takut mengingatnya. Tapi, yang kulakukan sekarang, hanyalah diam. Dan hanya ingat, waktu yang akan membuang semua bayangan hitammu di hidupku.
Karena aku benci senjaku tak ada lagi bayanganmu yang menyerupai silulet saat kita bersama. Karena aku benci selalu menjadi konyol yang tetap kekeh menunggumu kembali. Karena aku benci perpisahan. Karena aku benci akhir yang bukan happy ending. Karena aku benci waktu yang terlalu cepat membawamu berlalu jauh dari diriku disini. Karena aku benci kesepian. Karena aku benci hati ini yang terus mengucap sendu. Karena aku benci lidah kelu saat kamu mengucap 'selamat tinggal'. Karena aku benci ingin berontak tetapi hanya tangis yang bisa aku keluarkan. Karena aku benci ingin marah namun tertahan. Karena aku benci tekanan yang membuat aku menjadi lemah. Karena aku benci kamu yang sekarang, mencintai yang lain. Karena aku benci terlalu peduli akan membuat aku semakin sakit. Karena aku benci terlalu berharap akan membuat aku semakin teringat. Karena aku benci hanya kenangan yang tersisa. Karena aku benci mengapa masa lalu yang terlalu indah hanya meninggalkan kata 'lupakanlah, cari masa depanmu'. Aku benci. Karena aku benci ada perpisahan. Karena aku benci kamu yang terlalu cepat mencari cinta yang baru. Karena, aku masih mengeluarkan nafas sesak sesaat setelah kamu memanggil yang lain 'sayang'. Karena, akulah yang menanggung perih karena tidak ada yang lebih sakit dari menunggu orang yang tidak lagi mencintai aku.
Dulu, masih ada cinta. Yang tak terucap namun selalu bisa kita rasakan. Merasuk hingga ke tulang belakang tubuh. Aliran darah terasa penuh mengisi cinta kita yang dulu pernah ada. Tak ada ruang untuk mencintai yang lain. Namun salah. Bahagia diawal saja sudah terlalu biasa, namun itulah nyatanya. Inilah aku yang sekarang. Mungkin. Tetap dan akan selalu. Menunggumu.
Rasa takut yang memasuki sudut-sudut tubuh, ketika aku berfikir aku akan menemukan yang lain yang lebih baik. Bukan ahli dalam menyembunyikan perasaan, namun aku hanya menjaganya agar tetap utuh, dan berhenti terlihat memperdulikanmu walaupun aku selalu melakukannya.
Dalam ruang waktu yang berbeda, aku bahkan masih melihatmu. Karena kamulah bayangan indah yang mengukir bayangan hitam disetiap aku berdiri dalam cahaya yang menyinari tembok, aku selalu melihat jari-jariku terisi oleh genggamanmu yang erat. Aku hanya menutup mata, dan aku akan merasakan kamu ada. Karena hanya dengan menutup mata, imajinasiku begitu bebas berjalan dan mengusai otakku.
Cermin. Aku selalu melihat bayangmu didalamnya. Memberi senyum hangat. Bukan mistis, namun hanya imajinasiku yang membuatnya seakan nyata, memperlihatkan indahnya kita yang dulu. Mempertunjukkan kisah bahagia sebelum dimulai perpisahan yang teramat jauh. Mempertontonkan kenangan yang dahulu kitalah yang menjadi pemerannya. Bermain diantara imajinasiku dan kenyataan yang ada, bukan sakit, bahkan menyenangkan namun semakin sulit untuk melupakan indahnya dirimu. Lekat-lekat kulihat bayanganmu di cermin. Semakin kecil, semakin dalam, semakin masuk ke dalam cermin itu, aku mencoba meraih tanganmu yang menjulur kepadaku, namun entahlah, kamu menghilang sama dengan kenyataan hidup yang kualami. Bahkan bayanganmupun, sudah muak merasuki imajinasiku.
Kamu hanya lalu-lalang tak henti. Berjalan, berlari, duduk, dan bersantai. Sendirian. Dan ku lihat, orang lain itu mendekatimu. Aku marah berapi-api. Sesal. Dan ketika aku ingin menghapus orang itu, aku malah terbangun. Aku bermimpi. Begitu buruk, namun mengajariku untuk melupakanmu. Namun aku terlalu bosan mengingatkan diriku sendiri.
Bintang di langit. Yang selalu menyatu serupa wajahmu sedang tersenyum. Aku tersenyum balik. Namun bayangan orang lain itu, muncul lagi-lagi. Dan aku, hanya bisa pergi dari tempat dimana aku baru saja melihat senyummu yang dirangkai bintang. Aku muak. Aku benci perasaan ini. Aku terlalu berharap. Karena kenangan itu terlalu banyak dan menumpuk di otakku. Dan sayang untuk ku buang. Ingin ku simpan, namun aku takut mengingatnya. Tapi, yang kulakukan sekarang, hanyalah diam. Dan hanya ingat, waktu yang akan membuang semua bayangan hitammu di hidupku.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment