Dibuat gila olehnya. Menemukan tingkat penasaran oleh keadaannya yang
membumbung dihati setiap waktu. Dibatasi waktu dan jarak, kita tak
saling menatap. Selalu membuat aku ingin sentuh, namun tak dapat. Ingin
ku raba wajahnya, namun tidak bisa. Sekedar hembusan nafasnya pun ingin
ku dengar. Merindukannya. Selalu ku lakukan. Namun berhenti ku
tunjukkan.
Melihatmu dari jarak yang tak dekat.
Memperhatikanmu fokus. Sebanyak apapun lalu-lalang orang yang
menghalangi, tak dapat menghentikan arah mataku kepadamu. Ingin selalu
tahu apa yang terjadi dan apa yang kamu lakukan. Sekedar hangat tubuhmu
pun aku perhatikan. Mempedulikanmu. Selalu kulakukan, namun berhenti ku
tunjukkan.
Kepadamu yang selalu aku harapkan, dari yang selalu mengharapkanmu:
Lihatlah.
Mulai terbit fajar hingga senja menutupnya dengan jingga yang menawan
dan bulan yang menjulang ke langit, aku selalu ingin melihatmu.
Memfokuskan hari-hariku untuk hanya ingin menyentuhmu. Memberimu pelukan
yang selama ini aku impikan. Membuatmu tersenyum, karena aku, bukan
karena orang lain. Kenapa tidak ada tempat untuk aku mengisi harimu yang
selalu terlihat baik saja. Bukan saja iri, oleh orang-orang yang dekat
denganmu, tetapi aku berharap, akulah satu-satunya yang dapat dekat
bahkan tak ada jarak denganmu. Aku selalu ingin kamu tahu. Disinilah
aku, aku yang selalu memperhatikanmu dalam senyum yang ku kembangkan
setiap melihatmu bahagia bersama yang lain. Tetapi, mungkin aku tidak
cukup menarik untuk kamu lihat, apalagi perhatikan.
Bukan
lagi mejikuhibiniu warnaku, namun hanya abu-abu pucat. Aku tak pantas
disebut pelangi. Tadinya, aku adalah pelangi yang selalu memancarkan
warna beragamnya, namun sekarang aku hanyalah abu-abu yang tidak jelas
hitam atau putih. Aku tidak tahu arah mana yang harus aku pilih. Aku
kembali menjadi pelangi tetapi kehilangan sosokmu? Atau abu-abu pucat
dengan kamu yang hanya bisa kuperhatikan dari jarak jauh? Aku hanya bisa
mendengus. Aku bosan menjadi pelangi dengan kesenanganku tanpa sosokmu
yang menghantui pikiranku, namun ketika aku memilih menjadi abu-abu
pucat aku malah menyesal karena kamu hanya angan yang hanya dalam mimpi
dapat kumiliki.
Bukan aku yang memilihmu. Namun hati sendiri
yang merajut cinta itu semakin tumbuh. Benihnya sangat subur maka ia
tumbuh besar menjalar ke seluruh pelosok tubuh ini.
Bukan
aku yang memperhatikanmu, namun bola mataku yang ingin selalu
menyaksikan cahaya yang begitu besar yang terdapat dalam lingkar hitam
bola matamu. Cahayanya teduh, yang selalu membuat aku tenang ketika
masuk ke dalam serat-serat hitamnya.
Kepada kamu yang selalu kurindukan, dari aku yang merindukanmu:
Bagai
bunga matahari, kamu selalu tumbuh mekar dihati ini. Merekah dengan
indahnya. Mengintimidasi seluruh bagian didalamnya untuk tetap
merindukanmu. Bebas menjalankan tubuhku, hatiku memang tidak selalu
benar, namun arah yang dia ambil tidak pernah salah. Bukan logika lagi
yang terlintas, namun hati selalu menang dalam perdebatan. Cinta
melumpuhkan logika. Dan kamu, melumpuhkan aku, seluruh rangkanya kamu
buat lumpuh, namun tidak dengan hati, kamu bersarang didalamnya, dan
merobotkan tubuhku untuk selalu mengarahkan tujuannya kepadamu. Kamu
begitu lihai mencuri hati ini diam-diam. Dan aku terlalu bodoh, atau
entah kalau ini tulus, bahwa aku selalu mencintaimu dari jauh dan mulut
yang tak pernah berani bicara kebenarannya.
Mungkin hanya
dalam diam, semua rahasia ini hanya Tuhan yang memegang. Mungkin hanya
dalam rapatnya bibir yang kukunci, semua cinta ini akan terjaga. Mungkin
dalam pintu besar yang ku gembok, lalu kuncinya ku buang, kamu akan
hangat didalamnya bersama merekahnya cintaku untukmu.. jauh didalam hati
ini. Bukan aku bila tidak merindukanmu. Bukan aku bila mengakui cinta
yang ku pendam. Namun, selalu aku bila aku mengharapkanmu dengan hal
konyol yang disebut cinta.
Sep 18, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Sep 18, 2012
Too much hope
Labels:
ehm:')
Dibuat gila olehnya. Menemukan tingkat penasaran oleh keadaannya yang
membumbung dihati setiap waktu. Dibatasi waktu dan jarak, kita tak
saling menatap. Selalu membuat aku ingin sentuh, namun tak dapat. Ingin
ku raba wajahnya, namun tidak bisa. Sekedar hembusan nafasnya pun ingin
ku dengar. Merindukannya. Selalu ku lakukan. Namun berhenti ku
tunjukkan.
Melihatmu dari jarak yang tak dekat. Memperhatikanmu fokus. Sebanyak apapun lalu-lalang orang yang menghalangi, tak dapat menghentikan arah mataku kepadamu. Ingin selalu tahu apa yang terjadi dan apa yang kamu lakukan. Sekedar hangat tubuhmu pun aku perhatikan. Mempedulikanmu. Selalu kulakukan, namun berhenti ku tunjukkan.
Kepadamu yang selalu aku harapkan, dari yang selalu mengharapkanmu:
Lihatlah. Mulai terbit fajar hingga senja menutupnya dengan jingga yang menawan dan bulan yang menjulang ke langit, aku selalu ingin melihatmu. Memfokuskan hari-hariku untuk hanya ingin menyentuhmu. Memberimu pelukan yang selama ini aku impikan. Membuatmu tersenyum, karena aku, bukan karena orang lain. Kenapa tidak ada tempat untuk aku mengisi harimu yang selalu terlihat baik saja. Bukan saja iri, oleh orang-orang yang dekat denganmu, tetapi aku berharap, akulah satu-satunya yang dapat dekat bahkan tak ada jarak denganmu. Aku selalu ingin kamu tahu. Disinilah aku, aku yang selalu memperhatikanmu dalam senyum yang ku kembangkan setiap melihatmu bahagia bersama yang lain. Tetapi, mungkin aku tidak cukup menarik untuk kamu lihat, apalagi perhatikan.
Bukan lagi mejikuhibiniu warnaku, namun hanya abu-abu pucat. Aku tak pantas disebut pelangi. Tadinya, aku adalah pelangi yang selalu memancarkan warna beragamnya, namun sekarang aku hanyalah abu-abu yang tidak jelas hitam atau putih. Aku tidak tahu arah mana yang harus aku pilih. Aku kembali menjadi pelangi tetapi kehilangan sosokmu? Atau abu-abu pucat dengan kamu yang hanya bisa kuperhatikan dari jarak jauh? Aku hanya bisa mendengus. Aku bosan menjadi pelangi dengan kesenanganku tanpa sosokmu yang menghantui pikiranku, namun ketika aku memilih menjadi abu-abu pucat aku malah menyesal karena kamu hanya angan yang hanya dalam mimpi dapat kumiliki.
Bukan aku yang memilihmu. Namun hati sendiri yang merajut cinta itu semakin tumbuh. Benihnya sangat subur maka ia tumbuh besar menjalar ke seluruh pelosok tubuh ini.
Bukan aku yang memperhatikanmu, namun bola mataku yang ingin selalu menyaksikan cahaya yang begitu besar yang terdapat dalam lingkar hitam bola matamu. Cahayanya teduh, yang selalu membuat aku tenang ketika masuk ke dalam serat-serat hitamnya.
Kepada kamu yang selalu kurindukan, dari aku yang merindukanmu:
Bagai bunga matahari, kamu selalu tumbuh mekar dihati ini. Merekah dengan indahnya. Mengintimidasi seluruh bagian didalamnya untuk tetap merindukanmu. Bebas menjalankan tubuhku, hatiku memang tidak selalu benar, namun arah yang dia ambil tidak pernah salah. Bukan logika lagi yang terlintas, namun hati selalu menang dalam perdebatan. Cinta melumpuhkan logika. Dan kamu, melumpuhkan aku, seluruh rangkanya kamu buat lumpuh, namun tidak dengan hati, kamu bersarang didalamnya, dan merobotkan tubuhku untuk selalu mengarahkan tujuannya kepadamu. Kamu begitu lihai mencuri hati ini diam-diam. Dan aku terlalu bodoh, atau entah kalau ini tulus, bahwa aku selalu mencintaimu dari jauh dan mulut yang tak pernah berani bicara kebenarannya.
Mungkin hanya dalam diam, semua rahasia ini hanya Tuhan yang memegang. Mungkin hanya dalam rapatnya bibir yang kukunci, semua cinta ini akan terjaga. Mungkin dalam pintu besar yang ku gembok, lalu kuncinya ku buang, kamu akan hangat didalamnya bersama merekahnya cintaku untukmu.. jauh didalam hati ini. Bukan aku bila tidak merindukanmu. Bukan aku bila mengakui cinta yang ku pendam. Namun, selalu aku bila aku mengharapkanmu dengan hal konyol yang disebut cinta.
Melihatmu dari jarak yang tak dekat. Memperhatikanmu fokus. Sebanyak apapun lalu-lalang orang yang menghalangi, tak dapat menghentikan arah mataku kepadamu. Ingin selalu tahu apa yang terjadi dan apa yang kamu lakukan. Sekedar hangat tubuhmu pun aku perhatikan. Mempedulikanmu. Selalu kulakukan, namun berhenti ku tunjukkan.
Kepadamu yang selalu aku harapkan, dari yang selalu mengharapkanmu:
Lihatlah. Mulai terbit fajar hingga senja menutupnya dengan jingga yang menawan dan bulan yang menjulang ke langit, aku selalu ingin melihatmu. Memfokuskan hari-hariku untuk hanya ingin menyentuhmu. Memberimu pelukan yang selama ini aku impikan. Membuatmu tersenyum, karena aku, bukan karena orang lain. Kenapa tidak ada tempat untuk aku mengisi harimu yang selalu terlihat baik saja. Bukan saja iri, oleh orang-orang yang dekat denganmu, tetapi aku berharap, akulah satu-satunya yang dapat dekat bahkan tak ada jarak denganmu. Aku selalu ingin kamu tahu. Disinilah aku, aku yang selalu memperhatikanmu dalam senyum yang ku kembangkan setiap melihatmu bahagia bersama yang lain. Tetapi, mungkin aku tidak cukup menarik untuk kamu lihat, apalagi perhatikan.
Bukan lagi mejikuhibiniu warnaku, namun hanya abu-abu pucat. Aku tak pantas disebut pelangi. Tadinya, aku adalah pelangi yang selalu memancarkan warna beragamnya, namun sekarang aku hanyalah abu-abu yang tidak jelas hitam atau putih. Aku tidak tahu arah mana yang harus aku pilih. Aku kembali menjadi pelangi tetapi kehilangan sosokmu? Atau abu-abu pucat dengan kamu yang hanya bisa kuperhatikan dari jarak jauh? Aku hanya bisa mendengus. Aku bosan menjadi pelangi dengan kesenanganku tanpa sosokmu yang menghantui pikiranku, namun ketika aku memilih menjadi abu-abu pucat aku malah menyesal karena kamu hanya angan yang hanya dalam mimpi dapat kumiliki.
Bukan aku yang memilihmu. Namun hati sendiri yang merajut cinta itu semakin tumbuh. Benihnya sangat subur maka ia tumbuh besar menjalar ke seluruh pelosok tubuh ini.
Bukan aku yang memperhatikanmu, namun bola mataku yang ingin selalu menyaksikan cahaya yang begitu besar yang terdapat dalam lingkar hitam bola matamu. Cahayanya teduh, yang selalu membuat aku tenang ketika masuk ke dalam serat-serat hitamnya.
Kepada kamu yang selalu kurindukan, dari aku yang merindukanmu:
Bagai bunga matahari, kamu selalu tumbuh mekar dihati ini. Merekah dengan indahnya. Mengintimidasi seluruh bagian didalamnya untuk tetap merindukanmu. Bebas menjalankan tubuhku, hatiku memang tidak selalu benar, namun arah yang dia ambil tidak pernah salah. Bukan logika lagi yang terlintas, namun hati selalu menang dalam perdebatan. Cinta melumpuhkan logika. Dan kamu, melumpuhkan aku, seluruh rangkanya kamu buat lumpuh, namun tidak dengan hati, kamu bersarang didalamnya, dan merobotkan tubuhku untuk selalu mengarahkan tujuannya kepadamu. Kamu begitu lihai mencuri hati ini diam-diam. Dan aku terlalu bodoh, atau entah kalau ini tulus, bahwa aku selalu mencintaimu dari jauh dan mulut yang tak pernah berani bicara kebenarannya.
Mungkin hanya dalam diam, semua rahasia ini hanya Tuhan yang memegang. Mungkin hanya dalam rapatnya bibir yang kukunci, semua cinta ini akan terjaga. Mungkin dalam pintu besar yang ku gembok, lalu kuncinya ku buang, kamu akan hangat didalamnya bersama merekahnya cintaku untukmu.. jauh didalam hati ini. Bukan aku bila tidak merindukanmu. Bukan aku bila mengakui cinta yang ku pendam. Namun, selalu aku bila aku mengharapkanmu dengan hal konyol yang disebut cinta.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment