Oct 15, 2012

Seperti kayu tua yang dicat

Dengan sergapan pikiran tentang dirimu yang dengan cepat mengalir dalam darahku, membuat degub jantungku tak teratur dan berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya, sebab mata kita saling menatap lekat, namun hanya hening pengantarnya. Kamu hanya menatap binar kesepian dalam mataku dan aku menangkap sinar teduh yang selalu menyertai keadaan mata hitam ke-coklatan milikmu diantara kantung mata yang sedikit berisi.

Dengan alunan jeritan-jeritan halus dari dalam hatiku yang mengaku perih, kamu tetap tidak mempedulikanku.
Dengan memori yang merekam wajah dan ekspresi-ekspresimu yang berbeda-beda dan konyol, aku berharap kamu dapat melihat bagaimana sakitnya berdiri sendiri tanpa sandaran saat lelah dan angin kencang menggoyahkan punggung tegakku yang masih saja berangan-angan kau tiang penyangga kelelahannya.


"Ketika ombak serta buih putihnya menerpaku, aku hanya mematung dan menahan sakitnya sendirian. Lalu, ketika ombak tidak mempedulikan batu karang tangguh yang masih kokoh, air laut diam-diam mengikisku perlahan, membuat lubang-lubang kecil yang membuatku rapuh."
Seperti batu karanglah aku, lantas kamu? ombak beserta air lautlah jiwa dan sikapmu padaku.


Dengan tatapan dingin, kamu melirik bundar hitam mataku, aku hanya bertopang dagu membeku dengan pandangan kosong, berpura-pura tidak menyadari sinar mata teduh itu melihat ke arah binar mata kesepian ini.


Dan, saat kau mendekati lawan jenismu yang lain, hatiku layaknya tersiram bensin yang kau sulut dengan api, hingga baranya membumbung hinga ke ubun-ubun. PANAS.


Begitulah disebutkan oleh seseorang yang terauma oleh cinta, dia berkata:
"Bukan cinta namanya jika bukan berujung nyeri. Bukan cinta namanya jika tidak berakhir pilu. 'Akulah sosok bayangan, hitam pekat seperti asap, dapat menembus ruang manapun yang kau anggap tak dapat ku jangkau. Akulah cinta, yang walaupun kau adalah pelari hebat, aku dapat menyamai keberadaanmu, dimanapun..' itu katanya, menakut-nakuti dalam imajinasiku sendiri. Aku hanya lelah. Cinta memaksa diriku untuk meratap kian hari, bulan, tahun, dengan keji dan tak kenal jam berapa ingatan tentangnya akan datang dan menyeret kita untuk dengan terpaksa, mengingatnya, lalu kembali nyeri di ulu hati.
Aku hanya takut, aku salah memilah saat setelah aku memutuskan untuk membuka pintu hatiku yang ku rantai dan gembok agar tidak mudah kuruntuhkan, karena bahkan.. pintu hati yang ku rantai dan ku gembok sendiri pun dapat runtuh hanya dengan sentuhan pelan. Dan, aku adalah tipe parnoan."
Dia sebagai seseorang yang terauma oleh cinta diatas adalah aku.

Apa yang bisa ku perbuat? ketika pengendali diriku sendiri, dinding pertahanannya pun mudah runtuh. Hanya diam lalu menghadapi sakitnya kenyataan? Ya.


Terkikis dan lapuk oleh cinta itu sendiri.

0 comments:

Post a Comment

Oct 15, 2012

Seperti kayu tua yang dicat

Dengan sergapan pikiran tentang dirimu yang dengan cepat mengalir dalam darahku, membuat degub jantungku tak teratur dan berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya, sebab mata kita saling menatap lekat, namun hanya hening pengantarnya. Kamu hanya menatap binar kesepian dalam mataku dan aku menangkap sinar teduh yang selalu menyertai keadaan mata hitam ke-coklatan milikmu diantara kantung mata yang sedikit berisi.

Dengan alunan jeritan-jeritan halus dari dalam hatiku yang mengaku perih, kamu tetap tidak mempedulikanku.
Dengan memori yang merekam wajah dan ekspresi-ekspresimu yang berbeda-beda dan konyol, aku berharap kamu dapat melihat bagaimana sakitnya berdiri sendiri tanpa sandaran saat lelah dan angin kencang menggoyahkan punggung tegakku yang masih saja berangan-angan kau tiang penyangga kelelahannya.


"Ketika ombak serta buih putihnya menerpaku, aku hanya mematung dan menahan sakitnya sendirian. Lalu, ketika ombak tidak mempedulikan batu karang tangguh yang masih kokoh, air laut diam-diam mengikisku perlahan, membuat lubang-lubang kecil yang membuatku rapuh."
Seperti batu karanglah aku, lantas kamu? ombak beserta air lautlah jiwa dan sikapmu padaku.


Dengan tatapan dingin, kamu melirik bundar hitam mataku, aku hanya bertopang dagu membeku dengan pandangan kosong, berpura-pura tidak menyadari sinar mata teduh itu melihat ke arah binar mata kesepian ini.


Dan, saat kau mendekati lawan jenismu yang lain, hatiku layaknya tersiram bensin yang kau sulut dengan api, hingga baranya membumbung hinga ke ubun-ubun. PANAS.


Begitulah disebutkan oleh seseorang yang terauma oleh cinta, dia berkata:
"Bukan cinta namanya jika bukan berujung nyeri. Bukan cinta namanya jika tidak berakhir pilu. 'Akulah sosok bayangan, hitam pekat seperti asap, dapat menembus ruang manapun yang kau anggap tak dapat ku jangkau. Akulah cinta, yang walaupun kau adalah pelari hebat, aku dapat menyamai keberadaanmu, dimanapun..' itu katanya, menakut-nakuti dalam imajinasiku sendiri. Aku hanya lelah. Cinta memaksa diriku untuk meratap kian hari, bulan, tahun, dengan keji dan tak kenal jam berapa ingatan tentangnya akan datang dan menyeret kita untuk dengan terpaksa, mengingatnya, lalu kembali nyeri di ulu hati.
Aku hanya takut, aku salah memilah saat setelah aku memutuskan untuk membuka pintu hatiku yang ku rantai dan gembok agar tidak mudah kuruntuhkan, karena bahkan.. pintu hati yang ku rantai dan ku gembok sendiri pun dapat runtuh hanya dengan sentuhan pelan. Dan, aku adalah tipe parnoan."
Dia sebagai seseorang yang terauma oleh cinta diatas adalah aku.

Apa yang bisa ku perbuat? ketika pengendali diriku sendiri, dinding pertahanannya pun mudah runtuh. Hanya diam lalu menghadapi sakitnya kenyataan? Ya.


Terkikis dan lapuk oleh cinta itu sendiri.

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design