“Mengapa lagi?” kata
wanita berambut pirang disampingku.
“Tidak,
tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawabku.
“Baiklah..”
katanya, masih menatap kearah majalah yang dia baca.
Lalu semenit kemudian, terlintas dipikiranku untuk
bercerita. “ Bagaimana seorang pria bisa tidak sadar sedang melukai wanita yang
katanya ia sayang?” kataku, dengan wajah kesal yang sering ia bilang kusut
sekali.
“Karena
pria itu belum mengenalmu seutuhnya, ia tidak tahu bahwa yang ia lakukan melukaimu.
Jika ia tahu, ia tidak akan melakukannya. Jangan seperti orang bisu. Pria itu
manusia, dia tidak bisa mengetahui apa yang kau inginkan atau rasakan hanya
dengan sekali melihat tatapan bingsalmu. Bicaralah baik-baik, jika kau memang
terluka, dia akan mengerti..”
“Aku
hanya seorang wanita, seharusnya mereka berpikir lebih cerdik itu akan
melukaiku atau mengerti bahwa yang ia lakukan melukaiku..”
“Oh, kau bermimpi. Pria
dewasapun tidak akan mengerti jika kau hanya diam, menyembunyikan luka dan
berharap dia akan lebih memperhatikanmu, dia akan lebih muak jika kau begini
terus, kesal terus, dan terus-menerus marah-marah tidak jelas. Think smart,
dude!”
“Haruskah aku putuskan?”
“Oh, ternyata kau
benar-benar bodoh. Tidak pernahkah kau sedikit saja mendengar obrolan pria
tentang wanita-wanita yang memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas? Mereka membenci
itu, apalagi jika pria itu tidak tahu jelas apa yang dimaksudkan si wanita,
apakah dia tidak cinta atau hanya memanfaatkannya saja.”
“Aku sudah lelah
mengerti, dilupakan, dan meminta maaf.”
“Seharusnya lebih
daripada itu. Kau tidak tahu saja, pria lebih tersakiti daripada itu saat kau
marah-marah. Wanita sering berbicara ‘pedas’, kau tahu itu mereka kesal dengan
wanita yang berbicara berlebihan dan pedas.”
“Jadi?”
“Jika kau pastikan
priamu serius, pertahankan. Hingga akhirnya kau akan mengerti, dia akan lebih
terluka jika kau meninggalkannya. Dia akan lebih dramatis memang saat kau
menggertak akan pergi, tapi begitulah mereka, lemah disaat-saat ingin diserang,
dan saat kita tidak jadi menyerang mereka kembali cuek dan tidak peduli. Hah! Aku
juga muak. Sudahlah, urusi priamu. Dia mencintaimu, dan berhenti marah-marah
tidak jelas. Priamu akan bosan!”
“Benarkah? Aku tidak
mengerti dengan pria.”
“Bagaimana dengan pria?
Apa dia mengerti dengan obrolan kita ini? Sebagian besar tidak, mereka selalu
mengagung-agungkan sifatnya yang ‘cuek tapi sayang’ daripada menunjukkannya,
yang padahal wanita sangat ingin pria tersebut menunjukkan perasaannya. Tetapi,
yakinlah pria punya caranya sendiri. Jangan kau samakan dengan cowok atau
lelaki. Mereka berpikiran seperti bocah tengil dan nakal. Aku benci sekali
dengan anak-anak seperti itu, mereka tidak benar-benar serius dan selalu
mengumbar janji yang tidak bias mereka tepati. Itu bukan cerminan seorang pria.”
0 comments:
Post a Comment