Jan 26, 2013

Girl's conversations


“Mengapa lagi?” kata wanita berambut pirang disampingku.
            “Tidak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawabku.
            “Baiklah..” katanya, masih menatap kearah majalah yang dia baca.
Lalu semenit kemudian, terlintas dipikiranku untuk bercerita. “ Bagaimana seorang pria bisa tidak sadar sedang melukai wanita yang katanya ia sayang?” kataku, dengan wajah kesal yang sering ia bilang kusut sekali.
            “Karena pria itu belum mengenalmu seutuhnya, ia tidak tahu bahwa yang ia lakukan melukaimu. Jika ia tahu, ia tidak akan melakukannya. Jangan seperti orang bisu. Pria itu manusia, dia tidak bisa mengetahui apa yang kau inginkan atau rasakan hanya dengan sekali melihat tatapan bingsalmu. Bicaralah baik-baik, jika kau memang terluka, dia akan mengerti..”
            “Aku hanya seorang wanita, seharusnya mereka berpikir lebih cerdik itu akan melukaiku atau mengerti bahwa yang ia lakukan melukaiku..”
“Oh, kau bermimpi. Pria dewasapun tidak akan mengerti jika kau hanya diam, menyembunyikan luka dan berharap dia akan lebih memperhatikanmu, dia akan lebih muak jika kau begini terus, kesal terus, dan terus-menerus marah-marah tidak jelas. Think smart, dude!
“Haruskah aku putuskan?”
“Oh, ternyata kau benar-benar bodoh. Tidak pernahkah kau sedikit saja mendengar obrolan pria tentang wanita-wanita yang memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas? Mereka membenci itu, apalagi jika pria itu tidak tahu jelas apa yang dimaksudkan si wanita, apakah dia tidak cinta atau hanya memanfaatkannya saja.”
“Aku sudah lelah mengerti, dilupakan, dan meminta maaf.”
“Seharusnya lebih daripada itu. Kau tidak tahu saja, pria lebih tersakiti daripada itu saat kau marah-marah. Wanita sering berbicara ‘pedas’, kau tahu itu mereka kesal dengan wanita yang berbicara berlebihan dan pedas.”
“Jadi?”
“Jika kau pastikan priamu serius, pertahankan. Hingga akhirnya kau akan mengerti, dia akan lebih terluka jika kau meninggalkannya. Dia akan lebih dramatis memang saat kau menggertak akan pergi, tapi begitulah mereka, lemah disaat-saat ingin diserang, dan saat kita tidak jadi menyerang mereka kembali cuek dan tidak peduli. Hah! Aku juga muak. Sudahlah, urusi priamu. Dia mencintaimu, dan berhenti marah-marah tidak jelas. Priamu akan bosan!”
“Benarkah? Aku tidak mengerti dengan pria.”
“Bagaimana dengan pria? Apa dia mengerti dengan obrolan kita ini? Sebagian besar tidak, mereka selalu mengagung-agungkan sifatnya yang ‘cuek tapi sayang’ daripada menunjukkannya, yang padahal wanita sangat ingin pria tersebut menunjukkan perasaannya. Tetapi, yakinlah pria punya caranya sendiri. Jangan kau samakan dengan cowok atau lelaki. Mereka berpikiran seperti bocah tengil dan nakal. Aku benci sekali dengan anak-anak seperti itu, mereka tidak benar-benar serius dan selalu mengumbar janji yang tidak bias mereka tepati. Itu bukan cerminan seorang pria.”

0 comments:

Post a Comment

Jan 26, 2013

Girl's conversations


“Mengapa lagi?” kata wanita berambut pirang disampingku.
            “Tidak, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawabku.
            “Baiklah..” katanya, masih menatap kearah majalah yang dia baca.
Lalu semenit kemudian, terlintas dipikiranku untuk bercerita. “ Bagaimana seorang pria bisa tidak sadar sedang melukai wanita yang katanya ia sayang?” kataku, dengan wajah kesal yang sering ia bilang kusut sekali.
            “Karena pria itu belum mengenalmu seutuhnya, ia tidak tahu bahwa yang ia lakukan melukaimu. Jika ia tahu, ia tidak akan melakukannya. Jangan seperti orang bisu. Pria itu manusia, dia tidak bisa mengetahui apa yang kau inginkan atau rasakan hanya dengan sekali melihat tatapan bingsalmu. Bicaralah baik-baik, jika kau memang terluka, dia akan mengerti..”
            “Aku hanya seorang wanita, seharusnya mereka berpikir lebih cerdik itu akan melukaiku atau mengerti bahwa yang ia lakukan melukaiku..”
“Oh, kau bermimpi. Pria dewasapun tidak akan mengerti jika kau hanya diam, menyembunyikan luka dan berharap dia akan lebih memperhatikanmu, dia akan lebih muak jika kau begini terus, kesal terus, dan terus-menerus marah-marah tidak jelas. Think smart, dude!
“Haruskah aku putuskan?”
“Oh, ternyata kau benar-benar bodoh. Tidak pernahkah kau sedikit saja mendengar obrolan pria tentang wanita-wanita yang memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas? Mereka membenci itu, apalagi jika pria itu tidak tahu jelas apa yang dimaksudkan si wanita, apakah dia tidak cinta atau hanya memanfaatkannya saja.”
“Aku sudah lelah mengerti, dilupakan, dan meminta maaf.”
“Seharusnya lebih daripada itu. Kau tidak tahu saja, pria lebih tersakiti daripada itu saat kau marah-marah. Wanita sering berbicara ‘pedas’, kau tahu itu mereka kesal dengan wanita yang berbicara berlebihan dan pedas.”
“Jadi?”
“Jika kau pastikan priamu serius, pertahankan. Hingga akhirnya kau akan mengerti, dia akan lebih terluka jika kau meninggalkannya. Dia akan lebih dramatis memang saat kau menggertak akan pergi, tapi begitulah mereka, lemah disaat-saat ingin diserang, dan saat kita tidak jadi menyerang mereka kembali cuek dan tidak peduli. Hah! Aku juga muak. Sudahlah, urusi priamu. Dia mencintaimu, dan berhenti marah-marah tidak jelas. Priamu akan bosan!”
“Benarkah? Aku tidak mengerti dengan pria.”
“Bagaimana dengan pria? Apa dia mengerti dengan obrolan kita ini? Sebagian besar tidak, mereka selalu mengagung-agungkan sifatnya yang ‘cuek tapi sayang’ daripada menunjukkannya, yang padahal wanita sangat ingin pria tersebut menunjukkan perasaannya. Tetapi, yakinlah pria punya caranya sendiri. Jangan kau samakan dengan cowok atau lelaki. Mereka berpikiran seperti bocah tengil dan nakal. Aku benci sekali dengan anak-anak seperti itu, mereka tidak benar-benar serius dan selalu mengumbar janji yang tidak bias mereka tepati. Itu bukan cerminan seorang pria.”

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design