Aku memungut serpihan-serpihan hatiku yang hancur
berserakan dimana-mana.
Satu persatu, kurapihkan.
Aku mengeluh lagi..
Hujan menjadi candu yang selalu mewakili setiap
sendu.
Entah kenapa, aku selalu suka hujan.
Setiap percikannya, mewakili tetesan-tetesan air
mata yang jatuh.
Kita. Abu-abu memang.
Samar. Walau memang kita sudah bersama.
Kala itu kita saling ber-insyaallah untuk sama-sama
menyayangi. Tetapi, waktu seakan merangkak dan jarak terus berjalan mundur
seakan menjauh.
Bukan, bukan salah jarak.
Jarak kita tidak pernah berubah, sama seperti
biasanya.
Namun, kerenggangan yang member kita spasi, yang
lama kelamaan ternyata melebar menjadi jauh. Dan kita, masih saling belum bisa
mengerti…
Hatiku telah terlalu lelah.
Menelaah takdir yang begitu perih.
Hatiku pedih..
Luka lamaku terbuka lagi..
Ku kira, kamu berbeda…
Ego kita kuat, gengsi kita besar. Namun, miskin akan
kepercayaan.
Akibatnya, kecurigaan dan amarah emosi yang terus
saja berlanjut..
Hingga peluh dari pelupuk mata tiada hentinya juga..
Sakit rasanya, letih.
“Lepaskan saja..” kata mereka. Tetapi, harapan tidak
henti kugali. Agar, aku dan kamu masih sama-sama menetap dalam candu itu;
mencintai.
0 comments:
Post a Comment