Jan 21, 2013

Understanding (2)


Aku memungut serpihan-serpihan hatiku yang hancur berserakan dimana-mana.
Satu persatu, kurapihkan.
Aku mengeluh lagi..
Hati ini tidak pernah sama lagi.

Hujan menjadi candu yang selalu mewakili setiap sendu.
Entah kenapa, aku selalu suka hujan.
Setiap percikannya, mewakili tetesan-tetesan air mata yang jatuh.

Kita. Abu-abu memang.
Samar. Walau memang kita sudah bersama.

Kala itu kita saling ber-insyaallah untuk sama-sama menyayangi. Tetapi, waktu seakan merangkak dan jarak terus berjalan mundur seakan menjauh.
Bukan, bukan salah jarak.
Jarak kita tidak pernah berubah, sama seperti biasanya.
Namun, kerenggangan yang member kita spasi, yang lama kelamaan ternyata melebar menjadi jauh. Dan kita, masih saling belum bisa mengerti…

Hatiku telah terlalu lelah.
Menelaah takdir yang begitu perih.
Hatiku pedih..
Luka lamaku terbuka lagi..
Ku kira, kamu berbeda…

Ego kita kuat, gengsi kita besar. Namun, miskin akan kepercayaan.
Akibatnya, kecurigaan dan amarah emosi yang terus saja berlanjut..
Hingga peluh dari pelupuk mata tiada hentinya juga..
Sakit rasanya, letih.

“Lepaskan saja..” kata mereka. Tetapi, harapan tidak henti kugali. Agar, aku dan kamu masih sama-sama menetap dalam candu itu; mencintai.

0 comments:

Post a Comment

Jan 21, 2013

Understanding (2)


Aku memungut serpihan-serpihan hatiku yang hancur berserakan dimana-mana.
Satu persatu, kurapihkan.
Aku mengeluh lagi..
Hati ini tidak pernah sama lagi.

Hujan menjadi candu yang selalu mewakili setiap sendu.
Entah kenapa, aku selalu suka hujan.
Setiap percikannya, mewakili tetesan-tetesan air mata yang jatuh.

Kita. Abu-abu memang.
Samar. Walau memang kita sudah bersama.

Kala itu kita saling ber-insyaallah untuk sama-sama menyayangi. Tetapi, waktu seakan merangkak dan jarak terus berjalan mundur seakan menjauh.
Bukan, bukan salah jarak.
Jarak kita tidak pernah berubah, sama seperti biasanya.
Namun, kerenggangan yang member kita spasi, yang lama kelamaan ternyata melebar menjadi jauh. Dan kita, masih saling belum bisa mengerti…

Hatiku telah terlalu lelah.
Menelaah takdir yang begitu perih.
Hatiku pedih..
Luka lamaku terbuka lagi..
Ku kira, kamu berbeda…

Ego kita kuat, gengsi kita besar. Namun, miskin akan kepercayaan.
Akibatnya, kecurigaan dan amarah emosi yang terus saja berlanjut..
Hingga peluh dari pelupuk mata tiada hentinya juga..
Sakit rasanya, letih.

“Lepaskan saja..” kata mereka. Tetapi, harapan tidak henti kugali. Agar, aku dan kamu masih sama-sama menetap dalam candu itu; mencintai.

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design