Feb 25, 2013

hmm


 
 
Kamu tahu kopi? Kata orang, rasa pahitnya yang nikmat membuat lidah selalu ingin mengecap dan menghidup aroma uap hangatnya, lalu menjadi candu. Seperti itulah aku mencintaimu, menyakitkan… namun selalu membuat aku ingin melakukannya terus-menerus hingga aku kecanduan.
Namun, apa daya? Aku hanya dapat mencintaimu dalam diam. Melihatmu hanya dalam mimpi dan fantasi semata.
Aku bukan tidak rela menunggu, hanya saja aku takut penantianku sia-sia.
Aku bukan lelah menunggu, hanya saja aku takut kamu tidak mencintaiku (lagi).
Harus sesakit inikah mencintaimu?
Harus sepedih inikah?
Jika harus, aku ikhlas…
Aku selalu menyeludupkan rindu. Rindu yang tiba-tiba menyergapku dalam kehampaan tanpamu. Kosong tanpa dirimu.
Salahkah jika aku menyita triliun detik dalam hidupku untuk mencintaimu?
Kamu bisa tanpa aku, tapi aku? Mungkin perlu merintih kesakitan dulu baru bisa bangkit, bangun, dan berdiri tegap kembali.
Tidak bisakah kamu sadar? Hanya untuk bahagiapun aku harus merana dan hanya untuk senangpun aku perlu kesakitan.
Semua tidak benar baik-baik saja tanpamu.
Apakah harus tersiksa ini? Baru kamu akan menoleh melihatku?

0 comments:

Post a Comment

Feb 25, 2013

hmm


 
 
Kamu tahu kopi? Kata orang, rasa pahitnya yang nikmat membuat lidah selalu ingin mengecap dan menghidup aroma uap hangatnya, lalu menjadi candu. Seperti itulah aku mencintaimu, menyakitkan… namun selalu membuat aku ingin melakukannya terus-menerus hingga aku kecanduan.
Namun, apa daya? Aku hanya dapat mencintaimu dalam diam. Melihatmu hanya dalam mimpi dan fantasi semata.
Aku bukan tidak rela menunggu, hanya saja aku takut penantianku sia-sia.
Aku bukan lelah menunggu, hanya saja aku takut kamu tidak mencintaiku (lagi).
Harus sesakit inikah mencintaimu?
Harus sepedih inikah?
Jika harus, aku ikhlas…
Aku selalu menyeludupkan rindu. Rindu yang tiba-tiba menyergapku dalam kehampaan tanpamu. Kosong tanpa dirimu.
Salahkah jika aku menyita triliun detik dalam hidupku untuk mencintaimu?
Kamu bisa tanpa aku, tapi aku? Mungkin perlu merintih kesakitan dulu baru bisa bangkit, bangun, dan berdiri tegap kembali.
Tidak bisakah kamu sadar? Hanya untuk bahagiapun aku harus merana dan hanya untuk senangpun aku perlu kesakitan.
Semua tidak benar baik-baik saja tanpamu.
Apakah harus tersiksa ini? Baru kamu akan menoleh melihatku?

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design