Kamu tahu kopi? Kata orang, rasa pahitnya yang nikmat membuat lidah selalu ingin mengecap dan menghidup aroma uap hangatnya, lalu menjadi candu. Seperti itulah aku mencintaimu, menyakitkan… namun selalu membuat aku ingin melakukannya terus-menerus hingga aku kecanduan.
Namun, apa daya? Aku hanya dapat mencintaimu dalam
diam. Melihatmu hanya dalam mimpi dan fantasi semata.
Aku bukan tidak rela menunggu, hanya saja aku takut
penantianku sia-sia.
Aku bukan lelah menunggu, hanya saja aku takut kamu
tidak mencintaiku (lagi).
Harus sesakit inikah mencintaimu?
Harus sepedih inikah?
Jika harus, aku ikhlas…
Aku selalu menyeludupkan rindu. Rindu yang tiba-tiba
menyergapku dalam kehampaan tanpamu. Kosong tanpa dirimu.
Salahkah jika aku menyita triliun detik dalam hidupku
untuk mencintaimu?
Kamu bisa tanpa aku, tapi aku? Mungkin perlu merintih kesakitan dulu baru bisa bangkit, bangun, dan berdiri tegap kembali.
Tidak bisakah kamu sadar? Hanya untuk bahagiapun aku
harus merana dan hanya untuk senangpun aku perlu kesakitan.
Semua tidak benar baik-baik saja tanpamu.
Apakah harus tersiksa ini? Baru kamu akan menoleh melihatku?
0 comments:
Post a Comment