Kamu memberi secuil rasa, namun aku memiliki sejuta perasaan.
Bagaimana aku bisa rela menunggu 1 sms darimu selama lebih dari 12 jam dalam sehari?
Bagaimana aku ikhlas menerima aku diperlakukan seperti dikasihani.
Bagaimana aku masih bisa bertahan, sedangkan kamu sudah letih untuk memperjuangkan.
Bagaimana aku masih bisa sabar, saat kamu menyakiti hatiku dalam.
Kamu bilang, kamu takut aku akan sama dengan masa lalumu? Takut kehilangan (lagi)? Lalu, bagaimana dengan aku? Bahkan, kamu ingkari janji yang pernah kamu tebar.
Jika Tuhan tidak memberiku wajah yang cukup cantik untukku agar kamu lihat, mengapa kamu tidak meninggalkan aku?
Aku bukan apa-apa. Hatiku hanya seonggok kertas yang sengaja kamu remas dan buang. Yang kamu robek dan rusak sesuka hati.
Lalu, bagaimana aku dapat bernapas dengan tenang, sedangkan kamu mengangakan banyak lubang besar dihatiku akibat luka yang kamu toreh?
Bagaimana aku bisa tidak mem-pura-pura-kan senyum, sedangkan penyebab aku masih tersenyum seakan berjalan mundur perlahan?
Aku butuh jawabanmu.
Janjimu masih hangat bergelayut dalam pikiranku. Kamu salah telah terlalu yakin dan berjanji dengan pengingat sepertiku.
Untuk, KAMU...
Masih ada yang memperjuangkanmu, walaupuan dia tak cukup berarti untukmu.
Tetapi, percayalah, suatu hari hatimu akan mengerang, karena telah membuang 'seonggok kertas' itu secara sengaja, yang ternyata penting, sembari memungut sisa-sisa serpihan kertas yang berantakan setelah kamu merobeknya dalam kotak sampahmu.
0 comments:
Post a Comment