Aug 24, 2012

Pelangi

Aku duduk sila diatas tempat tidurku. Ingin rasanya aku bermalas-malasan diatas meja belajarku hanya untuk melihat dan memperhatikan hujan deras hari ini. Tapi aku tak kuat untuk sekedar bejalan beberapa meter dari tempat tidurku. Aku menyadari badanku yang sedang tak enak. Kompresanpun tak bisa menurunkan panas suhu badanku. Aku pusing, mual, dan merasa sangat lemah.
Tapi yang aneh, aku tak merasa kedinginan sama sekali. 'Ah.. Ayolah, aku ingin menyaksikan pelangi.' gumamku dalam hati saat sedikit merasakan hujan mulai reda sambil menengok ke arah jendela. Aku mencoba menggerakkan kakiku. Tapi karena aku yang tak seimbang, kakiku lemah tak kuat, aku jatuh. Sakit di bagian tempurung. Namun aku tahan, lalu ku coba dengan menggeser kakiku di lantai, aku mengesot. Lalu ku tongolkan kepalaku di jendela, pas sekali pelangi itu muncul tepat di depan mataku. Aku tersenyum. Seakan aku tak merasa aku sakit. Aku sangat menyukai namaku itu, hehehe namaku Pelangi dan nyatanya aku memang sangat menyukai pelangi. Bahkan sebagian besar kameraku berisikan foto pelangi di berbagai tempat.

Lusa, yaitu hari ini. Aku sudah sembuh. Aku hampir lupa menceritakan kalau aku sedang berada di Bandung untuk liburan. Aku sangat senang karena disini sering hujan, maka aku bisa puas melihat pelangi. Hari ini aku merencanakan untuk pergi ke Malioboro, membeli pernak-pernik khas Bandung.

"Brak.." pundakku ditabrak oleh seorang yang tak ku kenal. Tubuhnya jauh lebih tinggi dibandingkan tubuh mungilku, dia manis dengan rambut gondrong dan kumis tipisnya dengan kamera di kalungkan ke lehernya. Dia meminta maaf dan tersenyum padaku. Aku tak membalas senyumnya, aku biasa saja. Lalu langsung pergi. Aku mengenakan mini dress berwarna merah muda hari ini, membuatku sedikit tampak lebih muda dan manis. Jangan tanya umurku. Aku baru berusia 16 tahun dan aku tidak memutuskan untuk kuliah di manapun, karena aku punya sisa umur 1 tahun untuk bersantai untuk seumuran anak kuliahan. Aku tk terlalu cepat.

***

Aku berhasil mengambil gambar badan belakang wanita manis dan imut tadi. Wajahnya begitu lugu. Aku yang tersenyum padanya pun tak dibalas senyuman olehnya. Dia begitu menarik. Rambutnya ikal panjang dan begitu sederhana dan pemilik mata indah.

***

Hari ini aku memutuskan ke puncak sendiri. Kalian tahu? Ibu dan ayahku di Jakarta, tidak ikut aku berkenala di Bandung. Tapi yasudah, aku sedikit merasa bebas. Walaupun terkadang, handphone yang ku tinggal di villa sering kali meninggalkan beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab dari orang tuaku untuk sekedar menanyakan kabar.

07:05 am. Aku sampai di pundak. Indah, sejuk, dan sangat asri. Aku sangat menikmatinya. Aku berkeliling puncak. Lalu tak sengaja, aku melihat wajah lelaki bertubuh jangkung waktu itu sedang memotret pemandangan sekitar. Dan saat, kameranya sampai ke wajahku, aku berbalik badan dan pergi dengan sedikit berlari. Dia mengejarku. Lalu menangkap tangan dinginku.
"Hai.. Apakah sesombong itu?" dia memulai pembicaraan sesaat setelah aku melepaskan tanganku dari tangan panjangnya.
"Aku hanya tidak terbiasa dekat dengan lelaki. Menjauhlah." aku seperti ketakutan.
"Aku tidak akan menggigit. Ayolah.. Aku lelaki baik-baik. Dan tidak akan mencelakakanmu." dia memohon.
"Siapa kamu?"
"Jonatha. Kamu?"
"Pelangi. Apa kamu tinggal di Bandung?"
"Nama yang indah seperti mata dan wajahmu. Tidak, aku hanya sedang liburan. Aku tinggal di villa."
"Hah. Kita sama."
"Ayo jalan-jalan!"

Ketika di perjalanan, dia meminta untuk memotret wajahku. Dia bilang, aku sangat manis. Aku tersipu, lalu mengiyakan. Aku tersenyum kecil saat dia sibuk menyetting titik fokus kameranya. Dia suka memuji. Ini yang pertama kali. Dia yang pertama kali. Lalu aku rasakan ada yang aneh, aku selalu berdebar saat berdekatan dengannya. Kami selalu bercerita tentang masing-masing kami. Dia juga berasal dari Jakarta. Kuliah di UNJ. Kalian pasti sudah menebak apa jurusan kuliah yang dia ambil dengan SLR yang terus di lehernya.

*

Kami merencanakan pertemuan hari ini. 3 hari setelah kami dekat. Kami merasa benih-benih cinta itu mulai muncul. Tapi aku tak tahu bagaimana perasaan lelaki jangkung itu kepadaku.

17:00 di restaurant bernuansa serba cokelat ini menjadi tempat pilihan kami. Kami mengobrol panjang. Sekitar 2 jam. Aku merasa sangat nyambung berbicara tentang segala hal dengannya. Lalu dalam selaan bicara kami..
"Ih hidung kamu tuh imut.."
"Ah apaan sih kok gak nyambung gitu hahaha.."
"Aku serius. Apalagi senyum kamu yang manis."
Aku diam dengan sedikit tersipu. 1 jam kemudian kami pulang. Dia mengantarku. Tapi dia mengajakku ke suatu tempat sebelum dia mengantarku. Ke tempat yang penuh bintang dan dia bercerita semua kekagumannya padaku. Dia juga cerita, lusa dia akan pulang dan memberi alamat rumahnya padaku. Dia mengutarakan rasa cintanya padaku. Dan berjanji saat di Jakarta akan mengenalkan aku pada orang tuanya. Berakhir dengan kecupan hangat di keningku, dia langsung mengantarku pulang.

***


2 hari sudah lewat. Aku merasa kehampaan menghampiriku. Aku merasa sangat kesepian tanpa ocehan panjang dengan Jonatha. Pasti dia sekarang sudah sampai dirumah. Apakah dia akan menepati janjinya? Apakah dia tidak main wanita dengan kerasnya hidup di Jakarta yang semakin gila? Aku memikirkan. Aku rindu tawa dan senyumnya. Aku rindu dia yang selalu menyebalkan. Aku rindu dia yang selalu memujiku. Aku rindu dia yang jahil. Aku rindu dia yang suka mencubit hidungku. Aku rindu dia yang suka paparazzi memotret wajahku yang terlihat bodoh dan konyol dengan kamera yang selalu di lehernya.

Aku merindukan dia karena dia tak memberiku pesan, telfon, atau sekedar mengirim email bagaimana kabarnya disana. Aku rindu segalanya tentang dia. Dia yang nyebelin tapi ngangenin. Aku tak tahu apakah dia masih mengingatku atau tidak. Aku tak sabar, besok aku akan pulang ke Jakarta. Aku sempat menitipkan alamat rumahku pada Jonatha, berharap dia akan mampir karena dia tahu aku akan pulang 1 hari setelah dia pulang.

***

Aku sampai dirumah. Dengan lelah, aku hempaskan tubuhku yang penuh keringat dan debu udara Jakarta ke kasurku yang empuk. Aku mengecek handphoneku yang ku silent saat aku berada di taxi tadi. Kulihat, ternyata ada 3 buah pesan dari Jonatha, aku bersemangat membukanya:
"Hi, Pelangiku."
"Hari ini aku akan pergi"
"Aku sudah menepati janjiku. Aku menyayangimu, Pelangi."
Aku tak mengerti apa yang dia katakan. Lalu dengan cepat aku membalasnya:
"Apa maksudmu? Kamu akan pergi kemana? Apa kamu akan bertamu kerumahku, Jonatha? Aku mengharapkan kamu datang malam ini. Aku rindu padamu. Kamu sudah menepati janjimu? Kapan? Aku belum dikenalkan ke orangtuamu."
Lama tak dibalas, ku kirimi lagi dia pesan:
"Jonatha, ayo jawab. Aku menunggumu. Aku menyayangimu."
"Jonatha.." lalu ku kirim 24x pesan yang sama, tapi hasilnya nihil.. tak ada jawaban dari Jonatha. Aku menangis. Ku telfon dia, tak diangkat juga. Lalu dengan pikiran yang kacau dan mata yang sembab, ku paksakan badan ini untuk istirahat. Aku terlelap.

***

Keesokan paginya, aku sendirian di rumah. Ayah dan Ibuku ternyata sudah pergi bekerja dengan meninggalkan sarapan di meja makan. Namun aku tak berselera. Aku masih memikirkan hal yang semalam..
Lalu tiba-tiba sebuah ketukan dari pintu depan membuatku tersadar dari lamunanku. Ada tamu. Aku berharap itu adalah Jonatha. Namun harapanku seakan pupus, tamu itu adalah 2 orang paruh baya, mereka suami istri. Mereka membawa 1 kardus lumayan besar yang dibungkus oleh kertas kado pelangi. Seperti paket.
“Kamu Pelangi, nak?” lelaki tua itu tersenyum padaku.
“Iya pak, saya Pelangi. Ada apa ya? Apa kalian mencari orangtuaku?”
“Tidak, kami mencarimu.”
“Kalau begitu silahkan masuk dulu.” Jawabku dengan sedikit kaget.

Aku mempersilahkan mereka duduk, sedangkan aku mengambil hidangan ringan dan minuman.

“Ini untukmu, nak.” Kali ini ibu yang berbicara dan memberikan kotak besar itu kepadaku.
“Terimakasih. Boleh saya tahu ini kado dari siapa? Padahal saya tidak sedang berulang tahun.” Aku mengembangkan senyumku yang ramah.
“Jonatha. Kami orang tuanya. Dia sudah menepati janjinya. Dia sudah memperkenalkanmu kepada kami lewat foto-fotomu, dia  bercerita banyak tentangmu saat dia baru pulang, lusa kemarin. Lalu, permintaan terakhirnya, dia ingin kami mengunjungimu dengan modal alamat rumahmu dan dia juga meminta tolong untuk memberikan hadiah ini.” Mereka menunduk, seakan memperlihatkan raut wajah sedih mereka.
“Apa maksudnya permintaan terakhir? Dimana Jonatha? Apa dia akan tiba-tiba keluar dari balik pintu rumahku dengan memberi kejutan lagi?” aku kebingungan sambil menengok kearah pintu depan rumahku.
“Dia memiliki penyakit lemah jantung, Pelangi. Kemarin jasadnya baru kami kuburkan. Kemarin dia mengalami serangan jantung. Kami juga kaget saat dia masih bisa pulang dengan keadaan yang sehat, padahal dokter sudah memperkirakan bahwa dia akan meninggal saat dia masih berada di Bandung karena kondisinya yang pada waktu itu sangat lemah. Kami pasrah saat dia meminta liburan di Bandung seorang diri. Dia sudah tahu semua ini, maafkan dia, Pelangi. Tuhan punya rencana lain yang lebih baik.. bersabarlah nak.”
Aku kaget. Aku tak bisa menghentikan air mataku yang mengalir sangat deras. Dia yang pertama. Aku baru saja merasakan indahnya, baru saja mengenalnya, tapi dia begitu cepat pergi dan meninggalkanku dengan baying-bayangnya yang selalu kurindukan. Aku menutup wajahku yang berlumuran air mata. Lalu masih dengan terisak, aku membuka bingkisan tadi.
Dalamnya, ada sebuah buku album foto yang cukup besar. Isinya foto-fotoku. Paparazzinya. Dan tulisan yang begitu menguras air mataku lagi…
‘Hari ini aku akan berjanji. Membiarkannya masuk dank u kunci dalam suatu ruangan.. hanya aka nada dia… di hatiku. Tak ada ruang lagi untuk yang lain. Dialah yang pertama. Dialah yang mampu memberiku kekuatan untuk tetap hidup lebih lama melawan penyakit ini. Dia yang terakhir. Jika ibarat kamera, dia adalah titik focus hidupku. Dia? Segalanya. Pemilik mata indah yang bernama Pelangi. Cocok dengan namanya, dia selalu mewarnai hari-hari kelamku menjadi sejarah yang lebih berarti. Aku mencintainya, kemarin, sekarang, dan hingga maut menjemputku. Jagalah tangismu.. aku tidak ingin Pelangiku menangis. Aku yang akan pergi, jangan kau tangisi lagi. Terimakasih telah membuatku menghargai setiap detik dari hidup dan umurku. Aku yang menyayangimu, dengan cinta. Jonatha..’
Aku tak bisa berkata-kata. Dia yang pertama yang membuat aku memancarkan senyum dan yang terkahir yang membuatku meneteskan jutaan air mata.

0 comments:

Post a Comment

Aug 24, 2012

Pelangi

Aku duduk sila diatas tempat tidurku. Ingin rasanya aku bermalas-malasan diatas meja belajarku hanya untuk melihat dan memperhatikan hujan deras hari ini. Tapi aku tak kuat untuk sekedar bejalan beberapa meter dari tempat tidurku. Aku menyadari badanku yang sedang tak enak. Kompresanpun tak bisa menurunkan panas suhu badanku. Aku pusing, mual, dan merasa sangat lemah.
Tapi yang aneh, aku tak merasa kedinginan sama sekali. 'Ah.. Ayolah, aku ingin menyaksikan pelangi.' gumamku dalam hati saat sedikit merasakan hujan mulai reda sambil menengok ke arah jendela. Aku mencoba menggerakkan kakiku. Tapi karena aku yang tak seimbang, kakiku lemah tak kuat, aku jatuh. Sakit di bagian tempurung. Namun aku tahan, lalu ku coba dengan menggeser kakiku di lantai, aku mengesot. Lalu ku tongolkan kepalaku di jendela, pas sekali pelangi itu muncul tepat di depan mataku. Aku tersenyum. Seakan aku tak merasa aku sakit. Aku sangat menyukai namaku itu, hehehe namaku Pelangi dan nyatanya aku memang sangat menyukai pelangi. Bahkan sebagian besar kameraku berisikan foto pelangi di berbagai tempat.

Lusa, yaitu hari ini. Aku sudah sembuh. Aku hampir lupa menceritakan kalau aku sedang berada di Bandung untuk liburan. Aku sangat senang karena disini sering hujan, maka aku bisa puas melihat pelangi. Hari ini aku merencanakan untuk pergi ke Malioboro, membeli pernak-pernik khas Bandung.

"Brak.." pundakku ditabrak oleh seorang yang tak ku kenal. Tubuhnya jauh lebih tinggi dibandingkan tubuh mungilku, dia manis dengan rambut gondrong dan kumis tipisnya dengan kamera di kalungkan ke lehernya. Dia meminta maaf dan tersenyum padaku. Aku tak membalas senyumnya, aku biasa saja. Lalu langsung pergi. Aku mengenakan mini dress berwarna merah muda hari ini, membuatku sedikit tampak lebih muda dan manis. Jangan tanya umurku. Aku baru berusia 16 tahun dan aku tidak memutuskan untuk kuliah di manapun, karena aku punya sisa umur 1 tahun untuk bersantai untuk seumuran anak kuliahan. Aku tk terlalu cepat.

***

Aku berhasil mengambil gambar badan belakang wanita manis dan imut tadi. Wajahnya begitu lugu. Aku yang tersenyum padanya pun tak dibalas senyuman olehnya. Dia begitu menarik. Rambutnya ikal panjang dan begitu sederhana dan pemilik mata indah.

***

Hari ini aku memutuskan ke puncak sendiri. Kalian tahu? Ibu dan ayahku di Jakarta, tidak ikut aku berkenala di Bandung. Tapi yasudah, aku sedikit merasa bebas. Walaupun terkadang, handphone yang ku tinggal di villa sering kali meninggalkan beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab dari orang tuaku untuk sekedar menanyakan kabar.

07:05 am. Aku sampai di pundak. Indah, sejuk, dan sangat asri. Aku sangat menikmatinya. Aku berkeliling puncak. Lalu tak sengaja, aku melihat wajah lelaki bertubuh jangkung waktu itu sedang memotret pemandangan sekitar. Dan saat, kameranya sampai ke wajahku, aku berbalik badan dan pergi dengan sedikit berlari. Dia mengejarku. Lalu menangkap tangan dinginku.
"Hai.. Apakah sesombong itu?" dia memulai pembicaraan sesaat setelah aku melepaskan tanganku dari tangan panjangnya.
"Aku hanya tidak terbiasa dekat dengan lelaki. Menjauhlah." aku seperti ketakutan.
"Aku tidak akan menggigit. Ayolah.. Aku lelaki baik-baik. Dan tidak akan mencelakakanmu." dia memohon.
"Siapa kamu?"
"Jonatha. Kamu?"
"Pelangi. Apa kamu tinggal di Bandung?"
"Nama yang indah seperti mata dan wajahmu. Tidak, aku hanya sedang liburan. Aku tinggal di villa."
"Hah. Kita sama."
"Ayo jalan-jalan!"

Ketika di perjalanan, dia meminta untuk memotret wajahku. Dia bilang, aku sangat manis. Aku tersipu, lalu mengiyakan. Aku tersenyum kecil saat dia sibuk menyetting titik fokus kameranya. Dia suka memuji. Ini yang pertama kali. Dia yang pertama kali. Lalu aku rasakan ada yang aneh, aku selalu berdebar saat berdekatan dengannya. Kami selalu bercerita tentang masing-masing kami. Dia juga berasal dari Jakarta. Kuliah di UNJ. Kalian pasti sudah menebak apa jurusan kuliah yang dia ambil dengan SLR yang terus di lehernya.

*

Kami merencanakan pertemuan hari ini. 3 hari setelah kami dekat. Kami merasa benih-benih cinta itu mulai muncul. Tapi aku tak tahu bagaimana perasaan lelaki jangkung itu kepadaku.

17:00 di restaurant bernuansa serba cokelat ini menjadi tempat pilihan kami. Kami mengobrol panjang. Sekitar 2 jam. Aku merasa sangat nyambung berbicara tentang segala hal dengannya. Lalu dalam selaan bicara kami..
"Ih hidung kamu tuh imut.."
"Ah apaan sih kok gak nyambung gitu hahaha.."
"Aku serius. Apalagi senyum kamu yang manis."
Aku diam dengan sedikit tersipu. 1 jam kemudian kami pulang. Dia mengantarku. Tapi dia mengajakku ke suatu tempat sebelum dia mengantarku. Ke tempat yang penuh bintang dan dia bercerita semua kekagumannya padaku. Dia juga cerita, lusa dia akan pulang dan memberi alamat rumahnya padaku. Dia mengutarakan rasa cintanya padaku. Dan berjanji saat di Jakarta akan mengenalkan aku pada orang tuanya. Berakhir dengan kecupan hangat di keningku, dia langsung mengantarku pulang.

***


2 hari sudah lewat. Aku merasa kehampaan menghampiriku. Aku merasa sangat kesepian tanpa ocehan panjang dengan Jonatha. Pasti dia sekarang sudah sampai dirumah. Apakah dia akan menepati janjinya? Apakah dia tidak main wanita dengan kerasnya hidup di Jakarta yang semakin gila? Aku memikirkan. Aku rindu tawa dan senyumnya. Aku rindu dia yang selalu menyebalkan. Aku rindu dia yang selalu memujiku. Aku rindu dia yang jahil. Aku rindu dia yang suka mencubit hidungku. Aku rindu dia yang suka paparazzi memotret wajahku yang terlihat bodoh dan konyol dengan kamera yang selalu di lehernya.

Aku merindukan dia karena dia tak memberiku pesan, telfon, atau sekedar mengirim email bagaimana kabarnya disana. Aku rindu segalanya tentang dia. Dia yang nyebelin tapi ngangenin. Aku tak tahu apakah dia masih mengingatku atau tidak. Aku tak sabar, besok aku akan pulang ke Jakarta. Aku sempat menitipkan alamat rumahku pada Jonatha, berharap dia akan mampir karena dia tahu aku akan pulang 1 hari setelah dia pulang.

***

Aku sampai dirumah. Dengan lelah, aku hempaskan tubuhku yang penuh keringat dan debu udara Jakarta ke kasurku yang empuk. Aku mengecek handphoneku yang ku silent saat aku berada di taxi tadi. Kulihat, ternyata ada 3 buah pesan dari Jonatha, aku bersemangat membukanya:
"Hi, Pelangiku."
"Hari ini aku akan pergi"
"Aku sudah menepati janjiku. Aku menyayangimu, Pelangi."
Aku tak mengerti apa yang dia katakan. Lalu dengan cepat aku membalasnya:
"Apa maksudmu? Kamu akan pergi kemana? Apa kamu akan bertamu kerumahku, Jonatha? Aku mengharapkan kamu datang malam ini. Aku rindu padamu. Kamu sudah menepati janjimu? Kapan? Aku belum dikenalkan ke orangtuamu."
Lama tak dibalas, ku kirimi lagi dia pesan:
"Jonatha, ayo jawab. Aku menunggumu. Aku menyayangimu."
"Jonatha.." lalu ku kirim 24x pesan yang sama, tapi hasilnya nihil.. tak ada jawaban dari Jonatha. Aku menangis. Ku telfon dia, tak diangkat juga. Lalu dengan pikiran yang kacau dan mata yang sembab, ku paksakan badan ini untuk istirahat. Aku terlelap.

***

Keesokan paginya, aku sendirian di rumah. Ayah dan Ibuku ternyata sudah pergi bekerja dengan meninggalkan sarapan di meja makan. Namun aku tak berselera. Aku masih memikirkan hal yang semalam..
Lalu tiba-tiba sebuah ketukan dari pintu depan membuatku tersadar dari lamunanku. Ada tamu. Aku berharap itu adalah Jonatha. Namun harapanku seakan pupus, tamu itu adalah 2 orang paruh baya, mereka suami istri. Mereka membawa 1 kardus lumayan besar yang dibungkus oleh kertas kado pelangi. Seperti paket.
“Kamu Pelangi, nak?” lelaki tua itu tersenyum padaku.
“Iya pak, saya Pelangi. Ada apa ya? Apa kalian mencari orangtuaku?”
“Tidak, kami mencarimu.”
“Kalau begitu silahkan masuk dulu.” Jawabku dengan sedikit kaget.

Aku mempersilahkan mereka duduk, sedangkan aku mengambil hidangan ringan dan minuman.

“Ini untukmu, nak.” Kali ini ibu yang berbicara dan memberikan kotak besar itu kepadaku.
“Terimakasih. Boleh saya tahu ini kado dari siapa? Padahal saya tidak sedang berulang tahun.” Aku mengembangkan senyumku yang ramah.
“Jonatha. Kami orang tuanya. Dia sudah menepati janjinya. Dia sudah memperkenalkanmu kepada kami lewat foto-fotomu, dia  bercerita banyak tentangmu saat dia baru pulang, lusa kemarin. Lalu, permintaan terakhirnya, dia ingin kami mengunjungimu dengan modal alamat rumahmu dan dia juga meminta tolong untuk memberikan hadiah ini.” Mereka menunduk, seakan memperlihatkan raut wajah sedih mereka.
“Apa maksudnya permintaan terakhir? Dimana Jonatha? Apa dia akan tiba-tiba keluar dari balik pintu rumahku dengan memberi kejutan lagi?” aku kebingungan sambil menengok kearah pintu depan rumahku.
“Dia memiliki penyakit lemah jantung, Pelangi. Kemarin jasadnya baru kami kuburkan. Kemarin dia mengalami serangan jantung. Kami juga kaget saat dia masih bisa pulang dengan keadaan yang sehat, padahal dokter sudah memperkirakan bahwa dia akan meninggal saat dia masih berada di Bandung karena kondisinya yang pada waktu itu sangat lemah. Kami pasrah saat dia meminta liburan di Bandung seorang diri. Dia sudah tahu semua ini, maafkan dia, Pelangi. Tuhan punya rencana lain yang lebih baik.. bersabarlah nak.”
Aku kaget. Aku tak bisa menghentikan air mataku yang mengalir sangat deras. Dia yang pertama. Aku baru saja merasakan indahnya, baru saja mengenalnya, tapi dia begitu cepat pergi dan meninggalkanku dengan baying-bayangnya yang selalu kurindukan. Aku menutup wajahku yang berlumuran air mata. Lalu masih dengan terisak, aku membuka bingkisan tadi.
Dalamnya, ada sebuah buku album foto yang cukup besar. Isinya foto-fotoku. Paparazzinya. Dan tulisan yang begitu menguras air mataku lagi…
‘Hari ini aku akan berjanji. Membiarkannya masuk dank u kunci dalam suatu ruangan.. hanya aka nada dia… di hatiku. Tak ada ruang lagi untuk yang lain. Dialah yang pertama. Dialah yang mampu memberiku kekuatan untuk tetap hidup lebih lama melawan penyakit ini. Dia yang terakhir. Jika ibarat kamera, dia adalah titik focus hidupku. Dia? Segalanya. Pemilik mata indah yang bernama Pelangi. Cocok dengan namanya, dia selalu mewarnai hari-hari kelamku menjadi sejarah yang lebih berarti. Aku mencintainya, kemarin, sekarang, dan hingga maut menjemputku. Jagalah tangismu.. aku tidak ingin Pelangiku menangis. Aku yang akan pergi, jangan kau tangisi lagi. Terimakasih telah membuatku menghargai setiap detik dari hidup dan umurku. Aku yang menyayangimu, dengan cinta. Jonatha..’
Aku tak bisa berkata-kata. Dia yang pertama yang membuat aku memancarkan senyum dan yang terkahir yang membuatku meneteskan jutaan air mata.

No comments:

Post a Comment

 

/ˈfeəriˌteɪl/ Template by Ipietoon Cute Blog Design